Learn from Tionghoa Indonesia

Apanya disahkan??

kaya buat proposal ajah…nunggu ACC

saya sendiri keturunan Tionghoa… tapi di bagian yang masih hidup sederhana… menengahlah… kebetulan punya banyak temen yang mereka sebut sendiri pribumi(bukan saya yg bilang ya) ya bagi saya si… berteman ma siapa aja ga ada beda… bahkan mereka cukup baik… ^^

Moga proposalku segera di’acc (ga nyambung ya? Hehe)

moga2 dana nya lebih2 yaa…(malah OOT tingkat dewa) XD

emang siapa gak sadarkan diri bro?

wkwkw… saya tionghwa sumatra bro dan ga bisa ngomong chinese.
Tergantung daerah nya juga sih, kalau masi rada pedalaman biasanya agak kolot dan masih cenderung mempertahankan budaya asal.

Sisi positif nya sih jadi multi language, bisa mandarin, tiochiu, hokkian dst. Itu merupakan salah satu talenta.

Tp sisi negatifnya: kebanyakan masih kolot, masih rasisme, dan cenderung agak sombong karena merasa memiliki darah asing.

Yang lucu kadang waktu ke warung, yg punya warung org tionghwa, eh uda main ngomong chinese aja… terpaksa dah ngomong: sori, wa boi hiau la… hahaha

masih mending masih bisa bilang “sori, wa boi hiau la”, lah gw malah bilang…“maaf Suk/ai…tadi ngomong apa ya?” hehehehe…tanya harga dikasih tau golongan go cap, dll…udah pada gak paham…XD

Sadar dari apa?
Ga pingsan kok, hehe…

Proposal skripsi nichjadi ga pake dana-danaan, hehe…

masukin ajah dana nya…kan skripsinya bikin proyek…hahaha

Kmu yang ngasi dana ya, hwkwk…

paling nggak dgn menguasai “cetiaw, notiaw, cepekceng, gopekceng, etc…” bisa nego harga n syukur2 lbh murah klo belanja di Glodok n Mangga dua :happy0071:

sedikit gak setuju nih dengan pernyataan di atas…
pertanyaan nya sekarang kenapa bisa seperti itu??
benar hny karena rasa iri??
kalo boleh mengutip kata pepatah “tak mungkin ada asap kalau tak ada api…”

thx… :wink:

tanyakan ke segelintir orang yang mau kaya tapi tak mau berusaha…

segelintir orang yang berpikir bahwa mereka harus menjadi TUAN di tanah

mereka sendiri, tanpa mau memulai dari menjadi seorang ANAK BUAH…

Jujur, meski kami(tionghoa) lahir dan besar di Indonesia, tapi rasanya

kami terus dianggap sebagai pendatang, meski sudah punya akta lahir

dan nama Indonesia…

:slight_smile:

kalau masalah dianggap sebagai pendatang sih wajar,
secara terdapat perbedaan (fisik dan budaya) yang memang nyata jelas…
jangankan tionghoa, dari suatu suku merantau kedaerah lain yang bukan asli daerahnya pasti juga akan merasa diasingkan…
tapi menurut saya itu hanya sebatas perasaan, kalau kita memang mau mendekatkan diri dengan lingkungan pasti akan berbeda lagi kondisinya…
yang ingin saya sampaikan, dari pernyataan diatas seolah-olah kondisi tersebut terjadi karena kesalahan orang2 yang non-tionghoa…
bisa saja kan (memang) orang tionghoa nya yang menganggap diri mereka berbeda dari yang lain, jadi orang lain (non-tionghoa) juga sedikit sulit untuk mendekatkan diri…

thx :wink:

kami memang berbeda, dan mereka(non-tionghoa) juga merasa sulit untuk mendekatkan diri ke kami. Tapi ketika kami berusaha mendekatkan diri, kenapa seolah kami seperti di perlakukan seenaknya? kami juga manusia, kami juga mau bergaul. Jadi jangan salahkan kami jika akhirnya kami menarik diri dan lebih nyaman dengan komunitas sendiri, sehingga memunculkan rasa iri oleh kaum diluar kami…

:slight_smile:

saya maklumi memang benar terkadang ada rasa diskriminasi terhadap kaum minoritas, tapi tak sedikit juga yang berbuat sebaliknya…
katakanlah orang tionghoa yang jadi pimpinan (bos) dan punya anak buah non-tionghoa, anda juga pasti menyadari kalau gak sedikit perlakuan kasar yang terjadi yang dilakukan si bos sama anak buahnya…
dan saya yakin hal itulah yang sedikit banyak membuat rasa “perbedaan” itu semakin besar…
:slight_smile:

Daniel 2:43.

Seperti tuanku lihat besi bercampur dengan tanah liat, itu berarti mereka akan bercampur oleh perkawinan, tetapi tidak akan merupakan satu kesatuan, seperti besi tidak dapat bercampur dengan tanah liat.

Rupanya sudah dinubuatkan oleh Tuhan bahwa kesatuan suku2 akan sulit terjadi.

Kecuali sama2 menjadi anak Tuhan, jadi satu keluargaNya maka persatuan akan tercapai.

Mempunyai adat istiadat yang sama yaitu kasih.

Kecuali itu maka masing2 akan saling melihat kesalahan suku lain, dan tidak melihat kesalahan sukunya sendiri.

Orang Tionghoa atau non Tionghoa sama2 punya kelebihan dan kelemahannya masing2. Seharusnya saling memaafkan dan saling mengisi, tapi maklum namanya manusia sebelum benar2 didalam Tuhan tidak mungkin bisa berbuat kasih. Akhirnya saling mendendam dan saling melihat pihak lain salah.

Namanya bos biar tionghoa maupun non tionghoa biasanya sering merendahkan anak buah.

aku lahir dari darah keturunan, tapi wajahku nggak memperlihatkan keturunan chinese banget…yah mungkin cuma kulit dan beberapa di wajah, kaya mata. tapi kebanyakan temanku menganggap aku pribumi, sehingga kadang jika ngatain orang2 kaumku, seenaknya gitu di depanku…hahaha, aku bersyukur dilahirkan dengan wajah seperti ini, jadi bisa mengerti bagaimana orang2 di luar kaumku…hehehe. dan hal yang sama juga aku lihat saat temen2 kaumku berkumpul dengan golonganya…yah hampir sama lah…hahaha

sebenernya kembali ke lingkungan dan individu masing2… XD