Kesalahan Yohanes

Di dalam salah satu suratnya Yohanes pernah mengatakan hal sebagai berikut:

Di dalam kasih tidak ada ketakutan. Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna dalam kasih (I Yoh 4:18).

Kesalahan yang dibuat Yohanes ini terletak dalam logika berpikirnya. Sebab ketakutan tidak mengandung hukuman, melainkan hukumanlah yang menyebabkan ketakutan.

Bila kita ingin mengoreksi perkataannya maka barangkali bunyinya akan seperti ini:

Di dalam kasih tidak ada ketakutan. Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan. Sebab barangsiapa mengasihi, ia tidak menghukum. Dan barangsiapa tidak menghukum, ia tidak dihukum. Ketakutan berasal dari hukuman. Barangsiapa tidak dihukum, ia tidak mengalami ketakutan. Oleh karena itulah, barangsiapa sempurna dalam kasih ia tidak mengalami ketakutan.

Walaupun Yohanes membuat kesalahan logis dalam perkataannya, ia tetap mampu membuat kesimpulan moral yang benar tentang hubungan antara kasih dan ketakutan. Dalam hal ini, kesalahannya bukanlah kesalahan moral, melainkan kesalahan filsafati saja.

Pada kesempatan yang lain Yohanes mengatakan pula bahwa Allah adalah kasih (I Yoh 4:8, I Yoh 4:16). Kesalahan yang diperbuatnya ini juga termasuk kesalahan logis, sebab bila Allah adalah kasih berarti kasih adalah Allah. Padahal kita mengetahui bahwa maksud perkataannya tidaklah demikian. Maksud yang sebenarnya dari “Allah adalah kasih” di atas adalah bahwa kasih adalah atribut yang terkandung di dalam Allah.

Kesalahan logis yang sama dilakukannya pula pada Yoh 1:1 yang berbunyi:

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

Karena tertulis bahwa firman itu ialah Allah, maka Allah adalah firman. Padahal Allah tidak hanya terdiri atas firman saja, melainkan juga memiliki roh. Firman Allah hanyalah sebagian dari diri Allah. Kesalahan logika yang dibuat oleh Yohanes dalam kutipan ayat ini termasuk salah satu landasan bagi lahirnya paham trinitas.

Mau ketawa rasanya saya membaca pernyataan diatas, lucu dan menggelitik. Ada ketidak mampuan saudara saya diatas dalam memahami kata ketakutan “mengandung” hukum, dari isi alkitab, sudah jelas Yohanes sedang menjelaskan ttg kasih yg sempurna, sedangkan saudara kita ini jg tidak paham ttg arti kata sempurna, jadi wajarlah klo pernyataan Yohanes disebutnya sebagai salah dan tidak logis. Seharusnya saudara kita bisa melihat dengan jelas, bahwa kasih yg SEMPURNA harusnya jauh dari kandungan ketakukan, karena ketakutan akan menjadikan kasih yg sempurna menjadi tidak sempurna, dan kasih yg tidak sempurna akan mendatangkan hukum. Tuhan menuntut kasih yg sempurna, kasih mula2, kasih yg tak bercacat cela. Ketika kita datang dengan ketakutan, maka kasih kita tidaklah sempurna, yg tidak sempurna dihadapan Tuhan adalah selalu mendatangkan hukum Tuhan. Yohanes sedang menjelaskan ttg kesempurnaan Tuhan dalam kasih-Nya. Dan itu semua pun kembali kepada YESUS dengan kasih-Nya yg sempurna.

Demikian pula akan pernyataan yohanes ttg Tuhan adalah Kasih, penjelasan yohanes inipun adalah benar seperti yg anda jelaskan diatas, bahwa kasih itu adalah sifat Tuhan dan semua orang Kristen yg membaca alkitab tau bahwa pernyataan yohanes ini adalah penjelasan ttg sifat Tuhan dan adalah konyol ketika kami membalikkan defenisi tersebut sebagai penjelasan ttg Tuhan. Masa sifat bisa dijadikan defenisi ttg kelengkapan jati diri??

Terakhir, ternyata dari semua penjelasan anda diatas muaranya ke sini jg ya?? panjang lebar anda tulis diatas ternyata intinya mau bahas ttg KeTuhanan Firman.
Firman itu apa dulu bro?? klo kata bro SL firman itu kata sifat, klo anda apa??

klo saya firman itu adalah kehendak, kehendak yg diutarakan dan dari kehendak itu menjadi perintah, perintah itu menjadikan sesuai dengan yg di kehendaki. Jadi Firman itu adalah hidup, suatu yg menjadikan dari yg tidak ada menjadi ada.

Kira2 kehendak anda pribadi itu sebenarnya apa?? bkn kah itu lah anda?? apakah anda diberi hadiah karena kehendak orang lain atau atas kehendak anda?? ketika anda bekerja keras dan mendapatkan hadiah atas kerja anda, kira2 hadiah yg anda dapat tu datang nya dari mana?? ya dari prestasi anda, prestasi anda datang dari mana?? ya dari anda, anda berkehendak maka jadi lah seperti apa yg anda mau. Anda adalah kehendak anda, dan kehendak anda adalah anda. Kita dinilai oleh kehendak kita, bkn oleh hal2 lainnya. YESUS selalu mengatakan bahwa Tuhan melihat dari hati, hati adalah sumber kehendak, ketika kita berkehendak berbuat cabul maka darisitulah TUhan melihat dan menilainya.

Manusia segambar dengan Tuhan nya karena manusia memiliki kehendak, sama seperti Tuhan yg berkehendak, dan kehendak ini dikenal dengan free will. Beda kehendak Tuhan dan kehendak manusia adalah kehendak Tuhan pasti akan berhasil ketika Tuhan "melahirkan’ nya, sedangkan kehendak manusia belum tentu berhasil, karena kehendak manusia sangat bergantung pada kehendak Tuhan.

Salam…

salam kenal Bro Agus :slight_smile:

harap membaca konteks dengan ayat2 di sebelum dan sesudahnya…

1John 4:17
Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini.

terdapat kata “keberanian” yang merupakan lawan dari “ketakutan” yang terdapat pada ayat yang dikutip Bro Agus.

ketakutan tersebut mendatangkan hukuman, yang dimaksud adalah self-condemnation… perasaan tertekan dan menghakimi diri sendiri atas dosa2 yang sudah kita lakukan, perasaan tidak layak, tidak berharga masuk surga dan semacam itu.

Perasaan tertekan bahkan depresi dan frustrasi inilah yang “menghukum” kita ketika kita merasa ketakutan.

perasaan ini tidak perlu muncul bila kita mngetahui seberapa besar kasih Tuhan melalui Yesus bagi dunia ini sesuai Yohanes 3:16.

nah, setelah kita mengenal seperti apa kasih Tuhan barulah kita bisa mulai mengerti kasih seperti apa yang selayaknya kita miliki (melalui proses, untuk semakin serupa dengan Dia, kasih yang sempurna)

Pengorbanan Yesus telah membuat kita yang percaya kepada-Nya menjadi sama suci dan benarnya dengan Dia.

saya sendiri berpendapat, Yohanes mengatakan Tuhan adalah Kasih untuk menekankan betapa besar dan sempurna kasih yang ada pada Tuhan…

soal Yesus dan Firman sudah banyak dibahas di topik lain,
moga2 ada senior yang lbh advance dlm hal ini yang akan membantu Bro Agus.

btw membaca Firman Tuhan itu harus dengan kerendahan hati juga Bro Agus, tidak sekedar untuk mencari-cari kesalahan (kalo pun ada :P)…

Yang ini aja ah yang aku tanggapi :smiley:

Benarkah?
Hukumanlah yang menyebabkan ketakutan?
Pernah dengar seorang narapidana yang setelah bebas kemudian melakukan kejahatan lagi supaya dia bisa dihukum dan tinggal lebih lama lagi dalam penjara? :smiley:
Apakah hukuman membuatnya takut? tidak…justru membuatnya senang

“ketakutan tidak mengandung hukuman”
Pernah lihat pengendara motor yang tidak mempunyai sim di lampu merah, karena ketakutannya melihat polisi akhirnya kena tilang oleh polisi?
Dan seandainya dia tidak ketakutan dan bersikap biasa2 saja tidak akan kena tilang :smiley:

Jadi masih relevankah logikanya bro? :smiley:

Tentang ketuhanan firman Allah adalah jelas karena firman ini berasal dari Allah maka ia memiliki sifat-sifat Allah. Tetapi kalau dikatakan bahwa firman itu adalah Allah itu jelas tidak benar, karena firman ini berasal dari Allah yang lebih besar dari firmanNya. Firman di sini hanya merupakan salah satu komponen keAllahan, bukan keseluruhan diri Allah.

@Agussetiono: bolehkah judulnya saya ganti “Kesalahan Agussetiono memahami perkataan Yohanes”?

Salam.

Boleeeh… Ato diganti PEMAHAMAN MANUSIA VS HIKMAT ALLAH PADA YOHANES… ato OTAK MANUSIA VS HIKMAT ALLAH.

Menurut saya, tidak ada bedanya antara ketakutan mengandung hukuman dengan hukumanlah yang menyebabkan ketakutan. Penulis 1 Yohanes ini sangat spesifik mengambil salah satu aspek tentang ketakutan, yaitu yang disebabkan oleh hukuman. Sementara itu, ada aspek-aspek lain yang menjadi sumber ketakutan. Kesalahan yang mungkin terjadi adalah interpretasi atas ayat ini dijadikan generalisasi bahwa ketakutan selalu bersumber dari hukuman.

Ini kesalahan logis Anda bahwa pernyataan deskriptif berlaku komutatif antara subjek dan predikatnya. Tentu tidak logis, ketika saya berkata, “Saya adalah manusia” lalu dibuat kesimpulan bahwa “manusia adalah saya”.

Yang di-bold, ini adalah Red-Herring Fallacy, kecuali Anda membuat hubungan logis yang jelas sampai kepada kesimpulan seperti ini.

Benar juga kata Anda. Thanx.

Daripada anda bingung sebaiknya anda ksih aja defenisi firman menurut anda. Kan jelas diatas, menurut saya firman itu kehendak. Kehendak datang dari dalam pribadi, kehendak adalah visualisasi ttg pribadi, kehendak akan menjadi utusan (perintah) dari kehendak akan terciptalah sesuatu, penciptaan menjadikan suatu ada sesuai dengan kehendak. Karena itu kehendak adalah awal dari segala galanya.

Kehendak bkn cuma sebagian dari pribadi, tapi milik paling hakiki dari pribadi, sudah kah anda bayankan diri anda tanpa kehendak?? itu sama saja anda tidak ada sama sekali.

Firman itu apa dulu bro,… salam…

Dengan adanya pembenaran pada penjelasan bro Phantom apakah berarti topik ini sudah bisa dikatakan terjawab ya :smiley:

Kalau menurut saya, firman itu ya firman. Fungsi dari firman Allah adalah untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah. Sedangkan kalau menurut pendapat bro Tambelar firman itu adalah kehendak saya tidak setuju sama sekali. Kehendak itu berasal dari roh. Dari roh inilah keluar kehendak dan firman. Tetapi kehendak bukanlah firman.

Ketika saya mengutip ayat I Yoh 4:8 dan I Yoh 4:16 yang menyatakan bahwa Allah adalah kasih, saya berkesimpulan bahwa ayat tersebut dapat diartikan dengan pernyataan bahwa kasih adalah Allah.

Kemudian bro Phantom menunjukkan kesalahan dari kesimpulan saya dengan mengambil contoh kalimat “Saya adalah manusia” yang tentu saja tidak dapat dibalik menjadi “Manusia adalah saya”.

Pada mulanya saya berpikir bahwa saya yang keliru. Akan tetapi kemudian saya menemukan sebuah kalimat analog yang membuat asas komutatif berlaku pada kalimat dengan bentuk yang serupa.

Coba kita ambil contoh dengan kalimat “Nama saya adalah A”. Dalam hal ini kita bisa membalik kalimat tersebut menjadi “A adalah nama saya”.

Jadi, kesimpulan sementara saya, kalimat dengan bentuk “A adalah B” dapat dibalik menjadi “B adalah A” pada kasus-kasus tertentu.

Ada yang bisa memberikan penjelasan? Bro Phantom?

Ya klo gitu kan lebih enak, jadi tidak ada kebingungan, dalam terjemahan inggris firman disebut dengan word of God, bisa berarti ucapan, ucapan itu akan menjadikan sesuai dengan apa yg diucapkan. Ucapan itu adalah terjemahan dari keinginan (yg datang dari dalam) Tuhan. Anda berkata kata, kata2 anda adalah bahasa dari dalam diri anda, kata2 yg keluar dari anda itu adalah deskripsi ttg keinginan/kehendak anda. Karena itulah Firman itu disebut kehendak.

Salam…

Kok ribet masalah kasih?? Kasian rasul Yohanes nulis banyak2 masih kagak ngrti. Apakah kasih adalah ALLAH? pertanyaan anda membingungkan. Ambigu. Kasih adalah salah satu sifat Allah. Manusia yang memiliki kasih, dikatakan mengenal Allah (1 Yoh 4:7). Kasih yang bagimana? 1 Korintus 13 menjelaskan definisi kasih. Setiap orang pada dasarnya egois. Hanya peduli diri sendiri. Jika seseorang mampu mengasihi SESUAI KEHENDAK ALLAH, itu adalah karena pengenalanNYA akan Allah. Hanya karena karunia.

Kalau saya berkehendak untuk diam? Apakah ada firman keluar dari mulut saya?

Peace :happy0025:

Saya tidak mempermasalahkan tentang kasih Allah. Thread ini saya mulai dengan tujuan untuk membahas gaya penulisan Yohanes yang menurut saya bisa menyebabkan pembacanya salah tangkap tentang arti yang sebenarnya dari apa yang ia tulis.

@agus
Firman dalam yohanes adalah pribadi bukan hanya sekedar kata2/ucapan.

1:1 In 1 the a beginning b was c the Word, and the Word was d with God, and the e Word was God.

(1) The Son of God is of one and the selfsame eternity or everlastingness, and of one and the selfsame essence or nature with the Father.
(a) From the beginning, as the evangelist says in ( 1 John 1:1 ); it is as though he said that the Word did not begin to have his being when God began to make all that was made: for the Word was even then when all things that were made began to be made, and therefore he was before the beginning of all things.
(b) Had his being.
(c) This word “the” points out to us a peculiar and choice thing above all others, and puts a difference between this “Word”, which is the Son of God, and the laws of God, which are also called the word of God.
(d) This word “with” points out that there is a distinction of persons here.
(e) This word “Word” is the first in order in the sentence, and is the subject of the sentence, and this word “God” is the latter in order, and is the predicate of the sentence.

menurut Kamus
fir·man n kata (perintah) Tuhan; sabda: segala – Tuhan hendaklah dipatuhi; – Ilahi termaktub dl kitab suci;

kalau bos agus heran kata firman yg hanya sekedar kata2 bisa disebut Allah ( padahal dalam pengertian Kristen ini adalah pribadi ), apa bos ngak heran juga kalau yg hanya sekedar kata2 dalam pengertian sebenarnya itu bisa sejajar dgn allah ?

It concerns the traditional Islamic notion that the Quran is uncreated, or, in other words, it is eternal and has existed since the “beginning”, just as God.

Ya itu lah firman anda, buktinya anda diam kan?? anda menciptkan sebuah kejadian atas kehendak anda kan?? dari bersuara akhirnya anda diam… Firman itu disebut ucapan, tapi lebih dalam lagi disebut kehendak atau ucapan hati (ungkapan dari dalam hati) bisa dalam suara biasa dengan kerlingan mata, bisa dengan oretan pena. Gitu loh mas, jgn terlalu kaku donk cara berpikirnya.

Salam…

Saya bukan orang Islam. Saya penganut Kristen Unitarian. :char11: