konsep transendensial Allah: (apakah) suatu alternatif jawaban.

ALLAH YANG MEMILIKI TIGA PRIBADI

Setelah kita mengobrak abrik konsep kita mengenai ruang dan waktu (temporal dan spasial), sekarang kita akan mencobanya untuk konsep personal, diharapkan melalui hal ini, kita dapat menerima (sekalipun tidak dapat mengerti) konsep bahwa “Allah yang satu itu terdiri dari MuliPersonal”. Kita akan meminjam ilustrasi dari ruang, karena hal ini akan mempermudah kita untuk menvisualisasikan apa yang kita lakukan.

Anggaplah kita hidup di dunia dua dimensi, panjang dan lebar, dimana setiap pribadi atau personal dapat dideskripsikan seperti sebuah bidang yang berbentuk bujur sangkar, seperti yang telah panjang lebar dijelaskan di awal, Allah transenden tidak “tinggal” di dunia kita, namun dunia yang lebih kompleks. Jika dunia kita adalah dunia dua dimensi, panjang dan lebar, maka dunia Allah mungkin adalah dunia tiga dimensi, panjang lebar dan sebuah dimensi baru yaitu tinggi.

Nah, jika di di dunia kita, setiap entitas manusia adalah pribadi bujur sangkar, maka berdasarkan poin 4 di atas, entitas Allah mungkin berupa kubus, yang memiliki enam sisi bujur sangkar, dimana tiap sisi bujur sangkarnya mewakili satu Pribadi, namun tetap satu kesatuan yang utuh yang benama kubus.

Oleh sebab itu, doktrin bahwa Allah yang satu adalah Tiga Pribadi adalah sesuatu yang mungkin benar, dan semua pembuktian matematis yang mencoba menentang hal tersebut adalah benar benar merupakan suatu ketidaktahuan mengenai Allah Kristen.

Dear Swordpen,

Please tell me more about God and the depth about Christianity.
I read your quote it has aroused me.
Please write the other quote my friend.

Regards,
Erick

Terima kasih soal konsep ruang dan waktunya, Mbah Sword. Benar-benar tidak terpikir oleh saya :afro:. Terpujilah Tuhan atas semua itu.

Dear All,

Terima Kasih atas komentar komentar Sdr, dan benar, terpujilah Allah kita karena telah menyatakan diriNYA yang melampaui segala akal kepada kita. Semoga yang telah saya tulis dapat semakin menguatkan hati kita terhadap kebenaran dan superioritas Kekristenan dibanding sistem kepercayaan yang lain. Mohon doa dan dukungannya supaya ekstrapolasi dari konsep yang saya gunakan di atas tidak berhenti sampai disini saja.

Terima Kasih, Tuhan Memberkati. :love0030:

@sword

Luar biasa pendalaman anda bro, salut.

GBU

Dear Bruce, Terima Kasih.

Mengomentari posting Sdr di semua orang setelah mati ada di 1 alam - Non-Kristen - ForumKristen.com, serta mencoba melanjutkan proses ekstrapolasi saya dalam konsep ini untuk predestinasi, saya mengutip diskusi saya dengan Sdr Petra9, ini adalah posting posting pertama saya di FK. Saya sendiri menilai deskripsi saya masih sangat mentah dan kurang kuat.

Terima Kasih Dear Bruce, dan saya setuju dengan Sdr, kita tidak boleh menempatkan Tuhan dalam ruang dan waktu kita, sekalipun ia memiliki fitur mesin waktu. Tuhan bagaikan seseorang yang berdiri di luar aliran sungai chronos yang mengalir deras, Ia dapat mengamati muara sungai dan sumber sungainya sekaligus, dan Ia sendiri tidak tercebur dalam aliran sungai tersebut,

Tuhan Memberkati. Omong omong, saya juga pusing memikirkan hal ini.

Terima Kasih Dear Bruce, dan saya setuju dengan Sdr, kita tidak boleh menempatkan Tuhan dalam ruang dan waktu kita, sekalipun ia memiliki fitur mesin waktu. Tuhan bagaikan seseorang yang berdiri di luar aliran sungai chronos yang mengalir deras, Ia dapat mengamati muara sungai dan sumber sungainya sekaligus, dan Ia sendiri tidak tercebur dalam aliran sungai tersebut,

Tuhan Memberkati. Omong omong, saya juga pusing memikirkan hal ini.

Ha ha ha ha, pusing karena berpikir lebih baik daripada pusing karena ngga tahu lagi mikir apa, bukankah begitu bro?

Syalom

lagi lagi Sdr benar, :afro:
Yah, Saya akan tetap berusaha.
Tuhan Memberkati.

Ulasan yang menarik sdr Sword,
Tetapi ijinkan saya mengomentari sedikit. Kiranya tidak dianggap sebagai perdebatan.

Saudara mengatakan:
“tumbuhan dan organisme sederhana seperti protozoa adalah eksistensi yang impersonal”.

Tanggapan saya:

  1. Arti kata “personal” menurut KBBI adalah: “bersifat pribadi”, dan arti kata “pribadi” adalah “diri
    manusia atau diri sendiri”. Oleh karena itu, jika kata “pribadi” diartikan sebagai “diri manusia”, maka benar bahwa tumbuhan dan protozoa bukan pribadi, karena hal-hal itu bukan manusia. Namun konsekuensinya, kata “pribadi” ini tidak bisa diterapkan kepada Allah, karena Allah juga bukan manusia.

Namun mungkin ada yang mengatakan, “Bukankah Allah bisa dikatakan memiliki diri sendiri?”, maka akan dijawab, “Kalau begitu, protozoa juga bisa dikatakan memiliki diri sendiri”.

  1. Jika saudara tetap menggunakan kata “personal” sesuai pengertian saudara, maka konsekuensinya adalah Allah memiliki kepribadian ganda. Apakah saudara setuju hal ini?

Maka mungkin saudara bisa memperjelas terlebih dahulu apa pengertian “personal” disini, apakah memaksudkan “kepribadian”, atau memaksudkan “individu”?

Mohon tanggapannya.

Terima kasih.

Dear sdr Sword,

Menurut saya, yang menjadi pertanyaan penting bukanlah “apakah Allah bisa terdiri dari tiga pribadi?”, melainkan, “apakah Allah memang terdiri dari tiga pribadi?”.

Jika kita berpatokan pada prinsip “Allah adalah Mahakuasa”, maka segala sesuatu mungkin dan bisa bagi Allah. Apa yang dipercayai penganut Gnostik bahwa mereka adalah keturunan Tuhan, sebagai percikan ilahi yang terkurung dalam dunia ini, bisa saja benar. Mengapa? karena Allah adalah Mahakuasa, segala sesuatu mungkin bagi Allah. Atau bahkan kepercayaan Pantheisme bahwa “Tuhan adalah semuanya” dan “semuanya adalah Tuhan”, bisa saja benar. Mengapa? karena Allah adalah Mahakuasa, segala sesuatu mungkin bagi Allah.

Maka sekali lagi pertanyaannya bukanlah, “apakah Allah bisa seperti itu?”, melainkan, Apakah Allah memang seperti itu?".

Jadi menurut saya, logika saudara tersebut hanya dapat diterima jika saudara sudah bisa membuktikan apakah Allah memang tiga pribadi. Namun sejauh yang saya lihat dari postingan teman-teman lain di FK ini, itu yang belum bisa dibuktikan.

Mohon tanggapannya.

Terima kasih.

Dear Sanctuary, terima kasih atas kesediaannya untuk mengunjungi thread inidan atas komentar komentarnya yang pasti bermanfaat bagi saya. Mengomentari keberatan Sdr

Saya mungkin berbeda dengan Purwadarminta dan atau interpretasi Sdr dalam mendefinisikan terminologi “pribadi” dalam KBBI. Saya rasa adalah lebih baik menjelaskan secara utuh algoritma berpikir saya mengenai argumentasi Tritunggal.

  1. Personal adalah kehendak, keinginan dan pengetahuan, tentu saja hal ini tidak dapat dipisahkan dari eksistensi. Dari sinilah kasih itu menjadi mungkin, sesuatu tanpa kehendak dan keinginan tentunya tidak dapat memberikan kasih.
  2. Dalam Kingdom Plantae atau Dunia tumbuhan, sesuatu yang personal ini tidak dimiliki, sehingga kita tidak menemui kasih dan kecerdasan disini.
  3. Dalam Kingdom Animalia, terutama mamalia, kita menjumpai sesuatu yang menyerupai personal, simpanse simpanse yang memiliki kecerdasan dan kasih instingtif, kita menyebutnya kuasipersonal, atau semi-personal.
  4. Dalam species Homo sapiens, manusia, kita menemukan gambar kasih yang lebih nyata, kecerdasan yang lebih tinggi dan kompleks, saya menyebutnya personal.
  5. Berdasarkan argumentasi derajad kesempurnaan yang diajukan oleh Thomas Aquinas, kita mengetahui bahwa ada Kasih yang sempurna, Kecerdasan yang sempurna, suatu summa, sesuatu yang melampaui batas batas personal ciptaan, suatu ketinggian yang paling tinggi. Dan Sesuatu itu adalah Allah.
  6. Saya meloncat, satu satunya kondisi yang memungkinkan, dimana kasih itu dapat senantiasa ada dalam kekekalan, dimana sesuatu yang melampaui batas batas “personal” (kasih, kecerdasan) itu mungkin ada adalah adanya Pribadi Pribadi dalam kekekalan untuk dikasihi (Disni kita pernah bertemu, namun tidak saling sepakat).
  7. Pertanyaannya, mungkinkah ada sesuatu dalam kekekalan yang memiliki MultiPribadi dalam satu entitas?
  8. Jika kita menggunakan ruang dan waktu kita sebagai referensi, tentu saja kita akan gagal, karena Allah tidak berada dalam realita yang demikian, Pertanyaan nomor 7 akan menjadi seperti,"adakah kubus utuh di dunia dua dimensi? Jawabannya adalah Tidak, namun kita dapat menemuinya di dunia tiga dimensi.
  9. Dengan analogi tersebut, maka dunia kompleks dimana Allah ada, dunia yang transenden dengan dunia ini, dunia yang di luar dunia ini, memungkinkan adanya Tiga Pribadi dalam Satu entitas.

Demikian penjelasan saya, terima kasih. Tuhan Memberkati Sdr.

Dear Sanctuary, bertemu lagi dengan Sdr. Mengometari posting Sdr:

Sdr sangat benar, kita tidak boleh terburu buru mengamini suatu doktrin, dan kita harus benar benar mencerna apa yang dimaksud doktrin doktrin tersebut. Apa yang Sdr katakan sebagai bukti, tentunya bukanlah bukti demonstratif, kita tidak mungkin meminta seseorang meninggal dan kemudian bertanya pada Allah, “Apakah Engkau memiliki Tiga Pribadi”, hal ini sama halnya dengan meminta Sang Hakim dalam Pengadilan untuk menggunakan mesin waktu untuk mengambil kesimpulan mengenai kebenaran suatu perkara.

Bukti yang kita miliki untuk membuktikan kebenaran (atau kesalahan) Kekristenan adalah petunjuk petunjuk logis, seperti puntung rokok dan sidik jari dalam kasus kriminal. Sdr juga melihat, terlepas dari anggapan Sdr terhadap argumentasi saya, bahwa saya selalu menggunakan penalaran dalam “membela” iman Kristiani, mulai dari doktrin doktrin seperti neraka, pembuktian saya terhadap kesalahan panteisme, sampai yang sekarang kita bahas, bahkan saya hampir hampir tidak menyentuh ayat ayat Alkitab sama sekali, hal ini mungkin nampak sebagai keangkuhan, maafkan saya, saya tidak berniat demikian, saya hanya menghormati Sdr Sdr saya yang mungkin belum percaya Alkitab sebagai wahyu allah,

Apa yang saya lakukan hanyalah melihat kekristenan sebagai “agama rasional” (tentu saja saya akan ditentang teman Kristen lainnya, karena saya seperti merasionalkan agama), dan sejauh yang saya pahami, klaim klaim dan doktrin dalam Kekristenan merupakan sesuatu yang logis.

Nah, menjawab pertanyaan Sdr,

Sekali lagi, terlepas dari anggapan Sdr terhadap argumentasi saya, dalam pembicaraan kita terakhir, dengan menggunakan logika, bukankah saya melakukan:

  1. menunjukkan bahwa unitarian keliru.
  2. dengan demikian Trinitarian berpeluang benar.

ditambah:
disini saya menunjukkan bahwa Trinitarian itu mungkin,

ditambah juga:
dalam satu thread lain saya juga menunjukkan dualisme dan panteisme itu keliru (paham paham ini menunjukkan adanya pribadi pribadi dalam kekekalan),

Bukankah logis jika saya mengambil kesimpulan bahwa Trinitarian itu benar?

Terima kasih tanggapannya sdr Sword,
Senang bisa berdiskusi kembali dengan saudara.

Berarti ini tidak berdiri sendiri, masih ada kaitannya dengan diskusi yang terakhir ya. He…he…he.
Maka coba kita tuntaskan diskusi kita tersebut.

Baiklah, berikut tanggapan saya:

Saudara bertahan, berdasarkan pemikiran Tomas Aquinas, bahwa untuk dapat dikatakan pengasih, seseorang harus memiliki objek lain sebagai penyaluran. Namun menurut saya, tidak harus seperti itu. Saya yang merawat diri saya, dapat dikatakan mengasihi diri saya. Itu berarti saya memiliki kasih, meskipun objeknya adalah diri saya sendiri / ditujukan kepada diri sendiri. Sebaliknya, jika saya tidak merawat tubuh saya, maka dapat dikatakan saya tidak mengasihi diri saya. Mengasihi diri sendiri tidak dapat dikatakan egois, karena seseorang dikatakan egois hanya jika ada objek lain yang dijadikan pembanding. Maka sama halnya, Meskipun Allah sendiri, ia tetap dapat dikatakan memiliki kasih, dengan mengasihi diri-Nya. Hal ini tidak dapat disebut egois, karena belum ada yang bisa dijadikan pembanding, mengingat segala sesuatu belum ada.

Mohon tanggapannya.

Terima kasih.

Ikutan lagi ya bro dan brur.

Saudara bertahan, berdasarkan pemikiran Tomas Aquinas, bahwa untuk dapat dikatakan pengasih, seseorang harus memiliki objek lain sebagai penyaluran. Namun menurut saya, tidak harus seperti itu. Saya yang merawat diri saya, dapat dikatakan mengasihi diri saya. Itu berarti saya memiliki kasih, meskipun objeknya adalah diri saya sendiri / ditujukan kepada diri sendiri. Sebaliknya, jika saya tidak merawat tubuh saya, maka dapat dikatakan saya tidak mengasihi diri saya. Mengasihi diri sendiri tidak dapat dikatakan egois, karena seseorang dikatakan egois hanya jika ada objek lain yang dijadikan pembanding. Maka sama halnya, Meskipun Allah sendiri, ia tetap dapat dikatakan memiliki kasih, dengan mengasihi diri-Nya. Hal ini tidak dapat disebut egois, karena belum ada yang bisa dijadikan pembanding, mengingat segala sesuatu belum ada.

Brur, jika hanya ada satu personal, dan ia (personal itu) hanya mengasihi dirinya sendiri, saya sepertinya lebih cenderung menyebutnya egois. Mengapa, karena dengan kasihnya pada dirinya sendiri, akan menyebabkan hadirnya pihak lain sebagai saingan bagi dirnya sendiri, sehingga ia dengan segala daya akan menghilangkan kehadiran pihak lain yang dapat merebut kasih dari dirinya sendiri.

Tetapi, dalam hal ini, sebenarnya hal itu tidak tepat juga jika dipergunakan dalam menggambarkan Tuhan. Karena Tuhan dalam hal ini bukanlah objek dari kasih itu, tetapi Tuhan adalah sumber kasih itu sendiri. Sehingga boleh dikatakan bahwa tanpa kehadiran Tuhan, maka tidak ada kasih, atau sebaliknya jika terdapat kasih sekecil apapun maka hal tersebut membuktikan kehadiran Tuhan.

Pertanyaan lanjutannya adalah, apakah Sumber Kasih membutuhkan Objek Kasih? Jika kita diijinkan menggunakan pengertian ilmiah, maka bolehlah kita pergunakan definisi bunyi/suara. Bahwa suara itu ada jika dan hanya jika, terdapat sumber bunyi, terdapat penghantar bunyi dan pendengar bunyi. Maka sebuah pohon tumbang di tengah hutan yang tidak berpenghuni dikatakan tidak bersuara.

:smiley:

Dear sanctuary, dear bruce, Terima Kasih untuk komentar komentar Sdr,

Tanggapan atas komentar Sdr sekalian saya kira dapat diwakili oleh satu jawaban.

Sdr Bruce sangat benar dalam hal ini, Allah adalah sumber Kasih itu, tetapi kita tidak bisa menyamakan kasih dengan cahaya yang merambat atau gelombang bunyi yang menjalar, saya sendiri berpendapat bahwa Kasih, by definition, adalah memberikan kebaikan bagi obyek yang lain (tidak perlu kasih yang ditunjukkan, ketika saya memikirkan kekasih saya di rumah, saya pun sedang memberikan rencana rencana yang baik baginya), karena eksistensi obyek itulah yang memungkinkah adanya kasih, meskipun tidak menjaminnya.

Misalkan kebaikan kebaikan adalah sebuah bola yang saya miliki dan saya pegang, maka satu satunya cara mewujudkan kasih adalah dengan memberikan bola kebaikan ini kepada yang lain, bukan menahannya seorang diri.

Adalah benar bahwa Kasih yang kita miliki berasal dari Allah, bola bola kebaikan itu bukanlah milik kita, bola bola kebaikan itu adalah milik Allah, dan eksistensi kita juga bukanlah suatu meum (pemilikan pribadi), kasih yang kita miliki adalah meng-estafetkan bola bola milik Allah itu kepada yang lain.

Mungkin ini adalah jawaban terjauh yang dapat saya berikan, tetapi saya sungguh berusaha menjawab keberatan Sdr

Terima Kasih, Tuhan Memberkati.

Terima kasih sdr Bruce dan sdr Sword, (maaf tanggapannya saya gabung)

Menurut saya, seseorang dapat dikatakan egois, hanya jika ada objek yang dilalaikan dan objek yang dijadikan perbandingan. Sama seperti ilustrasi yang pernah saya ajukan kepada saudara Sword:

Saudara memiliki sepiring makanan di rumah. Saudara seorang lajang, tidak ada pengemis yang datang ke rumah saudara, tidak ada tetangga saudara yang kelaparan. Lalu saudara menghabiskan sendiri makanan itu. Apakah saudara dapat dikatakan egois? Saya kira tidak. Mengapa? Karena tidak ada objek yang saudara lalaikan dan tidak ada objek yang bisa dijadikan perbandingan, sehingga saudara pantas disebut egois. Lain halnya jika saudara memiliki adik di rumah, atau seorang pengemis datang ke rumah saudara, atau tetangga saudara kelaparan. Jika saudara menghabiskan makanan itu, saudara dapat dikatakan egois. Mengapa? Karena ada objek yang saudara lalaikan dan ada objek yang dijadikan perbandingan. Dimana letak perbandingannya? Saudara lapar, orang itu juga lapar. Adalah egois jika saudara menghabiskannya sendiri. Maka sama hanya dengan Allah, ketika Ia masih sendiri, dan Ia hanya mengasihi diriNya, Ia tidak dapat dikatakan egois, karena tidak ada objek yang dilalaikan dan tidak ada objek yang dijadikan perbandingan.

