Lebih berbahagia memberi daripada menerima

Sekitar satu tahun yang lalu, saya berbincang-bincang dengan beberapa teman saya–lalu muncul sebuah percakapan yang membahas tentang betapa mahal nya jam tangan milik salah satu teman saya, jam tangan nya bisa dikatakan seharga sebuah mobil. Salah satu teman saya bertanya kepada si pemilik jam ini, “Mengapa kamu membeli jam tangan semahal itu? Apa bedanya dengan jam tangan biasa?” Orang yang memiliki jam tersebut pun menjawab: “Kalo kamu bisa mendapatkan yang paling baik, mengapa kamu harus mengambil yang biasa?”

Ketika mendengar percakapan ini, saya sadar betapa keliru nya pandangan yang dunia ini seringkali berikan. Kita terjebak di sebuah masyarakat yang penuh dengan keserakahan. “Jika engkau mengambil lebih banyak, engkau akan memiliki lebih banyak, dan engkau akan lebih bahagia.” Lagi-lagi saya akan mengatakan hal-hal yang mungkin kebanyakan orang tidak suka. Tetapi janganlah keraskan hati kalian, coba dengarkanlah terlebih dahulu apa yang saya coba katakan. Ini adalah sebuah gagasan yang saya percaya telah Tuhan letakkan di hati saya. “Kaya bukanlah tentang seberapa banyak yang kau miliki, tetapi tentang seberapa banyak engkau memberi.” Kaya bukanlah apa yang nampak di luar oleh dunia, tetapi apa yang nampak di dalam oleh Tuhan.

Ini adalah salah satu hal yang paling aneh yang terjadi di dalam hidup saya. Sejak kecil saya memiliki keinginan untuk menjadi orang kaya, orang yang memiliki banyak uang, orang yang memiliki rumah besar dan mobil mewah. Ini tipikal tujuan hidup kebanyakan orang bukan? Saya melihat orang-orang yang hidup nya dari tidak memiliki banyak uang, lalu menjadi seorang millionaire dengan mobil ferrari sangatlah keren. Saya ingin menjadi orang itu. Tetapi entah mengapa, setelah saya mengenal Kristus, saya melihat itu sebagai sesuatu yang tidak begitu keren lagi.

Saya takjub ketika melihat orang bekerja keras hingga dia bisa mengubah nasib nya menjadi orang yang sukses dan kaya. Tetapi saya lebih takjub lagi ketika melihat orang-orang yang memilih untuk memberikan seluruh kekayaan nya untuk membantu orang-orang yang tidak mampu, orang-orang yang memilih untuk menghabiskan hidup nya melayani di tempat-tempat miskin–entah mengapa itu terlihat begitu luar biasa indah bagi saya. Dan entah mengapa saya ingin menjadi seperti orang-orang itu–Orang-orang yang memiliki segala harta kekayaan dunia ini, tetapi memilih untuk memberikan segalanya kepada mereka yang tidak memiliki apa-apa.

Orang-orang sering bertanya kepada saya: “apa tujuan hidupmu?” Saya seringkali terdiam, lalu tertawa kecil dan mengatakan “tujuan hidup saya agak aneh.” Tujuan hidup saya adalah untuk memberi, bagi saya seorang yang kaya bukanlah seseorang yang memiliki banyak, melainkan seseorang yang memberikan banyak.

Jika saya memiliki begitu banyak uang, lalu saya menghabiskannya untuk sebuah mobil ferrari, maka saya gagal. Jika saya memiliki begitu banyak uang, lalu saya memberikan nya kepada mereka yang membutuhkan, maka saya adalah orang paling sukses di dunia. Saya tau saya tau, ini terdengar seperti sok baik sekali. Ya saya setuju, saya juga merasa saya sok baik sekali ketika mengatakan hal seperti ini. Namun saya tidak berbohong ketika saya mengatakan keinginan dan pemikiran seperti ini benarlah ada. Dan ini bukan karena saya adalah orang yang begitu baik. Tidak! Ini sama sekali bukan karena kebaikan saya. Ini semua karena kasih Tuhan, Ia yang telah meletakkan keinginan itu di hati saya, Ia lah yang telah mengajarkan saya akan kebahagiaan di dalam memberi.

“Dalam segala perkara saya sudah memberi teladan kepadamu bahwa dengan bekerja keras seperti ini kita harus menolong orang-orang yang tidak kuat. Karena kita harus ingat akan apa yang Tuhan Yesus sendiri sudah katakan, ‘Lebih berbahagia memberi daripada menerima.’” (Kis 20:35).

Saya tidak menyuruh anda harus memberi dan membantu mereka yang berkekurangan. Dan saya juga tidak mengatakan karena saya Kristen, maka saya harus hidup memberi. Kekristenan bukanlah tentang “keharusan”, Kekristenan adalah tentang “saya ingin.” Karena Tuhan telah mengubah hati saya, saya jadi INGIN memberi, saya jadi INGIN mengasihi, saya jadi INGIN melayani.

For God so loved the world that He gave His only begotten Son, that whoever believes in Him should not perish but have everlasting life (John 3:16).

Karena Tuhan mengasihi, maka Ia MEMBERI. Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa kita para manusia. Seluruh hidup Yesus adalah tentang memberi. Ia menghabiskan hidup nya untuk melayani.

Apakah tujuan hidupmu jugalah untuk memberi dan melayani seperti Yesus memberi dan melayani?

Add line atau instagram kami untuk mendapatkan notifikasi update renungan terbaru dari website kami.
Official Line: @pkx3578b (pakai @)
Instagram: @gracedepth
Instagram penulis: @revyhalim

Semoga renungan-renungan kami bisa menjadi berkat.God Bless! :smiley: