Kisah singkat BLSM di desa terpencil Papua

Bukan tentang carut marut nya program pemerintah Mengenai BLSM…bukan mengenai Salah sasarannya BLSM karena Di sini di tempat terpencil ini Mereka LAYAK menerima.
hari itu saya mendapat Tugas dari perusahan plat merah tempat ku bekerja untuk melakukan pembayaran di salah satu daerah pemekaran kabupaten baru di tanah papua yang berjarak -+5 jam perjalanan laut dan -+7 jam perjalanan darat
senang bercampur waswas dengan kondisi di lapangan nanti…
berbekal niat yang baik aku berangkat bersama teman dan 4 orang petugas polres menumpang kapal
sialya hari itu kamar dan tempat tidur kapal penuh akhir nya saya dan rombongan yang berjumlah 5 orang tidur di emperan kapal.
kami tiba di pelabuhan di pusat pemerintahan pukul 4 pagi…
di karenakan masi terlalu dini akhirnya kami menunggu sampai waktu cukup siang…
singkat kata saya di beri tugas untuk melakukan pembayaran di salah satu desa…di temani kepala kampung dan 2 orang petugas kepolisian.
saya bertanya pada kepala kampung nya…jauh pak kampungnya…
ahh dekat saja dek…
dengan menaiki mobil L200 kami berangkat melewati jalan tanpa aspal tapi cukup baik kondisinya dengan hutan perawan pohon pohon tinggi yang waaaaah dan pmandangan hutan seperti memagari pinggiran jalan setengah perjalan ku mulai merasa waktu da cukup lama blum nyampe juga…tibalah qta di jalan yang berlumpur yang tidak saya bayangkan sebelum nya Rasa degdegan melewati sungai jembatan tua
benar benar medan offroad…
akhir nya sampai juga kami di perkampungan yang sepi yang lebih layak di sebut dusun itupun kami harus berjalan kaki karena mobil tidak bisa masuk karena jalan putus…
saya bertanya pd kepala kampung …pak warga nya mana…
sebentar ya…sambil membunyikan pentungan beliau memanggil warga tak berapa lama warga mulai datang di sebuah rumah reot tempat ku membayar sambil menunggu warga ku berjalan di temani kepala kampung melihat lihat kondisi kampung sebuah Gereja kecil Yang cukup tua berdiri sempat ku menghayal bagaimana suasana natal di kampung ini…
miris…tanah yang kaya berbanding terbalik dengan kondisi mereka…
saat nya ku mulai membayar
(seolah olah paman santa datang bawa hadiah)…
wajah wajah senang terpancar dari mereka walau ku bertanya dalam hati…uang 300.000 di daerah terpencil heeemmmm??? tanpa warung yang pada akhir nya mereka harus turun jauh ke pusat daerah…
hanya beberapa yang bisa menandatangani selebihnya cap jempol…
belum lagi bahasa mereka yang tidak aku pahami namun rasa waswas sebelumnya hilang dengan sambutan ramah mereka…
setelah selesai akhirnya ku harus kembali namun langkah ku terhenti melihat seorang bocah di antara sebayanya yang lagi berebutan permen yang di bagikan bpk dari kepolisian …tanpa alas kaki tanpa baju menatap ku…
ku hampiri dia secara spontan ku berikan uang pecahan 20.000 dia tersenyum senang sambil menyembunyikan uang nya tidak mau di lihat teman teman nya…
senang rasanya bisa berbagi dengan mereka meski bukan uang sendiri …
2 hari di daerah tersebut melihat kondisi mereka aku bersyukur di beri Berkat Seperti saat ini bagaimana dengan mereka…yang tak punya apa apa … 2hari kemudian aku dan rombongan kembali melewati jalan darat yang mendebarkan dengan jurang jurang menyiutkan nyali…
pengalaman yang berkakna di tanah papua…

salam…