Kisah Para Rasul 2 VS 1 Korintus 14

Shallom All,
Saya mau tanya mengenai Firman Tuhan pada KIS 2 dengan 1 Korintus 14, berikut saya sertakan ayatnya.

KisahParaRasul 2
4. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

  1. Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita:

  2. kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia,

  3. Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma,

  4. baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah."

  5. Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini.

  6. Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka, karena hari baru pukul sembilan,

  7. tetapi itulah yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi Yoel:

  8. Akan terjadi pada hari-hari terakhir–demikianlah firman Allah–bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi.

1Korintus 14
2. Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia.
3. Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur.

yang saya tanyakan :

  1. pada pasal KIS, saat para rasul menerima Roh Kudus dan mereka berkata-kata dengan bahasa lain, apakah itu bahasa Roh?

  2. Jika itu bahasa Roh, berarti bahasa Roh = salah satu bahasa dunia (meskipun yang berkata-kata tidak mengetahui artinya/menafsirkan namun yang mendengarkan mengerti krn itu bahasa mereka) karena di KIS tertulis mereka berkata-kata dalam bahasa negeri asal kita yaitu Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia dll.

  3. Jika itu bahasa Roh, mengapa berbeda dengan apa yang disampaikan di korintus bahwa tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya?

Sekian dulu yang saya tanyakan, sembari menunggu pandangan dari temen2 untuk diskusi lebih lanjut. Terimakasih. Tuhan Yesus Memberkati

Bisa dikatakan demikian tetapi bahasa tersebut adalah bahasa manusia biasa dari daerah atau negara lain.

2. Jika itu bahasa Roh, berarti bahasa Roh = salah satu bahasa dunia (meskipun yang berkata-kata tidak mengetahui artinya/menafsirkan namun yang mendengarkan mengerti krn itu bahasa mereka) karena di KIS tertulis mereka berkata-kata dalam bahasa negeri asal kita yaitu Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia dll.

Memang masing masing pendengar memahami dalam bahasa mereka tetapi perkataan Rasul hanya dalam satu bahasa.

3. Jika itu bahasa Roh, mengapa berbeda dengan apa yang disampaikan di korintus bahwa tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya? Alkitab mencatat ada dua macam pengucapan bahasa Roh, yaitu dalam bentuk bahasa Asing seperti yang terjadi pada di para murid ketika Pentakosta di Yerusalem, dan dalam bentuk ucapan-ucapan yang tidak bisa dipahami, seperti yang disebutkan di 1 Korintus 14.

1. Bahasa Roh Berupa Bahasa Asing

Untuk bahasa Roh yang berupa bahasa Asing adalah supaya orang yang mendengar bisa memahami kebenaran Firman Tuhan, bertobat dan diselamatkan, seperti pada peristiwa Pentakosta di Yerusalem dalam sehari tiga ribu orang bertobat.

2. Bahasa Roh Yang Tidak Bisa Dipahami

Bahasa Roh yang tidak bisa dipahami ini masih dibagi lagi ke dalam dua kelompok, yang pertama bahasa Roh dalam doa pribadi.

a. Tidak diucapkan Dalam Doa Pribadi

Bahasa Roh yang muncul dalam doa pribadi kepada Tuhan tujuannya adalah untuk membangun dirinya sendiri. ROH KUDUS dalam hati berkata-kata secara langsung kepada Allah Bapa di surga melalui lidah anak Tuhan.

Roma 8:26 Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.

b. Diucapkan Di Tengah Jemaat

Jika bahasa Roh diucapkan di tengah jemaat, Firman Tuhan mengatur urutannya dengan jelas, yaitu dua orang atau sebanyak-banyaknya tiga orang, dan diucapkan bergantian seorang demi seorang. Setelah satu orang mengucapkan bahasa Roh maka harus ada orang yang menafsirkannya, sehingga semua jemaat mengetahui dengan jelas apa pesan ROH KUDUS yang disampaikan untuk membangun jemaat.

“Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya.” (1 Korintus 14:27).

Tetapi kalau tidak ada orang yang bisa menafsirkannya, Firman Tuhan berkata : “hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah.” (1 Korintus 14:28)

Demikian yang dapat saya jelaskan mudah mudahan membantu.

Ada banyak karunia Roh (1Kor 12:7-11), salah satunya berbahasa roh. Selain berbahasa roh juga ada karunia menafsirkan bahasa roh. Tentang hal ini rasul Paulus menyatakan dalam 1 Korintus 14:13, “Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya.”

Mengapa perlu ada karunia menafsirkan bahasa roh? Paulus menjelaskan dalam 1 Korintus 14:4, “Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat.” Bahasa roh adalah bahasa doa. Jika ia menerima karunia berbahasa roh tanpa ada yang menerima karunia menterjemahkan bahasa roh tersebut, maka ia hanya berdoa sendiri kepada Tuhan (1Kor 14:2), bukan untuk didengar oleh jemaat atau orang lain. Seperti yang dijelaskan dalam 1 Korintus 14:28, “Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah.”

Namun jika karunia bahasa roh itu turun disertai dengan karunia menafsirkan bahasa roh, maka apa yang dikatakannya oleh rohnya itu adalah untuk membangun jemaat (1Kor 14:5), dan orang lain akan paham artinya. 1 Korintus 14:16-17 mengatakan demikian, “Sebab, jika engkau mengucap syukur dengan rohmu saja, bagaimanakah orang biasa yang hadir sebagai pendengar dapat mengatakan “amin” atas pengucapan syukurmu? Bukankah ia tidak tahu apa yang engkau katakan? Sebab sekalipun pengucapan syukurmu itu sangat baik, tetapi orang lain tidak dibangun olehnya.”

Jadi apa yang terjadi diatas loteng Yerusalem pada hari Pentakosta tersebut, dikatakan mereka berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain yang dapat dimengerti oleh orang-orang saleh dari berbagai bangsa itu bukan hanya dicurahkan karunia berbahasa roh saja, tetapi juga dicurahkan karunia menafsirkan bahasa roh kedalam berbagai bahasa manusia.

Karunia menafsrikan bahasa roh adalah karunia menterjemahkan bahasa roh menjadi bahasa yang dipahami oleh manusia. Jaman sekarang karunia ini jarang turun, namun dari beberapa kejadian yang saya dengar dan salah satunya teman saya sendiri, mereka dapat berkata-kata bahasa asing (bahasa negara lain) tanpa ia sadari. Orang lain yang mendengarkannya mengerti seperti ia berkata-kata dalam bahasa negaranya.

Mengapa jarang dicurahkan? Jika kita baca keseluruhan pasal 14 dari surat 1 Korintus. Maka kamu akan tahu, gereja-gereja sekarang terlalu gaduh berbahasa roh sehingga karunia menafsirkan bahasa Roh itu tidak dicurahkan. Sedangkan yang di loteng Yerusalem pada hari Pentakosta itu berbeda, sebab ada karunia menarfirkan bahasa roh, mereka terlihat gaduh dalam menfasirkan kedalam berbagai bahasa manusia yang ada di bawah loteng. Bukan kegaduhan berkata-kata dalam bahasa roh yang hanya dimengerti Allah saja seperti yang dijelaskan 1 Korintus 14:2, “Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia.”

Demikian penjelasannya.

  1. Pada saat ibadah gereja sering kali WL ataupun Pendeta mengajak jemaat untuk berbahasa roh, namun melihat ayat pada 1 Korintus 14:28 agar lebih baik berdiam diri dari pada berbahasa roh dengan tidak ada orang yang dapat menafsirkannya baik yang berbahasa roh itu sendiri maupun jemaat lain, apa yang sebaiknya kita lakukan?

  2. Bagaimana kita mengetahui saat berbahasa roh yang kita ucapkan adalah bahasa dari negara A atau negara B, dengan melihat pada saat pentakosta memang rasul berkata kata dengan bahasa lain (bukan bahasa mereka) namun saat itu juga ada orang2 yang memang mendengar dan itu bahasa dari mereka yang mendengar, sehingga pesan dari bahasa roh itu nampak jelas, namun saat ini digereja pemakaian bahasa roh seakan memang hanya untuk diri sendiri tanpa ada pesan yang nampak jelas, bagaimana kita menyikapi dan menggunakan bahasa roh tersebut?

Jadi bagaimana menurut anda mengenai ajakan WL ataupun pendeta yang mengajak jemaat untuk berbahasa roh sedangkan tidak ada yang dapat menafsirkannya? bagimana harusnya kita menyikapi?

Ada yang dikenal dalam dunia kharismatik dengan istilah “kegerakan” dimana mereka percaya ROH KUDUS sedang bekerja untuk tujuan tertentu. Bahasa Roh adalah karunia yang baru seabad ini dimulai kembali dalam kegerakan gereja pentakosta. Selanjutnya gerakan ini berkembang dan diterima hampir oleh seluruh denominasi gereja termasuk gereja Katolik Roma dewasa ini. Masa sebelumnya gereja mengalami masa “jatuh bangun” yang panjang, yang saya dapat kaitkan dengan nubuat Yesus dalam Matius 13:24-30 dimana disebut dengan istilah “hamba-hamba yang tertidur.” Setelah gereja siuman, maka karunia-karunia Roh mulai dicurahkan secara limpah kembali,

Saat bahasa roh itu mulai lagi dicurahkan maka kegerakan ini merata keseluruh dunia. Banyak hamba-hamba Tuhan mendorong banyak orang untuk meminta karunia berbahasa roh. Mereka “mempromosikan” karunia ini lewat ibadah raya dan disetiap pertemuan=pertemuan. Tujuannya adalah untuk membangun diri mereka masing-masing (1Kor 14:4), membantu jemaat agar dapat berdoa kepada Allah secara pribadi. Roma 8:26 berkata, “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.”

Jadi karena itu mereka sering gaduh berdoa sendiri-sendiri. Sebab akan tiba saatnya juga bahwa karunia menafsirkan bahasa roh itu akan dicurahkan setelah kegerakan bahasa doa ini mencapai tujuannya (1Kor 12:11).

2. Bagaimana kita mengetahui saat berbahasa roh yang kita ucapkan adalah bahasa dari negara A atau negara B, dengan melihat pada saat pentakosta memang rasul berkata kata dengan bahasa lain (bukan bahasa mereka) namun saat itu juga ada orang2 yang memang mendengar dan itu bahasa dari mereka yang mendengar, sehingga pesan dari bahasa roh itu nampak jelas, namun saat ini digereja pemakaian bahasa roh seakan memang hanya untuk diri sendiri tanpa ada pesan yang nampak jelas, bagaimana kita menyikapi dan menggunakan bahasa roh tersebut?

Seperti yang saya jelaskan sebelumnya. Bahwa ada dua karunia ROH KUDUS, satu berbahasa roh dan kedua menafsirkan bahasa roh tersebut. Dua karunia itu pada jaman para rasul sering dicurahkan bersamaan.

Jika bahasa roh itu dicurahkan tanpa dicurahkannya juga menafsirkan bahasa roh, maka itu berguna bagi mereka sendiri berdoa kepada Allah. Itu disebut bahasa doa. Doa dalam roh yang hanya dipahami oleh Allah saja.

Namun jika dua karunia ROH KUDUS itu dicurahkan bersamaan, maka bahasa roh itu adalah untuk jemaat, bukan untuk diri mereka sendiri. Karena itu ROH KUDUS memberikan karunia menafsirkannya kedalam bahasa manusia yang dapat dimengerti oleh manusia yang lain.

Jadi disini anda harus paham perbedaan tersebut, sebelum anda menyamaratakan semuanya.

Terimakasih bro @Krispus, saya mulai memahami dari penjelasan diatas…

Bgini Brother Joshua,
Krn saya dari karismatik maka saya boleh coba sumbang pendapat.

Dalam beberapa gereja beraliran karismatik ada 3 kondisi dimana bahasa roh dipergunakan.

  1. Dalam ibadah raya.
    Di dalam ibadah raya ini, WL memberikan waktu/sesi bagi jemaat utk berbahasa roh, biasanya di penghujung sebuah lagu bertempo pelan dg waktu kira-kira 3 menit saja (sangat singkat).

Sesi ini ditujukan agar jemaat diberi kesempatan secara pribadi memuji/berdoa kpd Tuhan dengan menggunakan bahasa roh.
Jd jelas sesi ini diadakan hanya utk kepentingan pribadi jemaat (perorangan).
Sama saja misalnya WL memberi sesi khusus bagi seorang utk berdoa pribadi atau bermazmur kpd Tuhan yg semua dilakukan bersamaan.

Sesi ini sesuai dengan amanat Rasul Paulus ketika ia menulis agar jangan melarang bahasa roh asalkan dilakukan dengan tertib. Ketertibannya ada pada pengadaan sesi khusus hanya utk berbahasa roh scr pribadi.
Tidak mgkn saat kotbah tiba-tiba jemaat boleh berbahasa roh krn tidak akan diizinkan.

  1. Saat pertemuan jemaat skala kecil.
    Ptemuan jemaat skala kecil beda lagi.

Di pertemuan jemaat, ada sesi ‘bersiap menerima pesan Tuhan’.
Pd sesi ini, orang tidak bisa sembarangan berbahasa roh. Jika ada di antara hadirin yg merasa menerima pesan Tuhan dalam bahasa roh, maka ia dipersilakan berbahasa roh.
Saat ia berbahasa roh, hadirin berdiam diri mendengarkan bahasa rohnya sambil menunggu siapa yg akan mengartikan bahasa roh tsb.
Kl bahasa roh tsb sesudah sekian lama tidak ada yg mengartikan, maka pimpinan pertemuan akan meminta orang tsb utk berhenti berbahasa roh dan hadirin kembali berdiam diri menunggu pesan Tuhan.
Jika ada yg menafsirkannya maka org yg menafsirkan akan mulai berbicara.

Jd dalam pertemuan jemaat ini, bahasa roh ditujukan utk menerima pesan Tuhan, maka hadirin harus berdiam diri mendengar bahasa roh, menunggu penafsirannya. Orang yg berbahasa roh pun hanya boleh satu per satu.

Praktek ini sesuai dengan amanat Rasul Paulus ketika bicara soal penafsiran bahasa roh utk kepentingan bersama, yaitu dilakukan satu per satu dan wajib ada yg menafsirkan.

  1. Dalam doa pribadi.
    Ini ya siapa saja yg sudah berbahasa roh silakan doa pribadi kpd Tuhan kapanpun dia mau. Bahasa roh ini rahasia, biasanya tidak ditafsirkan krn hanya doa pribadi saja.
    Nah, dalam sesi ibadah raya, WL berwenang memberikan sesi khusus bagi semua jemaat utk scr bersamaan berbahasa roh scr pribadi kpd Tuhan.

Bagi jemaat yg non-karismatik ataupun jemaat yg hanya sebatas pernah datang ke ibadah raya, maka mreka mencampuradukkan nomor 1 dan nomor 2. Scr tanpa sadar membandingkan nomor 1 dg nomor 2 padahal praktek yg nomor 2 juga dilakukan pd pertemuan skala kecil.

Thx bro @Siip atas penjelasannya, saya mulai memahami akan itu. Mungkin memang kini saatnya kita berdoa untuk tidak hanya memperoleh karunia bahasa roh/lidah (seperti yang bro @Krispus jabarkan dalam penjelasannya) namun juga menafsirkannya agar jemaat juga bisa ikut “terbangun”, karena banyak dari non karismatik yang tidak sedikit merasa aneh saat datang ke gereja karismatik mendengar berkata-kata tanpa “makna” kususnya saat ibadah meski itu sesi yang ditunjukan untuk doa pribadi.

Saya pernah baca di forum ini tentang kesaksian di salah satu gereja yang mengajak jemaat untuk berbahasa roh/lidah, namun yang belum mendapat karunia itu juga “menjadikan dirinya bisa berbahasa roh/bahasa roh palsu” hanya karena ingin terlihat eksis ataupun karena malu belum mendapat karunia itu.

Benar Bro,
Namun sukar skali utk praktek penafsiran bahasa roh dalam ibadah raya, krn banyak skali jemaatnya.

Ibadah raya itu one-way-speech, yaitu dari pendeta ke jemaat.
Kl ada pernyataan Tuhan, maka hal tsb dikotbahkan dari pendeta ke jemaat.
Jemaat tidak diminta dan tidak diharapkan utk share sesuatu.

Hal ini tentu beda dg praktek yg dharapkan di surat korintus.
Di surat korintus Paulus mengamanatkan agar jemaat saling share apa yg mreka dapat dari Tuhan, termasuk bahasa roh, satu per satu.
Jika ibadah raya mlakukan format spt ini tentu bakal berjam-jam ibadahnya.

Maka ibadah raya disesuaikan hanya one-way dari pendeta ke jemaat, sdgkn dalam ptemuan jemaat yg lebih kecil praktek di surat korintus dapat dilaksanakan.

Dalam ptemuan jemaat yg lebih kecil (biasanya ptemuan doa), siapapun hadirin bisa berbicara jika mreka mndapat sesuatu dari Tuhan, termasuk bahasa roh dan pnafsirannya.

Sejauh bro @Siip memandang, masih banyakah yang mendapatkan karunia menafsirkan?
Saat ini jarang sekali saya menemukan orang2 yang dikarunia untuk menafsirkan bahasa roh/lidah bahkan belum pernah sekalipun saya mengetahui orang2 tersebut disekitar saya. Mengapa demikian? Bahkan lebih sedikit dari orang2 yang memiliki karunia bernubuat, karunia menyembuhkan dll.

Semua bahasa roh yang tidak sesuai dengan ajaran Alkitab pasti palsu jangan diikuti bro.

Sekarang ini banyak sekali bahasa roh yang palsu beredar dimana mana.

Bahasa Roh itu adalah karunia tidak bisa dipelajari bro.

Alkitab berkata (1Korintus 14 : 27-34) bahwa didalam berbahasa roh :

   - Dibatasi 2 sampai 3 orang saja dalam suatu kebaktian
   - Bergiliran tidak sekali gus beberapa orang
   - Ada penterjemah,kalau tidak diam saja.
   - Hanya laki laki saja (perempuan harus berdiam diri)
   - Harus tertib,sopan dan teratur (2 Tim.1:7)
   - Tidak boleh kacau (1 Kor.14:33)

Bertentangan dengan ajaran Alkitab diatas rawan palsu bro,hati hati jangan ikut ikutan praktek yang tidak benar.

thx bro atas penjelasannya. makannya saya menanyakan mengenai bahasa roh/lidah itu apakah memang bahasa dunia/bahasa dari salah satu bangsa, atau bahasa yang “tidak beratur/tidak jelas maknanya”.

Jika bahasa dari salah satu bangsa, mudah untuk menafsirkannya dan pesan itu bisa sampai kepada pendengar, namun bagaimana dengan bahasa roh/lidah yang “tidak beratur/tidak jelas maknanya” sedangkan jarang sekali saya temui org2 yang memiliki karunia menafsirkan bahasa roh/lidah yang diucapkan, bahkan sampai saat ini saya belum pernah melihat ada orang yg dapat menafsirkan bahasa roh/lidah.

Janganlah terlalu berfokus kepada fenomena fenomena spektakuler yang banyak beredar sekarang ini,tetapi dalamilah firman Tuhan karena itulah satu-satunya sumber pertumbuhan dan kedewasaan iman yang sukar bisa dipalsukan,sedangkan karunia banyak yang sudah dipalsukan hanya untuk mencari keuntungan atau ketenaran pribadi bro.

II Korintus 2:17 Sebab kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari keuntungan dari firman Allah. Sebaliknya dalam Kristus kami berbicara sebagaimana mestinya dengan maksud-maksud murni atas perintah Allah dan di hadapan-Nya.

Tuhan memberkati.

Nope

ngga perlu berpikir seperti itu hanya karena kita takut/suudzon

1Korintus 14
5. Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun.

kasarnya mah setelah punya karunia yang bisa dipergunakan untuk membangun diri sendiri
jangan cuma puas disitu
kejarlah karunia yang bisa membangun orang lain (jemaat)

tapi bukan bearti lalu kita tinggalkan karunia yang bisa membangun diri sendiri itu

Yes, termasuk saya juga pertama kali merasa aneh ke gereja Kharismatik :slight_smile:
but at the end sy bertobat dalam suasana kebaktian yang penuh bahasa roh itu juga koq

ngga mungkin kalo di kebaktian itu tiap kali ada sesi terjemahan bahasa roh
saat kebaktian itu sudah banyak skali sesi untuk membangun jemaat sebenarnya, PPW dan kotbah
hal itu paling mungkin dilakukan di pertemuan kecil

saya rasa dimanapun juga sama
kamu ngga mungkin bisa mengerti kedalaman gereja tertentu cuma dari kebaktiannya
harus ikut dalam komunitasnya, atau cell groupnya

yesss, such thing happen unfortunately

itu urusan gereja kharismatik masing-masing untuk membuat jemaatnya mengerti
sama seperti misalnya tanggung jawab gereja Katolik misalnya untuk membuat jemaatnya mengerti bahwa patung itu bukan buat disembah walaupun gerejanya dihiasi oleh patung

dan urusan orang lain / gereja lainlah untuk tidak menjudge sembarangan tata cara ibadah / doktrin / dogma / apapun juga yang ada di gereja yang dia ngga ngerti

kalau mau mengerti bisa dijelaskan, bisa ngasih saran, tapi ngejudge itu jelas ngga boleh

semua sama bro, berlaku untuk semua gereja

semoga dapat dimengerti

Saya happy Bro menanyakan hal ini pd orang karismatik,
Kl Bro menanyakan ini pd mreka yg bukan karismatik, yg tidak berbahasa roh dan jarang kumpul dalam pertemuan doa karismatik, maka jawabannya tentu berbeda.

Mreka yg tidak mengalami bahasa roh wajar saja jika cenderung skeptis dan curiga thd segala macam bahasa roh yg mreka dengar.
Skalipun ada yg berbahasa roh asli belum tentu mreka bisa mengenalinya,
Why? Krn mreka tidak biasa thd bahasa roh.

Namun ya fine aja bila orang skeptis pd bahasa roh.
Bahasa roh bukan segala-galanya, bukan penanda tingkat kerohanian dan tidak mbawa keselamatan.

Dari pengalaman saya sbg seorang karismatik di tengah-tengah orang karismatik, banyak yg diberi karunia menafsirkan bahasa roh, bahkan banyak yang diberikan karunia-karunia Roh sesuai tertulis di 1 Korintus 9.

Saya bisa crita juga bhw kami kalangan karismatik dapat membedakan apakah suatu bahasa roh itu riil atau palsu. Bukan dari teori-teori, bukan dari kosa katanya, bukan juga dari suaranya, tp krn kami begitu sering berbahasa roh dan mendengar banyak rupa bahasa roh shg bisa mengenalinya.

Org yg sering pegang uang kertas akan mudah membedakan yg palsu dari asli.

Terkadang liturgi itu soal kebiasaan.
Orang udah biasa liturgi ala Katolik akan kurang biasa pd liturgi protestan,
Orang udah biasa liturgi ala Protestan akan kurang biasa pd liturgi Katolik,
Orang yg tidak biasa dlm liturgi karismatik akan kurang bisa menerimanya,
Saya pun yg dari karismatik akan susah menikmati liturgi Katolik maupun Protestan, tentu bukan krn liturginya salah tp krn saya nggak terbiasa aja.

Kl org Katolik/Protestan mencoba utk mminta org karismatik mengubah liturginya dg menghilangkan sesi bahasa roh simply agar jemaat yg tidak biasa dg bahasa roh (jumlahnya minoritas) jadi nyaman, bukankah jadi sama saja dg org karismatik yg meminta org Katolik/Protestan supaya pakai full band dan tepuk tangan agar jemaat yg biasa ibadah karismatik (jumlahnya minoritas) tidak bosan?

Ntar jadi tersinggung dan sensitif juga kl dibilang bgitu :azn:

Thx bro sudah mengingatkan

Perlu diingat bahwa fenomena bahasa roh ini kalau salah dipahami bisa bersifat negatif :

1.Banyak orang Kristen yang meragukan imannya.

Karena dikatakan bahwa orang Kristen harus bisa berbahasa Roh, maka orang Kristen yang tidak bisa berbahasa Roh, dan yang tidak punya pengertian Firman Tuhan yang terlalu baik, lalu menjadi ragu-ragu terhadap iman mereka sendiri. Mereka lalu bertanya-tanya: ‘Benarkah saya sudah percaya kepada Yesus? Apakah saya sudah mempunyai ROH KUDUS? Kalau ya, mengapa saya tidak bisa berbahasa Roh? Apa yang salah dengan iman atau Kekristenan saya?’.

Tetapi kalau seseorang meragukan iman / kekristenannya, hanya karena tidak bisa berbahasa roh, maka itu bukanlah keraguan yang sah.Orang tsb sudah ditipu oleh ajaran yang sudah menyimpang dari Alkitab !

2.Banyak orang Kristen ‘mencari’ bahasa Roh:

Mereka ‘mencari’ atau berusaha mendapatkan bahasa roh dengan bermacam-macam cara seperti berdoa atau meminta kepada Tuhan, belajar berbahasa roh, dsb. Disamping itu juga ada ‘hamba-hamba Tuhan’ yang mengajarkan cara-cara untuk bisa berbahasa roh (kursus bahasa roh) dan bahkan ada banyak gereja-gereja yang punya hari pertemuan khusus untuk orang-orang yang ingin mendapatkan bahasa roh.

Sekarang, yang perlu kita pertanyakan adalah: bisakah atau bolehkah orang Kristen mencari atau berusaha mendapatkan suatu karunia tertentu?

Ada orang yang menjawab Ya! Dasar Kitab Suci yang biasanya mereka pakai untuk jawaban ini adalah 1Kor 12:31 1Kor 14:1,12,13,39 yang seolah-olah menunjukkan bahwa kita memang bisa berusaha (bahkan ‘harus berusaha’) mendapatkan karunia-karunia tertentu yang tadinya tidak kita miliki.

Tetapi Alkitab berkata :

  1. Kitab Suci jelas berkata bahwa pemberian karunia-karunia dilakukan oleh Allah / ROH KUDUS sesuai dengan kehendakNya (bukan sesuai kehendak kita / orang Kristen!).

Dasar Kitab Sucinya adalah:

• 1Kor 12:7-11.
Perhatikan khususnya kata-kata ‘seperti yang dikehendakiNya’, dimana kata ‘Nya’ menunjuk kepada ROH KUDUS’. Ini jelas menunjuk-kan bahwa pemberian karunia tergantung kehendak ROH KUDUS, bukan kehendak kita / orang Kristen.

• Ibr 2:4.

Ibr 2:4 dalam terjemahan bahasa Indonesia hanya menyebutkan ‘ROH KUDUS’, tetapi KJV / RSV / NIV / NASB semua menyebutkan ‘gifts of the Holy Ghost / Spirit’ (= karunia-karunia ROH KUDUS).

Ayat ini juga diakhiri dengan kata-kata ‘menurut kehendakNya’, dan ini lagi-lagi menunjukkan bahwa pembagain karunia-karunia ROH KUDUS itu terjadi sesuai dengan kehendak ROH KUDUS, bukan sesuai kehendak / keinginan orang Kristen.

Jadi, jelas bahwa Kitab Suci mengajarkan bahwa pemberian karunia-karunia itu dilakukan sesuai kehendak Allah (the sovereign will of God / kehendak yang berdaulat dari Allah).

Jadi, kalau kita sudah mempunyai suatu karunia tertentu, maka jelas bahwa merupakan kehendak Allah bahwa kita mempunyai karunia itu, dan bukan merupakan kehendak Allah bahwa kita mempunyai karunia yang lain. Karena itu, kalau kita diberi suatu karunia dan kita lalu berdoa untuk meminta karunia yang lain, maka itu jelas merupakan doa yang tidak akan dikabulkan oleh Tuhan karena tidak sesuai dengan kehendak Tuhan (1Yoh 5:14).

Demikianlah pendapat saya.

Baik Bro,
Terima kasih atas pendapatnya.

Saya menghargai pandangan Bro.

Saya sama sekali tidak menentang bahasa roh bro karena itukan karunia Tuhan,tetapi bahasa roh yang dipalsukan yang saya tentang.

GBU