Kita merindukan Pemimpin bukannya penguasa

Kita merindukan Pemimpin…bukan penguasa.
Muhammad Tamim Pardede / Yahushua Hamasiah 0813 832 832 08170856282

Bilamana seorang pemimpin dalam sebuah negara selalu mengikuti Kebenaran dan dharma, serta mencukupi kebutuhan rakyatnya, maka semua orang bijaksana dan tokoh masyarakat akan mengikuti dan menyebarkan dharma kepada masyarakat luas (Atharva Veda: 3.4.2).
Agama tak kan boleh dipisahkan dari negara, bahkan menurut kebijakan hinduisme negara adalah organisasi yang bergerak atas proses atau rangkaian kegiatan kerja sama sejumlah orang (berdasarkan dharma), untuk mencapai tujuan tertentu (Nawawi da Handari, 1995:8). Adapun ide memisahkan agama dari negara adalah ide komunis, demokratis dan yahudisme belaka, maka penguasa yang melakukan kebijakan tersebut hanyalah merupakan penguasa komunis agen yahudi yang disusupkan oleh mereka kedalam pemerintahan suatu negara, sebagaimana disebutkan berikut ini oleh mereka sendiri:
Agama harus dinyatakan sebagai urusan pribadi. Dalam kata-kata inilah kaum sosialis biasa menyatakan sikapnya terhadap agama……… Sudah seharusnya agama tidak menjadi perhatian negara, dan masyarakat religius seharusnya tidak berhubungan dengan otoritas pemerintahan.Setiap orang sudah seharusnya bebas mutlak menentukan agama apa yang dianutnya, atau bahkan tanpa agama sekalipun, ( Ucapan Lenin dalam novaya zhizn)
Gerakan ‘ Free Masonry’ akan melaksanakan tujuan-tujuan kita ini, dan sebagai penghalang bagi siapa saja yang akan membongkar program kita.
Gerakan ‘Free Masonry’ akan mampu menghapus keyakinan bertuhan di tengah masyarakat Kristen, dan diganti dengan teori matematika dan teori relativitas.
Kita harus berani mengarahkan orang-orang Kristen agar pikirannya hanya ke arah persaingan ekonomi dan industri. Situasi seperti itu diupayakan semakin tajam, agar terwujud masyarakat yang individualistis. Sehingga mereka akan apatis terhadap perjalanan politik, agama dan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Mereka hanya mengurus tenaga dan memeras otak demi mendapatkan harta. Dengan demikian mereka bergelimang dengan kehidupan materialisme dan mengabaikan ajaran-ajaran agama. Paham Liberal harus kita sebarkan ke seluruh dunia agar pengertian mengenai arti kebebasan itu benar-benar menimbulkan dis-integrasi dan menghancurkan masyarakat non-Yahudi. Maka industri harus dilandaskan atas dasar yang bersifat spekulatif.(Protocols 4, elder of zion )

Organisasi tersebut pasti memerlukan seseorang untuk menempati posisi pemimpin (leader). Seorang pemimpin didalam sebuah organisasi mengemban tugas melaksanakan kepemimpinan.Sedangkan tugas kepemimpinan dalam prosesi adalah mendorong dan membantu orang lain untuk bekerja secara antusias ke arah tujuan. ) Jelas bahwa setiap individu harus bekerja sama untuk menuju kehidupan yang lebih insani. Jadi, “dengan bergabung bersama insan lainnya…(individu memiliki tiga pilihan) ia harus tunduk pada kehendak lainnya (diperbudak) atau dipatuhi lainnya (berkuasa) atau tinggal bersama dalam kesepakatan persaudaraan demi kepentingan bersama (berkumpul). Tak ada seorangpun yang dapat lari dari kebutuhannya.” (errico malatesta, the anarchist revolution, hal. 85) Dari uraian tersebut ada empat implikasi penting, yaitu :

  1. Kepemimpinan selalu melibatkan orang lain sebagai pengikutnya. Dengan keinginan mereka untuk menerima pengarahan dari pimpinan berdasarkan semangat musyawarah (bukan demorasi) Hal ini telah ditekankan dalam Al Qur’an sebagai berikut :
    dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan ALLAAH, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka (QS 5:49)
    Hai orang-orang yang beriman, taatilah ALLAAH dan taatilah Rasul (NYA), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada ALLAAH dan Rasul , jika kamu benar-benar beriman kepada ALLAAH dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS 4:59)
  2. Kepemimpinan melibatkan sebuah pembagian kekuatan yang tidak seimbang antara pemimpin dan anggota kelompok. Seorang pemimpin harus mempunyai kekuatan lebih dari kelompok yang dipimpin.
    dan YANG mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman) . Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi ALLAAH telah mempersatukan hati mereka. . (QS 8:63)
    Ia haruslah orang yang punya nama baik dalam masyarakat; sebab kalau tidak begitu, maka ia akan dihina orang, sehingga jatuh ke dalam perangkap iblis.(1 timotius 3:7)
  3. Kepemimpinan adalah kemampuan menggunakan bentuk-bentuk kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku-perilaku pengikut dalam sejumlah cara.
    Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti (QS 8:65)
  4. Aspek gabungan dari ketiganya yang mengakui bahwa kepemimpinan adalah sebuah nilai (value).
    Telah kita ketahui bersama bahwa politik dan kepemimpinan merupakan sebuah mata uang yang tak dapat dipisahkan. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu memberikan tauladan selalu mengusahakan kesejahteraan rakyat (sukanikang rat) dan ini tersirat dalam sila kelima Pancasila sebagai dasar negara kita, dan menghindari kesenangan pribadi (agawe sukaning awak). Dalam Kautilya Arthasastra dijelaskan pula bahwa “apa yang menjadikan raja senang bukanlah kesejahteraan, tetapi yang membuat rakyat sejahtera itulah kesenangan seorang raja”. Maka jelaslah politik harus diterapkan sesuai dengan ajaran agama agar Dharma dapat terwujud secara nyata, melalui konsep “raja adalah keturunan dewa” maka kekuasaan raja menjadi absolut. Absolut diatas kebenaran karena dia dibimbing oleh Wahyu. Bila seorang pemimpin memperhatikan masalah kesejahteraan rakyat serta mampu memberikan perlindungan kepada masyarakat, maka rakyatpun akan melindungi pemimpin itu sendiri Maka sang Pemimpin terhadap negara dan rakyatnya haruslah berperilaku bak Singa dan hutan yang saling melindungi, melindungi berdasarkan Wahyu (agama) bukan berdasarkan yang lainnya, berdasarkan nasehat dari para ahli agama, bukan berdasarkan bisikan atau hukum dan pesanan dan intervensi orang asing dan keturunannya yang bermukim dan mengeruk keuntungan negeri ini. Bila tidak demikian maka pemimpin yang tidak memerintah tidak berdasarkan Wahyu Kebenaran, maka rakyat wajib memberontak darinya, kepatuhan atau kesetiaan kepadanya akan merusak nilai Kebenaran sampai pada titik nadir terendah sebagaimana kaum ‘aad dan pemimpinnya yang sama sama jatuh dalam kekafiran :
    “…mereka menuruti perintah setiap penguasa yang sewenang wenang lagi menentang Kebenaran, dan mereka diikuti laknat didunia ini dan dihari kimat, ketahuilah sesungguhnya kaum ‘aad itu kafir kepada RABB mereka : (QS 11:59-60)
    sebab sesungguhnya ALLAAH telah mewajibkan kaum Muslimin mentaati dan membantu Pemerintah yang Muslim, sebagaimana DIA mengharamkan atas mereka taat atau membantu pemerintah yang kafir, serta DIA mewajibkan atas mereka untuk melengserkan pemimpin bila dia kafir, oleh sebab itu para ulama’ berkata sesungguhnya wajib atas setiap Muslim untuk mengetahui keadaan pemerintahannya. (lihat Al-Mustashfa, Abu Hamid Al-Ghozali juz 2 hal 390).
    Pemimpin yang tidak terkalahkan, melindungi rakyatnya dengan selalu meminta perlindungan NYA, sebaliknya rakyatpun akan selalu menghormati, dan melindungi pemimpin tersebut. (Rg Veda: 4.50.9)
    Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya. Karena pemerintah adalah hamba ALLAAH untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba ALLAAH untuk membalaskan murka ALLAAH atas mereka yang berbuat jahat.( roma 13 : 3-4)
    Bila seorang pemimpin yang pemarah dengan kesombongannya ingin menghancurkan dan menghina para Brahmana yang ahli Veda, maka negara tersebut akan hancur. (Atharva Veda: 5.19.6)
    Orang yang melalaikan tugasnya sama buruknya dengan orang yang suka merusak.(amsal 18:9)
    "Laku bhrtya matinggal ratunya, yan hana ratu akeras mapanas ing gawe, byakta sira tininggal ing wadwa nira, leheng ikang ratu makeras swapadi ngrutu makumed tar paradanda, yan hana ratu mangkana tininggal kawulanira, ya leheng makumed paradanda swapadi ratu awisesa, awisesa ngaranya manarub, ya hana wwang kulina janma sinoraken, yang hana wang adhahjati dinuhuraken, yeka anarub ngaranya, yan hana ratu mangkana tininggal sira de ning janma wwang kulina janma, Pelayan dapat meninggalkan rajanya, bila raja kejam dan bengis tindakannya. Raja yang demikian tentu akan ditinggalkan rakyatnya. Lebih baik raja yang kejam daripada raja yang kikir dan sewenang-wenang. Raja yang kikir dan sewenang-wenang lebih baik daripada raja awisesa, yaitu raja yang mencampurbaurkan persoalan. Orang-orang yang arif bijaksana direndahkan dan orang yang hina dimuliakan, itulah mencampur-baurkan namanya. Bila ada raja yang demikian akan ditinggalkan oleh orang-orang arif. (slokantara 40)
    “Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran.”( imamat 19:15)

Bahkan socrates, seperti diceritakan muridnya, plato (427-347 SM), dalam karyanya the republic, memandang demokrasi merupakan bentuk pemerintahan yang tidak ideal; lebih rendah nilainya dibandingkan aristokrasi (negara dipimpin para pecinta hikmah/kebenaran), ‘timokrasi’ (negara dipimpin para ksatria pecinta kehormatan), dan oligarchi (negara dipimpin oleh sedikit orang). Di negara demokrasi (pemerintahan oleh rakyat – the rule of the people), kata socrates, semua orang ingin berbuat menurut kehendaknya sendiri, yang akhirnya menghancurkan negara mereka sendiri. Kebebasan menjadi sempurna. Ketika rakyat lelah dengan kebebasan tanpa aturan, maka mereka akan mengangkat seorang tiran untuk memulihkan aturan.

Maka negara yang dipimpin oleh Orang Bijak yang Agamis, timokratis, oligarchis lebih ideal. Tapi sayangnya banyak orang yang mengaku beragama namun pada kenyataannya alergi dengan Kebenaran, mereka tak mau dipimpin oleh Pemimpin yang seperti ini yang menjadikan agama sebagai dasar Hukum Pemerintahan dan Negara, yang mau memimpin rakyat hanya berdasarkan petunjuk dari Kitab Suci, mereka hanya mau menjadi budak dan dikuasai oleh penguasa yang telah mereka pilih secara demokratis. Sebuah kehinaan yang menjadi pilihan. Padahal telah menjadi Kewajiban bagi kita untuk berHukum Sesuai dengan agama dan keyakinannya masing-masing, sebagaimana dijelaskan sebagai berikut :

Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan ALLAAH didalamnya Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik (QS al Maaidah : 47)
Dan KAMI telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan ALLAAH, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.(QS 5:45)
Sesungguhnya KAMI telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada ALLAAH, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab ALLAAH dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-KU. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-KU dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan ALLAAH, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.( QS 5:44)
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.(QS 3:104)
“Hukum itu hanyalah kepunyaan ALLAAH. DIA telah memerintahkan agar kamu tidak beribadah kepada yang selain DIA.” (QS. Yusuf: 40)
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan ALLAAH.” (QS Al Maidah: 49)
Kutinggalkan kepadamu 2 perkara bila kamu berpegangan dengan keduanya kamu tidak pernah tersesat selamanya , KitabuLLAH dan Sunnah RasulNYA (Sunan Tirmidzi Kitabul Manasik:56, Ibnu Majah:84, Imam Malik Kitab Qadhar:3,dengan sanad Amru bin Auf-AbduLLAAH bin Amr-Katsir bin AbduLLAH, Katsir perawi matruk menurut Ahmad,tapi hadits ini shahih secara matan,yang diperkuat pula dengan hadits berikut) :
"siapa membenci SunnahKu maka dia bukan dari golonganku (Musnad Ahmad 4,dengan sanad Mujahid-Manshur-Jarir-Yahya) : "ilmu itu hanya ada 3 : KitabuLLAH yang berbicara Sunnah yang telah lalu, dan ucapan Aku tidak tahu ( dinukil dalam al I’lam nya Ibnu Qayyim, al Faqih nya Al Khatib al Baghdadi dengan sanad Ibnu Umar-Nafi-Malik),
"percayalah kepada ALLAAH dengan segenap hatimu, jangan kamu bersandar pada pengertianmu sendiri ( amsal 3:5)
“percuma mereka beribadah kepadaKU sebab yang mereka lakukan hanyalah perintah orang”(Matius 15:9),
“berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri diatas jalan orang berdosa, yang tidak duduk didalam kumpulan pencemooh, yang kesukaannya adalah Taurat, dan merenungkan Taurat itu siang dan malam” ( Mazmur 1:1-2)

Dari hal yang disebutkan diatas tersebut tampak, perilaku penguasa elit (semacam pelaku trias politika) yang tidak berjiwa Pemimpin yang Agamis amat berkepentingan memelihara memori pendek rakyatnya dengan berbagai pembodohan sekaligus pembohongan yang dilakukan oleh dalam kekuasaannya yang bercermin pada sistem demokratis. Yang semua itu dilakukan untuk mengambil hati rakyat dengan menjanjikan atau mengiming imingi rakyat akan kekuasaan dan keadilan, maka proses pembodohan terhadap rakyat itupun berlangsung, apalagi dalam thermometer jiwa masyarakat Indonesia yang permisif, mudah memaafkan. Melalui permainan isu dan pengendalian informasi, rakyat bisa dibuat bingung bahkan frustrasi oleh elit yang mereka pilih. Dan dengan kebingungan inilah elit politik semakin memperpanjang daftar pendidikian pembodohan terhadap rakyatnya, demokrasi memang pada kenyataannya lebih banyak untuk cenderung membunuh kecerdasan rakyat.