Atau ilustrasi lain (saya mencoba melihat dari garis waktu):
Saudara mengadakan acara. Saudara mengundang 10 tamu ke rumah saudara untuk makan bersama. Tiga jam sebelum acara, saudara mulai memasak makanan. Pada saat itu saudara mencicipi masakan saudara untuk mengetahui apakah komposisi bumbunya sudah sesuai. Nah, sewaktu saudara mencicipi masakan itu, apakah saudara dapat disebut egois, hanya karena ke-10 tamu undangan itu tidak ikut mencicipi? Menurut saya tidak. Tidak ada keharusan bahwa tamu-tamu itu harus mencicipi masakan bersama saudara.

Maka sama halnya, saat Allah ‘mencicipi’ kasihNya hanya untuk diriNya sendiri sebelum Dia ‘mengundang’ (menciptakan) ‘tamu’ (ciptaan) yang lain , tidak ada alasan untuk mengatakan Dia egois, dan tidak ada keharusan bahwa ‘tamu’ itu harus ‘mencicipi’ kasih Allah pada waktu yang sama dengan keberadaan Allah.

Mohon tanggapannya.

Terima kasih.

Setelah membaca konsep ini, sedikit banyak saya mulai bisa memahami Yoh 1:14 :happy0025:

Hal yang serupa juga dikatakan oleh Pak Bambang Noorsena, yang sebelumnya saya hanya menerima tanpa bisa mencerna dengan sempurna, tetapi dengan membaca konsep yang bro Swordpen sajikan, menjadi lebih jelas :afro:
Beliau mengatakan dengan Firman itu menjadi manusia, artinya Allah mewahyukan diri-Nya sendiri yaitu Allah mau menyatakan diri-Nya dari Ke-gaipanNya.

Good Job, bro… keep posting :coolsmiley:

Dear Bruce,

Mencoba menambah dan melengkapi jawaban saya dengan menggunakan metafora matahari dan musik yang Sdr gunakan,

Sdr berkata bahwa hakekat sumber kasih tidak memerlukan suatu obyek untuk dikasihi, matahari akan tetap bersinar walaupun tidak ada benda yang diteranginya.

Keberatan keberatan saya:

  1. Sinar dan eksistensi matahari itu sendiri merupakan sesuatu yang baik, namun cahaya mentari itu tidak memberikan apapun karena memang tidak ada apapun, matahari menjadi kasih apabila ia memberikan kehangatan dan kebaikan kepada BENDA YANG LAIN. Apabila matahari bersinar sendirian, bukankah keberadaannya “sia sia”,“tanpa makna”? Apakah kita dapat melekatkan atribut kasih pada matahari ini?
  2. Kasih yang kita miliki berasal dari matahari Ilahi, kita hanyalah rembulan rembulan yang memantulkan cahayaNYA, jika Sdr berpendapat bahwa Sumber kasih tidak memerlukan obyek untuk dikasihi, maka hal itu juga berlaku buat saya, yang merupakan kasih derifatif, cahaya matahari itu saya pantulkan namun tidak ada yang menikmatinya.

Analog dengan musik, sumber musik itu sendiri merupakan sesuatu yang baik, tetapi musik menjadi memiliki makna apabila ada sesuatu yang medengar keindahan lantunannya.

Tuhan Memberkati Sdr. Terima Kasih

Dear Neon, Terima Kasih tanggapannya. Tuhan Memberkati.

Sebenarnya, jika anda teliti tulisan saya, pendapat saya tidak berbeda dengan anda lho bro. Kaena seperti yang saya sebutkan bahwa Allah adalah sumber Kasih itu sendiri, saya analogikan dengan sumber bunyi, walau mungkin tidak tepat benar. Tetapi paling tidak kita bisa mendefinisikan apa itu Kasih (yang disamakan dengan sumber bunyi), bahwa Kasih ada jika ada yang dikasihi (objek Kasih).

Seperti itu kira kira bro.

Syalom