Kita mjd batu sandungan bg org lain tergantung dr sbrp bsr kerohanian sekitar ?

Hello all … :slight_smile: Saya ada pertanyaan lagi… Terimakasih atas jawaban2xnya sebelumnya :slight_smile:
Tentang batu sandungan… Apakah seberapa sering kita bisa menjadi batu sandungan bagi orang lain tergantung dari kedewasaan rohani atau bahkan tingkat pendidikan dan pemikiran orang di sekitar kita ? Kalau kita dikelilingi orang2x bodoh tentunya hal2x kecil bisa saja dijadikan batu sandungan kan ? Atau kalau memang dasarnya mereka tidak dewasa secara rohani, bisa saja tindak tanduk kita disalah artikan. Kan orang dewasa tidak gampang tersandung, tapi anak kecil yang sedang belajar berjalan lah , ada pasir atau kerikil saja mereka terjatuh :slight_smile: Mohon pencerahannya, terimakasih :slight_smile:

sedapat mungkin kita ini jangan sampai jadi batu sandungan bagi orang lain, baik itu orang dewasa, bayi, maupun anak2

1 kor 8

  1. Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah.

  2. Karena itu apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudaraku, aku untuk selama-lamanya tidak akan mau makan daging lagi, supaya aku jangan menjadi batu sandungan bagi saudaraku.

Tapi itu kan susah bro ? Istilahnya seperti kita berusaha menyenangkan semua orang sehingga kita tidak menjadi siapa2x. Jika kita takut menjadi batu sandungan bagi semua orang, bisa2x kita tidak melakukan apa2x dong ? Apakah tidak bisa tiap orang mempertanggungjawabkan pikiran dan prasangka2x mereka sendiri kepada Tuhan ? Kan tidak semua hal bisa kita kendalikan ? Terimakasih atas reply anda bro :slight_smile:

ya memang susah, apa ada yang bilang jadi Kristen ga susah? kalau jadi Kristen ga susah semua orang udah jadi Kristen

Yesus pun jelas mengatakan siapa yang ingin mengikut Dia harus pikul salib, ya ini salah satu contohnya. Teladani Paulus yang dia sampai rela tidak makan daging demi membuat orang bertobat.

Saya hanya menyampaikan kebenaran apa adanya.

Saya tidak menentang kalau menjadi orang Kristen itu susah. Tapi apakah kita harus sedemikian menjaganya tindakan kita agar SEMUA orang tidak tersandung ? Misal… mencuri, jelas2x salah, orang Kristen dewasa maupun anak2x pasti setuju jika ini tidak boleh. Tapi Misal ada kasus seperti ini… Yesus menggerakkan hati seseorang untuk berhenti bekerja dan menjadi seorang fulltimer ,sedangkan dia punya posisi yang bagus di tempat kerjanya, dan dia mempunyai keluarga yang harus dihidupi (ada kisah nyatanya bro, saya pernah diceritai tapi lupa tepatnya orang yang dikisahkan ini siapa, yang jelas orang luar negeri, bukan orang Indonesia, saya diceritai adik saya). Dia tidak tahu harus menjadi fulltimer di gereja mana, dia tidak ada pengalaman menjadi fulltimer, sehingga ekonominya waktu itu agak kacau. Istrinya pun mengomel karena waktu itu rumahnya pun belum ada perabotnya. Nah, dalam contoh kasus ini… jika istrinya mempunyai kerohanian yang rendah, jelas2x tindakan suami adalah sebuah batu sandungan bagi dia bukan ? Masa ekonomi sudah stabil, dia tinggalkan untuk bekerja menjadi pelayan Tuhan, bagaimana nasib dia dan anak2xnya, kan namanya suami tidak bertanggungjawab ? Berhubung si istri mungkin kerohaniannya tidak cetek2x amat maka dia mendukung langkah suaminya meski sambil mengomel :slight_smile: maksud saya seperti itu …

ya, tetap sebisa mungkin kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, ini bukan tentang menyenangkan setiap orang, tetapi bagaimana kita berusaha agar semua jiwa2 dapat dimenangkan dalam Kristus.

iya, banyak ceritanya soal orang jadi fulltimer dan umumnya itu happy end setahu saya. contoh suami istri ini sebagai contoh batu sandungan kurang tepat rasanya, karena jika suami tunduk kepada Tuhan, maka istri tunduk pada suami, malah si istri yang marah2 itu bisa jadi batu sandungan bi keluarga lain yg melihat.

kalau soal suami istri yg seperti itu, yang saya yakini apa yang dari Tuhan pasti sepadan, dalam artian level iman juga sepadan, jadi mungkin mereka menikah belum dalam Tuhan? namun selama mereka on the right track there should be no problem. tak pernah kulihat orang benar dan keturunannya meminta2 kata Daud

Amin… Amin… Baik… mungkin bukan dari istri batu sandungannya, melainkan dari mertuanya :wink: bisa saja mertuanya ngomel2x… Kok anak perempuan saya tidak dikasi makan etc etc hahhaha…
Tapi seraya saya berdiskusi tentang ini saya menemukan jawabannya, benar jawaban Anda bro… Yang pertama adalah kehendak Tuhan, jika memang kita yakin bahwa itu kehendak Allah saja yang kita ikuti tanpa adanya embel2x keinginan pribadi, biar orang di kanan kiri tersandung sandung dan terjatuh itu urusan mereka ( ini ekstrimnya atau kasarnya bro) tetapi ketika itu bukan kehendak Allah saja alias kepentingan pribadi ikut mendompleng didalamnya, maka jika itu menjadi batu sandungan maka sebagian bahkan bisa jadi keseluruhan tanggungjawab ada diatas kita. Terimakasih atas bantuan pencerahannya bro :slight_smile:

ha ha, ini mungkin salah satu alasan kenapa saya tetap melajang.

Apa hubungannya bro ? O.o