Keadilan untuk diwujudkan

Keadilan untuk diwujudkan
Muhammad Tamim Pardede / Yahushua Hamasiah
0813 832 832 34 0817 0856 282

Dalam Manawa Dharmasastra VII Sloka 19 ada dinyatakan kalau vonis dijatuhkan tanpa pertimbangan yang matang (keadilan) akan menghancurkan segala-galanya. Perspektif keadilan sosial yang tumbuh dan berkembang di masyarakat selalu mengartikan bahwa setiap orang berhak atas “kebutuhannya yang mendasar” tanpa memandang perbedaan “perbuatannya” , yang saat ini disebut sebagai hak azasi manusia. Inilah menyulitkan memaknai “keadilan” dalam suatu proses hukum. Seorang yang melanggar hukum tidak dapat diadili hanya karena dia punya hak dasar untuk melakukannya. Contohnya kaum homoseks atau pelacur yang tak dapat dijerat hukum karena dia punya hak selaku insane dalam menjalankan kegiatan seksualnya yang merusak tersebut. Sifat yang paling nampak dalam hal ini dicontohkan dari khawarij adalah suka mencela terhadap para Aimatul huda (para Imam), menganggap mereka sesat, dan menghukum atas mereka sebagai orang-orang yang sudah keluar dari keadilan dan kebenaran. Sifat ini jelas tercermin dalam pendirian Dzul Khuwaishirah terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan perkataannya
Kaum khawarij menghukumi RasuluLLAAH SAW sebagai orang yang curang dan tidak adil dalam pembagian. Sifat yang demikian ini selalu menyertai sepanjang sejarah. Hal itu mempunyai efek yang sangat buruk dalam hukum dan amal sebagai konsekwensinya.
: “Wahai RasululLLAAH berlaku adil lah”. (Hadits Riwayat Bukhari VI/617, No. 3610, VIII/97, No. 4351, Muslim II/743-744 No. 1064, Ahmad III/4, 5, 33, 224).
Adalah inti daripada kesesatan mereka yakni tidak mempercayai wahyu sebagai Hukum yang paling adil dalam mengatur kehidupan mereka, mereka hanya ingin agar dihukumi berdasarkan apa yang mereka mau, bukan berdasar kepada kehendak ALLAAH.
“Inti kesesatan mereka adalah keyakinan mereka berkenan dengan Aimmatul huda (para imam yang mendapat petunjuk) dan jama’ah muslimin, yaitu bahwa Aimmatul huda dan jama’ah muslimin semuanya sesat. Pendapat ini kemudian di ambil oleh orang-orang yang keluar dari sunnah, seperti fafidhah dan yang lainnya. Mereka mengkatagorikan apa yang mereka pandang kedzaliman ke dalam kekufuran”. (Al-Fatawa : XXVIII/497)
Padahal disatu sisi sifat Keadilan dan Hukum adalah Fiat justitia et pereat mundus (meskipun dunia ini runtuh hukum harus ditegakkan). Padahal walau apapun yang terjadi Apapun yang terjadi memang peraturan atau Hukum demi Keadilan harus tetap ditegakkan, dan memang rumus intinya adalah demikian, sehingga Undang-undang itu sering terasa kejam apabila dilaksanakan secara ketat (lex dura sed tamen scripta) r adapun rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap peradilan dan penghukuman, disebabkan karena dasar Hukum Keadilan itu sendiri tidak ditegakkan, ditambah pula dengan adanya tindakan oknum aparat peradilan yang kontra produktif terhadap tugas-tugas yang harus diselesaikannya. Disatu sisi kita diwajibkan untuk berlaku adil, namun disisi yang lain kita sebagai insan tidak akan pernah bisa adil…Yang jelas insan manapun tidak akan dapat berlaku adil secara sempurna :

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena ALLAAH, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada ALLAAH (QS 5:8)
Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan (QS 4:135)
Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil, sesungguhnya ALLAAH menyukai orang-orang yang adil. (QS 5:42)
dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya ALLAAH mencintai orang-orang yang berlaku adil.(QS 49:9)

Kermbali kepada Keadilan, perintah menegakkannya, rasa Keadilan, atau merasa telah berbuat Adil……semuanya tersebut tidak akan dapat tegak kecuali Keadilan tersebut dibimbing oleh Wahyu ILAAHI, sebagaimana dijelaskan sebagai berikut :
“Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil” (QS 4:3)
“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian” (QS 4:129)
Telah sempurnalah kalimat RABBmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merobah robah kalimat-kalimat-Nya dan DIA lah yang MAHA MENDENGAR lagi MAHA MENGETAHUI (QS 6:115)
Adalah kewajiban bagi setiap orang untuk mendedikasikan (membaktikan) hidupnya, intelejensi (kepandaiannya), kekayaannya, kata-katanya, dan pekerjaannya bagi kesejahteraan mahluk lain"
(Bhagawata Purana : 10.22.35)
“saktah karmany avidavamso yatha, khurvanti bharata, kuryad vidvams tathasaktas cikirsur loka-samgraham” "Seperti orang yang bodoh yang bekerja keras karena keterikatan atas kerja mereka demikian seharusnya orang pandai bekerja tanpa kepentingan pribadi, melainkan untuk kesejahteraan manusia dan memelihara ketertiban sosial. (Bagawad Gita : III.25).

Maka bersikap adillah dengan menerapkan Hukum hanya berdasarkan Wahyu yang telah diyakini oleh para pemeluk agama masing-masing
Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan ALLAAH dan Aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu (QS 42:15)

Bila didalam budha dikenal karma dan vipaka, maka Karma adalah tindakan (hukum), lalu Vipaka, buah atau hasilnya (keadilan), yang keduanya adalah reaksi dari suatu aksi.karena disebutkan :

"Sesuai dengan benih yang tumbuh sendiri, Jadi yang Anda memanen buah dari sana, Penjahat yang baik akan mengumpulkan bagus, Pelaku yang jahat, jahat Bawah adalah benih dan kamu akan merasakan buah itu. “( Samyutta Nikaya)
Jadi dapatlah kita simpulkan bahwa adil harus ditetapkan oleh Wahyu yang bersesuaian dengan kelas warna (varna/beda kasta), waktu, tingkat kebutuhan. Usia, posisi, dll. Namun bagi orang awam yang sulit menentukan keadilan, maka dia harus mengikuti orang yang adil, ini disebutkan dalam dhammapada sebagai berikut:
" Sang Buddha bersabda,“Manusia seharusnya mencari kebajikan …” (Dhammapada 116)
" dan Andaikata seseorang melihat seorang bijaksana … hendaklah ia mengikuti orang bijaksana itu …” (Dhammapada 76)
Didalam kristen disebutkan :

“…Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” Yohanes 6:35
“…Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” Yohanes 8:12

Maka telah jelaslah konsep bagaimana kita agar dapat berlaku adil dan hidup bersamanya ……yakni ikutilah Wahyu dan ber Hukumlah padaNya Atau Ikutilah orang yang mengikuti Wayu dan mintalah keadilan Hukum padaNya. Terimakasih