Krisis air bersih di jakarta

Beberapa hari terakhir krisis air bersih melanda wilayah Jakarta. Akibat krisis ini beberapa warga bahkan terpaksa tidak mandi selama tiga hari.

“Keluarga saya sudah 3 hari tidak mandi, hanya cuci muka menggunakan air mineral,” keluh Cecev, warga Jembatan Lima Jakarta Barat yang juga anggota Dewan Kota Jakarta Barat, Kamis (6/5).

http://www.mediaindonesia.com/public/gallery/large/2009_09_25_07_19_04_AIR2.jpg

Tidak mengalirnya air bersih Palyja dan Aetra di sebagian wilayah Jakarta memaksa banyak warga di Jembatan Lima membeli air dari penjual air minum isi ulang untuk kebutuhan rumah tangga, seharga Rp 2500 per galon, itu pun sudah langka dan harus mereka peroleh dengan cara berebut. “Saat ini penjual bahkan sudah menaikkan harga menjadi Rp 3500 per galon,” ujar Johan, seorang warga Jembatan Lima.

Terhentinya air PAM juga berpengaruh terhadap kegiatan usaha warga seperti toilet umum dan salon. Selain itu warga muslim yang yang akan menunaikan ibadah di mushalla pun kesulitan untuk mengambil air wudhu. “Air sama sekali tidak menetes,” ungkap Cecev.

Secara terpisah Ketua Komite Pelanggan Air Bersih (KPAM) DKI Jakarta, Sukarlan, membenarkan krisis air bersih tidak hanya di Jakarta Barat tapi sudah hampir merata di wilayah DKI Jakarta. “Gubernur DKI Jakarta harus bertanggung jawab parahnya suplai air bersih dari PT Palyja dan PT Aetra,” tegasnya.

Ia mengatakan, pihaknya sudah banyak menerima keluhan darti pelanggan air bersih kedua PT itu yang pelanggannya mencapai sedikitnya 700.000 pelanggan.

“Banyak warga yang terpaksa membeli air mineral untuk mencuci piring, baju atau mandi selama 4 hari terakhir ini,” tuturnya. Pihaknya juga sudah meminta bantuan kiriman air bersih melalui mobil tangki dari kedua PT tersebut.

Jika krisis air bersih tidak segera diatasi, konsumen di DKI Jakarta termasuk apartemen akan lebih kesulitan memperoleh air bersih saat kemarau panjang mendatang.

“Karena itu Gubernur DKI Jakarta harus mencari terobosan membuat jaringan instalasi air ke wilayah Tangerang, jika perlu bahkan jika perlu menyuling air laut,” usulnya.

Menurut Sukarlan, saat ini kebutuhan akan air bersih tidak bisa hanya mengandalkan kiriman dari Jatiluhur karena banyak kendala. “Mulai dari pencemaraan, pencurian air dan waktu,” tandasnya

sumber: media indonesia

Pantesan kok ada bau2 aneh…