Ketika pengetahuan tidak diimbangi dengan kedewasaan

Saya ingin berbagi/curhat tentang pengalaman pribadi tentang pelayanan yang mungkin juga pernah dialami teman-teman.

Mengenai pelayanan kaum muda (remaja/pemuda). Saya banyak mengamati bahkan mengalami sendiri kecenderungan ketika kita “hanya” memperoleh pengetahuan tentang Ke-kristenan di saat landasan kedewasaan kita tidak siap.

Maksud saya begini…

Ada kencenderungan ketika seseorang memperoleh pengetahuan tentang ke-kristenan dari cell group/pendalaman Alkitab dan menelan mentah-mentah pengetahuan tersebut dan mulai “menghakimi” orang lain/denominasi lain yang menurut sudut pandang orang tersebut tidak sesuai dengan pengetahuan yang baru saja dia peroleh.

Lebih kronis lagi ketika seseorang tersebut mulai mengkoreksi kehidupan orang lain/pelayanan gereja lain dan membuat orang lain “gerah” dengan kritikannya dan pada akhirnya tidak menjadi berkat… berujung pada debat kusir, berujung pada persahabatan/komunitas yang menjadi rusak.

Contoh konkrit yang pernah saya alami adalah:

  1. Mengkritisi cara beribadah dari Gereja lain
  2. Mengkritisi penggunaan karunia rohani tertentu
  3. Mengkritisi hamba Tuhan/pendeta orang lain

Intinya, berujung pada penghakiman. Saya sendiri pernah mengalami ketika saya mempunyai sebuah komunitas pendalaman kekristenan lalu saya menelan mentah-mentah ajaran tersebut dan pada akhirnya saya cenderung menghakimi orang lain.

Nah, saya mengamati hal ini terjadi karena menelan mentah-mentah informasi pengetahuan ke-kristenan tersebut yang berawal dari pemahaman secara parsial dari sebuah ajaran/pengetahuan.

Saya juga mengamati ketika kita belajar sesuatu dan memperoleh kepuasan dari pengetahuan tersebut, kita menjadi semakin bersemangat untuk mencari tahu (menjadi kecanduan akan pengetahuan yang baru).

So, saya belajar dari pengalaman sendiri dan beberapa rekan lainnya bahwa

  1. Sangat penting untuk memiliki pikiran yang kritis tentang pengetahuan yang baru saja diperoleh
  2. Kedewasaan seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang baru menjadi sangat penting

Alasan nomor 2 menjadi perhatian bagi mereka yang bertindak sebagai pemimpin rohani/pemimpin cell group. Dimana pemimpin ini harus bisa melihat kedewasaan murid bimbingannya, apakah siap/tidak.

Semoga penjelasan curhat-an ini cukup jelas. Maaf untuk tidak memberikan contoh yang lebih konkrit karena saya takut menyinggung siapa pun. :slight_smile:

No offense untuk siapa pun. Hanya ingin berbagi pengalaman yang mungkin pernah dialami oleh teman-teman di sini.

Saya sempat melewati fase tsb “mengkritisi dunia pelayanan gereja”, memang beban saya thd dunia gereja ada yang disingkapkan Tuhan tapi tetap pd masa itu saya kurang bijak memanage suasana hati saya dan kurang berdoa Oo… ​​​​​​​​​​​​​​​​"̮♡hϱϱ♡hϱϱ♡hϱϱ♡"̮…

Tapi semakin saya di kasih pengertian sama Roh Kudus, saya mulai lebih santai bila mendapati adanya penyimpangan dan suka diingetin untuk lebih mengutamakan DOA agar lebih tenang dan baca Fiman juga. TUHAN YESUS tidak perlu pembelaan karna DIA kuat (DIA TUHAN) tapi yang DIA mau nilai ketaatan dari kita sbg anak2 Allah yang hidup seturut kehendakNYA. Di hati saya selalu percaya, TUHAN pasti tahu apa yang harus dilakukan dan tahu mana yang benar dan mana yang salah. So i keep calm down and take enjoy with everything i do :slight_smile:

Puji Tuhan, sodara sudah sampai tahap berpikir pendewasaan rohani sedemikian, keep growing in Jesus Christ. :angel:

Setuju…

Concern saya sih kasian ke anak-anak muda yang terjebak dalam pengetahuan yang seperti ini dan mulai menghakimk.

Kasian nya karna kadang merusak sampai pertemanan, persahabatan dan loncat Gereja ke sana ke mari :frowning:

Sebenarnya ketahuan kok, bisa dirasakan dan diketahui mana seseorang yang memang matang pola pikirnya berikut tindakannya dan mana yang masih kanak2 rohani :slight_smile:

Kanak2 rohani cenderung meletup2, sementara yang dewasa rohani tenang dan bijak menghadapi tekanan. Dari tutur kata bisa diketahui siapa kita. :angel:

Sebenarnya ketahuan kok, bisa dirasakan dan diketahui mana seseorang yang memang matang pola pikirnya berikut tindakannya dan mana yang masih kanak2 rohani :slight_smile:

Kanak2 rohani cenderung meletup2, sementara yang dewasa rohani tenang dan bijak menghadapi tekanan. Dari tutur kata bisa diketahui siapa kita. Perhatikan saja para motivator2 di bid rohani yang jam terbangnya sudah tinggi dan hamba Tuhan yang diurapi, tutur kata mereka mencerminkan kepribadian mereka dan selalu meng-encourage. Pengalaman hidup dan tingkat sosialisasinya mempengaruhi seseorang berpikir secara open minded. Ya harus seimbang keterhubungan dg Tuhan harus disikapi juga dg adanya sosialisasi dg sesama secara sehat. :angel:

yang lebih lucu lagi ada yg gayanya pengen doain orang(sampe doa korporat & tumpang tangan rame2 segala) tp giliran doanya ga jadi kenyataan malah ngedumel(alasannya malu sama temen).pdhal orang yg didoakan malah santai2 aja tuh.ini sih bukan pengen memberkati sesama tp pengen sok jd orang dewasa rohani aja(pdhal aslinya masih kanak2 rohani).

Ini banget, kawan… Keluarganya temanku pernah mengalami juga tuh, di-doain sampe gimana gitu… bukan meremehkan kuasa doa nya, tapi ya ga gitu-gitu amat kali… :slight_smile: