Kisah Keluarga Katolik

Kisah Keluarga Katolik Yang Bertahan Hidup Dengan Berjualan Canang

Sudah Minta Izin Pastur, Terpenting Halal

Menghidupi enam anak dalam kondisi ekonomi pas-pasan membuat Luh Yasa alias Maria harus banting tulang. Uniknya, meski beragama Katolik, Maria mengais rejeki dengan berjualan canang yang tidak lain sarana sembayang umat Hindu

NYOMAN WIDIADNYANA,
Singaraja

Hiruk pikuk kota Singaraja, mirip Kota Denpasar dimana masyarakatnya terlihat sibuk sepanjang hari. Ini pula yang mendorong munculnya banyak penjual canang di kota tua ini. Menariknya, salah seorang pedagang canang di kota ini malah beragama Katolik. “Yang penting apa yang kami kerjakan halal pak. Apalagi, sebelum saya berjualan disini, saya memang sudah meminta izin ke Pastur apakah saya boleh berjualan canang apa tidak. Dan dari Pastur mengizinkan saya untuk berjualan, karena pekerjaan ini juga halal dan tidak mengganggu ibadah saya sebagai Katolik,” ungkap Luh Yasa.

Wanita ini mengaku sudah berjualan canang lebih tujuh tahun di sepan SMAN 2 Singaraja. Baginya, masalah pekerjaan bukanlah hal yang perlu diperdebatkan. Apalagi, pekerjaan yang dilakukannya merupakan pekerjaan halal yang selama ini diakuinya banyak membawa manfaat baginya untuk menghidupi keenam anak-anaknya.

Tidak Hanya itu sebelum menganut Katolik dan menikah dengan suaminya saat ini, dirinya sebelumnya memang menganut agama Hindu sehingga tahu pasti cara membuat canang tersebut. Bahkan, saat terlihat "Radar Bali saat menemuinya belum lama, dua anak terkecilnya yang ikut berjualan tampak dengan lihai dengan membuat canang. Ini tentu memberikan warna tersendiri bagi keluarga penganut Katolik ini.

“Semua anak-anak saya bisa membuat canang. Sebab, sejak mereka kecil memang sudah saya ajak untuk berjualan canang. Jika tidak begitu, bagaimana dapur saya bisa mengepul,” sambungnya.

Keadaan seperti ini diakuinya memang tidak bisa dihindarinya. Sebab, wanita Banjar Tegal, Singaraja ini mengungkapkan, pekerjaan yang dulu pernah dilakoninya sebagai penjual buah di salah satu pasar di Singaraja dirasa banyak menyita waktu lebih banyak sehingga kurang bisa memberikan perhatian pada anaknya. Hasilnya juga dianggap kurang memadahi. Sementara itu, dengan berjualan canang, sampai saat ini dirinya sudah mampu menyekolahkan anaknya hingga lulus SMA. “Sampai saat ini, selain bisa makan. Anak-anak saya beberapa sudah lulus SMA, meski sampai saat ini, satu anak masih duduk di bangku SMP. Sedangkan yang SD masih dua. Itu mereka berdua datang,” sambung wanita berusia 45 tahun ini seraya menunjuk kedua anaknya yang tampak mendekati koran ini yang tengah berbincang dengan ibunya.

Sumber : Radar Bali Post, 7 Mei 2011