Kegalauan Seorang Anak Muda

Shalom buat seluruh user ForumKristen.com

Sungguh hati saya benar-benar galau saat ini. Mengapa tidak. Dalam rentang satu tahun ini (2012-2013), ada tiga pemudi gereja kami yg sudah menikah dengan pemuda yg tidak seiman. Sebagai mantan aktivis komunitas anak-muda gereja (sekarang tidak lagi karena sudah pindah ke kota lain), saya merasakan ini seperti sebuah pukulan yg sangat berat. Mengapa tidak? Ketiga pemudi tersebut, dalam pandangan saya, telah dapat dikategorikan dalam level “murid”(disciple) & bukan hanya pengikut.

Sewaktu saya masih berjemaat di gereja ini, saya mengenal baik ketiganya & keluarganya. Saya masih ingat kesaksian mereka tentang bagaimana mereka pertama kali mengenal Yesus Kristus, kemudian menerima Dia sebagai Tuhan & Jurus Selamat pribadi mereka. Saya juga secara langsung menjadi saksi bagaimana mereka dibaptis air, dipenuhi Roh Kudus & mendapat karunia berbahasa roh. Setelah itu mereka bertekun dalam pengajaran & ibadah Minggu, aktif dalam doa malam, komunitas muda-mudi, komunitas sel, dua diantaranya terlibat aktif di pelayanan gereja dan bahkan ada yang pernah jadi fulltimer. Belum lagi aktif dalam acara gereja seperti Leadership Day, Booth Camp, Inner Healing, KKR, Discipleship Week, Paskah, Sekolah Minggu dan Natal. Dua dari tiga pemudi tersebut, keluarga intinya telah menerima Yesus Kristus sedangkan seorang lagi baru dia sendiri yang kristen dalam keluarganya.

Ada kegalauan yg begitu besar ketika menerima sms, telp dan akhirnya undangan resmi dari ketiganya untuk meminta saya hadir dalam resepsi pernikahan mereka. Ada begitu banyak pertanyaan dalam hati saya (yg ujung-ujungnya menyalahkan…). WHY? Mengapa ini bisa terjadi? Di mana iman kalian? Di mana pengetahuan alkitab kalian? Di mana gembala sidang? Di mana penatua? Di mana fulltimer? Di mana para pemimpin gereja? Di mana keluarga inti mereka? Ortu, kakak dan adik mereka? Kenapa mereka tidak melarang? Kenapa mereka diam? Kenapa mereka setuju saja?

Sungguh sangat bersyukur, ketika hari-hari resepsi, saya sedang berada di kota lain mengemban tugas dari atasan sehingga saya punya alasan yang kuat untuk tidak bisa datang. Saya berandai-andai, misalkan hari itu saya bisa datang, apakah saya akan datang? Bukankah ketika saya ada di resepsi tesebut, itu berarti secara tidak langsung saya “setuju” dengan keinginan mereka? Salah seorang teman seiman menanggapi dengan komentar, “Lho, bukankah Tuhan ada di sana? (di tempat resepsi) Kalo Tuhan saja ada, harusnya kamu ada juga kan?” Saya hanya menjawab, “Jika saya ada, itu karena diundang. Tapi, apakah Tuhan juga diundang?”

Sungguh, begitu sulit menulis curhat ini tanpa kecenderungan membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain. Tapi percayalah, ini benar-benar timbul dari hati yg paling dalam, dikarenakan hubungan pribadi saya yg dekat dengan ketiga pemudi ini dan keluarganya. Hati saya benar-benar tidak rela mereka mendapatkan pasangan yang bukan seiman dan tidak diberkati di gereja. Mereka bertiga dianugerahi fisik sempurna yang cantik & indah oleh Tuhan, alangkah luar biasanya jika disatukan dengan pemuda yang seiman di dalam Tuhan.

Oh ya, jikalau ada user yg bertanya-tanya, saya mau pastikan bahwa tidak ada hubungan “cinta” resmi apapun antara saya dan ketiga pemudi ini sampai saat saya pindah.

Shallom,

Shadowing yang dikasihi Tuhan, sedikitnya saya juga bisa merasakan kegalauan yang anda rasakan. Jika saya di posisi anda, saya pun mungkin akan merasakan kesedihan bahkan ‘kemarahan’ kepada mereka atau orang2 di sekitar mereka.
Secara pribadi kita pasti sedih karena ‘kehilangan’ pelayan level ‘murid’ dan seolah2 segala usaha dan pekerjaan kita ketika mendidik mereka menjadi sia-sia. Tetapi Tuhan Yesus pasti lebih sedih lagi karena pengorbanan-Nya jauh lebih besar dari apa yang pernah kita berikan untuk mereka. Jika mereka sekarang mengingkari kasih dan pengorbanan-Nya sedangkan mereka sudah mengecap segala kebaikan Tuhan, biarlah mereka yang berperkara dan bertanggung jawab langsung kepada Tuhan mengenai segala tindakan mereka.
Yang perlu kita lakukan sekarang adalah tetap berdoa bagi mereka agar mereka dapat menyadari setiap kesalahan dan sekiranya mungkin, dapat kembali kepada Tuhan Yesus.
Tetap jaga hubungan baik dengan mereka, dan jika ada kesempatan, anda bisa tanyakan alasan mereka meninggalkan iman percaya mereka.

Salam Damai Sejahtera

Shalom back 'tuk brada TS :slight_smile:

Turut merasakeun hal yg sama, saiahpun pernah ‘kehilangan’ saudara/i senior se-pelayanan dan cukup makan waktu-makan-ati-makan api tak sebentar 'tuk kami bisa get along lagi_as a friend, ndak lg as brotha/sista in Christ J yg KOMIT untuk SETIA hingga AKHIR mengerjakeun dan hidup dlm Anugerah Keselamatan.

Entah sampai kapan ‘wabah epidemi’ yg sejenis ini bisa tertanggulangi… hopefully jgn sampai makin hari makin naik ke stadium akut :mad0261:
Domba2 yg tersesat, anak2 bungsu yg terhilang (masih) enggan pulang, anak2 sulung yg kuwalat, anggota2 TUBUH KRISTUS yg ‘cidera cacat sementara’,… akan dijamah & dipulihkeun-NYA (AmieN), melalui qta juga yg dipakaiNya.
Let us b STRONGER en take moreeee COURAGE en keep on encouraging one to anotha :). ImmanueL!

JCBus

Wah ini tentang apa dan siapa yang diutamakan.
Sebelum ketiga teman bro itu mlangkah “kesana”, saya yakin mreka jg udh brgumul duluan.
Mreka cuma salah pilih. (Cuma?)

@free, @Rinjani, @NicMus :
Thanks untuk komen, opini, komen & tanggapannya. Saya sungguh sangat menghargainya.

Saya tahu bahwa tidaklah baik menyalahakan diri sendiri. Tapi saya jadi teringat satu momen saat mengikuti kegiatan Leadership Camp yg diadakan gereja lokal selama tiga hari di luar kota. Dalam kegiatan tersebut, kami dibagi dalam kelompok-kelompok beranggotakan 7 orang (peserta lebih dari 100 orang). Sebagaimana sebuah kegiatan leadership, ada begitu banyak peraturan yg harus ditaati. Pada hari pertama, jika salah seorang dari anggota kelompok “bersalah” sekali maka name-tag (kartu)-nya akan dicoret sekali, begitu seterusnya. Hari kedua, jika seorang bersalah maka seluruh anggota kelompoknya dianggap bersalah dan dicoret. Hari ketiga, jika seorang bersalah maka seluruh peserta dianggap bersalah dan dicoret. Sekalipun pada akhirnya ini adalah sebuah simulasi tapi tak bisa dipungkiri air mata yg mengalir dan keharuan yg terjadi saat itu benar-benar tak bisa dilupakan.

Inti dari Leadership Camp tersebut mengajarkan kami untuk bertanggungjawab terhadap jiwa-jiwa yg sudah dipercayakan Tuhan dalam gereja. Jika ada yg “bersalah”, sudah seharusnya itu menjadi tanggunjawab semua dan bukan jadi ajang untuk saling menyalahkan. Tiga pemudi yg saya ceritakan di atas pernah mengikuti acara ini, bahkan ada yg sampai dua kali.

Walau saya sekarang tidak lagi menjadi bagian tetap dari gereja itu, tetapi hati saya saya selalu berada di sana. Saya selalu bertanya-tanya, di mana letak kesalahan strategi kami? Apakah kami terlalu berfokus kepada satu dua hal lantas melupakan hal yg lain? Apa kami kurang tegas dalam menerapkan dogma atau doktrin gereja? Di mana letak permasalahannya? Saya mengerti bahwa tidak ada gereja yg 100% tapi sampai kami mengetahui akar permasalahan yg sebenarnya maka hal yang sama kan terjadi dan terjadi lagi.

Untuk masalah leadership camp tidak bisa dijadikan untuk patokan. Dari kelompokku di kampus dalam pelayanan, aku juga pernah ikut leadership dan jadi pengurus juga. Tapi kalau semisal ada grafiknya, di antara semua yang ikut pelayanan menurutku grafikku yang paling kacau naik dan turun.

Dari teman2 pelayanan baik dari pemimpin juga pernah bingung kok yang bertahan malah wajah2 orang yang tidak masuk hitungan(including me). Aku taunya juga dari mereka bilang sendiri sebenarnya aku termasuk orang yang tidak termasuk dalam pandangan mereka.

Kalau mau aku bandingkan2 diriku dengan yang berpisah(pernah terjadi konflik dalam organisasiku). seharusnya lebih taat mereka dari pada aku menurut pemikiranku. Tapi aku mengucap syukur sampai sekarang aku masih di jaga Tuhan. Temannya temenku juga mengalami yg sama juga sudah tidak kristen lagi. Padahal sama2 merasakan mujizat Tuha, anugrahnya, pernah pelayanan juga dll.

Kadang2 belum tentu juga itu karena strategi, doktrin, dogma, ajaran yang kurang baik/ kurang ditekankan ke "murid"nya. Bisa jadi ini di ijinkan Tuhan terjadi, bukan di kehendaki lho ya. Mungkin juga ada khairosnya Tuhan yang bisa membuat orang2yg terhilang kembali lagi ke Tuhan. Tidak perlu di jadikan beban dalam hati dan pikiran, takutnya malah jadi jerat untuk kamu sendiri. Tidak perlu mempersalahkan keadaan, ajaran, apalagi diri sendiri.

May i ask all f us to be HONEST checking en compiling penyebab terbanyaq epidemi inih m’wabah krn ap y… ?
Uhmm, , not bcoz own-stupidity f love en lust, kah ?.?..?..! :idiot2: :onion-head2:

@muonshirata :

Saya tidak menjadikan “leadership camp” jadi patokan, masbro. Saya lebih menekankan pada tujuannya itu loh. Justru karena menjadikan tujuan akhir-nya itu sebagai “beban” (passion) gereja Tuhan, saya jadi galau. Coba bayangkan kalo kami di sini santai-santai saja spt tidak pernah terjadi sesuatu. Lama-lama, anak-anak Tuhan yg siap pakai untuk memuridkan jiwa-jiwa baru tambah sedikit (terutama anak-anak mudanya). Firman-Nya jelas, tuaian banyak tapi pekerja sedikit. Jadi jangan salahkan Tuhan kalo jiwa-jiwa baru yg dipercayakan bertambah sedikit. Saya mau tegaskan lagi kalo lewat curhat di forum ini, saya hanya mau mencari di mana letak akar permasalahannya. Mungkin ada gereja Tuhan yang pernah mengalami hal yang sama kemudian berubah terus berbuah.

@Rinjani :

Nah itu dia masbro/mbaksis, saya juga pengen tau nih statistik-nya, kalo ada. Sebagai sample aza, tiga pemudi yg saya sebutkan di atas itu rata-rata umurnya 23-25 thn. Good looking girls with face & body above standard (hope you know what i mean). Tingkat ekonomi menengah ke atas. Punya pekerjaan tetap yg menjanjikan. Dua di antaranya bahkan punya keluarga inti yg sudah menerima Yesus. Makanya ketika saya menerima sms kalo mereka mau menikah, saya bingung. Kok bisa? Satu lagi yang lebih membuat tambah galau adalah di pesta pernikahan itu banyak anak-anak muda gereja yg hadir bahkan ada juga mantan anak-anak komsel-nya. Bagaimana bila dalam diri anak-anak muda itu timbul pemikiran seperti : “Oh, ternyata boleh ya seperti ini… Buktinya, senior kita…”

Secara tak langsung munculah epidemi spt masbro/mbaksis maksud…

Di satu sisi memang kita sudah tidak terlibat dan tidak menjadi bagian gereja tsb lagi sehingga tidak patut kita menyalahkan diri sendiri, tetapi pertanyaannya, apakah kita masih tetap berdoa untuk setiap jiwa yang ada dan pelayan yang terlibat di gereja kita yang lama tsb? :coolsmiley:

Jika ingin memperbaiki doktrin, coba evaluasi mengenai pendidikan dasar kekristenan terutama dasar iman, karena dari situ seharusnya yang bisa membentuk seseorang menjadi ‘militan’ di dalam Kristus.
Seorang yang ‘militan’ dalam iman tidak akan mudah goyah oleh segala hal yang ada disekitarnya, karena dibangun atas dasar (iman) yang teguh. Segala macam ‘godaan’ baik orang terdekat (keluarga, pacar, suami/istri, anak, dll.), harta kekayaan, kedudukan, dlsb tidak akan mudah merubah iman kita terhadap Kristus jika kita bersikap ‘militan’ dalam hal ini.
Banyaknya aktivitas kita dalam terjun/terlibat dalam pelayanan (mimbar) dan aktivitas lain kadang tidak dapat menjadi tolok ukur akan kadar ke-iman-an seseorang.
Itulah sebabnya, para pendoa syafaat sangat dibutuhkan di tiap-tiap gereja untuk menjaga domba masing2 agar tidak di-‘curi’ oleh dunia dan ‘kuasa gelap’.

Salam Damai Sejahtera,
Tetap semangat melayani Tuhan!

@free :
Terima kasih untuk komen-nya masbro. Sungguh memberkati sekali.

Sungguh hati saya benar-benar galau saat ini. Mengapa tidak. Dalam rentang satu tahun ini (2012-2013), ada tiga pemudi gereja kami yg sudah menikah dengan pemuda yg tidak seiman. Sebagai mantan aktivis komunitas anak-muda gereja (sekarang tidak lagi karena sudah pindah ke kota lain), saya merasakan ini seperti sebuah pukulan yg sangat berat. Mengapa tidak? Ketiga pemudi tersebut, dalam pandangan saya, telah dapat dikategorikan dalam level "murid"(disciple) & bukan hanya pengikut.

maklum gan,di indonesia itu kan budaya anak mudanya musti ikutan ‘tren’ supaya ‘diajak main’.klo akhirnya begitu ya menurut saya mereka ga bener2 jd “murid”(mungkin hanya ikutan ‘tren’ di gereja saat itu).ga heranlah banyak anak2 muda Kristen yg masuk jebakan beginian(takut ga ‘diajak main’ /ga dipandang klo ga ngikut ‘tren’).IMO itu bukan motivasi yg kuat buat jd murid Kristus(jadinya gampang diombang-ambing).

di gereja ane juga banyak wanita2 muda jebolan wanita bijak yg fanatik banget sama doktrinnya/pengajarannya tp ujung2nya takluk jg sama ‘godaan dunia’.ga kuat katanya klo musti nunggu yg terbaik dari Tuhan(berat pergumulannya).menjadi murid Kristus memang tidak pernah mudah kok(harus menyangkal diri & memikul salib).

Tuhan Yesus adalah sumber kedamaian sejati…
andainya orang yg pernah merasakan roh kudusnya kalah akan kenikmatan duniawi biarlah dia
beria2 dgn kebahagiaan semu duniawi…

Bagaikan perumpamaan anak yang hilang…
Doakan dan percayalah, cepat atau lambat dia akan menyesalinya dan pulang kembali…
Tetapi jika keegoisannya atau harga dirinya lebih tinggi mungkin ia akan tersesat selamanya…
Kita sebagai teman/sahabatnya pasti kecewa akan perlakukannya tp biarlah Tuhan yang merebut
hatinya kembali…
Tugas kita bukan menyimpan kekecewaan dan sakit hati, itu membuat galau dan susah hati…
berdoa saja bro… biar kita lebih rela akan semua perkara yang Tuhan biarkan terjadi…

GBU

Sodara Shadowing:

Itu karna hati mereka tidak melekat kepada TUHAN YESUS.

Ya saya juga pernah ikut retret dan leadership bootcamp di gereja, tidak jaminan memang. Tapi buat saya ada dampak juga sih ikut aktivitas kerohanian sejenis bahkan masuk dunia pelayanan ya ada suka dukanya sih tapi buat saya sih banyak menyenangkannya.

Saya pernah sih mengalami beberapa kali dekat dg pemuda non kristen, bahkan ada yang anak haji. Pada masa itu saya beberapa tahun silam rohani saya juga up and down dan tergolong muda, tapi saya merasakan bagaimana TUHAN YESUS menjaga hati saya sehingga saya tidak bisa berpaling dr kasih TUHAN YESUS. Saya sudah rasakan pria dari level seiman sampai yang tidak seiman berusaha untuk menarik hati saya.

Tapi TUHAN YESUS benar2 mengcover hati saya dalam pemilihan pasangan hidup untuk yang sepadan, tidak semata seiman tapi harus memiliki iman yang bertumbuh pula dalam Kristus Yesus (begitulah yang TUHAN tanamkan di hati saya).

Saya sadar saya hanyalah manusia biasa, tapi saya selalu berkata kepada TUHAN YESUS “jangan pernah lupakan saya dan lepaskan tanganku walau apapun yang terjadi TUHAN YESUS”. Dan saya sudah melewati banyak sekali ujian badai kehidupan dan ditempa keras atas seizin TUHAN yang berdaulat, bisa saja punya alasan menyerah dg iman saya. Tapi di hati saya selalu percaya bahwa TUHAN YESUS pasti ada buat saya dan tidak mungkin meninggalkan saya. Saya selalu memohon kekuatan TUHAN :slight_smile: Saya suka sekali baca Firman yang berkaitan dg janji2 TUHAN karna dg janjiNYA saya merasakan bahwa harapan itu selalu ada :slight_smile:

Matius 16:19 Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."

Jika sodara2 sedang down rohaninya, baca saja Firman yang mengandung janji2 TUHAN dan kata2 penghiburan dan kemudian imani taruh di dalam loh hati sodara. Jika TUHAN yang berjanji pasti ditepati, Ya dan Amin. Apapun yang kita kerjakan bukan karna hasil usaha kita tapi kasih karunia TUHAN. Bukan karna kuat gagah kita tapi karna kasih sayang TUHAN YESUS :slight_smile: Saya percaya setiap anak TUHAN yang memiliki iman sejati, pasti adalah pemenang bagai burung rajawali yang terbang makin tinggi melintasi badai kehidupan. Yang tidak menyerah pd situasi tapi menjadikan TUHAN panji kemenangan :slight_smile:

Pernah juga hal yang mirip2 menimpa saya, cuma konteksnya bukan pasangan hidup, tapi pekerjaan. Dulu pas di persekutuan kuliah dikasitau, kalau nyari kerja jangan cuma liat yang gajinya gede, tapi liat juga panggilan/passion nya dimana. Pas udah lulus dan waktunya melamar kerja, ternyata banyak tuh yang getol pelayanan (entah jadi pengurus atau pemimpin PA, dsb, dsb) yang money oriented. sempet protes ke Tuhan, kog gini sih yang getol pelayanan (saya termasuk yang antipelayanan waktu kuliah - sekarang juga ;D). :cheesy: dan tahu Tuhan jawab apa? “Itu bukan urusanmu, tetapi engkau: ikutlah Aku.”. itu quote dari yohanes 21, nemunya waktu baca bukunya c.s. lewis yang mere christianity.

Meski awalnya saya “ngomel”, tapi kemudiannya saya jadi agak tersadar, kalo bisa patuh sama maunya Tuhan, itu juga gara2 anug’rah Nya. Emang jadi kaya dilebay2in sih, tapi itu hikmah yang saya terima waktu strees nunggu dapet kerjaan ;D ;D ;D ;D ;D ;D

@jegan2000 :
Sungguh miris sekali membaca komen, masbro. Terlebih karena di gereja kami juga ada kegiatan wanita bijak. Saya sih secara khusus belum pernah bertanya apa alasan mereka sampai menikah dengan yg tidak seiman. Tapi berkacamata dari komen masbro, paling tidak saya bisa menarik kesimpulan sementaranya dan ini bisa jadi analisis masa depan untuk dibagikan kepada tunas-tunas muda di gereja kami. Luar biasa. Thanks masbro untuk sharenya.

@PoppyPurity :
…Itu karena hati mereka tidak melekat kepada Tuhan Yesus?..

Setelah membaca dengan teliti komen mbaksis, saya sampai kepada satu kesimpulan, apakah mbaksis orang pilihan Tuhan, sedangkan mereka bukan? Atau minimal bukan pilihan pertama (starter) melainkan cadangan (kayak di sepakbola). Kok mbaksis bisa merasakan bagaimana Tuhan Yesus menjaga hati mbaksis sehingga tidak berpaling dari kasih-Nya, sedangkan mereka tidak? Atau mereka sebenarnya bisa merasakan juga tetapi menyangkalinya?

@Zodiakkiller :
… “Itu bukan urusanmu. Tetapi engkau, ikutlah Aku.” …

Sungguh suatu ayat yg sangat dalam sekali maknanya. Thanks untuk sharenya.

Saya salah satu yang percaya dg adanya orang pilihan TUHAN :slight_smile:

Untuk kenapa mereka akhirnya mengambil sikap seperti itu, apakah mereka pilihan atau bukan, tidak dalam kapasitas saya mengomentari itu karna apa yang terjadi dalam hidup manusia dari awal-akhir itu TUHAN yang punya otoritas dan TUHAN yang MAHA TAHU.

Untuk saya pribadi saya tahunya, karna hati saya melekat kepada TUHAN YESUS jd seperti ada yang nahan dari hati jika hal tsb tidak sesuai dg Kehendak TUHAN. Saya sudah terbiasa dididik keras untuk ikut aturan main TUHAN, bukan apa mau saya. Di didik untuk ikut masuk dalam rancanganNYA TUHAN bukan rancangan saya semata. Saya sih bisa ajuin permohonan untuk sesuatu hal sesuai selera saya, tapi meski begitu harus tanya dan izin sama TUHAN selaras KEHENDAKNYA atau bukan. Jika tidak, pasti saya mundur. Saya ga berani keluar dari garis otoritas TUHAN. Jadi buat saya suka2MU lah TUHAN YESUS.

Kenapa gitu? Apapun yang terjadi di dalam hidup saya, karna saya sudah terbiasa libatin Allah Tri Tunggal dalam setiap aspek hidup saya, jadi saya di bawah perlindungan otoritas TUHAN. Saya sudah terbiasa apa2, TUHAN YESUS harus dilibatin. Tidak boleh tidak, Allah Tri Tunggal itu harus jd bagian hidup saya. Saya sudah terbiasa begitu hidup dalam Kehendak TUHAN. Saya sudah terbiasa di pimpin ROH KUDUS, pasti deh diingatin. Ya namanya juga saya manusia biasa, ada aja kelemahan diri yang perlu dibanahi dari waktu ke waktu :slight_smile:

Pernah sih saya rasain mulai agak keluar dr track TUHAN tanpa saya sadari alias ikutin kedagingan, tapi pasti nanti di tarik masuk lg sama TUHAN ikut track nya DIA, pasti nanti diingatin ROH KUDUS. Kalo sudah begitu, buru2 saya minta ampun sama TUHAN. Buat saya tanpa TUHAN YESUS, hidup menjadi tidak afdol hehehe dan apa2 saya sudah terbiasa untuk berkata2 sesuai berpadanan dg Firman TUHAN meski tidak harus keluarin ayat2 tapi karna ada ROH KUDUS di hati, nanti ROH KUDUS itu yang nuntun dalam seluruh Kebenaran. Jika tidak sesuai Firman pasti di hati saya ada penolakan, ada yang berlawanan di hati. Banyak deh yang sudah TUHAN ajarkan, tapi ya sekali lagi saya hanyalah alatNYA TUHAN semata, tanpa TUHAN saya hanyalah butiran debu hahahaahaha :cheesy:

Oh ya satu lagi, karna saya alatNYA Allah Tri Tunggal, jd saya dituntut menjadi serupa mengikuti selera BAPA dan gaya hidup anak2 Allah. Apa yang TUHAN suka saya ikut suka, apa yang tidak TUHAN suka saya juga ikut tidak suka hehehe bagaimanapun ciri2 anak2 TUHAN sejati pasti akan menjadi serupa seperti KRISTUS. Antara anak2 terang dan anak2 kegelapan pasti ada bedanya, tidak sama. Tapi untuk menjadi sama seperti KRISTUS butuh melewati banyak proses, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi setimpal juga hasilnya bagi kita yang berhasil keluar sbg pemenang. Harus kuat dan mau di proses TUHAN, tidak instan tapi di mulai dari hal yang sederhana. Setia pd perkara2 kecil. Harus jaga hati, harus rendah hati, harus memiliki motivasi hati yang murni, harus bayar harga, nyangkal diri, hidup kudus, mengerjakan bagian keselamatan dan harus konsisten sampai Maranatha. Ya itu deh sekelumit kisah perjalanan Iman seorang PoppyPurity (kenapa ada Purity karna saya ingin hidup selalu dalam kemurnianNYA, apa yang saya lakukan dan kerjakan murni). Dan semua bisa terjadi karna TUHAN YESUS yang mampukan, tanpa TUHAN “I am nothing”. GBU

biasalah anak muda,klo ada orang yg ga ngikutin sesuatu yg lagi ‘happening’ langsung dianggap ga gaul & jdnya ga diterima dalam kelompok.hal inipun juga terjadi di gereja(tergantung lagi ada ‘happening’ apa di gereja).beda jauh ya dengan Tuhan Yesus yg justru malah bergerak nyamperin orang2 yg istilahnya ‘ga masuk hitungan’ di masyarakat(bukan nunggu orang dateng buat daftar jd murid).kadang kegerakan2 di gereja gitu juga bisa dianggap sbg ‘tren’ lho oleh orang2 yg salah mengerti,begitu 'tren’nya habis atau bergeser ya lenyap jugalah antusiasme yg datang krn ‘tren’ itu.

Bisa macem2 sis love, lust, own stupidity juga bisa karena kepahitan.
Dan dari semua itu kesimpulannya kan satu kurang mengakar dalam Tuhan. Dan ini sifatnya hubungan pribadi.
Intimacy. Dan doktrin tidak bisa masuk ke area ini, paling cuman mengarahkan. Itu yang mau aku sampaikan, jadi sudahlah jangan menyalah diri sendiri, orang lain & Tuhan karena kurang memberikan ajaran, dogma, dll.

Untuk akar permasalahannya ya kurang mengakar dalam Tuhan.
Kalau bro shadowing terbeban untuk jiwa2 yang di sebutkan tadi. Bayar harga, coba tanya Tuhan bro shadowing harus melakukan apa untuk bayar harga dengan jiwa2 yang bro terbeban. Bayar harga bisa ketaatan(doa, puasa, dll), korban(tenaga, pikiran, materi, perhatian). Aku itu buah pertobatan dari temenku yang bayar harga untuk aku. Dan temenku tidak memberikan doktrin macem2.