Kegiatan Vs Doa

saya setiap sabtu ikut pemuda… minggu ke gereja umum

di gereja saya hari rabu ada doa juga untuk pemuda…
saya sering di ajak untuk datang d hari rabu…
tapi…

setiap hari saya kerja pulang tidur begitu2 terus rasanya bosan
sedangkan hari rabu adalah hari 1 1nya saya ada aktifitas sama teman2 saya

bagaimana menurut saudara2 kalau jadi saya… membuang 1 1nya aktifitas sama teman2 saya padahal hari2 biasa sangat membosankan atau ikut doa

Doa dan kegiatan tsb jadwalnya bersamaan…

kegiatan tersebut adalah sesuatu yg sangat2 saya sukai dan cuma ada seminggu sekali

Anggap jadwal keduanya ga bisa dipindah. Kalo jadwalnya bergantian, gimana?

Misal, minggu ini “doa” terus minggu depan “sama teman-teman”, seperti itu.

DASAR dan INTInya adalah masalah NEED (Kebutuhan) atau WANT (Keinginan) antara Doa Bersama dengan kegiatan tersebut yang adalah [u]sesuatu yg sangat2 saya sukai[/u].
Hidup itu REALITA !
Doa itu kata Orang BIJAK adalah Nafas Orang BERIMAN. Nafas gak cuma ada diGereja, bukan ?
Yg utama adalah jangan LUPA BERDOA sebagai Tanda Orang Beriman dan Imannya masih HIDUP !
Doa di Gereja bersama sama adalah melakukan Doa Syafaat yg ARTINYA kita Berdoa untuk “Orang Lain”,Bangsa dan Negara , dll.
Jauh lebih penting d/p hanya cuma berdoa buat orang lain adalah menebar/menabur Firman Tuhan pada orang2 yg membutuhkan Penguatan Iman bagi yg sedang mengalami masalah dalam hidupnya, menggalang Dana bagi yg sedang TERJEPIT masalah Keuangan. Itu lebih dirasakan Manfaat dan Mudaratnya !
Banyak teman2 saya yg SUPER KAYA, mereka malah KESEPIAN dipuncak Pohon Kekayaannya. Semua yg mendekati mereka hanya karena BUTUH Uang mereka bukan Butuh kehadiran mereka ! Ada GULA ada Semut. Hati mereka terasa KOSONG dan HAMPA. Bak Pohon Cemara, semakin tinggi makin sendirian dipuncaknya. Mereka mengeluh karena Hidup terasa HAMPA.
Saya ajak mereka untuk tampil bukan sebagai Pemilik Perusahaan yg selalu dihormati dan disanjung orang2 disekitarnya. Saya minta mereka tampil sebagai “Anonim Person/Orang tak dikenal” dengan Pakaian yg Sederhana melepaskan Assesories Kemewahan yg selama ini dikenakannya dan masuk kekalangan Orang Papa Harta dan Papa Perhatian alias Orang2 yg TERSISIH/TERBUANG.
Dia melihati dengan mata kepala sendiri bagaimana Orang2Terbuang itu dan disana ia bekerja MELAYANI Kebutuhan mereka, menghibur mereka dan sesekali memberikan Modal / “Pancing” agar mereka bisa Bangkit dan Gairah hidupnya tanpa diketahui oleh SangTerbuang, ITU adalah dari dirinya.
Ternyata DISANA, Orang2 Super Kaya ini merasakan Ketulusan Rasa Terima Kasih dari SangTerbuang dan dia melihat dan menyaksikan Pelayanannya dan Hartanya(yg adalah Titipan Tuhan) itu menggerakkan munculnya "Enterpreuneur/Usahawan & Usahawati " yg mampu BERDIKARI bahkan menciptakan Lapangan Kerja kecil2an bagi orang2 disekitarnya.
Dia tidak hanya mencipratkan !/4 juta rupiah dari Hartanya yg Ratusan Milyar tetapi JUGA mengajarkan bagaimana CARA mengembangkannya menjadi Modal Usaha yg terus berkembang dan dengan menunjukkan dimana mereka bisa medapatkan “Bahan Baku” untuk dagangan mereka.
Ada KEBAHAGIAAN dan KEHARUAN yg tak terukur besarnya menyaksikan Pelayanannya (Baik Kasihnya maupun Hartanya) bisa MENGHIDUPKAN dan MENGGAIRAHKAN Hidup orang2 Terbuang itu. Sekarang ia menyadari dan Hidup sebagai Pipa Penyalur Berkat bagi orang lain dan BUKAN sebagai GENTONG yg hanya menggemukkan dirinya sendiri.
Ia benar2 mempraktekkan Hukum Kasih yg Kedua seperti yg diajarkan Tuhan Yesus:
“Apapun yg kau perbuat pada sdrmu yg HINA dan Miskin ini anggaplah sebagai engkau lakukan untuk-Ku”
Karena Tuhan Yesus sering hadir dihadapan kita sebagai “Orang2 yg Terbuang” :coolsmiley: :happy0062:

Bosan Hidup
Seorang pria mendatangi seorang Guru. Katanya : “Guru, saya sudah bosan hidup. Benar-benar jenuh. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu gagal.
Saya ingin mati”.

Sang Guru tersenyum : “Oh, kamu sakit”.

“Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati”.

Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan : "Kamu sakit. Penyakitmu itu bernama “Alergi Hidup”. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan. Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan.
Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini mengalir terus, tetapi kita menginginkan keadaan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit.
Usaha pasti ada pasang-surutnya. Dalam berumah-tangga, pertengkaran kecil itu memang wajar. Persahabatan pun tidak selalu langgeng. Apa sih yang abadi dalam hidup ini ? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita".

“Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu benar-benar bertekad ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku”, kata sang Guru.

“Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup lebih lama lagi”, pria itu menolak tawaran sang Guru.

“Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati ?”, tanya Guru.

“Ya, memang saya sudah bosan hidup”, jawab pria itu lagi.

“Baiklah. Kalau begitu besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini… Malam nanti, minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan separuh sisanya kau minum besok sore jam enam. Maka esok jam delapan malam kau akan mati dengan tenang”.

Kini, giliran pria itu menjadi bingung. Sebelumnya, semua Guru yang ia datangi selalu berupaya untuk memberikan semangat hidup. Namun, Guru yang satu ini aneh. Alih-alih memberi semangat hidup, malah menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.

Setibanya di rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut “obat” oleh sang Guru tadi. Lalu, ia merasakan ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai ! Tinggal satu malam dan satu hari ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.

Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Ini adalah malam terakhirnya. Ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau dengan anak istrinya. Suasananya amat harmonis. Sebelum tidur, ia mencium istrinya dan berbisik, “Sayang, aku mencintaimu”. Sekali lagi, karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.

Esoknya, sehabis bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Setengah jam kemudian ia kembali ke rumah, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat dua cangkir kopi dan Sarapan Pagi buat anak istrinya. Satu cangkir untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali dan berkata : “Sayang, apa yang terjadi hari ini ? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku sayang”.

Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, “Hari ini, Bos kita kok aneh ya ?” Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan menghargai terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.

Bersambung…

Sambungan …

Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya sambil berkata : “Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu”. Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan : “Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu tertekan karena perilaku kami”.

Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya ?

Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi dan berkata : "Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan".

Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP!

Selama teman yang kamu maksudkan adalah teman yang didalam TUHAN bukan teman duniawi, silahkan beraktivitas dengan mereka. Bergaulah dengan pergaulan positif maka anda juga akan positif, dan hidup anda jadi tidak membosankan. Tetapi jika pergaulan anda negatif, hidup seperti mengejar kesenangan duniawi belaka, maka percuma anda juga akan bosan pada titik tertentu dan hanya menjadi mayat hidup diantara orang yang tertawa bersamaan.

Amsal 14:13
Di dalam tertawapun hati dapat merana, dan kesukaan dapat berakhir dengan kedukaan.

Datang dalam acara doa-doa tetapi hati jika tidak disana, juga percuma. Tetapi jika anda memiliki teman didalam komunitas doa anda, maka semua bisa menjadi lain.

Terima kasih buat semua masukanya…

Kegiatan olahraga bulutangkis…
Setiap minggu saya selalu menantikan momen itu…

Yah… saya pernah mencoba untuk datang doa dan betul pikiran saya tidak d sana…

Kalau anda bisa menjadi garam dan terang dunia dari aktifitas itu, lebih baik lakukan itu daripada berdoa saja, apalagi kalau sudah doanya tidak fokus = sia2

Kalau saya periksa dengan Ilmu Pencerahan Holistik yg saya miliki, kemungkinan BESAR anda termasuk Kelompok Orang2 yg Physical Powernya LEMAH

Yah.. saya pernah mencoba untuk [u][b]datang doa[/b][/u] dan betul [b][u]pikiran saya[/u] tidak disana...[/b]
HAL INI karena anda BUKAN dari [b]Kelompok Orang2 yg [u]Spiritual Powernya[/u] LEMAH[/b]

Kalau anda (siapa saja) yg ingin TAHU dan MENGETAHUI apakah anda berada dalam Kelompok manakah silahkan KONTAK melalui Personal Message / PM, akan kita buat janji temu via HP saya! :coolsmiley: :happy0062:

semuanya dalam genggaman anda
pilih saja apa yg kamu suka, itu mencirikan karaktermu
Tuhan gak pernah maksa utk berdoa kok

[email protected]

Setiap hari seyogiyanya adalah beribadah bagi KEMULIAAN TUHAN YESUS KRISTUS…

Namun jika ada hal yang dinilai ( yang anda nilai sendiri ) demi membuat pujian bagi diri pribadi…mu…?/ maka kemunafikanlah yang anda tunjukan kepada Tuhan Mu…

So …jangnalah ibadahmu merasa itu kewajiban ataupun keharusan bagi diri mu…namun sebetulnya itu sudah sebagai suatu panggilan dari jiwamu.karena anda mengasihi Tuhan Allah mu dng segenap hatimu…bla…bla…sehingga akhirnya tidak ada lagi yang harus dinilai untuk dikorbankan demi memuji sesuatu dari dalam dirimu sendiri…( kepentingan pribadi misalnya ,dll )

Salam GBU…

Salam GBU…