Makarios Agung dari Mesir

http://www.holytrinityorthodox.com/calendar/los/January/19-01.htm

Rahib Makarios Agung dari Mesir dilahirkan di desa Ptinapor di Mesir Hilir. Memenuhi keinginan orang tuanya ia masuk ke dalam hidup pernikahan, namun segera menjadi duda. Setelah memakamkan istrinya, Makarios berkata pada dirinya sendiri: “Waspadalah, Makarios, perhatikanlah jiwamu, karena menjadi kewajibanmu untuk meninggalkan kehidupan duniawi”. Tuhan menganugerahi janasuci ini dengan umur panjang, namun semenjak waktu itu kewaspadaan tentang kematian terus-menerus hinggap kepadanya, yang akhirnya membawanya kepada kehidupan doa dan pertobatan. Ia mulai lebih sering mengunjungi gereja dan lebih mendalami Kitab Suci, namun ia tidak meninggalkan kedua orangtuanya yang sudah berusia lanjut - dan dengan demikian memenuhi perintah untuk menghormati orang tua. Sampai orangtuanya meninggal, Rahib Makarios (“Makarios” - dari bahasa Yunani yang berarti “diberkati”) mengerahkan segenap usahanya untuk menghidupi orang tuanya dan ia mulai berdoa sungguh-sungguh, bahwa Tuhan akan menunjukkan kepadanya seorang pembimbing di jalan menuju keselamatan. Tuhan mengabulkan doanya dengan mengirimkan seorang rahib tua yang berpengalaman, yang tinggal di padang gurun tidak jauh dari desa. Rahib tua itu membawa Makarios muda dengan kasih sayang, membimbingnya dalam pengetahuan rohani tentang kewaspadaan, puasa dan doa, serta mengajarinya kerajinan keranjang tenun. Setelah membangun sebuah sel terpisah tidak jauh darinya, sang rahib tua menempatkan muridnya di dalamnya.

Suatu hari, uskup setempat tiba di Ptinapor dan, setelah mengetahui tentang kehidupan saleh rahib itu, memintanya menjadi imam di gereja, yang sebenarnya bertentangan dengan keinginannya. Tapi Makarios yang terberkati akhirnya kewalahan oleh gangguan dari kehidupan pertapaannya, dan karena itu ia diam-diam pergi ke tempat lain. Sang Musuh keselamatan memulai mengganggu sang pertapa itu, dan mencoba untuk menakut-nakutinya, menggoncang-goncangkan selnya dan memasukkan pikiran-pikiran berdosa. Makarios yang terberkati menepis segala serangan Iblis tersebut, membela diri melalui doa dan tanda salib. Orang-orang jahat memfitnah janasuci ini, dengan menuduhnya menghamili seorang gadis dari desa terdekat. Mereka menyeretnya keluar dari selnya, dan mencemoohnya. Rahib Makarios bertahan dalam ujian tersebut dengan kerendahan hati yang besar. Uang yang diperolehnya dari menenun keranjang ia kirim tanpa keluhan bagi kesejahteraan gadis tersebut. Ketidak bersalahan Makarios terungkap ketika gadis, yang merasa khawatir selama berhari- hari, ternyata kesulitan melahirkan. Dalam penderitaannya, perempuan itu kemudian mengakui bahwa dia telah memfitnah si pertapa, dan ia mengakui siapa sebenarnya yang menghamilinya. Ketika orang tuanya tahu kejadian sebenarnya, mereka terkejut dan bermaksud menemui rahib itu dengan menyesal. Tapi sang rahib, dalam usahanya menjauhkan diri dari keributan banyak orang, pergi tempat itu pada malam hari dan menetap di sebuah gunung bernama Nitrian, di padang gurun Pharan. Seperti itulah kejahatan manusia bersumbangsih pada kehidupan rohani orang benar. Setelah berdiam di padang gurun selama tiga tahun, ia pergi ke Janasuci Anthony Agung, bapak monastisisme Mesir, yang ia dengar masih hidup di dunia, dan yang ia rindukan untuk ditemui. Rahib Abba Anthony menerima dia dengan kasih, dan Makarios menjadi murid setia dan pengikutnya. Rahib Makarios tinggal bersamanya untuk waktu yang lama dan kemudian, atas saran dari sang abba suci, ia pergi ke biara padang gurun-Skete (di bagian barat laut Mesir). Dia terkenal di sana oleh karena laku asketisnya sehingga ia disebut “seorang penatua muda”, sejauh hampir mencapai usia tiga puluh tahun, ia tampil sebagai seorang rahib yang berpengalaman dan matang.

Rahib Makarios bertahan dari banyak serangan setan : suatu hari ketika ia sedang membawa cabang pohon palem dari padang gurun untuk ditenun menjadi keranjang, suatu roh jahat menemuinya di jalan dan ingin menyerangnya dengan sabit, namun sia-sia saja, dan ia berkata : “Makarios, aku sangat menderita karena aku tak mampu untuk mengalahkanmu, baju zirahmu,yang kau pakai untuk bertahan dariku, adalah kerendahan hatimu”. Ketika janasuci itu berusia 40 tahun, ia ditahbiskan menjadi seorang imam dan diangkat sebagai kepala (abba) dari para biarawan yang tinggal di padang gurun Skete. Selama tahun-tahun tersebut rahib Makarios sering dikunjungi oleh rahib Anthony yang Agung, dan menerima bimbingan darinya dalam percakapan rohani. Makarios yang terberkati dianggap layak untuk hadir pada kematian sang abba suci itu dan pada gilirannya ia menerima tongkat estafet sang abba , bersama-sama dengan dua kali kekuatan rohani dari Anthony Agung - seperti layaknya yang diterima nabi Elisa, yaitu dua kali anugerah dari nabi Elia dalam bentuk jubahnya yang jatuh dari langit.

Ini Cerpen atau Cerber?
kok dimasukin di Ajaran Kristen?

Rahib Makarios banyak membuat mujizat penyembuhan : orang berduyun-duyun datang kepadanya dari berbagai tempat untuk meminta bantuan dan nasihat, serta meminta doa-Nya yang kudus. Semua ini, pada akhirnya mengguncang ketenangan janasuci tersebut. Karena itu ia menggali sebuah gua yang dalam di bawah selnya dan memberi dirinya di sana untuk berdoa dan merenung. Sang rahib Makarios mencapai tingkatan seperti berjalan di hadapan Allah, dan melalui doanya Tuhan menghidupkan kembali orang mati. Meskipun sudah mencapai tingkat rohani setinggi itu, ia terus mempertahankan kerendahan hati yang luar biasa. Suatu hari sang abba suci menangkap basah seorang pencuri yang sedang mengikatkan barang-barang sang abba tersebut diatas seekor keledai di dekat selnya. Tanpa memberikan kesan bahwa ialah pemilik barang-barnag tersebut, sang rahib mulai dengan diam-diam untuk membantu si pencuri mengikatkan beban diatas keledai itu. Oleh karena sudah melepaskan dirinya dari keinginan dunia, sang biarawan berkata pada dirinya sendiri: “Kita tidak membawa apa-apa ke dalam dunia ini, dan jelas, tidak mungkin untuk membawa apa pun keluar dari dunia ini. Terpujilah Tuhan dalam segala hal!”.

Suatu hari rahib Makarios sedang berjalan-jalan dan, kebetulan melihat sebuah tulang tengkorak tergeletak di tanah, ia bertanya kepada tengkorak itu: “Siapakah engkau?” Tengkorak itu menjawab: “Aku adalah seorang kepala-imam kafir. Ketika engkau, Abba, berdoa bagi mereka yang ada di neraka, kami menerima sedikit kelegaan”. Biarawan itu bertanya: “Apa siksaan yang kalian terima?” “Kami sedang duduk di atas api yang besar, - jawab tengkorak itu, - dan kami tidak bisa saling melihat satu sama lain. Ketika engkau berdoa, kami mulai sedikit bisa melihat satu sama lain, dan ini memberi kami sedikit kelegaan.” Setelah mendengar kata-kata itu, sang biarawan itu mulai menangis dan bertanya: “Apakah ada siksaan yang lebih berat lagi?” Tengkorak itu menjawab: “Jauh di bawah kami ada mereka, yang tahu Nama Allah, tetapi menolak-Nya dan terus melanggar perintah-Nya. Mereka mengalami siksaan yang lebih pedih.”

Suatu kali selama berdoa, Makarios yang terberkati mendengar suara: “Makarios, engkau mencapai tingkat seperti yang dimiliki dua perempuan yang tinggal di kota”. Petapa yang rendah hati itu segera mengambil tongkatnya, pergi ke kota, menemukan rumah di mana wanita-wanita itu tinggal, dan mengetuk. Para wanita tadi menerimanya dengan sukacita, dan sang rahib berkata: “Karena kalianlah aku telah datang dari padang gurun yang jauh, dan kini aku ingin tahu tentang perbuatan baik kalian. Ceritakanlah, jangan menyimpan rahasia”. Para wanita itu menjawab dengan terkejut: “Kami hidup dengan suami kami sendiri, dan kami belum pernah melakukan kebajikan seperti yang engkau maksud”. Tapi janasuci itu tetap bersikeras, dan akhirnya kedua perempuan kemudian berkisah kepadanya: "Kami menikah dengan dua saudara kandung. Sampai sejauh ini kami tidak pernah saling menceritakan satu hal yang jahat atau perkataan yang buruk, dan kami juga tidak pernah saling bertengkar. Kami meminta kepada suami kami masing-masing untuk mengijinkan kami hidup di sebuah biara wanita, tapi mereka tidak setuju, dan kami sudah bersumpah untuk tidak mengucapkan satu katapun yang sia-sia sampai kami mati ". Petapa suci itu memuliakan Allah dan berkata: “Sebenarnya Tuhan tidak mencari perawan atau wanita yang sudah menikah, tidak juga biarawan atau orang biasa, tetapi sesungguhnya ia menghargai maksud bebas dari orang dalam kehendak bebasnya yang menawarkan ucapan syukur kepada Roh Kudus, yang bertindak dan yang mengatur kehidupan setiap orang, yang rindu untuk diselamatkan”.

Selama tahun-tahun masa pemerintahan Kaisar Valens - seorang bidah Arian (364-378), Rahib Makarios Agung bersama-sama dengan Rahib Makarios dari Alexandria menjadi sasaran penganiayaan dari para pengikut Uskup Arian Lukas. Mereka mengejar kedua tua-tua itu dan, mengangkut mereka dengan kapal, dan membawa mereka ke sebuah pulau liar di mana tinggal orang-orang kafir. Oleh karena doa-doa orang-orang kudus di sana, putri seorang imam kafir menerima penyembuhan, yang kemudian imam pagan dan semua penduduk pulau tersebut menerima Baptisan Kudus. Belajar dari apa yang telah terjadi, uskup Arian tersebut menjadi malu dan mengizinkan kedua tetua tersebut kembali ke biara mereka sendiri.

Kelembutan dan kerendahan hati dari sang rahib mengubah banyak jiwa manusia. “Satu kata yang buruk, - kata Abba Makarios, - membuat hal-hal baik menjadi buruk, tapi kata yang baik membuat hal buruk menjadi baik”. Mengenai pertanyaan dari para biarawan tentang bagaimana berdoa dengan benar, sang rahib menjawab: “Untuk doa, tidak diperlukan banyak kata, cukup mengatakan:” Tuhan, seperti yang Engkau kehendaki dan seperti yang Engkau tahu, kasihanilah aku “. Jika musuh jiwamu datang kepadamu, hanya itu saja yang perlu diucapkan: “Tuhan, kasihanilah!” Tuhan tahu apa yang berguna bagi kita, dan sungguh memberikan kita rahmat”. Ketika para saudara lainnya bertanya: “Dalam cara apa seharusnya seorang biarawan membawa diri?”, sang rahib itu menjawab:. "Maafkan aku, aku seorang rahib miskin, tapi aku melihat banyak rahib yang diselamatkan di padang gurun terpencil. Aku bertanya kepada mereka, bagaimana seharusnya aku membuat diriku sendiri seorang rahib. Mereka menjawab: “Jika seorang tidak benar-benar menarik dirinya dari segala sesuatu yang ada di dunia, tidak mungkin baginya untuk menjadi seorang rahib”. Saat itu aku menjawab: “Aku lemah dan tidak mampu menjadi seperti kalian,”. Para rahib itu menjawab: “Jika engkau tidak mampu untuk menjadi seperti kami, duduklah di bilik-mu dan tangisilah dosa-dosamu.”

Rahib Makarios memberi nasihat kepada salah seorang biarawan: “Larilah dari orang-orang dan engkau akan diselamatkan”. Kemudian ia balik bertanya: “Apa artinya melarikan diri dari orang-orang?” Rahib Makarios menjawab: “Duduklah dalam bilikmu dan menyesallah akan dosa-dosamu”. Ia juga mengatakan: “Jika engkau ingin diselamatkan, jadilah seperti orang yang sudah mati, yang tidak marah ketika dihina, dan tidak sombong ketika dipuji”. Dan selanjutnya: “Jika bagi dirimu sendiri, fitnah itu seperti pujian, kemiskinan itu seperti kekayaan, dan kekurangan itu seperti kelimpahan, engkau tidak akan binasa. Karena tidaklah mungkin, bahwa dalam usaha hidup saleh, orang percaya dan para asketis boleh jatuh kedalam nafsu yang kotor dan godaan setan.”

Doa dari Rahib Makarios menyelamatkan banyak orang yang ada dalam keadaan genting, dan menjaga mereka dari bahaya dan godaan. Kebajikannya sangatlah besar, sehingga mereka berkata tentang dia: "Sama seperti Allah menutupi dunia, demikian juga Abba Makarios menutupi banyak pelanggaran yang setelah ia lihat, seolah-olah tidak dilihatnya, dan setelah ia dengar, seolah-olah tidak didengarnya ".

Biarawan itu hidup sampai usia 97 tahun. Sesaat sebelum ajalnya tiba Rahib Anthony dan Pakhomios menampakkan diri kepadanya , membawa pesan sukacita tentang akan berpindahnya ia ke dalam sebuah biara Surgawi yang mulia. Setelah memberikan nasehat kepada murid-muridnya dan setelah memberi mereka berkat, sang Rahib Makarios meminta ampun kepada semua yang hadir dan berpamitan dengan kata-kata: “Ke dalam tangan-Mu, Tuhan, kuserahkan nyawaku”.

Termasuk sejarah tokoh Kristen. Karena itu sudah tepat dimasukkan di Ajaran Kristen.

Salam

Referensi tentang riwayat Makarios dari Mesir,

Loh koq postingan saya selalu hilang, termasuk postingan yang sama dengan mas moderator Oliver yaitu menanyakan referensi ? :slight_smile:

Apakah tulisan bertutur seperti di atas bisa digolongkan sebagai sejarah ? Sejarah tentang rahib yang ngobrol dengan tengkorak manusia ? Apa rahibnya gak dikutuk Tuhan kayak Saul ?Ngomong-ngomong tulisan di atas koq tidak cocok dengan sumber referensinya yak .

Tapi sudahlah, dalam nama roderick semua beres. Sumber referensi bilang A, mas roderick nulis B lalu katanya dikutip di situ, whatever-lah. Takutnya tulisan saya hilang lagi , atau sayanya yang di-delete, kalau banyak tanya. :smiley:

Yang penting hepi ;D

GBU

Abba Makarios yang kudus menghabiskan enam puluh tahun di padang gurun, yaitu dengan mati bagi dunia. Biarawan itu menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bercakap-cakap dengan Allah, yang seringkali dalam keadaan diangkat secara rohani. Namun ia tidak pernah berhenti meratap, bertobat dan bekerja. Sang abba mewariskan pengalaman pertapaannya yang kaya menjadi suatu karya teologis yang mendalam. Lima puluh pengajaran dan tujuh tulisan asketis menjadi warisan berharga dari kebijaksanaan rohani Rahib Makarios Agung.

Gagasannya adalah, bahwa berkat tertinggi dan tujuan manusia - yaitu penyatuan jiwa dengan Allah - adalah prinsip utama dalam karya-karya Rahib Makarios. Dengan mengulas sarana untuk mencapai penyatuan mistis, sang rahib bergantung pada pengalaman dari kedua guru besar monastisisme Mesir dan mendasarkan juga pada pengalamannya sendiri. Jalan kepada Allah dan pengalaman para pertapa suci dalam bergaul dengan Allah dinyatakan kepada hati setiap orang percaya. Oleh karena itu Gereja yang Kudus juga memasukkan didalam peribadatannya doa-doa dari Rahib Makarios Agung.

Kehidupan duniawi, sesuai dengan ajaran Rahib Makarios, memiliki dalam semua fungsinya sekedar kepentingan yang relatif sifatnya: untuk mempersiapkan jiwa, untuk membuatnya mampu menerima Kerajaan Sorga, untuk memupuk dalam jiwa kedekatan dengan tanah air Sorgawi. “Jiwa - bagi mereka yang percaya dalam Kristus - perlu untuk merefleksikan dan mentransformasikan dari luar kondisi rusak yang ada saat ini kedalam kondisi lainnya, yaitu kondisi yang baik: dan dari luar sifat kebinasaan yang ada, menjadi sifat Ilahi, dan dibuat menjadi baru kembali - melalui kuasa Roh Kudus”. Adalah mungkin untuk mencapai hal ini , jika “kita benar-benar percaya dan kita benar-benar mengasihi Allah dan telah masuk ke semua perintah-Nya yang kudus”. Jika jiwa, yang telah dipertunangkan dengan Kristus melalui Baptisan suci, tidak bekerja sama dalam anugerah yang diterimanya dari kasih karunia Roh Kudus, maka terkena “ekskomunikasi dari kehidupan”, seperti yang terlihat dari kurangnya mencapai keadaaan terberkati dan ketidakmampuannya untuk menyatu dengan Kristus. Dalam ajaran Rahib Makarios, pertanyaan tentang penyatuan Cinta Ilahi dan Kebenaran Ilahi diputuskan secara eksperiental. Tindakan batin orang Kristen menentukan tingkat persepsi olehnya dari penyatuan ini. Masing-masing dari kita memperoleh keselamatan melalui kasih karunia dan karunia Ilahi dari Roh Kudus, tetapi untuk mencapai ukuran kebajikan yang sempurna - yang diperlukan untuk asimilasi jiwa dari karunia Ilahi ini, hanya dimungkinkan "melalui iman dan melalui kasih dengan penguatan kehendak bebas ". Dengan demikian, “sebanyak oleh kasih karunia, sebanyak itu jugalah oleh kebenaran” orang Kristen mewarisi hidup yang kekal. Keselamatan adalah suatu tindakan manusia-Illahi: kita mencapai keberhasilan spiritual yang lengkap “tidak hanya melalui daya Ilahi dan anugerah semata, namun juga melalui kerja keras yang benar”; dari sisi lain - tidak hanya dalam “ukuran kebebasan dan kemurnian” saja kita tiba pada perhentian yang seharusnya, bukannya tanpa “kerjasama dari tangan Allah dari tempa tinggi”. Partisipasi manusia menentukan kondisi aktual jiwanya, dengan demikian menentukannya bagi kebaikan atau kejahatan. “Jika jiwa yang masih di dunia tidak otomatis memiliki pengudusan Roh bagi iman dan bagi doa, dan tidak berusaha untuk menyatu dengan persekutuan Illahi, maka ia tidak bisa hidup di kerajaan surgawi”.

Mujizat-mujizat dan dan pengelihatan Makarios yang Terberkati dicatat dalam sebuah buku oleh Presbiter Ruphinos , dan kehidupannya disusun oleh Rahib Serapion, uskup Tmuntis (Mesir Hilir), salah satu pekerja Gereja yang tersohor di abad IV.

Referensi untuk berita tentu saja berbeda konteks dengan referensi sejarah. Lagipula di sini juga sudah ada sumbernya.

Coba dipelajari dulu secara keseluruhan. Biasakan untuk tidak berprasangka buruk di awal.

Salam