Kebohongan dalam Pernikahan

Solusi nya bagaimana ?

Seorang Pemuda sebut saja Si P, menikah dengan seorang Janda Si E :

Si P dan Si E beda kota dan beda denom gereja.

Si P menikah dengan Si E di kota ku . Pendeta menanyakan status Janda Si E. Si E berkata Janda ditinggal mati oleh suami tanpa anak. Artinya Si P dan Si E boleh menikah di gereja. Pemberkatan dilaksanakan.

Setelah menikah anakpun lahir, saat ini anak berumur 8 bulan.

Datanglah seorang anak dan seorang ayah , ternyata anak dan suami Si E terdahulu.

Si P mengetahuinya dan melapor ke gembala. Gembala juga pada bingung , sebab sudah dibohongi juga.

Yang jadi persoalan adalah Si P , biasanya seorang yang lugu tetapi skrg berubah mudah tersinggung .

Solusi apakah yang terbaik bagi persoalan ini .
Untuk Si P juga untuk Gembala agar kasus ini selesai tidak jadi pergunjingan / gosip … agar anak yang masih bayi bisa tumbuh dengan sehat dan damai.

Terima Kasih … Syalom.

Kalau belum cerai, istri harus kembali ke suami pertama, karena statusnya dengan yang sekarang adalah berjinah.

Si P tidak bersalah, karena dia ditipu, istri yang berjinah.

Hanya saja anak bayinya harus di tanggung oleh si P.

Keadaan si P dapat di maklumi, waktu yang dapat mengembalikan keadaannya, karena dia sangat terpukul, harus di dampingi dan di kuatkan dan didukung oleh saudara seiman.

Pimpinan… kasus sulit, tapi bagus untuk dibahas

Fraksi kumis menilai, harus berhati2 menyikapi hal ini untuk setiap permasalahan pernikahan seperti ilutrasi diatas, sifatnya ada kasuistis atau case by case, tidak bisa diputuskan secara general.

Dalam hal ini, yg gw liat De’janda yg bikin masalah namun yg bisa bnyk bertindak adalh suami si E dan sipemuda P, kliatannya mereka yg akan ambil keputusan duluan. apakah mau lanjut atau putus dengan de’janda.

GW yakin yg gampang kesinggung bukan cuman sipemuda P tapi juga de suami, mereka sama2 dibohongi.
Jadi sebelum memberi saran, harus tau dulu apa keinginan dari masing2 pihak…

Jadi dengan info sbegitu , kumis sih ga brani kasih saran apa2,…

pls pencerahan dari juragan yg lain. Nice case!

Ada yang aneh… biasanya masing2 pihak harus mengenal keluarga masing2… tapi bila kasus disini si janda mengaku tak punya sanak keluarga… hanya tinggal pemerintahan setempat yang bisa diambil keterangan… artinya si pemuda harus menanggung kesalahan karena kecerobohan sendiri… namun karena TUHAN sudah mengaruniakan anak, maka… sebenarnya si pemuda tak usah marah2 ato tersinggung karena kesalahan sendiri… harusnya bersyukur karena TUHAN masih mempercayakan seorang anak kepadanya… mengenai si janda… kembalikan pada suaminya…

bukan ilustrasi om … sedang terjadi nih… Si P temanku nih … kenyataan ini … real.

Dalam hal ini, yg gw liat De'janda yg bikin masalah namun yg bisa bnyk bertindak adalh suami si E dan sipemuda P, kliatannya mereka yg akan ambil keputusan duluan. apakah mau lanjut atau putus dengan de'janda.

GW yakin yg gampang kesinggung bukan cuman sipemuda P tapi juga de suami, mereka sama2 dibohongi.
Jadi sebelum memberi saran, harus tau dulu apa keinginan dari masing2 pihak…

Jadi dengan info sbegitu , kumis sih ga brani kasih saran apa2,…

pls pencerahan dari juragan yg lain. Nice case!

Masalah terberat adalah Si P adalah seseorang yang taat sekali. Dia sudah mau mengawini janda. Sudah mulia perbuatannya.

Sedang si P adalah asli Joko… Asli bener lho… gak pernah main apapun (main perempuan, judi, minum), taat sekali ke gereja. Seorang Guru skrg. Sore les privat. Nonton Bola kesenangannya. Tidak neko-neko.

Skrg Si P, mulai sedikit temperamental dan mulai goyang imannya. Mudah tersinggung lagi.

itulah masalahnya … si E dan Si P adalah pendatang semua di kotaku.
Sudah ditanyakan ke gereja asal si E, jawaban sama bahwa Janda ditinggal suami mati tanpa anak.

Anaknya masih 7-8 bulan , kalau si E kembali ke suami pertama , rasanya tidak mau juga .
Si E dan Si P guru PNS. Baru diangkat 2 tahun lalu.

Kalau tetap bersama dengan si P, maka rumah tangga nya saya rasa sulit / banyak badai , sebab dibangun dari pondasi pasir / kebohongan. Kalau dikatakan si P salah ya tidak juga , sebab dia gak pernah pacaran dan ini cinta pertama segalanya percaya saja yang disampaikan oleh si E.

Cinta kalau dah sudah mabuk , tai kucing rasa coklat… kata Gombloh.

Gimana kalau POLIANDRI … :cheesy: :smiley: just kidding OOT → ON.

Gembala juga pusing , sebab percaya juga . Mengechek ke asal gereja si E , dari luar kota dan tidak kenal. Beda Provinsi…

disini belum tertulis mengenai hubungan antara si E dan suami terdahulu seperti apa permasalahannya… sebab seorang perempuan berani mengambil tindakan tersebut biasanya ada permasalahan yang tidak bisa terselesaikan di RT yang terdahulu…

Kalau tetap dengan Si P, apakah bisa manusia menghilangkan memory kebohongan yang sangat fatal. Jika si E tidak berbohong , 100 % si P tidak akan menikahinya. Sebab si P anak TUHAN yang taat.

Kalau sudah jadi bubur begini , aku pusing juga solusinya… Mau bilang Pikul Salib, pada marah dia nanti , Ntar dijawab “Salah saya apa, saya sudah tulus mau menikahi biarpun janda” … Pusing juga… ayo…

Kasihan skrg dia… Om Gembala nya juga…sebab diberkati di gereja dan pestapun di gereja.

yang terpenting adalah melanjutkam hidup bagaimana… ??? bila memang keduanya ingin melanjutkan ya selesaikanlah perkara sebelumnya dan mulailah melanjutkan hidup kearah lebih baik… bila perkara bohong dibawa terus maka itu akan menjadi beban yang akan dipikul oleh si P terus mau sampai kapan… semua orang tentu pernah bersalah dan pernah berbohong… yang terpenting bagaimana kedepannya… keduanya harus bersikap dewasa…

Tidak ada salah juga kita harus pikul salib, karena memang itu perintah Tuhan Yesus.

Menyangkal diri, memikul salib, ikut Aku.

Matius 10
10:38 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.

Matius 16
16:24 Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.

Walau tidak penyebab, tetap saja kita harus memikul salib.

Disini Imannya sedang di uji, dalam keadaan demikian, apakah dia dapat tetap setia seperti Ayub.

Semoga dia tetap tabah menerima ujian yang sedang dia hadapi.

Tetapi dia harus menyadari bahwa keadaannya adalah hal yang harus dia lalui, dia tidak dapat lari dari keadaannya yang sekarang.

Tetap hadapi, dan berdoa supaya Tuhan memberi jalan keluar yang terbaik bagi dirinya.

keadaannya dia bukan tidak ada jalan keluarnya, hanya tidak sesuai dengan keinginnannnya, itulah namanya, salib yang harus dipikul, kalau gampang dan sesuai dengan keinginannya, itu bukan salib.

Waktulah yang akan mengentengkan sakit hatinya.

Kalau dibalik gimana , suami secara diam - diam punya isri lagi. sampai 2 lagi. Lalu terbuka…diketahui istri.

Apakah istri nya tsb memafkan … jika istri tdb itu anda sis @rita

Pimpinan…

Kumis rasa sulit menimbang jalan keluar untuk case ini, perlu data dan bukti2 lain, kalo ga terlalu banyak kemungkiannya… gimana kalo bro sutradara tambahkan kondisi2 tertentu jadi analisanya bisa lebih tajam.

Misal,

  1. pernikahan si janda dengan suaminya dahulu, tidak dilakukan melalui pemebrkatan gereja dan catatan sipil, alias kawin siri alias kumpul kebo… , apa yg bikin sipemuda ga tau kalo cw nya dah pernah nikah dll

jadi terlalu banyak kemungkinan jadi banyak alternatif dalam analisanya

“Yang Ku hendaki adalah belas kasihan bukan persembahan”, kata Yesus.

Bukan masalah yang mudah, sebab ketiganya harus menyatakan apa niatnya dan apa yang dikehendaki dari hubungan ini. Kalau tidak ada cinta, maka pernikahan itu hambar, karena itu jangan kita mengabaikan cinta yang baru tumbuh dan jangan kita mengorbankan pemuda P yang tidak besalah dalam hal ini.

Surat cerai sejak lampau sudah dikeluarkan oleh Musa dan Yesus sendiri menyatakan hal itu terjadi karena kedegilan hati tetapi tidak demikian seharusnya. Kembali kepada hukum Tuhan, kita tidak dapat memaksakan seseorang bercerai karena kita hendak memberikan “persembahan” terbaik bagi Tuhan tatapi marilah kita melhat kemurahan yang dimiliki Allah, bahwa hidup seseorang harus dilanjutkan tanpa luka-luka.

Pendata harus secara khusus membimbing janda E dan pemuda P demikian juga dengan suami lama janda E, jika mereka telah cerai maka seperti halnya surat cerai Musa, kedegilan hati janda E dan suami lamanya jangan menjadi duri bagi pemuda P dan anaknya. Biarlah mereka memulai lembaran hidup baru. Saya tidak tahu secara jelas khasusnya, dalam hal ini saya menyimpulkan janda E telah bercarai dengan suaminya dan untuk menikah lagi dengan pemuda P yang lugu maka ia mengaku cerai mati agar mau menikah. Tahu-tahu suaminya belum mati.

Persoalan menjadi lebih rumit jika ternyata mereka belum bercerai, sebab pilihannya adalah mencarikan suami lama atau suami baru. Dasarnya adalah belas kasihan, bukan menerapkan hukum secara kaku dan tak berbelas kasihan.

Semoga Allah mengaruniakan damai sejahtera bagi pendeta dan jemaatnya.

Pelayanan yang harus dilakukan:

  1. Pemuda P yang terluka hatinya sangat dalam harus dilayani sampai dapat mengampuni dan mengasihi kembali.
  2. Janda E yang degil hatinya harus dilayani sampai ia benar-benar berbalik dari kesesatannya.
  3. Suami lama janda E, entah bisa dilayani atau tidak, tetapi ia harus dilayani karena ia membiarkan percaraian terjadi dalam rumah tangganya sampai ia dapat menjadi suami yang mencarminkan sifat Kristus pada gerejaNya.

Bicara memang mudah, tatapi semoga Allah memberikan jalan keluar yang tepat dan terindah bagi semua orang.

[quote author=nembakmanuk link=topic=43518.msg683083#msg683083 date=1338544728]
Kalau dibalik gimana , suami secara diam - diam punya isri lagi. sampai 2 lagi. Lalu terbuka…diketahui istri.

Apakah istri nya tsb memafkan … jika istri tdb itu anda sis @rita
[
/quote]

Saya secara manusia , mula2 pas ti marah dan nagmuk, hehe karena besar di Sumut, jadi pasti marah2 dulu, dan ngamuk, kalau belum bertobat, saya sudah tonjok sisuami hehe.

Untungnya sudah bertobat, memang pas ti marahdan sakit hati dan sedih dll.

Tetapi karena sudah mengerti Firman Tuhan, ini adalah salib yang harus dipikul, saya tetap harus jalani, dengan syarat, suami harus pilih, kalau dia tidak sanggup pilih, saya yang mundur untuk hidup sendiri dan anak.

Tidak gampang memang, tetapi karena kita mempunyai Allah yang senantiasa memelihara hidup kita, kalau sampai Tuhan mengijinkan itu terjadi, saya percaya ada yang Tuhan ingin didik dan mengajar saya.

saya akan dengan pasrah dan iman, bahwa Tuhan akan meringankan beban saya, karena hanya kepada Tuhan saya menangis dan berseru, saya percaya Tuhan yang memberi saya keringanan.

saya menghadapi beban berat yang berbeda, tetapi bersamaan dengan waktu Tuhan memberi keringanan, walau persoalan tidak di hapus, tetapi beban yang di bawa tidak lagi seberat sebelumnya, saya mampu menjalanninya.