KLO PACAR BEDA AGAMA gmana yah?...BUDHA-KRISTEN

aku usia 25 taun…dan cowo aku 29 taun…taun ini…
keluarga cowokku budha semua…dan keluargaku kristen smua…kita jalani hub memang seumur jagung…blom lama…
tapi…kondisinya…aku udah trauma untuk pacaran dan sempet jomblo 2 thun…dan sempet juga memutuskan untuk gak mau lagi pacaran…sakit dan capek…karna terdahulu slalu ada aja halangan seputar tidak direstui…
dan selama 2 tahun banyak cow deketin aku ,baik yg seiman ato tidak…ganteng dan sebenernya udah cap cus klo dipikir secara kasat mata…okelah…tapi aku gak SREG…sehingga aku melepas itu smua…sampe akhirnya aku dideketin cowoku ini…dan kok gak tau napa hati aku tu ngrasa SREG n cucok…
aku jalanin hub ma dia…kita bicara kedepan ttng nikah dan agama…aku tau ini msalah sensitif…bagi dia gak masalah untuk pindah agama karna dia menghargai smua agama (bisa dikatakan pancasila)…namun yg dia tetap lakukan doa dengan dewa budha dan ikut ke gereja mendengarkan firman dan doa dengan cara kristen…
nah…sampai akhirnya dia bicara ma ortu klo dia harus pindah ke kristen gmana…?dan ortu menentang…dengan alasan tradisi china…dan dia anak cowo satu satunya…harusnya cewe yg ikut cowo…boleh nikah klo sendiri2…dia tetap budha dan aku kristen…tapi di indo ini mana boleh n ikah gak seiman???..ga boleh kan…?..dan klo pun aku gak pindah budha hanya nglakuin perayaan religiusnya di wihara…apa mamah papahku mau datang…aku pribadi juga kepingin diberkati di gereja…di depan kristus…

BAgaimana temannnn…i need ur advice…dia juga udah cinta ma aku dan sebaliknya…kita dah cocok dan kluargaku dah bisa connect ma dia,(karna selama ini kluargaku paling susah connect ma pacar2ku dulu)hanya satu doang yg bisa connect…
haissss…

nb:aku ini cinta Tuhan…tapi aku manusia…aku juga menyayangkan dan sangat sakit klo harus merelakan apa yg udah cocok begini…kondisi trauma pula…knapaa…?knapaa?

klo aku membenarkan kristen bahwa Tuhan allahku lah satu2 allah…ntar dia tersinggung…karna cowokku ini mengahargai danmenghormati banget agama orang…dan berpikirnya logic banget…memukul rata…klo aku diem…gak terpecahkan…hanya doa dan menjalani …im so cinfused…

tolong jawab ini dengan bijaksana dan natural…aku cinta Tuhan dan aku gak mau pindah…apa boleh klo nikah dengan beda agama dalam kekristenan…toplong…bantu doa teman…o__o
JBU aLL

2 korintus 6 ayat 14
Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? :angel:

ayat diatas khusus buat pasangan yang sedang pacaran, sbaiknya orang2 yang terlibat segera menentukan sikap. Karna memang gelap tak mungkin bersatu dengan terang.
Contohnya:
Banyak pasangan yang beda agama setelah berpisah kembali ke agamanya yang lama.
kenapa bisa begitu, tanya kenapa
karna mereka tidak punya kasih mula mula
karna mereka walaupun kelihatan rajin ke gereja, baca alkitab, dsb ; tetapi sebenarnya mereka menjalani hanya sebuah rutinitas, walaupun mereka membaca alkitab tetapi mereka ga ngerti apa maksudnya.
Cobalah bertanya kepada mereka apa seh arti Yesus dalam hati mereka.

Jadi jelas alkitab tidak membolehkan orang perkawinan berbeda agama,
karna Tuhan Yesus tidak ingin kita memilih pasangan hanya karena penampilan atau nafsu

ketika seseorang mencintai Tuhan, biasanya hasratnya adalah berkumpul atau menemukan pasangan yang cinta Tuhan juga, itu sudah naturenya…

namun terkadang permasalahan hati atau asmara tidak mudah untuk keluar dari kondisi-kondisi komplikasi semacam itu

hidup ini pilihan…

memilih tetap bersama dengan pasangan yang belum kenal Tuhan, ada resikonya :

  1. keturunan kita akan terombang-ambing mau pilih yang mana
  2. beribadah sendirian, natal sendirian, doa sendirian, memuji Tuhan sendirian, dsb
  3. apakah Tuhan berkenan dengan pernikahan seperti itu?
  4. berjuang terus untuk memenangkan jiwa pasangan, kalaupun memang dia bersedia, kalau tidak, hanya akan ada masalah demi masalah
  5. tidak bisa mengharapkan seorang Iman (khusus wanita) tidak bisa mengharapkan pasangan yang sepadan (khusus pria), jadilah pernikahan secara jasmani saja, secara rohani tidak ada koneksi satu sama lain

kalau harus memilih Tuhan dan pasangan…

baru kemudian bisa terbukti seberapa besar rasa cinta kita kepada Tuhan, kalau ternyata demi Tuhan kita bisa merelakan pasangan yang tidak seiman dan tidak sepadan…

tapi kalau sebaliknya…

mungkin kita yang selalu meminta agar Tuhan tetap mencintai dan merestui apapun pilihan kita, meski pilihan kita membuat Tuhan menjadi nomor 2, dan berhala lain yang jadi nomor 1, termasuk pasangan…

tidak mudah namun juga tidak sulit, tapi seberapa besar kerelaan kita menturuti kebenaran Firman, ketika sudah diFirmankan

2Co 6:14 Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?

masih terus diterobos… tentu konsekuensinya juga ada

:slight_smile:
GBU

tapi ini beda bro…waktu aku doa…aku mendengar Tuhan bilang
aku mau pakai engkau untuk mengenalkan dia dengan AKU…hayo?..gmana tuh?

ERNIKAHAN CAMPUR

Masing-masing agama pasti memiliki dimensi eksklusifitas. Dimensi eksklusif itulah yang sedikit banyak berpengaruh pada doktrin dan sikap etis agama tersebut. Coba kita renungkan. Adakah agama dan kepercayaan yang tidak mengklaim dirinya adalah jalan menuju pada kesempurnaan dan kebenaran? Jawabnya adalah tidak ada!

Yah … itulah agama. Jika ada yang bilang “tidak ada agama yang tidak mengajarkan kebaikan”, kita juga harus sadar juga bahwa tidak ada agama yang tidak mengklaim diri sebagai jalan yang utama. Konsekuensinya, penganut kepercayaan atau agama lain akan diberi gelar “bukan umat (goyim)”, kafir atau istilah yang sejenis.

Dimensi ekslusifitas beserta segala konsekuensinya itulah yang membuat nikah beda agama menjadi sesuatu yang diharamkan dalam kehidupan masyarakat kita. Dalam perkembangannya kemudian larangan terhadap pernikahan beda agama itu dilegitimasi oleh beberapa teks kitah suci yang dikutip dan dicomot begitu saja. tanpa dilihat konteksnya (misal di kalangan kekristenan sering digunakan teks 2Korintus 6:14).

NIKAH BEDA AGAMA DI DALAM ALKITAB

Dalam Perjanjian Lama (PL)

Sebenarnya, istilah “menikah beda agama” berbeda dengan “perkawinan campuran”. Perkawinan campuran adalah perkawinan antar bangsa/suku bangsa. Namun dalam Perjanjian Lama, kawin campur atau nikah beda agama adalah identik. Menikah dcngan orang non Israel (kawin campur) berarti juga menikah dengan yang berheda agama. Ada tiga cara pandang yang berbeda mengenai perkawinan campuran (nikah beda agama) dalam Perjanian Lama:

l. Karena dianggap membahayakan iman kepada YHWH, perkawinan campuran dilarang.

Pada jaman itu, non- YHWH-isme identik dengan politeisme (penyembahan terhadap ilah yang majemuk dalam rupa dewa-dewi) dan bar-barian. Populasi Israel sehagai pemuja YHVH (monoteis, “beradab”) saat itu jauh lebih kecil jika dibandingkan bangsa¬bangsa besar lain di sekitarnya (politeis, “bar-bar”). Oleh karena itu hampir dipastikan YHWH-isme akan luntur jika terjadi perkawinan campuran. Maka pernikahan dengan bangsa non-Israel dilarang. ( Lihat: Ulangan 7:1-11; Keluaran 34:12-16; Maleakhi 2:10-15; Ezra 2:59-62; Nehemia 7:61-64: 13:23-29)

II. Namun di sisi lain, kita tak dapat memungkiri bahwa di dalam PL, kawin campur juga dibeberkan sebagai sebuah kenyataan yang tidak dapat dihindari.

Sebagai bangsa kecil di tengah beragamnya peradaban di sekitarnya, orang-orang Israel tak dapat menghindari relasi sosial dengan hangsa lain yang juga beragama lain. Maka pernikahan heda agama juga menjadi realitas yang tak terhindarkan. Bahkan “tokoh-tokoh besar” Israel pun mengalaminya, dan itu dicatat oleh Alkitab.

A. Kejadian 38:1-2 (Yehuda menikah dengan Syua, wanita Kanaan)
B. Kejadian 46: 10 (Simeon juga menikah dengan wanita Kanaan)
C. Kejadian 41:45 (YusufdenganAsnat, anak.Potijera, imam di On-Mesir)
D. Kejadian 26:34 (Esau dengan Yudit, anak Becri orang HeI)
E. Bilangan 12:1 (Musa - sang pemimpin Israel menikah dengan seorang perempuan Kusy)
F. Rut

III. Kawin campur dalam konteks tertentu dianjurkan.

Haaa … ? Dianjurkan? Ya. Ini terdapat dalam Ulangan 21:10-14. Bagian ini merupakan rangkaian dari perikop yang berhieara mengenai hukum perang yang ditetapkan bagi orang Israel (lihat Ulangan 20 - 21 :14). Pada bagian ini dengan gamblang diatur: apabila Israel menang perang, menawan musuh dan di antaranya ada para wanita yang menarik, maka wanita itu harus diperlakukan secara manusiawi, dihormati hak-haknya. Lalu: … “sesudah itu bolehlah engkau menghampiri dia dan menjadi suaminya, sehingga ia menjadi istrimu.”

Di sini kita melihat bahwa pernikahan dengan wanita non-Israel diijinkan agar umat tidak terjatuh pada dosa kejahatan perang, dalam hal perlakuan biadab terhadap para wanita tawanan perang,

Selanjutnya dalam Perjanjian Baru (PB)

Dalam PB. boleh tidak kawin dengan orang berbeda agama? Teks 2 Korintus 6:14 yang berbunyi “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?” adalah teks favorit yang paling sering dikutip untuk melegitimasi pelarangan menikah dengan orang yang berbeda agama.

Jika menilik konteksnya, sejatinya ayat itu tidak ditujukan untuk melarang atau mendukung seorang Kristen menikah dengan orang non-Kristen, melainkan lehih ditujukan hagi para petobat baru, yang pasangannya masih memeluk kepercayaan yang lama. Tujuannya jelas, yakni agar orang-orang Kristen benar-benar menerapkan kekudusan dalam hidupnya dan tidak lagi terjatuh dalam kehidupan cemar yang masih menjadi gaya hidup pasangannya. Mereka dipanggil untuk menularkan positive influence bagi pasangannya yang belum percaya. Namun demikian toh Paulus tetap melarang orang-orang Kristen menceraikan pasangannya yang sudah berbeda iman itu, kecuali pasangannya yang menginginkan (lihat: 1 Korintus 7: 12-16).

Hal senada juga dapat kita lihat dalam I Petrus 3:1-7. Teks ini bicara soal pernikahan beda agama yang diakibatkan oleh pertobatan istri dari pasangan “kafir”. Padahal peranan suami adalah dominan dan harus ditaati oleh istri sebagai pihak yang lebih lemah (1 Petrus 3:7). Dalam konteks yang demikian para istri tetap harus menjalankan panggilannya untuk menjadi kesaksian di tengah orang yang tidak percaya. (1 Petrus 2: 12).

ASPEK LEGAL PERNIKAHAN BEDA AGAMA

Dalam Tata Gereja GKI misalnya, hal ini diatur dalam Tata Laksana, Bab X, ps. 30,ayat 9b ditulis: Jika salah seorang calon mempelai bukan anggota gereja (baca: bukan Kristen), ia harus bersedia menvatakan secara tertulis denganjormulirvang ditetapkan oleh Majelis Sin mie bahwa :

A. Ia setuju pernikahannya hanya diteguhkan dan diberkati secara Kristiani.

B. Ia tidak akan menghambat atau menghalangi suami/isterinya untuk tetap hidup dan beribadat menurut iman Kristiani.

C. Ia tidak akan menghambat atau menghalangi anak-anak mereka untuk dibaptis dan dididik secara Kristiani

Dari sini terlihat, dalam Tager ini tidak disediakan untuk memberi restu bagi pemuda pemudi Kristen untuk menikah dengan orang non-Kristen. Justru sebaliknya, pasal ini mengarahkan pasangan beda keyakinan kepada sebuah ke sepakan untuk menjadikan keluarga tersebut sebagai keluarga yang Kristiani. Bukankah ini selaras dengan yang digemakan dalam surat Korintus dan Petrus?

Persoalannya adalah bagaimana kita bisa menjamin bahwa formulir kesediaan untuk tidak menghambat pasangan dan mendidik keluarga secara Kristiani tersebut hakal diisi secara jujur dan konsekuen’? Di sinilah dibutuhkan peran penggembalaan oleh Majelis Jemaat (Pendeta dan penatua).

Beberapa jemaat mengharuskan pasangan yang bukan Kristen mengikuti katekisasi sampai lulus dan dibaptis terlebih dahulu, baru pernikahannya bisa diteguhkan dan diberkati. Namun ada jemaat-jemaat yang lain agak longgar aturannya. Yang penting sudah mau ikut katekisasi dan sedang menjalani pelajaran katekisasinya, ia dinyatakan sebagai simpatisan gereja dan sudah berhak diberkati.

Masalah akan jadi pelik apabila masing-masing pasangan bersikukuh untuk tidak bersedia menjadi seiman. Nah jika sudah demikian pasangan tersebut setidaknya akan menghadapi dua masalah hesar. Apa sajakah itu?

A) Pernikahannya tidak mendapat pengesahan dari negara lewat Catatan Sipil.

Memang dalam Pasal 75 Huwelijks Ordonantie Christen Inlanders (HOCI) Stbl. 1933 / 74 pernah diatur:

Perkawinan antara pria non Kristen dengan wanita Kristen, atas permintaan kedua belah suami-istri, dapat diteguhkan berdasarkan ordinasi dan register Catatan Sipil untuk golongan Kristen-Indonesia (di Jawa, Madura, minahasa, Ambon, Saparua dan Banda). Namun kini yang berlaku adalah UU Perkawinan yakni UU No. 1/1974, Ps.2:1 yang mengatakan: Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaany a itu.
Jika menilik peraturan perundangan ini maka tidak dimungkinkan melakukan upacara nikah dengan dua agama atau kepercayaan.

B) Keluarga tersebut akan mengalami ketidakjelasan identitas.

Ketidaksamaan standar moral etis dalam sebuah keluarga memang bisa saja terjadi. Namun itu merupakan awal sebuah bencana besar dalam hidup berkeluarga, terutama jika keluarga itu berhadapan dengan problem rumah tangga. Misalnya : yang satu mengharamkan perceraian, sementara yang lain mengatakan boleh. Yang satu memegang erat asas monogami, yang lain mengatakan boleh poligami asal adil, dan masih banyak masalah yang lain, termasuk yang menyangkut makanan, ada tidaknya meja pemujaan di rumah, dsb. Ada lagi satu pertanyaan prinsip. Siapakah yang menjadi kepala rumah tangga? Tentu bukan lagi Kristus. Dampaknya keluarga tersebut tidak akan dapat memainkan peran dalam menjawab tugas kerasulan untuk menjadi garam dan bercahaya bagi Kristus. Jika dipaksakan untuk terus berjalan sendiri’) Bisa! Tapi sehatkah keluarga yang demikian? Silahkan menjawab sendiri.

KESIMPULAN

Dari uraian di atas kita masuk dalam sebuah kesimpulan. Pernikahan beda agama sebenarnya tidak bersangkut paut dengan dosa atau tidak berdosa. Juga bukan soal boleh atau tidak. Secara konseptual pernikahan ini sah-sah saja, asalkan masing-masing pihak benar-benar berkomitmen untuk saling menghargai perbedaan masing-masing dan menghormati perjanjian pernikahannya. Namun secara faktual pasangan nikah beda agama akan menempuh jalan terjal untuk menuju keluarga Kristiani yang serasi dan bahagia. Jalan terjal tersebut kadang dapat dilewati dengan baik dan sukses tetapi kadang sangat membahayakan dan gagal. Oleh karena itu sehaiknya herpikir dua kali sebelum mengambil keputusan pernikahan beda agama.

Penulis : Pdt Andri Purnawan SSi, pendeta GKl Darmo Satelit Surabaya.
Disalin dari : Majalah Sukita, edisi 23, tahun VII, Agustus 2008

Lebih baik PM supaya bisa lebih clear…

sudah konfirmasi kepada pembimbing rohani sis mengenai hal ini?

akan lebih baik jika dikonsultasikan terlebih dahulu dengan otoritas rohani sis…

mungkin apa yang kita dengar bukan seperti apa yang seharusnya kita lakukan?

dan bagaimana Tuhan memperdengarkan kepada sis, bahwa ada rencana-Nya terhadap pasangan sis melalui sis?

kalaupun demikian bukankah lebih baik ditunggu sampai pasangan sis menerima Tuhan Yesus baru pernikahan bisa dilansungkan?

kalau sis…memilih untuk menikah di wihara dan diberkati oleh otoritas wihara…

saya rasa itu bukan sama sekali rencana Tuhan, karena Tuhan tidak suka dipermainkan seperti itu, dan wakil Tuhan dalam pernikahan adalah Pendeta di Gereja sis…

:slight_smile:
GBU

Naoriku…sy percaya Tuhan punya rencana khusus yg tdk sama utk stiap orang. Mungkin saja apa yg km dengar adalah benar dr Tuhan, tp mungkin jg salah dr iblis (krn iblis juga bs menyamar jd malaikat, krn dulunya dia jg malaikat - Bintang Fajar).

Untuk kami bisa lebih baik lg dlm membantu km, mungkin km bs menjawab pertanyaan2 ini :

  • bgmn km bisa mendengar Tuhan bilang spt itu
    ke km. Bisa sedikit dijelaskan ?
  • Bagimana km yakin bhw itu benar suara Tuhan,
    dan sudahkah kamu mengujinya (suara tsb),
    dan bgmn km menguji suara tsb ?

yah klo bisa 2 agama…dia di berkati sendiri…aku diberkati pendeta…cuman…aduh…makin sakit hati aku saat aku menghadapi traumaku dan malah bentrok kaya gini,
dianya mungkin bisa pindah bro n sis…tapi kluarganya…mungkin aku lebih percaya dengan doa…pasrah dan lay my life to GOD…bolehkah saya minta dukungan doanya sis n bro…benar2 saya mengasihi dia…dr jatuh bangun dengan yg terdahulu membuat saya lelah untuk menjalin hub pacran ato nikah…tapi saya mengingat Tuhan menciptakan pria dan wanita memang untuk bersatu dan memperbanyak keturunan…pria diciptakan untuk wanita dan sebaliknya,

aku bener2 mencintai Tuhan YEsus…namun aku lelah pacran dan melepas yg ini…mungkin ini yg disebutkan d kotbah pendetaku dulu…setan klo mau narik aku,megangin barang atau hal yg secara manusiawi buat aku sangat aku cintai…tangan kiri “sesuatu itu”…dan kana Tuhan…

aku butuh dukungan doa kalian…u can call me sara…for pray…^^

sebenernya kau saat itu bimbang
antara suka dngan cowo seiman,tapi di america…dan gak tau pulang kapan…kita cocok,dalam hal rohani…nyaman dan …dekat…care…hub yg penuh kasih…trus bisa ketemu cowokku tu gara2 dia tu temen akuga begitu dekat…tapi satu kos…dan suatu saat…ada gerakan di hati bicara saat kita sedang kumpul di ruang tengah…(cowokku ini pendiem n ga banyak bicara…kalem…nurut ma ortu…anak tunggal)
hati itu bicara " temn kamu ada masalah"…gitu doang…trus otomatis aku langsung bisa settt…liat dia…

langsung kutegor…km knapa ko?..dia menutup diri…
sampai libur long weekend jumat sabtu minggu bulan kmarin…
smua pada balik n pergi kmane mane…trus tinggal kita berdua n ada beberapa yg lain…eh ketemu d tengah…ngobrol2…aku diem aja…sampe kita beli minum n kongkow d atap atas…dia braniin diri curhat…

trus…lama lama lama semingguan lebih…dia putus ma cewenya…karna dia bosen mahub dia karna cewenya posesif sekali dan buat dia gak nyaman…merasa tdak d percaya…padahal udah dipertahanin dan di kasi kesempatan…(cewenya)
trus…dia lama lama kok perhatiin aku…intinya bilang klo dia suka ma aku…tp gak maksa untuk jadian…aku bilang aku ingin yg seiman…dia bilang its oke gpp…n kita seperti biasa kongkow lagi…n…sampai pada akirnya aku yg bimbang…kok lama lama aku nyaman ma ni cowok…
menghargai n menghormati wanita…walaupun agamanya berbeda…tp ya itu kembali lagi…yg post aku pertama…dia begitu karna mengikuti ajaran2 budha yg baik itu…(aku respect dia)
(dalam tanda kutip…sewaktu aku berteman memang ada dorongan yg kuat untuk mengasihi dia(sebagai teman) dan ingin mengenalkan dia ma YEsus)

truspas aku doa…“Tuhan?apa aku mampu?..imanku pas pas an…aku bingung…yg d amerika ga tau kapan pulang tp cocok rohani…yg disini deket n mapan n dia bilang mau mengenal yesus juga…”
nah keluarlah suara itu bro…suara it u berupa dorongan hati yg mantab…
san sejak itu story begin…

aku dah baptis,dan dah lahir baru…aku dah d urapi bahasa roh…cman akhir2 ini agak kendor…karna aku d jakarta…dan kerja dan hanya ke gereja…n baca alkitab masi bolong…

sedihnya aku…namun aku percaya ada hikmah d balik ini…u__U

begini saja sis, yang menjalankan ini semua adalah sis, namun perlu dipertimbangkan apa yang telah rekan2 semua sampaikan

karena baik saya dan rekan yang menyampaikan pendapat perduli dengan sis…

kalau sekedar lelah atau tidak mau melepaskan pasangan karena kecocokan saja, rumah tangga Kristen dibangun atas pondasi yang lebih kuat dan mendalam dibanding dari pada masalah hati saja…

jika ini adalah pertemupuran rohani untuk menunjukan seberapa besar rasa cinta sis kepada Tuhan Yesus, tentu Tuhan Yesus sendiri yang akan menunjukan jalan-jalan yang terbaik buat sis…

dan yang saya tahu pernikahan di wihara dan berkat wihara bukan jalan Tuhan Yesus… untuk mempersatukan orang-orang yang dikasihinya…

setidaknya bergumulah untuk pernikahan itu dilangsungkan di gereja bukan diwihara

saya dulu pernah punya mantan yang mirip dengan kondisi sis, dikondisikan menikah di wihara, karena alasan orang tua yang sudah tua, demi bakti anak kepada orang tua, namun sudah berlangsung 9 tahun pernikahan mereka…

mantan saya menjadi confuse dengan suaminya sendiri, anak-anaknya tidak tahu beribadah kepada siapa…

berdasarkan pengalaman itulah saya sampaikan beberapa pandangan2 sebelumnya

tapi kan sis yang harus mengambil keputusan… dan menjalani setiap konsekuensi dari keputusan tersebut

semoga tetap semangat untuk menemukan maksud Tuhan dibalik peristiwa ini

:slight_smile:
GBU

Sara, apakah dlm hubungan km dng bojomu ini (sebut saja namanya A) telah km serahkan sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan ? Ambilah sikap pasrah total, kita boleh memohon tapi biarlah kehendakNya yg jadi, spy hidup km tenang, dan jgn cepet lelah utk berpacaran. Km msh muda koq… Ingat ada pepatah kuno berkata kalo memang jodoh gak akan kemana2. :afro:

kalo bilang cinta Tuhan… maukah sodara taat dengan Firman dibawah ini??

2Co 6:14 Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?

Krn bukti /ciri2 orang yang mengasihi Tuhan …adalah taat dengan nasihatNya

Joh 14: 23 Jawab Yesus: "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.

Ini lagi contoh kasus yang akan jadi seperti kasus member lain di thread lain.

Sama saja.

Sebelum menikah sih ngga masalah tapi setelah menikah itu, masalah akan datang, ya persis masalah member yang itulah.

Saya cuma kasih ayat ini saja yah.

Matius 10
10:37 Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.

Mengasihi orang tua atau anak melebihi daripada mengasihi Tuhan saja sudah dikatakan tidak layak bagi Tuhan, apalagi mengasihi pilihan / kesukaan diri pribadi.

Salam

kalo saran dari saya sih, tetep pacaran aja enggak masalah.
kalau memang melalui kamu dia bisa mengenal Tuhan ya malah bagus kan?
Asal jangan sampai terjadi pernikahan kalau memang dia belum menerima Yesus sebagai Juruselamat.

Malah waktu pacaran awal-awal gini malah lebih mudah untuk diajak kompromi, pada umumnya cowok kalo baru pacaran nurut banget sama ceweknya.
Ajak dia ke gereja, kalo enggak mau ya diajak berdiskusi masalah agama, kalo memang kamu sering ikutin postingan di forum ini seharusnya kamu udah punya pengetahuan yang cukup dalam tentang kekristenan, jadi ajak dia ngobrol masalah agama, dan jelaskan mengapa kamu sampai bisa menjadi seorang pengikut Yesus, dan tanyakan juga alasannya mengapa memilih agama Budha. Klao memang cuman karena faktor keturunan kan kami bisa bilang kalau kamu mau memberitahu dia jalan yang benar, agar kalian bisa bersama selamanya.

itu kalau dia memang sayang sama kamu, dia pasti mau denger omonganmu. kalau enggak kamu coba cara lain, kalau pada akhirnya memang tetep enggak bisa juga, ya say goodbye…

Sori, kasus gini udah banyak. Awalnya si cowok nurut pindah agama tapi akhirnya murtad. Bukankah lebih parah lagi, menikah dengan orang murtad. Jika seseorang bisa pindah keyakinan hanya karena pacaran, tidak perlu diragukan lagi untuk bisa murtad di kemudian hari. Pacaran bukan sarana penginjilan.

Salam

Yach, memang pendapat orang beda-beda sich.
Cuman yang musti dilakukan serang dia dari cara berpikirnya, pola pikirnya dan rubah sedemikian rupa agar mengerti apa injil itu yang sebenarnya sehingga dia benar-benar terima Yesus sebagai Juruselamat, dan tidak seperti kasus yang dikatakan bung Santo. Lain dengan bung Santo, menurut saya sah-sah aja pacar diinjili, karena Tuhan pun dan Alkitab enggak melarang. Karena yang butuh diselamatkan itu orang yang jahat murtad,dll bukan cuman yang baik, buat apa yang baik diselamatkan? Kan udah baik? Jadi keep going dan berdoa minta hikmat dan pikiran dari Tuhan agar Tuhan menuntun dan mnyertai kamu dalam misi penyelamatan kamu ini. Good luck girl… GBU

GUYSSSS…u know what…i dunno why…aku resah dan bingung…T__T…karna klo kau menyampaikan saksi tentang Yesus itu siapa sebenarnya…dia menafsirkan… begini…

klo Tuhan itu baik…kok yg di alkitab yang aku baca kok Tuhan mengutuk ,menghukum satu bangsa…padahal kan gak semua orang yg di dalam bangsa itu jahat…klo raja firaun yg salah yah hukum rajanya aja dong…pertanyaan pertanyaan seperti itu membuat kau jd mbatin…( ya Tuhan…andai saja dia tau betapa besar kuasamu dan anugrahmu kpada anak2 mu)…dorongan hati semakin mengasihani cowokku…karna dia bener2 memikir secara budha…logic yg bercampur jadi satu…trus orangnya tu janji ya janji…jadi dia baca yg air bah nuh…kan tuhan bilang gak akan hancurkan bumi dengan air bah lagi…trus…tak critain yng kejadian aceh ada bayi lahir di luar negri itu…yg teriak yeremia 12 itu…
trus si cowokku bilang lah katanya Tuhan gak mau hukum pake air bah lagi…?trus orang2 yg baik di aceh ada kyai ada pendeta yg gak salah mati smua dong…

NAH LO!!! AKU PENGEN TERUS KNALIN DIA ma TUHAN masalah dia gak jadi ma aku bodo amat belakangan guys…aku hanya kesian…knapa pikiran dia sangat keras…dalam hati saya…sedih sekali…dan menangis…ga tau knapa…seolah saya merasakan Tuhan sedih denger cowok saya berkata demikian…padahal apa yg dia nikmati sekarang dan kesuksesan dia smua dr TUhan guys…u___ubantu dalam doa yah teman2…1000 domba,satu yg hilang…Tuhan akan mencarinya(yg hilang)…jika Tuhan memang mau pakai saya untuk membawa dia knal ma Our father Jesus…biarlah kehendakNYA jadi…ya dan amin…u__U