KERINDUAN AKAN KEHADIRAN RUMAH DOA

syalom. saya mahasiswa IPDN (dulunya STPDN). sedikit berbicara tentang sistem pendidikan di sekolah kami dulu ya…kami mempunyai 9 kampus yang terdiri dari 2 kampus pusat dan 7 kampus daerah, salah satunya adalah kampus daerah sumatera barat kampus dimana saya berada sekarang. saudara2 yang membaca ini mungkin sudah tahu bahwa daerah sumatera barat adalah daerah yang mayoritas masyarakatnya beragama islam. sedikit yang saya tangkap disini tentang kehidupan mereka adalah bahwa adat-istiadat masih sangat dihormati. adat-istiadat mereka disini juga dipengaruhi oleh agama mereka (islam). kebutuhan praja (sebutan untuk mahasiswa IPDN) nasrani di kampus sumatera barat dalam memenuhi kehidupan rohaninya setiap hari minggu (ibadah) adalah diluar kampus. kami disediakan fasilitas bus untuk pergi beribadah setiap minggu-nya (jikalau bus-nya tidak berhalangan untuk dipakai keperluan lembaga). sempat kami bertanya kepada senior2 kami yang lebih dahulu menempati kampus ini tentang keberadaan bangunan gereja dalam kampus, kata mereka pihak lembaga dulunya sudah mau membangun gereja didalam kampus tetapi masyrakat sekitar kampus menolak akan keberadaan gereja didalam kampus. jika pembangunan gereja dalam kampus diteruskan maka takutnya akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. kemudian, dimintalah sebuah rumah doa guna menggantikan gereja tersebut. rumah doa pun dikabulkan (tetapi menurut saya itu bukan sebuah rumah doa tetapi kayak rumah dinas yang kepakai karena rumah tersebut berdampingan bahkan dindingnya berdempetan dengan rumah dinas lainnya. rumah tersebut juga sekomplek dengan rumah dinas lainnya) tetapi, pihak lembaga juga tak mengijinkan dengan alasan yang sama. padahal posisi rumah doa tersebut berada jauh dari pemukiman masyarakat dan saya yakin, saat kami ibadah tak akan kedengaran sampai pemukiman masyarakat. kesempatan ini saya ingin bertanya tentang langkah apa yang bisa kami lakukan agar rumah doa tersebut bisa kami pakai. kami sangat rindu memiliki rumah doa disini :’(

:afro: niat yang sangat muliaa… saya tersentuh dengan kerinduan Anda. well, untuk bisa memiliki rumah doa sendiri, ada baiknya dikonsolidasikan internal dulu. Berapa banyak sih, yang pengin bersekutu ? Kira-kira mpe 100 orang tidak ? Klo satu ato dua orang aja mah… mendingan ya jalani spt biasanya (nunggu bis jemputan itu). Kedua, jika udah banyak massanya kmu punya posisi tawar tuh untuk minta. Tapi, setiap lokasi punya tata cara sendiri. Moga-moga aja Tuhan mo melembutkan pimpinan setempat di STPDN. So, doakan dulu sekenceng-kencengnya agar masyarakat dilembutkan, pimpinannya juga. Mereka masih keracunan ama Kristen phobia soalnya… so, phobia kristenisasi ini dulu yg harus dihancurkan. Ketiga, klo minta baek-baek enggak diterima ya… teriak!! Adakan demonstrasi terus-menerus. Bila perlu undang media massa bahwa orang Kristen juga butuh tempat ibadah. Tapi, ada konsekuensinya loh… kmu bakal diteror ini dan itu. Kamu siap ?! Kmu harus miliki semangat sampai mendidih dulu untuk perjuangkan passionmu. Tuhan Yesus menyertai !!