Kunjungan Apostolik Paus Benediktus XVI di Amerika Latin, Maret 2012

Meksiko

[b] Meksiko sambut kedatangan Paus Benediktus XVI[/b] Terbaru 24 Maret 2012

Paus Benediktus XVI tiba di Meksiko pada kunjungan pertamanya di negara-negara di kawasan Amerika Latin yang berbahasa Spanyol.

Di Guanajuato, Paus disambut Presiden Meksiko Felipe Calderon dan dielu-elukan warga kota itu.

Calderon mengatakan, kunjungan Paus memiliki arti penting bagi Meksiko yang tengah dihantui rentetan tindak kekerasan akibat kartel obat bius.

Sebelum tiba di Meksiko, Paus mengatakan, “perang terhadap kejahatan (mafia narkoba) ini penting” dan mendesak kaum muda meninggalkan narkoba.

Setelah mengunjungi Meksiko, Paus akan melakukan perjalanan ke Kuba.

Dia mengatakan Marxisme kini tidak mampu lagi menjawab segala persoalan.

Paus juga mengatakan ideologi tidak lagi bisa menjelaskan realitas yang terus berubah. Dia kemudian menyerukan untuk menemukan " model baru".

Dia menjelaskan “Gereja selalu mampu berjalan beriringan dengan nilai-nilai pemikiran bebas”.

Kamp untuk peziarah

Paus Benediktus disambut sorak-sorai warga Kota Guanajuato, pada Jumat waktu setempat.

Mereka berteriak: “Wahai Benediktus, saudaraku, Anda sekarang berada di Meksiko!”

Paus kemudian memimpin sebuah acara pemberkatan singkat di sebuah panggung kecil di komplek bandar udara setempat.

Seperti dilaporkan wartawan BBC Will Grant yang melaporkan dari Meksiko, Paus disambut luar biasa oleh warga di jalan-jalan.

Sepanjang hari yang terik, ribuan orang bersorak-sorak.

Warga Meksiko memadati jalan-jalan protokol untuk mengelu-elukan Paus Benediktus XVI.

Mereka mengenakan mengenakan kaos putih dan kuning seraya melambaikan bendera.

Berbaris sepanjang rute di Leon, yang dilalui Paus, warga dapat melihat sekilas sosoknya dalam kendaraan yang dilapisi baja.

Wartawan BBC melaporkan, aparat keamanan melakukan penjagaan ketat, dengan melibatkan polisi federal dan aparat militer dalam jumlah besar.

Selain mengunjungi Leon, Paus direncanakan akan mengunjungi kota Silao.

Dan Minggu (25/03), sekitar 300.000 orang diperkirakan akan menghadiri Misa, dan sebuah kamp berukuran besar telah dididirikan untuk menampung para peziarah.

Dalam perjalanan menuju Meksiko, Paus Benediktus mengatakan kepada wartawan: “Saya ingin berbagi kebahagiaan dengan rakyat Meksiko. Bukan hanya soal harapan baik, tetapi juga berbagi penderitaan dan kesedihan.”

Pernyataan Paus ini mengacu pada rentetan kasus kekerasan terkait mafia narkoba yang telah menghantui Meksiko, yang sejauh ini telah menewaskan 50.000 orang dalam lima tahun terakhir.

Seorang warga Meksiko secara khusus menanggapi kunjungan Paus, dengan mengatakan: “Kunjungan Paus ini membuat kami nyaman, di tengah gelombang kekerasan di negara kami.”

Tantangan Kuba

Hampir 88% warga Meksiko - hampir 100 juta orang - menganut Katolik Roma. Pendahulu Paus Benediktus, yaitu Yohanes Paulus II, selalu mengunjungi negara itu secara tetap.

Wartawan BBC mengatakan, walaupun kunjungan Paus Benediktus tidak mengundang reaksi yang sama dari warga Meksiko, tapi tidak diragukan lagi kedatangannya menimbulkan kegembiraan dari kalangan umat yang beriman.

Meskipun demikian, rencana Paus berkunjung ke Kuba bakal menghadapi isu-isu sensitif.

Pekan ini, pegiat Amnesty International melaporkan bahwa pemerintah Kuba mempersulit aktivitas para pembangkang di negara itu.

Dan awal bulan ini, para aktivis diusir dari gereja di ibukota Havana, yang sempat mereka duduki untuk menuntut dialog dengan Paus.

Di Havana, Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez mengatakan, pemerintah Kuba bisa berbeda pendapat dengan komentar Paus yang menyatakan bahwa Marxisme ada tidak mampu lagi menjawab perbagai persoalan.

Sumber : http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2012/03/120324_popebenedictmexico.shtml

[b]Paus Benediktus di Meksiko[/b] Senin, 26 Maret 2012

Guanajuato, Minggu - Paus Benediktus XVI mendesak kaum muda Meksiko menjadi utusan perdamaian, sebelum bersiap untuk merayakan misa pada hari Minggu di bawah monumen Kristus Raja di Guanajuato. Skandal pelanggaran moral seorang tokoh membayangi kunjungannya.

Misa di bawah patung perunggu setinggi 22 meter itu diperkirakan akan menjadi puncak acara dari kunjungan tiga hari Paus di Meksiko.

Pihak berwenang menjanjikan keamanan maksimal dengan sekitar 5.400 petugas keamanan dikerahkan, sementara Uskup Leon mengimbau geng-geng narkoba setempat melakukan gencatan senjata.

Hari Sabtu, massa melambai-lambaikan bendera kuning dan putih Vatikan saat mobil khusus Paus tiba di jalan-jalan curam kota Guanajuato dari Leon, Meksiko Tengah, tempat Paus menginap selama tiga malam. Benediktus menginjakkan kaki di tanah Meksiko hari Jumat di Leon.

Paus berusia 84 tahun dalam kunjungan pertamanya ke Amerika Latin yang berbahasa Spanyol itu bertemu dengan Presiden Felipe Calderon di Guanajuato.

Kepada 4.000 anak yang berkumpul di Lapangan Perdamaian kota itu, Paus mengatakan bahwa mereka masing-masing adalah, ”Hadiah Tuhan bagi Meksiko dan dunia.”

Dia mengimbau kaum muda untuk menjadi utusan perdamaian di negara dengan lebih dari 47.000 orang tewas dalam perang narkoba yang telah meningkat sejak pemerintah memerangi kartel.

”Saya ingin mengangkat suara saya, mengajak semua orang untuk melindungi dan memelihara anak-anak sehingga tak ada yang akan memadamkan senyum mereka, melainkan agar mereka hidup dalam damai dan melihat masa depan dengan percaya diri,” kata Paus.

Mendorong kaum muda

Walau Paus mendapat sambutan meriah dari umat, hari keduanya di Meksiko bukannya tanpa kritik, terutama mengenai perlakuan gereja terhadap anak- anak dan penyiksaan seksual.

Para korban almarhum Marcial Maciel, tokoh keagamaan pendiri ordo Legiun Kristus, hari Sabtu meluncurkan sebuah buku berisi dokumen dari arsip Vatikan yang memperlihatkan bahwa para pejabat Vatikan mengetahui selama puluhan tahun bahwa Maciel adalah seorang pecandu narkoba yang melakukan penyiksaan seksual.

Paus yang akan melanjutkan perjalanannya ke Kuba pada hari Senin (26/3) tidak secara langsung membicarakan skandal Maciel itu dalam pernyataan singkatnya hari Sabtu kemarin. Namun, juru bicara Vatikan, Federico Lombardi, mengatakan, kata-katanya mengenai perlunya melindungi anak-anak dari kekerasan merujuk juga pada perlunya melindungi mereka dari kekerasan seksual kaum rohaniwan.

Benediktus telah melanjutkan upaya Paus Yohanes Paulus II untuk merengkuh kaum muda Katolik, dan dalam kunjungannya ke Meksiko ini dia telah membuat kaum muda sebagai fokus. (AP/AFP/Reuters/DI)

sumber : http://internasional.kompas.com/read/2012/03/26/02271615/Paus.Benediktus.di.Meksiko

[b]Setelah "Merebut" Meksiko, Paus Menuju Kuba[/b] Selasa, 27 Maret 2012

LEON, KOMPAS.com - Setelah mengambil hati umat di Meksiko, Paus Benediktus XVI hari Senin (26/3) menuju Kuba. Gereja Katolik memiliki status minoritas di Kuba, tetapi memiliki jalur dialog khusus dengan rezim komunis.

Paus berharap bisa mengilhami pencurahan kepercayaan yang sama di Kuba seperti yang dia lakukan di daerah pusat Katolik konservatif Meksiko.

Paus melakukan kunjungan pertama ke Meksiko yang dimulai pada akhir pekan lalu. Dia menetapkan ”nada” untuk kunjungan ke Kuba dengan menyatakan Marxisme ”seperti dirancang pada awalnya, tidak lagi berhubungan dengan realitas”.

”Dan akan ada manfaat untuk ’menemukan teladan baru’ dalam cara memerintah,” kata Paus Benediktus XVI. Sebelumnya, dia mengatakan kaum Katolik siap ”membantu dalam suatu dialog konstruktif yang diperlukan untuk menghindari trauma” di Kuba, negara yang mempunyai berbagai golongan agama.

Namun, Paus mengatakan adalah, ”Jelas bahwa gereja selalu berada pada pihak pendamba kebebasan nurani dan menghormati kebebasan agama.”

Tempat pertama yang dia kunjungi di Kuba adalah Santiago de Cuba, kota nomor dua Kuba. Paus mempersembahkan misa di lokasi terbuka pada Senin malam di alun-alun utama Santiago. Pada hari Selasa, Paus berdoa di tempat pemujaan Virgen de la Caridad del Cobre, sebuah ikon Perawan Maria yang dipuja rakyat Kuba, baik Katolik maupun non-Katolik.

Setelah itu, Paus Benediktus berangkat menuju Havana dan direncanakan akan bertemu dengan Presiden Raul Castro. Kemungkinan, Paus juga akan bertemu dengan kakak Presiden, Fidel Castro.

Kalimat terkenal

Kunjungan tiga hari Paus Benediktus di Kuba akan membuat orang membandingkannya dengan kunjungan bersejarah almarhum Paus Yohanes Paulus II tahun 1998. Waktu itu, Fidel Castro mengganti seragam tentaranya dengan setelan jas dan dasi untuk menyambut Paus di Bandara Havana.

Saat itu, Yohanes Paulus mengucapkan kata-kata yang kemudian terkenal, ”Semoga Kuba, dengan seluruh potensi yang luar biasa, membuka diri kepada dunia, dan semoga dunia membuka diri kepada Kuba.”

Pembandingan ini juga jelas di Meksiko yang menganggap Yohanes Paulus sebagai paus bagi Meksiko karena lima kali berkunjung selama 27 tahun menjadi paus. Namun, pada kunjungan pertama ke Meksiko, Benediktus tampak berhasil menghilangkan kesan bahwa dia paus yang dingin yang tidak bisa dibandingkan dengan karisma dan koneksi pribadi pendahulunya.

”Sebagian kaum muda menolak Paus, dengan mengatakan dia berwajah marah. Namun, kini mereka melihatnya seperti kakek,” kata Cristian Roberto Cerda Reynoso, seorang seminaris dari Leon yang menghadiri misa. ”Saya melihat kaum muda dipenuhi kegembiraan dan semangat.”

Paus merebut hati massa pada misa. Dia mengenakan sebuah sombrero saat berkeliling dengan mobil kepausan di antara 350.000 umat. Benediktus kembali mengenakan sombrero Minggu malam saat sekelompok orang bernyanyi untuknya saat Paus pulang ke sekolah tempat dia bermalam. (AP/AFP/DI)

Sumber : http://internasional.kompas.com/read/2012/03/27/07284856/Setelah.Merebut.Meksiko.Paus.Menuju.Kuba

Kuba

[b]Paus Benediktus XVI memulai kunjungan di Kuba[/b] 27 Maret 2012

Paus Benediktus XVI hari ini Selasa (27/03/2012) memulai kunjungan tiga hari di Kuba.

Dia menjadi Paus pertama yang mengunjungi negara komunis ini dalam 14 tahun terakhir.
Berita terkait

Paus, yang terbang dari Meksiko, diterima oleh Presiden Raul Castro di kawasan timur kota Santiago.

Paus mengatakan dia datang sebagai peziarah amal yang berdoa untuk perdamaian, kebebasan dan rekonsiliasi.

Dia juga mengekspresikan simpati atas ‘‘aspirasi keadilan’’ bagi semua warga Kuba, dimanapun mereka berada.

Selanjutnya, Paus Benediktus menggelar misa bersama puluhan ribu orang di Lapangan Revolusi Santiago.

Presiden Castro juga ikut dalam misa tersebut.

Dalam pidatonya di bandara, Presiden Castro mengatakan pemerintahan sosialis Kuba mengijinkan kebebasan beragama dan menjalani hubungan yang baik dengan Gereja Katolik.

Dia mengatakan bahwa Kuba memiliki pandangan yang sama dengan Paus terkait dengan kemiskinan, ketidaksamaan dan penghancuran lingkungan.

Dan dia menegaskan bahwa Kuba bersikeras untuk membela kebebasan mereka meski ada embargo AS.

‘Pandangan baru’

Saat bertemu, Paus dan Castro juga mengenang kunjungan Paus Paulus II 14 tahun lalu, yang disebut Paus Benediktus ‘‘seperti sebuah hembusan lembut yang memberi kekuatan baru bagi Gereja di Kuba’’.

Sebelum kunjungannya ke Kuba, Paus Benediktus meminta struktur Marxisme Kuba mengadopsi ‘‘model baru’’ karena dianggap ‘‘tidak lagi merespon realitas’’.

Tetapi saat tiba, Paus memuji upaya Kuba untuk ‘‘memperbarui dan meluaskan pandangan’’.

Pengamat mengatakan hubungan antara Gereja dengan negara mulai menghangat dalam beberapa tahun terakhir.

Raul Castro juga menerima mediasi Gereja terkait isu seperti tahanan politik, mengakui posisi Gereja sebagai posisi yang berpengaruh diluar pemerintah komunis.

Kunjungan Paus ini dipandang sebagai upaya untuk meningkatkan hubungan dan menambah peran Gereja di komunitas Kuba.

Penahanan pembangkang

Kunjungannya ke Santiago juga bertepatan dengan perayaan 400 tahun perayaan santo pelindung Kuba, the Virgin of Charity of El Cobre, yang dia sebut sebagai alasan untuk mendatangi pulau ini.

Paus akan melanjutkan kunjungan ke Havana dan menggelar pembicaraan tertutup dengan Presiden Castro.

Dalam jadwal resmi Paus tidak diagendakan untuk bertemu dengan para pembangkang Kuba.

Kelompok oposisi mengatakan lusinan pembangkang ditahan menjelang kunjungan Paus, dan lainnya dicegah untuk ikut hadir dalam misa di Santiago.

Perjalanan Paus Benediktus ke Kuba dilakukan setelah mengunjungi Meksiko, dimana dia merayakan misa terbuka di monumen Raja Kristus di pusat kota Silao.

Di hadapan 500.000 umat Katolik yang berkumpul dalam misa itu, dia meminta agar mereka kembali kepada agama untuk merespon kemiskinan dan kejahatan dan menolak kekerasan dan aksi balas dendam.

Sumber : http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2012/03/120327_popecuba.shtml

@calvin

Nice post bro, thankyou.

Syalom

ur welcome bro,

Namun, sepertinya ada sedikit gangguan saat perayaan misa yang dipimpin oleh Paus Benediktus XVI di Santiago, Kuba. Seorang pria muda berteriak ke arah Paus menyerukan slogan anti komunis.
Berikut beritanya :

[b]Man bundled away for anti-communist protest at Pope's Mass in Cuba[/b]

A man began shouting “down with the revolution” as Pope Benedict XVI entered Santiago’s main square to celebrate Mass.

The man was restrained and led away by security agents, accompanied by shouts from an angry congregation. It was not clear who the man was or what happened to him.

The Cuban government has not yet commented on the incident.

The pope went on to celebrated an open-air Mass at Revolution Square where he called for reconciliation in Cuba.

Just three days after saying that communism no longer works in Cuba, the 84-year-old German pope delivered a carefully worded speech that was less direct in criticising Cuba’s one-party system but included some thinly-veiled phrases addressing its human rights record.

“I appeal to you to reinvigorate your faith, that you live in CHRIST and for CHRIST, and armed with peace, forgiveness and understanding, that you may strive to build a renewed and open society, a better society, one more worthy of humanity, and which better reflects the goodness of God,” he said.

Sumber : http://www.telegraph.co.uk/news/religion/9168770/Man-bundled-away-for-anti-communist-protest-at-Popes-Mass-in-Cuba.html

Semoga dengan kedatangan Paus Benediktus XVI membawa kesegaran spiritualitas kepada masyarakat Kuba yang sudah cukup lama bergelut dengan ideologi marxist.