love at the first sight

“Nothing Last Forever”
Enam Batu Ujian Cinta

Oleh: Walter Trobish

Bagaimana kami tahu bahwa cinta kami cukup dalam untuk menghantar kami
kearah berdampingan seumur hidup, menuju kepada kesetiaan yang sempurna?
Bagaimana kami dapat yakin bahwa cinta kami ini cukup matang untuk di ikat sumpah nikah serta janji untuk berdampingan seumur hidup sampai maut memisahkan?

Pertama, Ujian untuk merasakan sesuatu bersama.

Cinta sejati:
*) ingin merasakan bersama, memberi, mengulurkan tangan.
*) memikirkan pihak yang lainnya, bukan memikirkan diri sendiri.

  • Jika kalian membaca sesuatu, pernahkah kalian berpikir, aku ingin membagi ini bersamanya?
  • Jika kalian merencanakan sesuatu,adakah kalian hanya berpikir tentang
    Apa yang ingin kalian lakukan, ataukah apa yang akan menyenangkan pihak lain?
    Sebagaimana Herman Oeser, seorang penulis Jerman pernah mengatakan,
    "Mereka yang ingin bahagia sendiri,janganlah kawin. Karena yang penting
    dalam perkawinan ialah membuat pihak yang lain bahagia.
    Mereka yang ingin dimengerti pihak yang lain, janganlah kawin. Karena yang penting disini ialah mengerti pasangannya.

Maka batu ujian yang pertama ialah:
“Apakah kita bisa sama-sama merasakan sesuatu?
Apakah aku ingin menjadi bahagia atau membuat pihak yang lain bahagia?”

Kedua, Ujian kekuatan.
Saya pernah menerima surat dari seorang yang jatuh cinta, tapi sedang
risau hatinya. Dia pernah membaca entah di mana, bahwa berat badan
seseorang akan berkurang kalau orang itu betul-betul jatuh cinta. Meskipun dia sendiri mencurahkan segala perasaan cintanya, dia tidak kehilangan berat badannya dan inilah yang merisaukan hatinya. Memang benar, bahwa pengalaman cinta itu juga bisa mempengaruhi keadaan jasmani.
Tapi dalam jangka panjang cinta sejati tidak akan menghilangkan kekuatan kalian; bahkan sebaliknya akan memberikan kekuatan dan tenaga baru pada kalian. Cinta akan memenuhi kalian dengan kegembiraan serta membuat kalian kreatif, dan ingin menghasilkan lebih banyak lagi.

Batu ujian kedua:
“Apakah cinta kita memberi kekuatan baru dan memenuhi kita dengan
Tenaga kreatif, ataukah cinta kita justru menghilangkan kekuatan dan tenaga kita?”

Ketiga, Ujian penghargaan.
Cinta sejati berarti juga menjunjung tinggi pihak yang lain. Seorang
Gadis mungkin mengagumi seorang jejaka, ketika ia melihatnya bermain bola dan mencetak banyak gol. Tapi jika ia bertanya pada diri sendiri, “apakah aku mengingini dia sebagai ayah dari anak-anakku?”, jawabnya sering sekali menjadi negatif.
Seorang pemuda mungkin mengagumi seorang gadis, yang dilihatnya sedang berdansa. Tapi sewaktu ia bertanya pada diri sendiri, “apakah aku mengingini dia sebagai ibu dari anak-anakku?”, gadis tadi
mungkin menjadi sosok lain yg “akan berubah” dalam pandangannya.

Pertanyaannya ialah: “Apakah kita benar-benar sudah punya penghargaan
Yang tinggi satu kepada yang lainnya?
Apa aku bangga atas pasanganku?”

Keempat, Ujian kebiasaan.
Pada suatu hari seorang gadis Eropa yang sudah bertunangan datang pada
saya.
Dia sangat risau, “Aku sangat mencintai tunanganku,” katanya, “tapi aku
tak tahan caranya dia makan apel.” Gelak tawa penuh pengertian memenuhi
ruangan.
"Cinta menerima orang lain bersama dengan kebiasaannya. Jangan kawin
berdasarkan paham cicilan, lalu mengira bahwa kebiasaan-kebiasaan itu
akan berubah di kemudian hari. Kemungkinan besar itu takkan terjadi. Kalian harus menerima pasanganmu sebagaimana adanya beserta segala kebiasaan dan kekurangannya.
Pertanyaannya: “Apakah kita hanya saling mencintai atau hanya saling
menyukai?”
Bersambung …

Sambungan …
Kelima, Ujian pertengkaran.
Bilamana sepasang muda mudi datang mengatakan ingin kawin, saya selalu
menanyakan mereka, apakah mereka pernah sesekali benar-benar bertengkar,tidak hanya berupa perbedaan pendapat yang kecil, tetapi benar-benar bagaikan berperang. Seringkali mereka menjawab, “Ah, belum pernah, pak, kami saling mencintai.” Saya katakan kepada mereka, “Bertengkarlah dahulu - barulah akan kukawinkan kalian.”
Persoalannya tentulah, bukan pertengkarannya, tapi kesanggupan untuk saling berdamai lagi. Kemampuan ini mesti dilatih dan diuji sebelum kawin. Bukan seks, tapi batu ujian pertengkaranlah yang merupakan pengalaman yang “dibutuhkan” sebelum kawin.
Pertanyaannya: “Bisakah kita saling memaafkan dan saling mengalah?”

Keenam, Ujian waktu.
Sepasang muda mudi datang kepada saya untuk dikawinkan. “Sudah berapa
Lama kalian saling mencintai?” tanya saya. “Sudah tiga, hampir empat
minggu,” jawab mereka. Ini terlalu singkat. Menurut saya minimum satu tahun bolehlah. Dua tahun lebih baik lagi.
Ada baiknya untuk saling bertemu, bukan saja pada hari-hari libur atau hari minggu dengan berpakaian rapih, tapi juga pada saat bekerja di dalam hidup sehari-hari, waktu belum rapi, atau cukur, masih mengenakan kaos oblong, belum cuci muka, rambut masih awut-awutan, dalam suasana yang tegang atau berbahaya.
Ada suatu peribahasa kuno, “Jangan kawin sebelum mengalami musim panas dan musim dingin bersama dengan pasanganmu.”
Sekiranya kalian ragu-ragu tentang perasaan cintamu, sang waktu akan
memberi kepastian.
Tanyakan: “Apakah cinta kita telah melewati musim panas dan musim
dingin? Sudah cukup lamakah kita saling mengenal?”

Dan izinkan saya memberikan suatu kesimpulan yang gamblang.
Seks bukan batu ujian bagi cinta. "Jika sepasang muda mudi ingin punya hubungan seksual untuk mengetahui apakah mereka saling mencintai, perlu ditanyakan pada mereka, “Demikian kecilnya cinta kalian?”
Jika kedua-duanya berpikir,
“Nanti malam kita mesti melakukan seks - kalau tidak pasanganku akan
mengira bahwa aku tidak mencintai dia atau bahwa dia tidak mencintai aku,” maka rasa takut akan kemungkinan gagal sudah cukup menghalau keberhasilan percobaan itu.
Seks bukan suatu batu ujian bagi cinta, sebab seks akan musnah saat
diuji.

Cobalah adakan observasi atas diri saudara sendiri pada waktu saudara
pergi tidur.
Saudara mengobservasi diri sendiri, kemudian tidak bisa
tidur.
Atau saudara tidur, kemudian tidak lagi bisa mengobservasi diri
sendiri.

Sama benar halnya dengan seks sebagai suatu batu ujian untuk cinta.

Saudara menguji dengan Sex , sesudah itu tidak lagi mau mencintai.
Atau saudara mencintai,kemudian tidak mengujinya dengan Sex.
Untuk kepentingan cinta itu sendiri, cinta perlu mengekang sex alias menyatakan dirinya secara jasmaniah sampai bisa dimasukkan kedalam dinamika segitiga perkawinan.

Saya pribadi punya pengalaman manis dengan love at first sight.
pada bulan oktober tahun 2000 dalam suatu acara Retreat kampus
saya melihat seorang cewe sebut saja D yang saya rasakan sangat berbeda di hati saya.
sungguh, saya jatuh cinta pada pandangan pertama.

saya lalu minta bantuan teman untuk dikenalkan D,
singkat kata saya melakukan pendekatan dan akhirnya 7 bulan kemudian pada bulan mei 2001 kami berpacaran.
masa pacaran kami kurang lebih 5 tahun
sempat pacaran jarak jauh, saya bekerja di Jakarta dan D di semarang selama kurang lebih 3 tahun,
pada tahun 2006 kami bertunangan
dan pada tahun 2007 kami menikah.

saya merasa sangat beruntung karena Tuhan Yesus mengaruniakan D menjadi istri saya,
dan saya selalu berdoa pada Tuhan,

“Tuhan tolong berikan kepada saya selalu perasaan yang sama seperti ketika saya pertama kali jatuh cinta kepada D”

cinta klo masih memandangnya masih dari jarak jauh, masih ada rasa penasaran, tapi setelah dekat akan ada rasa kabur dari penglihatan,

wah amazing yaaaa… congrat !!!

tap saya salah memilih orang… anda bertemu pada situasi yg bener-bener tepat satu dlam Tuhan tp sy tidak :smiley: :smiley: sudahlah… itu sudah berlalu thx for reply…