KONSEP KARL BARTH TENTANG FIRMAN ALLAH

Saya menjumpai pemahaman yang menarik dari Teolog terkenal Karl Bath tentang Firman Allah. Menurut pengamatan Barth yang disebut Firman Allah sejati itu sebenarnya adalah Yesus Kristus saja. Dan Alkitab yang kita pegang sekarang adalah Saksi dari Firman Allah namun bukan Firman Allah itu sendiri, karena Firman Allah sejati itu sebenarnya adalah Yesus Kristus saja.

Bila seseorang mengalami pengalaman pribadi dengan Tuhan saat membaca atau mendengarkan Alkitab barulah Alkitab itu menjadi Firman Tuhan baginya, namun bila tidak maka tidak akan ada perjumpaan dengan Firman Allah sama sekali.

Saya bukan pengikut buta Karl Barth, namun ada beberapa konsep teologia nya yang sepaham dengan saya. Dalam hal Firman Allah ini khususnya konsep ini sebenarnya cocok kalau dilihat dari segi paham Gereja kuno macam Katolik Roma dan Ortodoks yang mendefinisikan Alkitab lebih dengan istilah Tulisan Suci ketimbang Firman Allah.

Tentu tak mungkin bila Sang Logos pribadi Tuhan yang Maha Kuasa disejajarkan dengan Buku, istilah yang cocok tentu Buku Alkitab bukan Logos tetapi adalah saksi dari Logos itu sendiri. Kesalahan umum yg terjadi adalah menyamakan mediator dengan fokus dari yg dimediasikan, Alkitab bukanlah Yesus Kristus Sang Logos namun hanyalah adalah mediator untuk mengenal Yesus Kristus Sang Logos.

Saya setuju dengan pandangan di atas namun saya menolak pandangan Barth yang keberatan dg istilah Alkitab sebagai otoritas final. Karena menurut saya Alkitab dalam keberadaannya telah ditunjuk oleh Tuhan sebagai mediator yang berotoritas penuh&final di atas semuanya dalam merepresentasikan Yesus Kristus Sang Logos, tapi dengan catatan kecil tanpa menjadikan Alkitab itu sendiri “tuhan”.

Dengan memahami konsep ini manusia tidak akan bertuhan/ber-ilah pada alkitab ataupun menjadikan ayat2 alkitab semacam kata2 bertuah agar bisa mendapat berkat/kemujuran. Namun menempatkan alkitab dalam porsi yang benar sebagai mediator dg otoritas tertinggi yg menghubungkan kita dengan Tuhan serta menyadari dalam proses mediasi itu sendiri perlu adanya Roh Kudus.

2 Petrus 1:20-21 ;Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.

Gbu

ulasan yg menarik,