Larangan membunuh dan Perintah membunuh..

Larangan membunuh terdapat dalam 10 perintah ALLAH tetapi Perintah membunuh juga datang dari ALLAH dalam berbagai kisah di PL…

Apakah hal ini tidak bertentangan…?
Ataukah ada yang memerintahkan pembunuhan dgn mengatas-namakan itu sebagai perintah ALLAH…? sebab jika memang ALLAH memerintahkan umatnya untuk membunuh,bukankah telah dikatakan bahwa membunuh itu adalah perbuatan yang berdosa…?

salam…

Dlm PL
ketika Tuhan memerintahkan untuk menumpas /membunuh musuh…
itu (secara rohani) gambaran … menumpas dosa

bagimana dgn si penerima perintah membunuh…? apakah tidak berdosa…?

kalo tuhan memerintahkan" bunuhlah "------> berarti membunuh secara rohani

trus kalo tuhan memerintahkan “sunatlah”------> berarti menyunat secara rohani

kalo tuhan nyuruh “menikah”-------> apa secara rohani juga sis? ;D
wkwkkwkwk yang bener aja lice…
kalo perintahnya agak2 sangar dikit alice ngeles bilang “secara rohani” :cheesy: :cheesy: ;D

coba aku ditunjukin bahwa perintah membunuh dalam pl adalah secara “rohani”

serba rohani… :onion-head41:

@Bro Yosan, coba download buku in:
http://www.4shared.com/file/58059959/946775e2/Lee_Strobel_-_The_Case_for_Faith.html

Baca bagian OBJECTION #4: GOD ISN’T WORTHY OF WORSHIP IF HE KILLS INNOCENT CHILDREN

Pembahasan di situ menarik sekali. Lee Strobel mewawancarai Norman Geisler untuk menemukan jawabannya.
Saya co-pas sebagian isinya:

GOD’S ORDERS TO KILL
I looked intently into Geisler’s eyes. My voice leaked sarcasm as I posed the most pointed objection to God’s character. “You talk about compassion and mercy,” I said, “but those qualities are hard to understand when we see God ordering genocide by telling the Israelites in Deuteronomy 7 to totally destroy' the Canaanites and six other nations and to show them no mercy.”’

That got me started on a roll. “And that wasn’t an isolated incident,” I continued, picking up speed as I went. “God ordered the execution of every Egyptian firstborn; he flooded the world and killed untold thousands of people; he told the Israelites: `Now go, attack the Amalekites and totally destroy everything that belongs to them. Do not spare them; put to death men and women, children and infants, cattle and sheep, camels and donkeys.”’ That sounds more like a violent and brutal God than a loving one. How can people be expected to worship him if he orders innocent children to be slaughtered?"

Despite the force of the question, Geisler retained a calm and reasoned tone. “This shows,” he said, “that God’s character is absolutely holy, and that he has got to punish sin and rebellion. He’s a righteous judge; that’s undeniably part of who he is. But, second, his character is also merciful. Listen: if anyone wants to escape, he will let them.”

Geisler paused. My questions clearly required a more extended explanation. “Lee, you’ve raised a whole bunch of good issues, and they deserve a thoughtful response,” he said. “Do you mind if we go through those passages a little more carefully? Because if we do, I think we’ll see the same pattern over and over.”

I gestured for him to proceed. “Please,” I said, “go through them. I really do want to understand.”
“Let’s start with the Amalekites,” he began. “Listen, Lee, they were far from innocent. Far from it. These were not nice people. In fact, they were utterly and totally depraved. Their mission was to destroy Israel. In other words, to commit genocide. As if that weren’t evil enough, think what was hanging in the balance. The Israelites were the chosen people through whom God would bring salvation to the entire world through Jesus Christ.”

“So you’re saying they deserved to be destroyed?” I asked.
“The destruction of their nation was necessitated by the gravity of their sin,” Geisler said. "Had some hardcore remnant survived, they might have resumed their aggression against the Israelites and God’s plan. These were a persistent and vicious and warring people. To show you how reprehensible they were, they had been following the Israelites and had been cowardly slaughtering the most vulnerable among them-the weak, elderly, and disabled who were lagging behind.

“They wanted to wipe every last one of the Israelites off the face of the earth. God could have dealt with them through a natural disaster like a flood, but instead he used Israel as his instrument of judgment. He took action not only for the sake of the Israelites, but ultimately for the sake of everyone through history whose salvation would be provided by the Messiah who was to be born among them.”

“But the children,” I protested. “Why did innocent children need to be killed?”
“Let’s keep in mind,” he said, "that technically nobody is truly innocent. The Bible says in Psalm 51 that we’re all born in sin; that is, with the propensity to rebel and commit wrongdoing. Also, we need to keep in mind God’s sovereignty over life. An atheist once brought up this issue in a debate, and I responded by saying, `God created life and he has the right to take it. If you can create life, then you can have the right to take it. But if you can’t create it, you don’t have that right.’ And the audience applauded.

"People assume that what’s wrong for us is wrong for God. However, it’s wrong for me to take your life, because I didn’t make it and I don’t own it. For example, it’s wrong for me to go into your yard and pull up your bushes, cut them down, kill them, transplant them, move them around. I can do that in my yard, because I own the bushes in my yard.
“Well, God is sovereign over all of life and he has the right to take it if he wishes. In fact, we tend to forget that God takes the life of every human being. It’s called death. The only question is when and how, which we have to leave up to him.”

WHAT ABOUT THE CHILDREN?
Intellectually, I could understand Geisler’s answer up to this point. However, emotionally it didn’t go far enough. I was still unsettled. “But the children…” I persisted.
Geisler, himself the father of six children and grandfather of nine, was sympathetic. “Socially and physically, the fate of children throughout history has always been with their parents, whether that’s for good or for ill,” he pointed out.

(Bersambung… lanjutannya bisa dibaca di buku ybs :slight_smile: )

@ bung KahLiL…

terimaksih bung KahLiL…tapi sayangnya saya tidak ngerti bahasa inggris…ya maklum lah saya tidak memiliki rasa ketertarikan yg mendalam soal bahasa asing…
tapi menurut saya hal ini tetap saja menimbulkan rasa keraguan bagi saya…bagaimana tidak…? jika perintah itu diperintahkan oleh manusia seperti kita,saya mungkin bisa mengerti kenapa ada larangan dan juga kenapa juga sampai dilanggar…tetapi yang kita bicarakan ini adalah sosok TUHAN…apa iya TUHAN memerintahkan umatnya untuk patuh pada setiap peraturannya tetapi dilain sisi kita diperintahkan untuk melanggarnya juga…? ini TUHAN loh yang kita bicarakan…? bukannya anggota dewan yg kalo bikin UU untuk dilanggar…

salam…

yup :wink:

kalo tuhan nyuruh "menikah"-------> apa secara rohani juga sis? ;D

semua itu gambaran yang rohani
menikah …kalo mau dimaknai secara rohani juga bisa yi persekutuan antr YESUS (pengatin pria) dan orang percaya ( wanitanya) :smiley:

Krn itu di dlm pernikahan scr jasmani …
kenapa Tuhan menghendaki sebuah kesetiaan …salah satu untur rohaninya Dia mau mengajar hendaknya orang percaya senantiasa setia kpd YESUS…tidak mendua hati

Re 19:7 Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.

balik maning ke soal bunuh membunuh :onion-head86:

Kalo spt yang sudah saya smpkan (diartikan secara rohani) yi membunuh dosanya… ngga bersalah… :smiley:

apakah menurut sis alice orang2 yang telah ditumpas tuntas oleh Yosua dari yang bau kencur sampai bau tanah itu juga mati secara rohani…?

Yup!! :smiley:

Perlukah saya terjemahkan tulisan tersebut spesial untuk bung Yosan? :slight_smile:
Ngomong-ngomong, pernah ada dua topik serupa yang sudah saya pindah ke board TERJAWAB:

ayat2 pedang

Siapa Sebenarnya Yang Mengajarkan Kekerasan dan Radikalisme?

Di akhir kedua topik telah saya sertakan link menuju pembahasannya.
Silakan dicek dulu. Kiranya bermanfaat.

Salam

@ bung KahLiL…

Perlukah saya terjemahkan tulisan tersebut spesial untuk bung Yosan? :)
Kiranya TUHAN memberkati anda bung KahLiL atas kebaikan anda.. :)
Ngomong-ngomong, pernah ada dua topik serupa yang sudah saya pindah ke board TERJAWAB:

ayat2 pedang

Siapa Sebenarnya Yang Mengajarkan Kekerasan dan Radikalisme?

Di akhir kedua topik telah saya sertakan link menuju pembahasannya.
Silakan dicek dulu. Kiranya bermanfaat.

Salam

akan saya simak nanti…terimaksih sekali lagi…

salam…

OK…
bagian pertama dulu ya:

PERINTAH ALLAH UNTUK MEMBUNUH

Aku melihat dengan sungguh-sungguh ke mata Geisler. Suaraku menyiratkan sarkasme ketika aku menyampaikan keberatan terpenting mengenai karakter Allah.
“Anda mengatakan tentang belas kasih dan pengampunan,” kataku, “tapi kualitas seperti itu sulit dipahami ketika kita melihat Allah memerintahkan Bangsa Israel untuk melakukan genosida seperti tertulis dalam Ulangan 7: untuk menghancurkan total Bangsa Kanaan dan enam bangsa lainnya TANPA AMPUN.”
Saya mulai menggulirkan gagasan selanjutnya. “Dan itu bukanlah satu-satunya insiden,” aku melanjutkan. "Allah memerintahkan pembunuhan terhadap tiap anak sulung Mesir; Ia membanjiri dunia dengan pembunuhan atas ribuan orang; Ia berkata pada bangsa Israel: ‘sekarang pergilah menyerang Amalek dan hancurkan segala milik mereka. Jangan sayangkan nyawa mereka; bunuh laki-laki dan perempuan, anak-anak dan balita, ternak dan domba, unta dan keldai.” Itu lebih kedengaran seperti Allah yang jahat dan brutal daripada yang penuh kasih. Bagaimana bisa kita berharap orang menyembah Dia jika Dia memerintahkan untuk membunuh anak-anak tak bersalah?
Menanggapi pertanyaan yang ‘memaksa’, Geisler tetap tenang dalam bersuara. “Ini menunjukkan,” katanya, “bahwa karakter Tuhan itu Kudus, dan Dia harus mendatangkan hukuman atas dosa dan pemberontakan. Ia adalah Hakim yang benar; itu adalah sifat-Nya yang tak dapat dipungkiri. Tapi, yang kedua, Dia juga penuh pengampunan. Dengar: jika ada orang yang ingin melarikan diri, Dia akan membiarkannya.”
Geisler berhenti sejenak. Pertanyaanku jelas memerlukan penjelasan lebih lanjut. “Lee, Anda sudah mengumpulkan gagasan-gagasan yang baik, itu pantas mendapat respon yang serius,” katanya. “Apakah Anda keberatan jika kita mendalami ayat-ayat yang bersangkutan secara lebih cermat? Karena jika kita melakukannya, saya pikir kita akan melihat pola yang sama terus menerus.”
Aku mengisyaratkan kesepakatan. “Silakan,” kataku, “Periksa saja ayat-ayat itu. Saya benar-benar ingin mengerti.”
“Mari kita mulai dengan Bangsa Amalek,” dia memulai. “Dengar, Lee, mereka sangat jauh dari tidak bersalah. Jauh. Mereka bukan orang yang baik. Kenyataannya, akhlak mereka sama sekali rusak. Misi mereka ialah membinasakan Israel. Dengan kata lain, melakukan genosida. Kalau itu tidak jahat, pikirkanlah hal yang sedang terjadi. Bangsa Israel telah dipilih Allah untuk membawa keselamatan bagi dunia melalui Yesus Kristus.”
“Jadi Anda mengatakan bahwa mereka pantas dibinasakan?” tanyaku.
“Kehancuran negeri mereka adalah konsekuensi dari dosa mereka,” kata Geisler.
"Seandainya saja ada yang tersisa di bangsa itu, mereka pasti akan melanjutkan penyerangan terhadap Israel dan rencana Allah. Mereka gigih dalam kejahatan dan memerangi orang lain. Untuk menunjukkan betapa tercelanya bangsa itu, mereka telah membuntuti jalannya bangsa Israel dan membantai kaum yang paling lemah, orang-orang tua, dan orang cacat yang tertinggal di belakang.”
“Mereka ingin menyapu bersih setiap orang Israel dari muka bumi. Allah bisa saja melakukan penghukuman menggunakan bencana alam seperti banjir, tapi Dia menggunakan Israel sebagai instrumen keadilan. Ia bertindak tidak hanya untuk kebaikan bangsa Israel, tapi yang terutama untuk kebaikan semua orang melalui keselamatan dari Mesias yang datang dari Israel.”
“Tapi anak-anak,” protesku. “Kenapa anak-anak yang ta bersalah juga perlu dibunuh” “Camkanlah,” katanya, "bahwa secara teknis tiada seorangpun yang benar-benar tak bersalah. Alkitab mengatkan dalam Mazmur 51 bahwa kita lahir dalam dosa; karena itulah kita cenderung melakukan pemberontakan dan berbuat salah. Selain itu, camkan juga bahwa Allah berkuasa atas kehidupan. Seorang atheis pernah membawa isu ini dalam sebuah debat, dan saya menanggapinya dengan, `Allah menciptakan kehidupan dan Dia memiliki hak mengambilnya kembali. Jika Anda dapat menciptakan kehidupan, maka Anda berhak mengambilnya. Tapi jika tidak, maka Anda tidak memiliki hak itu.’ Audiens memberikan aplaus.”
"Orang berasumsi bahwa apa yang salah bagi kita pasti salah untuk Tuhan. Bagaimanapun, itu salah jika saya mengambil kehidupan Anda, karena saya tidak menciptakannya dan memilikinya. Sebagai contoh, itu salah untuk saya jika pergi ke halaman Anda lalu menarik semak-semak, memotongnya, membunuhnya, lalu memindahkannya ke sana kemari. Saya dapat melakukannya di halaman saya sendiri, karena sayalah yang memiliki semak-semak di halaman saya.”
“Well, Allah berkuasa atas segala kehidupan dan Ia memiliki hak untuk mengambilnya jika Ia mau. Kenyataannya, kita cenderung lupa jika Allah mengambil nyawa dari setiap manusia. Itulah yang disebut kematian. Pertanyaannya ialah kapan dan bagaimana, semuanya daalm kuasa Tuhan.”

(Bagian kedua menyusul :slight_smile: )

Tuhan YESUS memberkati

terimaksih bung KahLiL…saya tunggu yang selanjutnya…

salam :slight_smile:

Saya ingat di koran pernah dimuat tentang seorang terpidana hukuman mati di San fransisco. Orang ini telah membunuh beberapa orang. Lalu dipenjara, dan waktu dipenjara dia bertobat. Dia mengatakan bahwa hukuman mati untuknya adalah selayaknya, dia siap untuk bertemu dengan Tuhan. Dia tidak mau membebani pemerintah untuk tetap memberi makan dipenjara jadi dia tidak minta penundaan.

Lalu dia dihukum mati.

Undang2 Amerika melarang untuk membunuh, Lalu kenapa hakim memerintah algojo untuk membunuh?

Membunuh tidak boleh tapi orang yang bersalah dan patut dihukum mati memang harus dibunuh. Dan algojo yang membunuh pesakitan ini tidak bersalah bukan?

Orang Israel di perintah untuk jadi algojo, ada bangsa yang jahat dan patut dihukum mati, lalu Tuhan ingin mengajar Israel ini lho kalau kamu jahat bakal dihukum mati, dan paling tepat kalau yang diajar yang disuruh jadi algojo jadi lebih berkesan.

Dalam 10 perintah Allah, larangan mbunuh dikontekskan dalam hubungan interaksi sosial sehari-hari.

Di sisi lain, Tuhan mmerintahkan utk mbunuh dalam 2 konteks.

  1. Israel sbg Negara utk mhakimi bangsa lain
  2. Israel sbg pemegang Hukum Allah

Utk memahami pbedaan peran tsb, marilah saya brikan contoh :

  1. Sebagai warga negara kita dilarang membunuh orang lain. Barangsiapa membunuh warga lain, ia akan dhukum sesuai ktentuan hukum yg mngikat khidupan bermasyarakat.

  2. Tp jika saya menjadi bagian dari institusi pemegang hukum, maka saya dbrikan otoritas utk membunuh sesuai dengan kewenangan hukum yg dbrikan. Hakim berhak mjatuhkan hukuman mati, penembak berhak mbunuh terpidana mati, polisi berhak mbunuh penjahat yg melawan.

  3. Jika Indonesia terlibat perang dg bangsa lain, maka sbg bagian dari satuan militer / pejuang militer, maka saya berhak mbunuh atas nama Negara Indonesia spanjang berada dalam kondisi peperangan.


Dalam menghukum suatu bangsa, Tuhan bisa dan berhak mnggunakan tangan bangsa lain. Dmikian jugalah yg dlakukan oleh Israel pd jaman PL.
Tuhan mnggunakan tangan Israel (sbg bangsa) utk mjatuhkan hukuman bahkan pemunahan terhadap bangsa lain karena bangsa lain itu telah jatuh dalam dosa dan kesesatan.
Sbg pemegang Hukum Allah, Israel juga berhak mjatuhkan hukuman mati kpd warga negara yg mlakukan planggaran Hukum.
Tp dalam khidupan sehari-hari di luar konteks di atas, maka larangan mbunuh dberlakukan.

Penjelasan yang bagus :afro:

@Bro Yosan: Bro Siip telah memberikan analogi yang bagus. Semoga membantu dalam pemahaman.

Yang ini lanjutan terjemahan kemarin

BAGAIMANA DENGAN ANAK-ANAK?

Secara intelektual, aku dapat memahami jawaban Geisler tentang poin ini. Bagaimanapun, secara emosional itu tidak memuaskan. Aku masih belum mendapat kepastian. “Tapi anak-anak…” sergahku.
Geisler, ayah dari enam anak dan kakek dari 9 cucu, bersikap simpati. “Secara sosial dan fisik, takdir anak-anak dalam sejarah selalu bersama-sama orangtuanya, tidak peduli apakah itu baik atau buruk,” jawabnya.
“Tapi, Lee, Anda perlu memahami situasi yang terjadi pada bangsa Amalek. Dalam budaya yang jahat dan kejam sampai ke akar, pada saat itu tidak ada harapan lagi untuk anak-anak. Bangsa ini sudah terlalu cemar seperti kelemayuh(gangrene) yang menjalar di kaki seseorang, dan Tuhan harus mengamputasi kaki itu atau kelemayuh tersebut akan menyebar sampai tak ada lagi yang tersisa. Dalam sebuah pemahaman, tindakan Allah tersebut ialah tindakan penuh belas kasih.”
“Belas kasih?” tanyaku. “Bagaimana bisa?”
“Menurut Alkitab, setiap anak yang meninggal sebelum mencapai usia-bertanggungjawab-atas-dirinya-sendiri(age of accountability) langsung menuju ke Sorga untuk menikmati keabadian bersama hadirat Allah,” jawabnya. “Sekarang, jika mereka terus hidup dalam masyarakat yang mengerikan seperti itu, mencapai age of accountability, dapat dipastikan mereka akan rusak dan terhilang selamanya.
“Apa yang menyebabkan Anda berpikir anak-anak itu menuju Sorga ketika mereka mati?” tanyaku.
“Yesaya 7:16 berbicara tentang suatu usia sebelum seorang anak bertanggungjawab secara moral, sebelum anak memiliki pengetahuan yang cukup untuk menolak yang salah dan memilih yang benar.’
Raja Daud mengatakan hal serupa ketika anaknya mati pada saat lahir. Yesus berkata, `Biarkan anak-anak kecil datang kepada-Ku, jangan halang-halangi mereka, sebab merekalah empunya Kerajaan Allah,’ yang mengindikasikan bahwa mereka akan pergi ke Sorga.” Masih ada sejumlah banyak ayat lain yang mendukung hal ini.”
Aku melompat pada ketidakkonsistenan yang jelas. “Jika anak-anak yang mati sebelum mencapai age of accountability akan menuju Sorga, kenapa hal itu tidak bisa dikatakan pada anak-anak yang batal lahir karena aborsi dewasa ini?” tanyaku. “Jika diaborsi, mereka pasti menuju Sorga. Tapi jika mereka lahir dan bertumbuh, mereka bisa memberontak pada Allah dan berakhir di neraka. Apakah pernyataan Anda itu bukan argumen yang mendukung aborsi?”
Tanggapan Geisler datang dengan cepat. “Tidak, itu ialah analogi yang keliru,” dia menekankan. “Pertama, Allah tidak memerintahkan siapapun hari ini untuk melakukan aborsi; kenyataannya, hal itu bertentangan dengan apa yang diajarkan Alkitab.
Ingatlah, Dia adalah satu-satunya yang berhak menentukan untuk mengambil nyawa, sebab Dia berkuasa penuh atas kehidupan umat manusia. Kedua, hari ini kita tidak memiliki budaya yang rusak sampai ke akarnya seperti masyarakat Amalek.
Dalam kebudayaan itu, tak ada harapan sama sekali; sedangkan hari ini, harapan itu ada.”
“Karena itu,” kataku, “apakah Anda tidak berpikir bahwa tindakan Allah dalam pemusnahan Amalek itu keterlaluan?”
“Anda harus mengingat bahwa orang-orang itu telah diberikan banyak kesempatan untuk mengubah jalan hidup mereka sehingga terhindar dari semua hukuman Allah,” katanya. "Kenyataannya, jika Anda memperhitungkan bangsa Kanaan dengan bangsa Amalek, mereka memiliki empatratus tahun untuk bertobat. Itu adalah jangka waktu yang sangat lama. Akhirnya, setelah menunggu berabad-abad dan memberikan kesempatan mereka untuk berbalik dari jalan menuju kehancuran, sifat Allah mendorong-Nya untuk merespon niat jahat mereka. Dia tidak bertindak tergesa-gesa.
"Sekarang, kita harus mencamkan bahwa siapapun yang ingin keluar dari situasi ini seharusnya segera bertindak; mereka memiliki kesempatan yang terbuka lebar bertahun-tahun. Tentu saja orang-orang yang ingin selamat dari penghancuran itu melarikan diri dan nyawanya selamat.
"Dalam Yosua 6, di mana Alkitab berbicara tentang pemusnahan Yerikho dan Kanaan, Anda menemukan pola yang sama. Itu adalah kebudayaan yang rusak sampai ke akar, sampai-sampai Alkitab mengatakan hal itu memuakkan hati Allah. Mereka berada dalam kebrutalan, kekejaman, inses, sifat kebinatangan, pelacuran bakti(untuk penyembahan berhala), bahkan mengorbankan anak mereka dalam api. Mereka memiliki budaya agresif yang hendak melenyapkan Israel dari muka bumi.
"Lagi, Anda menemukan bahwa orang-orang jahat dibinasakan tapi orang benar di antara mereka tetap selamat. Contohnya, Rahab, yang melindungi mata-mat Israel, tidak mendapat hukuman seperti yang diterima orang-orang lain. Dan lihat juga apa yang terjadi pada masyarakat rusak di Niniwe. Allah hendak menghukum mereka sebab mereka pantas untuk itu, tapi mereka bertobat dan Allah menyelamatkan mereka semuanya.
Karena itu di sinilah poinnya: siapa mau bertobat, Allah bersedia memberi keselamatan. Itu penting untuk diingat.
“Anda lihat, tujuan Allah ialah menghancurkan bangsa karena kerusakan akhlak mereka, bukan untuk membinasakan mereka yang ingin bertobat. Banyak ayat mengindikasikan bahwa keinginan Allah yang terutama adalah mengeluarkan bangsa-bangsa itu dari tanah yang telah dijanjikan sejak lamapada Israel. Dengan cara itu, Israel dapat masuk dan bebas dari kerusakan moral yang bisa mematikan seperti penyakit kanker.Allah ingin menciptakan lingkungan di mana Mesias bisa datang demi kebaikan orang banyak melalui sejarah.”
“Pola itu, ialah bahwa orang-orang telah mendapat banyak peringatan?” tanyaku.
“Tentu saja,” jawabnya. "Dan pertimbangkan ini: sebagian besar wanita dan anak-anak telah melarikan diri sebelum pertempuran dimulai, meninggalkan para serdadu yang berperang melawan Israel. Tentara yang bertahan ialah mereka yang dengan keras kepala menolak untuk pergi, merekalah yang membawa kerusakan akhlak. Dengan demikian patut dipertanyakan berapa banyak wanita dan anak-anak yang terlibat.
“Di samping itu, Allah telah memberikan peraturan pada Israel, kapanpun mereka hendak masuk ke kota musuh, mereka harus memberikan tawaran secara damai. Orang-orang itu memiliki pilihan: mereka bisa menerima tawaran itu dan tidak dibunuh, atau menolaknya atas risiko mereka sendiri. Itu sudah sepantasnya dan adil.”
Aku harus mengakui bahwa pengertian itu membawa titik terang atas masalah ini, terutama komentar Geisler tentang peringatan yang telah diberikan dan kemungkinan bahwa wanita dan anak-anak telah terevakuasi sebelum peperangan. Ayat-ayat Alkitab sangat menolong untuk memahami bahwa Israel menawarkan perdamaian terlebih dahulu sebelum memerangi suatu bangsa. Selain itu, pola Alkitab ialah bahwa orang-orang diberikan kesempatan untuk bertobat sehingga terhindar dari penghukuman
“Jika begitu, apakah Tuhan tidak plin-plan?” “Tidak, Dia tidak berlaku seenaknya, Dia tidak kejam. Tapi, Lee, saya harus mengatakan sesuatu: tanpa dapat disangkal lagi, Dia adil. Sifat-Nya lah yang menuntut untuk memberikan penghukuman bagi mereka yang tetap berada dalam jalan yang jahat. Dan bukankah seharusnya itu yang Dia lakukan? Bukankah itu yang kita inginkan demi keadilan? Satu kunci yang harus diingat yaitu sepanjang sejarah, bagi mereka yang bertobat dan berbalik kepada-Nya, Allah penuh belas kasih, pengampun, murah hati, dan baik. Pada akhirnya, kita melihat keadilan-Nya.”

lalu bagaimana dgn anak2 kecil yang mati dibunuh oleh nabi Yosua dan pengikutnya…? apakah anak2 ini bersalah dan pantas dihukum mati…? sedangkan dalam suatu kitab dikatakan ; anak tidak ikut menanggung dosa orangtuanya…

salam…

Intinya bgini:
Otoritas membunuh tidak Tuhan brikan kepada orang per orang scr individual.

Otoritas membunuh Tuhan berikan kepada bangsa dan Negara.
Bangsa dan Negara diberikan otoritas untuk membunuh pelanggar hukum maupun bangsa dan negara lain sesuai pengaturan Allah.

Paulus memahami prinsip ini dan dia berkata :

Rm 13:4
Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.

Mngenai orang-orang Kanaan yg dpunahkan oleh Tuhan, ada nas :

Kej 15:16
Tetapi keturunan yang keempat akan kembali ke sini, sebab sebelum itu kedurjanaan orang Amori itu belum genap

Ayat ini diucapkan Allah kpd Abraham jauh sblm Musa lahir.
Bangsa Amori yg mduduki tanah Kanaan hidup dalam kedurjanaan. Smakin hari kdurjanaan mreka smakin btambah. Saya yakin bhw Tuhan telah brupaya mpertobatkan bangsa ini, tetapi mreka memilih jalan yg sesat.
Tuhan telah mrencanakan pemunahan thd bangsa ini bahkan dari jaman Abraham. Kita dpt katakan bhw anak-anak yg lahir pd masa Israel masuk Kanaan adl anak-anak yg lahir dlm dosa dan bkecenderungan dosa.
Ada kalanya dmn watak, perangai dan kpribadian manusia telah dmikian rusak oleh dosa shg mreka harus dibinasakan sblm mnyebarkannya kpd orang lain (ingat kasus Nuh).

Skilas kita mlihat kekejaman Allah atas manusia, tp sbnarnya yg kita lihat adl btapa kjamnya dosa yg membinasakan manusia.

Tp Israel (sbg bangsa) juga tidak luput dari hukuman Allah. Pd saat Israel mnyimpang dari Taurat, Tuhan datangkan bangsa Asyur dan bangsa Babel utk mhancurkan mreka, mbunuh penduduk sampai anak-anak dan mbuang sisa yg masih hidup ke seluruh penjuru daerah kkuasaan mreka.

Tuhan berlaku adil dlm mhakimi dosa.


Mngenai dosa anak dan dosa orang tua, kita lihat nas ini :

Kel 34:7
yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.

Saya yakin anak-anak Kanaan itu slain lahir dalam dosa, mreka jg mnanggung dosa orang tuanya. Bayangkan dosa brapa generasikah yg mreka tanggung sdgkn kita tau bhw dari jaman Abrahampun orang Kanaan sudah hidup dlm dosa.

Kutuk dosa generasi ini baru diputuskan sejak jaman Yesus, yaitu bagi mreka yg pcaya kpd Anak Allah.
Bagi yg tidak, kutuk dosa generasi ini tetap berlaku.

Maka itu, btapa dahsyatnya akibat dosa pd manusia Bro…

@Bung KahLiL…

terimaksih banyak untuk bung KahLiL yg telah bersedia untuk menterjemahkannya untuk saya…sekali lagi terimaksih…

salam…

@bung SiiP…

Lalu bagaimanakah dgn orang2 IsraeL…? Apakah mereka yg telah membunuh itu dibebaskan dari dosa oleh ALLAH…?

salam…