kesaksian Christian Andryansah : "mantan pelaku kerusuhan mei 1998"

Rabu, 21 September 2011

KESAKSIAN PELAKU KERUSUHAN MEI 1998
Kesaksian Christian Andryansah

Awalnya saya mengenal Isa Almasih berawal dari kejadian yang hampir tidak masuk akal. Bermula dari kerusuhan mei 1998 pada waktu itu.

Sebelum saya mengenal Isa Almasih, saya di didik oleh orang tua saya maupun para ulama baik di bangku sekolah, musholla, maupun masjid bahwa orang di luar penganut Islam adalah kafir dan Islam merupakan ajaran yang paling benar dari segala kitab yang ada di muka bumi ini, dan yang paling utama apabila ada di antara kami yang dapat mengenyahkan penganut di luar Islam, adalah merupakan suatu pahala yang besar, sebab menurut apa yang telah mereka ajarkan kepada saya intinya adalah penganut di luar Islam merupakan jamaah syaithon yang harus segera di musnahkan dari muka bumi ini, dan bahaya yang paling besar pada saat itu adalah kaum nashara (Nasrani) yang selalu berkembang di Indonesia secara perlahan lahan, yang mana pada saat itu saya selalu di cekoki pelajaran yang terdapat di dalam quran maupun hadist, begitulah sikap saya yang semula sebelum mengenal Isa Almasih yang mulia di bumi maupun akhirat dengan kasihNya.

Dan pada suatu waktu tepatnya awal kerusuhan mei 1998, saya bersama kawan-kawan saya (penganut Islam) mengendarai sepeda motor beramai – ramai dengan tujuan untuk menjarah toko-toko milik non muslim, sebelum kami berangkat melakukan hal tersebut, sebenarnya saya enggan mengikuti mereka karena keluarga kami adalah orang yang hidup di atas rata-rata dan hal tersebut sepertinya merupakan sesuatu yang memalukan, dan pada saat itu saya telah menyelesaikan study di perguruan tinggi dan saya masih dalam status penganguran dan hal inilah yang membuat saya mengikuti ajakan teman saya, terutama apalagi bila ada salah satu dari mereka berteriak mari kita hancurkan para kafir, hal inilah yang membuat semangat saya menggebu gebu.

Sampai pada suatu saat kami telah sampai di depan toko yang bernama El – Shadai, dan kami yakin bahwa toko itu adalah toko milik kafir Nasrani, dan akhirnya kamipun melempari toko tsb sambil meneriakan Allahuakbar bersama-sama, dan meneriakan kafir keluar lu dari dalam toko lu, dan pada waktu itu ada beberapa orang yang berhamburan keluar, dan salah satu dari mereka mengendarai motor untuk melarikan diri dari kami, dan pada saat itu lah kami melihat pria itu mengenakan kalung salib di lehernya, lalu teman saya yang bernama sultan (nama samaran) berseru kepada saya ndry mari kita kejar dia, saya pun bergegas untuk membonceng teman saya, sebelum saya membonceng motor kawan saya, saya mengambil sepotong besi.

Dan akhirnya kami pun mengejar pria itu, dan yang mana pada waktu itu keadaan di jalan sangat carut marut, tetapi pria itu tetap menancap gas, mungkin saking takutnya berusaha menyelamatkan diri dari kejaran kami, dan kawan saya pun mempercepat laju motornya, berhubung motor yang kami tuggangi adalah motor king sedangkan pria tsb menggunakan motor bebek, maka perlahan-lahan kami dapat menyusulnya.

Dan pada suatu saat pria itu membelokkan motornya pada persimpangan dengan cepatnya, dan pada saat itulah kami tidak tahu darimana mobil tersebut datang, seingat saya kamipun akhirnya menabrak mobil tersebut dan saya serasa terbang di udara dan sesudah itu saya tidak dapat memahami lagi.

… sambungan lebit lanjut baca di :