Ketika kita bertanya kepada Tuhan, tetapi Dia tidak memberikan jawaban

Di dalam kitab Ayub, Ayub terkena musibah luar biasa terus menerus. Ayub pun bertanya-tanya kepada Tuhan, “Mengapa ini semua terjadi kepadaku?” Ayub meminta sebuah penjelasan akan semua yang telah terjadi.

Kita semua, termasuk diri saya sendiri, seringkali melakukan hal yang sama seperti Ayub. Ketika masalah-masalah besar terus menerus menimpa kita, kita meminta penjelasan kepada Tuhan, “Tuhan, mengapa Engkau membiarkan ini semua terjadi kepada saya?”

Pada pasal Ayub 38, Tuhan mulai memberikan responNya kepada Ayub.

“Maka dari dalam badai Tuhan menjawab Ayub: “Siapakah dia yang menggelapkan keputusan dengan perkataan-perkataan yang tidak berpengetahuan? Bersiaplah engkau sebagai laki-laki! Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku. Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian! Siapakah yang telah menetapkan ukurannya? Bukankah engkau mengetahuinya? Atau siapakah yang telah merentangkan tali pengukur padanya? Atas apakah sendi-sendinya dilantak, dan siapakah yang memasang batu penjurunya pada waktu bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama-sama, dan semua anak Allah bersorak-sorai? (Ayub 38:1-7).

Tuhan menampakkan diri kepada Ayub, tetapi bukan untuk menjawab pertanyaan Ayub. Tuhan justru memberikan pertanyaan-pertanyaanNya sendiri kepada Ayub. Selama hampir 37 pasal, Ayub memberikan pertanyaan-pertanyaannya kepada Tuhan, dan Tuhan membalasnya dengan pertanyaan-pertanyaan versi-Nya sendiri dalam 129 ayat. Tuhan memberikan Ayub pertanyaan demi pertanyaan demi pertanyaan yang Ayub tidak dapat jawab.

Tuhan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada Ayub untuk mengajarkannya sebuah kebenaran penting, yaitu:

“Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yesaya 55:9).

Yang menariknya adalah: Hingga akhir hidupnya, Ayub tidak pernah mendapatkan jawaban dari pertanyaannya; Ayub tidak pernah mengetahui mengapa musibah-musibah itu terjadi padanya.

Tapi saya menyukai jawaban Ayub pada akhir dari kisah kitabnya: “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau” (Ayub 42:5). Ayub mengatakan bahwa selama ini dia hanya mendengar perkataan-perkataan orang tentang siapa itu Tuhan, tetapi sekarang dia melihat Tuhan dengan matanya sendiri. Ini mengajarkan saya bahwa Kekristenan bukanlah sekedar mengenal Tuhan melalui apa yang orang-orang katakan tentang diriNya, melainkan tentang melihat dan berjalan bersamanya sendiri di dalam hidup ini. Dan bagaimana cara kita melihat dan berjalan bersamanya sendiri di dalam hiduo kita? Caranya adalah dengan membaca Firman-Nya dan bercakap-cakap dengan-Nya melalui doa.

Jika kita hanya mendengar perkataan orang bahwa Tuhan adalah Tuhan yang baik, kita pasti akan kecewa ketika hal buruk menimpa kita. Tetapi jika kita mengenalNya secara pribadi, dan kita tau sendiri bahwa Dia adalah Tuhan yang baik, musibah di dalam hidup kita tidak akan pernah dapat memisahkan kita dari hubungan kita dengan Tuhan.

Mungkin akan ada pertanyaan-pertanyaan kita yang tidak akan terjawab, tetapi kita akan selalu mendapatkan jawaban yang kita butuhkan untuk melalui hidup kita, dan jawaban itu ada di dalam TUHAN. Percayalah kepada-Nya, Dia tidak pernah meninggalkanmu.

“For we walk by FAITH, and not by SIGHT” (2 Corinthians 5:7).

Add line atau instagram kami untuk mendapatkan notifikasi update renungan terbaru dari website kami.
Official Line: @pkx3578b (pakai @)
Instagram: @gracedepth
Instagram penulis: @revyhalim

Semoga renungan-renungan kami bisa menjadi berkat.God Bless! :smiley: