KUNJUNGAN OBAMA KE GHANA

Dunia, khususnya Afrika, sangat semangat menantikan berita akan masuknya Barack Obama ke Ghana minggu ini, Obama-mania dari seluruh dunia sangatlah antusias. Sedangkan negara-negara Afrika lainnya sibuk mengorek luka lamanya, membuat banyak alasan mengapa orang yang paling berkuasa dan terkenal di dunia memilih Ghana terlebih dahulu, kebanyakan hanya sangat semangat akan momen kebanggaan dalam sejarah Afrika.

Sebagai seorang Asia, saya sungguh salut akan pilihan Obama terhadap Ghana sebagai kunjungan pertamanya di daerah Sahara Afrika, sebuah bangsa yang telah mempertahankan figur kebersiihannya dalam sebuah kontinen yang kacau balau penuh penipuan dan konflik politik. Saya memberikan applaus dan setuju dengan pernyataan berani dari Prof. Wole Soyinka: “Jika Obama memutuskan untuk mendatangi Nigeria, Saya akan merajamnya dengan batu. Pesan yang beliau kirim dengan mengunjungi Ghana sangatlah jelas, sungguh brilian bahwa dia tidak harus menunjukkan kekurangannya dengan datang ke Nigeria dalam waktu dekat”. Mengapa Obama memilih untuk berasosiasi dengan sebuah negara yang penuh dengan korupsi dan hawa nafsu untuk mengonrol semua biaya, sebuah bangsa di tangan penindas yang haus akan kuasa yang hanya bisa memamerkan dirinya sebagai politikus, sebuah negara yang terkenal paling religius namun juga yang paling tanpa pikir dalam mengambil keputusan?

Saya dapat melihat cerminan kesedihan dari negara religius ini. Bukannya berdiri melawan pencemoohan yang sungguh nyata mengenai tanggung jawab mereka, banyak pemimpin religius Nigeria bermain dengan pemenang politik semata-mata demi publikasi murahan, pengaruh politik dan bagiannya dari pajak masyarakat, “…dalam pergereakan yang berjalan cukup baik danmelayani penguasa politik, pemimpin religius menghadiri pesta ulang tahun, memberkati keluarga yang dihormati, dan tiap akhir tahun memberikan nubuat positif bagi negara ang telah secara spektakuler salah pimpin.”

Saya teringat bagaimana Pendeta Enoch Adeboye dari Redeemed Christian Church of God (RCCG), yang akhir-akhir ini dipilih sebagai 'Legendaris Hidup Terhebat Nigeria, yang secara berkala berteman dengan Obasanjo, yang saat ini deperhitungkan secara umum sebagai salah satu dari pemimpin terkorup dan terburuk Afrika. Sebagaimana Adeboye memimpinnya dalam kantor pusat Redeemed-nya, menerima dukungan untuk KKR penginjilannya, berpose dengannya di surat kabar, Obasanjo memberikan pajak impor RCCG dan memberikan berbagai perkenanan politis. Namun demikian, kedekatan ini tidak diberitakan bahwa Adeboye pernah secara umum melaporkan kesalahan dalam praktek korupsi dan tindakan imoral Obasanjo.

Dalam nadi yang sama, Adeboye menjatuhkan posisi permanen Gbenga Daniel di Ogun, memberitakan secara umum kampanyenya dan seringnya dia mengunjungi Ogun stae dalam undangannya untuk sesi doa. Bagaimanapun juga, dengan adanya krisis di tangan yang menyikut Ogun stae, mempertanyakan integritas Gbenga dan lawan politiknya di Gateway stae dan lebih jauh menyampaikan berulang-ulang mengenai tingkat katastrofi dari pikiran ganda dan sikapnya yang fulgar yang telah membuat Nigeria terperangkap, kekaguman kita jika tingkat keintiman semacam ini akan terus berlangsung di antara keduanya. Kesuksesan adalah anak setiap orang namun kegagalan tidak memiliki orang tua.

Marin Luther King mengatakan, "Kami harus berubah dalam generasi ini bukan hanya untuk kata-kebencian dan tindakan dari orang-orang jahat tetapi untuk kebungkaman dari orang-orang baik. Sungguh jelas bahwa pemimpin religius kita memiliki peranannya dalam kesalahan managemen sumber daya dan talenta yang terkenal dimiliki Nigeria - tidak semata-mata untuk apa yang telah mereka lakukan, tetapi untuk kebenaran, bagaimanapun juga tidak menyenangkannyta, bahwa mereka telah gagal untuk berdiri atas dan kompromi demi keuntungan pribadi dan kepuasan politis. Banyak yang elah menjadi buta akan kata-kata Yesus Kristus: “Apa yang dikagumi manusia, dibenci Allah.” (Lukas 16:15)

Bagaimanapun juga, ketika presiden Ghana, Profesor John Evans Atta Mills, datang untuk memimpin pada bulan Januari dalam pemilu yang damai dikagumi secara internasional, poin pertamanya setelah pelantikannya adalah Syangogue, Gereja Segala Bangsa (The Synagogue, Church Of All Nations) di Lagos, Nigeria untuk bersyukur kepada Tuhan atas kemenangannnya yang bersejarah dan tidak diharapkan. Di sana, beliau mengejutkan khalayak dengan mendeklarasikan bahwa Nabi T.B. Joshua telah menubuatkan secara spesifik dan detail akan pemilunya yang akan dilaksanakan sebanyak tiga kali sebelum beliau terpilih, bahkan beliau menyebut Pendeta Joshua sebagai gurunya, menyaksikan bahwa kerendahan hatinya dan kemurahan hatinya telah membawa dampak dan menginspirasinya. Joshua, kemudian meminta Mills untuk menolong mereka yang kurang beruntung di Ghana, dan mendukung organisasi sosial yang telah ‘memberi lebih bagi orang lain dan sedikit bagi diri mereka sendiri’. Perbedaan adalah bukti.

Terlihat janggal bahwa gereja-gereja Nigeria masih sibuk berargumen di antara mereka mengenai keaslian dari Pendeta T.B. Joshua, orang yang dipublikasikan dan dihargai oleh Atta Mills. Saya rasa hasil dari hubungan ini akan berbicara lebih keras daripada melawan kualifikasinya sebagai hamba Tuhan yang benar.

Dalam berbagai peristiwa, kami berterima kasih kepada Tuhan bahwa Ghana telah bergerak dari kekuatan menuju kekuatan, kunjungan Obama kali ini mensolidaritas reputasinya dalam komitmen demokratiknya, dan penemuan minyak di teritorinya telah memimpinnya menuju masa depan yang cerah. Afrika seharusnya bangga akan pencapaian Ghana, dan belajar pembelajaran penting dari kunjungan Obama dari pada memikirkan mengenai alasan beliau tidak memilih negara lainnya. Bono mengatakan, “Secara diam-diam dan sederhana - tetapi juga secara jantan - Ghana mulai menuju pada karakter bisnis kontinen ini. Wajah baru Amerika, beremu dengan wajah baru Afrika.”

Saya berdoa kunjungan ini akan memimin pada gelombang prinsip demokrasi yang loyal, kerja sama yang tidak dibatasi waktu dengan menjadi penjaga saudara kita, melakukan bagi mereka sebagaimana kita menginginkan merka melakukan bagi kita dan mempertimbangkan kebaikan bangsa kita akan momen-momen yang lebih baik dari ambisi pribadi kita sendiri.

Ada baiknya negara kita, Indonesia belajar banyak dari negara dari kontinen yang tidak kita pandang sebelah mata. Terbukti mereka memiliki kondisi politik yang stabil. Sungguh mengagumkan. Kapan bangsa kita dapat jadi seperti itu? Inilah tugas besar bagi presiden kita, Susilo Bambang Yudhoyono.

panjang banget , thx yang udah post …

LHO KOK GHANA ?

bole aja dong ke gana, napa nggak? terbukti ghana negara bersih dalam berbagai artian… :slight_smile: