Kepala gereja memimpin perang Salib tetapi mengaku sebagai "Bapa Suci"

Dalam sejarah, pernah terjadi apa yang disebut perang Salib. Seorang pemimpin gereja menjadi Panglima perang di salah satu pihak. Mereka membantai jutaan orang. Mereka mengaku sebagai gereja yang asli dan umatnya mengaku bahwa Pemimpin gereja mereka yang disebut Bapa Suci adalah rendah hati. Di lain pihak, Yesus mengajarkan untuk mengasihi musuhmu… Sementara gereja ini mengajarkan perang…Apakah layak gereja ini mengaku sebagai gereja Tuhan yang asli ? Pemimpinnya saja berkelakuan koboy ala George Bush, kejam kayak Hitler tetapi mengaku “suci”…bagaimana menurut anda ?

Perilaku yang menunjukkan siapa dia yang sebenarnya…

Syalom bro…

Post yang dibuat hanya karena kepala sedang panas. Tanpa bobot dan tanpa referensi sama sekali. Dan sayangnya, juga tanpa didukung oleh pengetahuan akan sejarah yang sebenarnya.

Baiklah, agar thread ini tidak menjadi santapan para anti Kristen, kiranya harus diluruskan.

Walaupun dari sejarah kita melihat dampak yang memprihatinkan sebagai akibat dari Perang Salib, namun Perang salib yang terjadi di abad ke-11 itu sesungguhnya bukan merupakan ambisi kekuasaan politik Paus. Perang Salib tersebut diadakan karena saat itu banyak umat Kristen (prajurit, uskup maupun biarawan) yang mengunjungi Yerusalem dianiaya oleh kaum Mohamedan. Pada tahun 1009, Hakem, Kalifa Fatimit, memerintahkan untuk menghancurkan the Holy Sepulchre (kubur Yesus yang kudus) dan semua kawasan Kristen di Yerusalem. Bertahun-tahun kemudian umat Kristen dianiaya dengan kejam
{lih. the recital of an eyewitness, Iahja of Antioch, in Schlumberger’s “Epopée byzantine”, II, 442.}

Jayanya bangsa Turki Seljukian mengancam keamanan para peziarah dan mengancam kemerdekaan kekaisaran Byzantin dan dunia kekristenan. Di tahun 1070 Yerusalem jatuh ke tangan bangsa Turki, dan tahun 1071, kaisar Yunani, Diogenes dikalahkan. Daerah Asia kecil dan Syria menjadi mangsa bangsa Turki, Antiokhia dikalahkan tahun 1084 dan menjelang 1092 tak ada kota- kota metropolitan di Asia yang menjadi milik umat Kristen. Meskipun terpisah dari Roma sejak skisma Michael Caerularius (1054), para kaisar Konstantinopel tetap memohon bantuan dari para Paus. Di tahun 1073 terjadi surat menyurat antara Kaisar Michael VII dengan Paus Gregorius VII. Paus memikirkan untuk mengirimkan pasukan ke Timur untuk mengembalikan kesatuan umat Kristen, mengusir bangsa Turki, dan menyelamatkan kawasan kubur Yesus (Holy Sepulchre). Namun ide ini tidak terealisasi pada masa kepemimpinannya. Paus berikutnya yaitu Urban II-lah yang melanjutkan rencana Paus Gregorius II, dengan melaksanakan langkah-langkahnya secara nyata.

Maka Paus Urbanus II pada tanggal 27 Nov 1095 mengeluarkan dekrit untuk membebaskan tanah yang sebelumnya adalah milik orang- orang Kristen, dan pembebasan orang- orang Kristen saat itu yang berada dalam penganiayaan oleh kaum Mohamedan di Timur Tengah. Dekrit itu sendiri tidak bernada agresif, melainkan hanya mempertahankan diri dari kepunahan. Dapat dibayangkan jika saat itu Paus Urbanus II tidak melakukan hal tersebut, bukannya tidak mungkin, agama Kristen tidak eksis seperti sekarang dan hilanglah semua bukti tentang keberadaan Yesus dalam sejarah manusia. Mungkin juga hilanglah semua kitab-kitab suci yang pada waktu itu disimpan di gereja- gereja/ biara- biara di sekitar Yerusalem. Jika demikian yang terjadi, umat Kristen tidak dapat berziarah ke tempat- tempat tersebut seperti sekarang.

Maka nampaknya, kita perlu melihat hal ini dengan sudut pandang yang lebih luas. Walau terjadi keadaan yang tidak ideal yaitu dengan perang, namun ada kalanya hal itu dapat dibenarkan secara moral (karena praktis tidak ada pilihan yang lebih baik, karena upaya damai gagal). Dalam kondisi ini, perang dapat dikatakan sebagai ‘just war‘ (perang yang adil), yaitu jika maksudnya adalah demi memberikan keadilan, demi memajukan kebaikan dan menghindari kejahatan.

Maka terjadinya Perang Salib itu, yang memakan korban banyak jiwa, memang bukan kondisi ideal, namun nampaknya saat itu Pauspun tidak mempunyai pilihan lain, mengingat kondisi yang sudah sangat genting yang mengancam eksistensi dunia kekristenan itu sendiri, dan juga sebagai langkah melindungi para peziarah dan tempat-tempat suci bersejarah di daerah Yerusalem dan sekitarnya. Maksud ini didukung juga oleh umat Kristen yang juga mempunyai keprihatinan yang sama; sebab jika tidak demikian, tidak mungkin hal ini memperoleh dukungan yang luas dari kalangan masyarakat Kristen di Eropa.

Sayangnya, pihak pihak anti Katolik justru bergabung dengan pihak yang dahulu menyerang Kekristenan, walau mereka mengaku dirinya Kristen, entah apakah pantas mereka masih menyebut diri mereka Kristen? Silahkan pikirkan sendiri.

Syalom

topik dilock karena melanggar Rules FK