Kesiapan Hati Saat Menerima Karunia

Di sebuah desa, hiduplah seorang bapak yang bernama Ardi. Bapak Ardi gemar sekali memancing. Pada suatu hari, Pak Ardi memancing di sebuah sungai di dekat rumahnya. Dia belum pernah memancing di sungai itu sebelumnya, karena dia mengira tidak ada banyak ikan di sungai itu. Ternyata saat dia memancing ikan, Pak Ardi mendapatkan ikan yang lumayan besar. Besarnya satu kepal tangan manusia dewasa. Pak Ardi senang sekali mendapatkan ikan besar itu. Lalu dia segera membawa pulang ikan itu, untuk dimasak dan dijadikan lauk santap malam.

Pak Ardi pada awalnya merasa puas dan senang sekali mendapatkan ikan hasil tangkapan-nya sendiri. Namun ternyata Pak Ardi kurang puas dengan apa yang telah ia dapatkan. Dia ingin sekali mendapatkan ikan yang lebih besar lagi. Maka pada hari berikutnya, Pak Ardi kembali memancing di tempat yang sama. Pada hari itu juga Pak Ardi mendapatkan ikan lagi. Kali ini ikan yang dia dapatkan panjangnya hampir 20 cm. Pak Ardi senang sekali mendapatkan ikan yang lebih besar dari sebelumnya. Seperti biasa, ikan yang dia dapatkan dia masak dan dia jadikan lauk pauk.

Setelah mendapatkan ikan yang lebih besar dari sebelumnya, Pak Ardi menjadi berhasrat untuk mendapatkan ikan yang lebih besar lagi. Ada kepuasan tersendiri pada saat dia mendapatkan ikan yang lebih besar. Pada hari berikutnya lagi, Pak Ardi pun kembali memancing ikan di tempat yang sama. Berjam-jam Pak Ardi memancing, Pak Ardi memang sudah mendapatkan beberapa ikan, namun besarnya belum melebihi ikan yang sebelumnya. Hari itu, Pak Ardi berprinsip, sebelum dia mendapatkan ikan yang lebih besar lagi, maka dia tidak akan berhenti memancing ikan. Dan ternyata apa yang dia harapkan menjadi kenyataan. Pada akhirnya, Pak Ardi mendapatkan ikan yang sangat besar. Ikan itu panjangnya hampir setengaj meter. Dengan susah payah Pak Ardi mengangkat ikan yang mulutnya telah tertancap oleh kail pancing miliknya. Ikan itu sangat berat untuk diangkat ke permukaan tanah. Dengan susah payah Pak Ardi mengangkatnya, namun ikan itu memang sangat kuat dan berat. Karena terlalu lama beratnya beban yang harus diangkat, dan terlalu lamanya Pak Ardi dalam mengangkat ikan besar itu, maka patahlah pancing milik Pak Ardi. Pak Ardi sangat kecewa karena tidak bisa mendapatkan ikan besar itu, bahkan kini dia tidak punya pancing lagi.

Dari pengalaman tersebut, Pak Ardi sadar bila dirinya tidak cukup kuat untuk mengangkat ikan yang sangat besar. Dia juga sadar bila dirinya tidak memiliki pancing yang cukup kuat untuk menahan ikan yang terlalu besar. Namun dia bersyukur, dia masih memiliki beberapa ikan hasil tangkapan sebelumnya untuk menjadi lauk pauk makan malamnya nanti.

Tuhan telah memberikan kita karunia seturut dengan kemampuan kita. Salah satu dari karunia tersebut adalah harta kekayaan. Sudahkah kita bersyukur dengan apa yang telah dia berikan kepada kita? Atau kita masih terus-menerus menuntut memiliki harta yang lebih besar lagi, tanpa pernah mengucap syukur? Sudah siapkan hati kita bila satu saat kita menerima karunia harta kekayaan yang besar sehingga nasib kita tidak seperti para selebriti yang memiliki segalanya namun gagal dalam kehidupan berumah tangganya atau berakhir dengan perceraian, dan terjerumus ke dalam lembah kelam seperti free-sex, drugs, egoisme, hedonisme, perjudian dan lain-lain??

Sudah siapkah hati kita??

sumber: