Kesaksian: Studi dan Pelayanan

Di sini saya ingin bersaksi tentang apa yang sudah dan sedang Tuhan lakukan dalam hidup saya selama 8 tahun saya melayani-Nya di sebuah Gereja. Kesaksian ini bukan untuk meng-impress saya sebagai manusia, tapi saya berusaha meng-impress Tuhan yang membuat segalanya menjadi mungkin.

Secara khusus saya ingin meng-encourage mereka yang sedang melayani Tuhan dan di saat yang bersamaan sedang sekolah atau sedang berkuliah. Studi dan pelayanan adalah dua hal yang penting bagi saya, sama penting nya, saya tidak selalu menempatkan prioritas pelayanan di atas studi atau studi di atas pelayanan.

Prioritas itu akan senantiasa berganti setiap waktu. Jadi sedapat mungkin saya tidak beralasan studi untuk meninggalkan pelayanan atau menjadikan pelayanan sebagai alasan apabila studi saya terhambat.

Saya memulai pelayanan di tahun 2004 dan di tahun yang sama saya masuk kuliah S1 di sebuah perguruan tinggi negeri. Selama SMA saya tidak tergabung dalam pelayanan apapun, karena saya tidak memiliki komunitas pelayanan. Saya masuk pelayanan karena diajak teman.

Mulailah saya memasuki masa-masa di mana sibuk pelayanan dan sibuk kuliah. Saking sibuknya di pelayanan karena terlalu banyak yang harus saya lakukan, kadang juga melakukan pekerjaan teman sepelayanan ditambah konflik antar pelayan, hal itu menjadikan nilai saya sempat drop.

Pulang malam dari Gereja, kadang setiap hari harus ke Gereja menjadikan saya tidak sempat belajar. I was so so bad at that time… keadaan tersebut saya alami selama 4 semester, IP pun kalau tidak salah ingat hanya 2.2, beberapa mata kuliah harus saya ulang.

Sejak memasuki tingkat 3 (semester 5), saya mulai berdamai dengan diri sendiri, melupakan kebodohan saya di masa-masa itu dan mulai mengatur segala sesuatunya. Saya tetap setia melayani, bahkan sejak 2007 saya menambah satu bidang pelayanan lagi dan saya terkadang harus mengajar les private untuk menambah uang saku.

Sering dalam satu pekan, saya sangat sibuk, di hari Sabtu dan Minggu saya harus pelayanan dan Senin-Jumat saya harus kuliah, tentu saja materi kuliah semakin sulit dan saya harus mengulang beberapa mata kuliah.

Tapi Tuhan memampukan saya untuk menjaga keseimbangan antara studi dan pelayanan. Di saat saya melayani, saya tidak memikirkan studi, sementara di saat kuliah, saya tidak memikirkan pelayanan. Saya belajar untuk mengganti prioritas berdasarkan waktu.

Puji Tuhan nilai saya membaik dan di pelayanan saya lama-lama semakin berpengaruh.

Tahun 2009 saya wisuda dengan IPK tepat 3.0… Selesai S1 dengan IPK segitu merupakan kerja keras bagi saya karena di saat yang bersamaan juga kerja keras di pelayanan.

Tahun 2009, saya mendapat kesempatan untuk melanjutkan S2 di sebuah negara di Asia Timur, program beasiswa double degree… Saya ikut seleksi (di saat bersamaan tetap melayani), dan saya pun lulus.

2010-2011 saya tinggal selama 1 tahun di negara tersebut, kali ini saya harus off sementara dari pelayanan namun beberapa kali saya tetap bisa berpartisipasi pelayanan dari jarak jauh, dengan membuat beberapa publikasi atau aktivitas untuk Sekolah Minggu.

2011 saya pulang untuk menyelesaikan thesis di Indonesia dan kembali ke pelayanan (yang sekarang semakin sibuk). Lagi-lagi saya memakai hikmat yang sama, dengan mengganti prioritas berdasarkan waktu. Dua thesis saya selesai dan pelayanan pun tetap jalan.

Tahun 2011 wisuda S2, dan setelah wisuda lagi-lagi Tuhan buka jalan untuk lanjut S3 di sebuah negara di Eropa. Lagi-lagi program beasiswa Double Degree. Seleksi nya memakan waktu 10 bulan, dan di saat yang bersamaan saya masih pelayan.

Jam pelayanan saya adalah Jumat malam, hari Sabtu sejak siang sampai malam dan Minggu sejak pagi hingga (terkadang) Malam. Praktis tidak ada hari libur. Bahkan Senin-Kamis malam saya harus mengenyampingkan beberapa tugas kuliah dan kelas bahasa untuk mengerjakan tugas pelayanan.

Saya menikmati setiap waktu tersebut. Menjalani tanpa keluhan (walau secara fisik lelah, kadang hati pun kesal di pelayanan).

Juli 2012 saya dinyatakan lulus seleksi dan Desember 2012 saya berangkat ke Eropa dan kali ini untuk kedua kalinya harus off dari pelayanan.

And here I am, grateful for all of those things. For Him who makes everything possible.

So, kesimpulannya, studi dan pelayanan bisa dijalankan dengan baik dengan hikmat yang berasal dari-Nya.

Semoga memberkati kawan-kawan di FK.

NB : anyway, pengalaman di studi ini membuat saya belajar banyak, salah satunya tentang beasiswa, kalau ada teman-teman di FK yang ingin bersekolah ke luar negeri, mungkin saya bisa membantu. Kadang anak-anak muda ada keinginan tapi kurang informasi. I am here to help.

God bless you all…

Boleh tahu:

  1. S1 jurusan apa, S2 jurusan apa saja bisa dapat dua gelar: teknik atau sosial?
  2. S3 jurusan apa, eropanya di Jerman/Inggris?
  3. Beasiswa ini tanpa ikatan? 2n+1 ???

Hal menarik juga ada di sini.

S1 sampai S3 semuanya di bidang sains. Eropa nya di Perancis. Hanya beasiswa yang s3 yang berikatan 2n+1.

Waw, seru juga tuh di Taiwan… Hehehe…

Sayang udah ke Eropa.
Kalo beasiswa di Taiwan murni gali ilmu bebas ikatan. Mereka utamakan pendidikan/penelitian. Yg seru lulus dari sana wowww… dpet kerjanya dapet gaji menggiurkan loh, khusus utk bidang IPTEK yg lain kagak tahu.

Hehe… Kalau saya memang cari yang ada ikatan dengan negara. Panggilan hidup saya memang jadi akademisi di negeri sendiri.
Sebetulnya saya memilih jalan ini agar “memaksa” saya untuk kembali ke negeri sendiri.

Karna mungkin bro tau, ada banyak orang hebat yang memilih untuk menetap di luar, tidak kembali untuk mengabdi di negeri sendiri. :slight_smile:

Pertama-tama saya mengucapkan selamat. Saya sangat menghargai keputusan yang sangat mulia.
Teringat nyanyian sejak SD ‘Ibu kita Kartini/Pertiwi putri sejati…’ kira-kira begitulah salah satu baris syair lagunya.

Kenyataan membuktikan, sejak diskriminasi diberlakukan di negeri sendiri sejak Order Baru: putra/i bangsa terbaik/IQ cemerlang berada di negara tetangga & paman Sam… banyak sekali di Singapore via NUS & ITU. Menurut pengamatan saya sejak tahun 1995 sampai hari ini. Sangat banyak pelajar SMU khususnya dapat beasiswa + ikatan dinas 2n+1 di Singapore. Si jago… IQ cemerlang dinikmati bukan bangsa sendiri… sedih dehhh… hee… mau diapakan lagi ya, namun syukur sejak diberlakukannya Otonomi Kampus, diskriminasi ini mulai luntur. Chinese kebagian kursi empuk di ITB dan UI khususnya. Mudah-mudahan 10 ke depan negeri sendiri kebanjiran orang pandai-cendekiawan berkarya untuk negeri sendiri.
Horas… sekali lagi selamat ya. GBU.

Hehehe, masalah pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi di negeri kita memang rumit banget. Tapi ya memang harus ada perubahan dari anak-anak bangsa kita sendiri. Salah satunya ya mau kembali ke negeri sendiri walau dengan salary yang minim dan pekerjaan yang amat sangat banyak. hehehe…

S1 sampai S3 semuanya di bidang sains.
- Bidang Teknologi Informatika? - Bidang Fisika? - Bidang Kimia? - Bidang Rekayasa Genetika?

atau bidang apa ya???
biar seru gitu bro.

S1 saya Fisika, lalu S2 pindah ke arah komputasi/pemodelan (walo masih dalam satu Fakultas dengan Fisika), lalu S3 kembali lagi ke Fisika dengan riset di bidang material/nanoteknologi. Hehehe… :slight_smile:

S1 saya Fisika, lalu S2 pindah ke arah komputasi/pemodelan (walo masih dalam satu Fakultas dengan Fisika), lalu S3 kembali lagi ke Fisika dengan riset di bidang material/nanoteknologi. Hehehe...
  • Anda punya pengalaman sangat baik untuk kemajuan IPTEK karena berlatar belakang Fisika.
  • Biasanya, orang dari Fisika membonceng Matematika. Jadi, saya yakin Anda punya dasar Matematika bagus. Bila Fisika bagus, Matematika bagus kemudian terjun ke Teknik Informatika pasti punya kekuatan lebih untuk bidang programming. Tinggal menekuni C++/Visual C++/Java. Pasti jadi punya peluang luas. Sekalipun kurang minat pada bidang programming, pasti sangat baik untuk pendidikan di manapun, kapanpun untuk orang yang interes pada bidang ilmu pasti. Kalau kembali ke Indonesia, berarti Anda bakalan jadi calon spt Prof. Yohanes Surya untuk yang kesekiannya - itulah Anda sendiri.
    Selamat ya.

Amin… Thank you untuk semangatnya, sekarang sedang benar-benar membutuhkan semangat… :slight_smile:

Oh ya baru teringat saat baca halaman pengantar ttg bahasa Pascal/Turbo Pascal/Turbo Vision, pengembang awalnya punya latar belakang Disiplin Ilmu Pasti, misalnya di sini atau yang ini. Demikian juga saya lihat beberapa ahli fisika UI & UGM, pernah menulis source code programming C/C++/Turbo Pascal itu tenaga ahli Fisika/Matematika.
Demikian juga pengembangan software Design Grafis produk Adobe/CoralDraw termasuk AutoDesk pengembang AutoCad butuh Fisika+Matematika. Pemberdayaan kedua bidang itu jadi tulang punggung Teknologi Informatika dengan segala macam aspek pengembangannya, baru yang lain menyusul seperti database juga sangat butuh Fisika/Matematika untuk perhitungan matematisnya, huruf/font/bahasa juga sangat butuh Matematika untuk perhitungan pixel mulai dari hal terkecil dikumpulkan jadi tampil untuk berrmacam ragam.
Coba perhatikan Software MS Office mulai versi tahun 1994, 1997, 2000, 2007 dan 2010 itu, lupa mulai versi yang ke berapa memasukkan rumus ilmiah dls… itu semuanya adalah masalah Fisika/Matematika. Programmernya dapat input dari bahan tsb, dibakukanlah jadi software yang luar biasa manfaatnya.
Tekunilah dan jalanilah saat-saat sulit/membosankan itu untuk jangka waktu 3-5 tahun ke depan. Kalau sudah dapat melewatinya, wow… luar biasa manfaatnya.


Ya ciayoooooo bro. Gbu :angel: