Laodikea yang dikasihi dan Sardis yang tidak berjaga-jaga, sebuah Pelajaran!

" Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah: Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat. Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya. " Wahyu 3:14-21

Laodikea, atau Laodikeia, lengkapnya Laodicea ad Lyceum (Laodikea di tepi sungai Lycus) terletak diantara kota Colosse (Kolose) dan Hieropolis. Reruntuhan kota itu sekarang disebut “Eskihisar” (dalam bahasa Turki artinya kastil tua)

Di sebelah timur kota ini adalah Colossae (Kolose). di Kolose terdapat mata air dingin yang menyegarkan. Disebelah utara ada kota Hieropolis. Disini terdapat mata air panas (thermal spring). Hieropolis dikenal sebagai Healing center. (mungkin kalau sekarang disebut dengan spa air panas geothermal)

Laodikea tidak memiliki sumber air, sehingga air ke kota itu dipasok dari luar melalui saluran pipa-pipa (aqueduct), terbuat dari batu. Metode pengiriman air dari satu tempat ke tempat lain merupakan hal yang umum pada masa Romawi (disebut “Roman aqueduct”)

aqueduct ini masih dapat dilihat di reruntuhan Laodikea sekarang. Pipa air Laodikea nampaknya tidak bagus, dan air yang dikirim ke kota ini sering kotor, ditandai dengan bagian dalam pipa yang mengalami penumpukan sedimen. Di musim panas air mengalir melalui pipa2 batu yang terkena terik matahari sehingga waktu sampai di tujuan menjadi sedikit hangat.

Tuhan YESUS menunjuk kondisi kota ini ini ketika IA mengatakan
“Aku tahu segala pekerjaanmu, engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas!” Wahyu 3:15
dan
“karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku” Wahyu 3:16

Dengan perbandingan Colossae dan Hieropolis dengan sumber air dingin dan panasnya, sepertinya pesan Tuhan YESUS kepada Laodikea adalah supaya mereka menjadi seperti air dingin Colossae yang memberi kesegaran bagi yang meminumnya, ataupun seperti air panas Hieropolis yang berkhasiat menyembuhkan. Air yang hangat-hangat kuku (apalagi air hangat yang keruh) bila berada dalam mulut menyebabkan rasa mual i[/i] yang secara reflek menyebabkan orang yang mau meminumnya kehilangan selera dan menyemburkannya keluar dari mulutnya.

BILA KITA MENYIMAK JEMAAT LAODIKIA DALAM KITAB WAHYU MAKA AKAN TERLIHAT DENGAN JELAS BAGAIMANA KESAN YESUS TENTANG JEMAAT INI:

Rev 3:14 "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah:
Rev 3:15 Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas!
Rev 3:16 Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.
Rev 3:17 Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang,
DARI Firman Tuhan INI BISA KITA SIMAK BAHWA JEMAAT LAODIKIA ADALAH JEMAAT YANG RAJIN BAHKAN CENDERUNG JEMAAT YANG WORKAHOLIC SEHINGGA MEREKA KURANG TERLIBAT DALAM HAL2 ROHANI MAKA DIKATAKAN SEBAGAI JEMAAT YANG SUAM2 KUKU YANG AKAN DIMUNTAHKAN OLEH TUHAN YESUS; JADI BERKAT ROHANI BAGI KITA ADALAH SEKALIPUN KITA SIBUK DENGAN PEKERJAAN TETAPI JANGANLAH KITA MENJADI BUDAK PEKERJAAN SEBALIKNYA TETAPLAH JADIKAN YESUS SEBAGAI YANG UTAMA DALAM HIDUP KITA KARENA KEKHAWATIRAN KITA AKAN HIDUP TIDAK AKAN MAMPU MENAMBAH SEHASTA SAJA DALAM MASALAH UMUR KITA.

Laodikea pada masanya berkembang menjadi pusat ekonomi di kawasan itu. Penulis sejarah Romawi Cicero menyebutkannya sebagai tempat “penukaran uang” (money changer). istilah itu setara dengan sistem perbankan saat ini. Orang-orang Laodikea nampaknya adalah tipe wiraswastawan murni, yang percaya dan mengandalkan kemampuan / kekuatan mereka sendiri. Begitu percayanya mereka akan kemampuan / kekuatan diri sendiri ini hingga mereka menolak tawaran bantuan dari pemerintah Romawi untuk membangun kembali kota mereka setelah diruntuhkan oleh gempa besar (sekitar tahun 60 AD, peristiwa gempa ini dituliskan sejarawan Eusebius dan Tacitus. Sampai sekarangpun Turki adalah wilayah yang kerap diguncang gempa). Mereka membangun kembali kota itu dengan dana mereka sendiri. sebagai pusat kegiatan perbankan, emas tersimpan di kota itu dalam jumlah banyak.

Selain aktivitas perbankan, Laodikea merupakan penghasil wool. Wool hitam. Domba hitam diternakkan disana. Saya tidak tahu kaitan antara istilah “blacksheep” dengan “black sheep”. Saya sendiri baru tahu kalau ada wool hitam setelah membaca cerita tentang Laodikea ini. “Black Sheep” memang diternakkan disana menjadi penghasil “black wool”. Wool hitam ini lembut dan kota ini mengusahakannya dalam skala industri.

Satu lagi hasil kota ini adalah “salep mata” (eye salve). collyrium, istilah salep mata itu. menurut Strabo, seorang sejarawan Yunani, di kota ini ada juga sekolah medik.

Kontras dengan ketiga hal diatas, Tuhan YESUS mengatakan kepada (malaikat) jemaat Laodikea :

“Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang” wahyu 3 : 17

dan :

“maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat”

Laodikea menyimpan banyak emas, mereka menganggap diri mereka kaya. Begitu percaya dirinya dengan kekayaan mereka sampai menolak bantuan Romawi untuk membangun kembali kota mereka yang hancur diguncang gempa. Tetapi Tuhan YESUS menyebut mereka miskin dan malang dan menasihatkan supaya mereka membeli emas dari DIA supaya mereka kaya.
Laodikea adalah penghasil wool hitam, mereka dengan bangga memakai pakaian dari tekstil buatan mereka sendiri, kain wool hitam yang halus. Tetapi Tuhan YESUS menyebut mereka telanjang dan menasihatkan supaya mereka membeli pakaian putih dari DIA untuk menutupi ketelanjangannya.
Laodikea adalah penghasil salep mata, mereka mebuat obat untuk menyembuhkan sakit mata tetapi Tuhan YESUS menyebut mereka buta dan menasihatkan supaya mereka membeli pelumas untuk mata mereka dari DIA supaya mereka dapat melihat dengan jelas. What an irony !

Usul: Thread ini berisi pelajaran yang baik, kalau bisa dipindah ke Pendalaman Alkitab supaya tidak tenggelam dan hilang…

Terimakasih.
Salam

Sedang diupayakan supaya isi materi “layak” untuk dimasukkan di Board Pendalaman Alkitab, selain masih ada revisi dan modifikasi disana-sini serta tambahan materi :slight_smile:
Terima kasih

" Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Sardis: Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang itu: Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati! Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati, sebab tidak satupun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku. Karena itu ingatlah, bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah! Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu. Tetapi di Sardis ada beberapa orang yang tidak mencemarkan pakaiannya; mereka akan berjalan dengan Aku dalam pakaian putih, karena mereka adalah layak untuk itu. Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya. " Wahyu 3 :1-5

Sardis (sekarang Sart, Turki) dulunya adalah ibukota kerajaan Lydia, lalu menjadi propinsi dibawah Imperium Persia, dan dimasa Kekaisaran Romawi adalah suatu kota besar.

Sardis adalah kota yang membanggakan kekuatannya. Kota ini terletak diatas bukit dengan tebing yang curam dan sulit didaki musuh. Keadaan itu menjadikan kota ini seperti dikelilingi oleh “benteng alami”. Jalan keluar masuk kota ini terdapat di sisi selatan kota, dengan sisi-sisi lainnya berbentuk batu-batu tebing yang nyaris tegak lurus. Mengingatkan slogan kapal Titanic “The Unsinkable”, seperti itu kiranya orang Sardis jaman dulu menganggap kota mereka tidak akan dapat dikalahkan musuh. Tetapi justru karena sifat “over confidence” seperti inilah dua kali ia ditaklukkan.

Herodotus mencatat bagaimana Cyrus (Koresh) raja Persia menaklukkan kota itu pada 546 SM. Cyrus menawarkan hadiah khusus untuk pasukannya yang menemukan cara untuk memanjat tebing kota dan menaklukkan benteng alami kota itu. Hyeroeades, seorang anggota pasukannya suatu kali mengamati seorang tentara Lydia penjaga kota yang helm tempurnya terjatuh. Ia memperhatikan dengan seksama jalur yang dilewati tentara itu waktu menuruni tebing untuk mengambil helmnya dan memanjatnya lagi. Malam itu, Hyeroeades mengajak beberapa anggota pasukannya memanjat tebing di jalur yang telah ia amati itu, dan sesampainya diatas, mereka menemukan benteng dalam keadaan samasekali tidak terjaga. Sardis merasa sepenuhnya aman, tetapi tanpa dinyana jatuh ketangan pasukan Cyrus, “seperti pencuri di malam hari.”

salah satu peninggalan sisi tembok kota Sardis yang terletak di tepi tebing :

Sardis tidak belajar dari pengalamannya ini. Peristiwa serupa terulang lagi di masa Antiochus III, sekitar 320 tahun kemudian. Seorang prajurit Antiochus asal Creta bernama Lagoras menemukan lagi sisi kota yang tidak dijaga, sehingga kota itu jatuh ketangan Antiochus. Sekali lagi, Sardis tidak berjaga-jaga, merasa yakin bahwa musuh tidak akan dapat melalui tebing.

Dengan latar belakang diatas, Jemaat di Sardis sangat mengerti maksud Tuhan YESUS ketika Ia mengatakan “Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu” (Wahyu 3:3)