Malaysia dan Tari Tor-tor

Malaysia Klaim Tarian Tor-tor asal Sumut
Minggu, 17 Juni 2012 17:15 WIB

Metrotvnews.com: Malaysia kembali mengklaim seni dan budaya Indonesia. Kali ini Tarian Tor-tor dan Paluan Gordang Sembilan masyarakat Mandailing, Sumatera Utara diklaim sebagai salah satu warisan budaya negara Malaysia.

Menteri Penerangan Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia Datuk Seri Ratis Yatim dalam wawancara di situs bernama.com menyatakan tarian tersebut merupakan salah satu cabang warisan budaya Malaysia. Ia juga akan mendaftarkan tarian tersebut ke dalam daftar warisan budaya kebangsaan Malaysia.

Menurut Rais dalam situ bernama. Com, apa yang diperjuangkan masyarakat Mandailing dalam seni dan budaya sangat penting dan sehingga dapat diketahui asal usul mereka yang menunjukan perpaduan dengan masyarakat lain.

Klaim seni dan budaya Indonesia atas Malaysia bukan sekali ini saja dilakukan Malaysia. Sebelumnya Malaysia juga pernah mengklaim lagu Rasa Sanyange, Reog Ponorogo dan Angklung sebagai warisan budaya Malaysia. (wtr5)

Sumber : http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/06/17/153288/Malaysia-Klaim-Tarian-Tor-tor-asal-Sumut/3

Malaysia Segera Patenkan Tarian Tor-Tor Sebagai Warisan Budayanya
Andri Haryanto - detikNews
Senin, 18/06/2012 04:45 WIB

Kuala Lumpur, Kementerian Informasi, Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia akan segera mengakui tarian Tor tor dan Gondang Sambilan yang selama ini dikenal di masyarakat Sumatera Utara, sebagai warisan kebudayaan nasional negeri jiran.

Dikutip dari Bernama.com, Menteri Informasi, Komunikasi, dan Kebudayaan Datuk Seri Dr Rais Yatim mengatakan, tarian Tor Tor dan alat musik Gordang Sambilan akan didaftarkan dalam Seksyen 67 sebagai Akta Warisan Kebangsaan 2005.

"“Namun (pengakuan) ini dengan syarat penampilan tarian secara periodik harus dilakukan dan aneka permainan gendang harus dipertontonkan di depan masyarakat,” kata Rais di hadapan wartawan usai membuka pertemuan komunitas Mandailing, Kamis (14/6/2012) waktu Malaysia.

Rais menambahkan, promosi seni dan budaya Mandailing sangat penting, karena dapat membuka asal usul budaya tersebut, di samping menyatukan dengan komunitas lainnya.

Sumber : http://news.detik.com/read/2012/06/18/044506/1943490/1148/?992204topnews

Ini Penjelasan Komunitas Mandailing di Malaysia Soal Tari Tor-tor
Indra Subagja - detikNews
Senin, 18/06/2012 12:07 WIB

Jakarta Komunitas Mandailing di Malaysia meminta saudara mereka di Indonesia memahami usulan soal tari Tor-tor masuk dalam warisan kebudayaan negeri jiran. Salah satu alasannya adalah agar Tari Tor-tor bisa lestari dan mendapat pengakuan negara, tidak hanya dipentaskan di rumah saja.

“Kami sudah 200 tahun di sini, sebelum wujud Malaysia dan Indonesia, kami sudah ada di sini. Kenapa tidak boleh kebudayaan Mandailing ada,” ujar tokoh Mandailing di Malaysia, Ramli Abdul Karim Hasibuan, saat berbincang dengan detikcom, Senin (18/6/2012).

Ramli juga mempersoalkan bahasa yang digunakan media di Indonesia soal ‘klaim’. Tidak ada yang namanya Malaysia mengklaim tari Tor-tor. Dia bercerita tor-tor merupakan bahasa Mandailing yang artinya tarian-tarian.

Dia bersama 500 ribu warga komunitas warga Mandailing dari berbagai macam marga di Malaysia antara lain Nasution dan Siregar, ingin budaya Mandailing diakui juga oleh pemerintahnya.

“Ini sudah hampir 70 tahun kami perjuangkan. Kemarin 14 Juni ada acara Perhimpunan Anak Mandailing, dan kami meminta kepada yang terhormat Menteri Penerangan supaya kebudayaan Mandailing diangkat sama tingginya dengan budaya China dan India, juga dengan budaya Minang dan Jawa. Saat itu disebutkan akan dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam akta warisan negara, sebagai pelestarian suatu budaya,” terang Ramli yang sempat mengajak detikcom berbicara bahasa Mandailing ini.

Ramli menegaskan, tari Tor-tor diusulkan sebagai warisan kebudayaan bangsa bukan berarti diklaim Malaysia, tapi justru agar dilestarikan, dipelihara dan dipertahankan supaya jangan hilang.

“Selepas masuk dalam pelestarian budaya, akan diberi peruntukan budget keuangan bagi kebudayaan ini. Jadi tidak ada niat Malaysia mengklaim milik Malaysia, kalau disebut itu milik Mandailing,” jelasnya.

Masyarakat Mandailing sudah selama 200 tahun berkiprah di Malaysia. Mereka tersebar mulai dari wilayah Perak, Selangor, Negeri Sembilan, hingga Kuala Lumpur. Keturunan Mandailing dari marga Nasution dan Siregar bahkan banyak yang menjadi pejabat di pemerintahan Malaysia.

“Kami ingin budaya Mandailing juga diangkat di sini. Kami berpesan kepada saudara kami di Mandailing, kami juga warga Mandailing, kami ingin kebudayaan kami diakui di Malaysia. Tidak ada diklaim, tapi dilestarikan. Bukan hanya sekadar dipentaskan di belakang rumah,” tuturnya.

Ramli mengibaratkan dengan kesenian Barongsai yang di era Gus Dur diperbolehkan dipertunjukkan di Indonesia. Tapi kesenian Barongsai itu pun tidak otomatis diklaim menjadi milik Indonesia, sebatas hanya menjadi kebudayaan saja.

“Kami hanya ingin budaya Mandailing di Malaysia dilestarikan,” tegas Ramli yang juga editor di harian Utusan Malaysia ini.

Sumber : http://news.detik.com/read/2012/06/18/120706/1943819/10/ini-penjelasan-komunitas-mandailing-di-malaysia-soal-tari-tor-tor?9911012

Alasan yang di buat semenarik mungkin… :cheesy: tetap aja buntut2nya di klaim… ;D malaysia oh malaysia… :char11:

Oh dasar negara maling ini malangsia… Lagu Indonesia terang bulan dijiplak jadi lagu kebangsaan, batik di klaim , kurang puas serakahnya sekarang tari tor-tor diklaim huuuuhhhhhhhhhhhhhhhhhhh… mental maling…

Ykoo, ada juga loh WN Malaysia yang baca-baca FK. :smiley:
hehehehe

takutnya gini yah, sekarang alasannya terlihat bijak dan indah, tapi kalau sudah ada legalitas seperti itu, 2 - 3 generasi kedepan apa masih ingat, fakta yang sebenarnya? atau persepsinya masih sama? bahaya loh kalau seperti itu. bisa-bisa orang-orang di generasi yang akan datang menganggap budaya Indonesia sumbernya dari Jiran, karena negara jiran yang melegalkan secara resmi budaya tersebut, tercatat, terdokumentasi, yang mana inilah bukti-bukti yang tersisa yang kita tinggalkan untuk generasi depan baik oleh bangsa lain maupun bangsa kita sendiri.
Contohnya aja, dokumen holocoust NAZI, G30SPKI, yang belum lama aja, banyak versi dan simpang siur/kontroversi saat ini. Jadi, sepertinya pemerintah harus serius untuk hal ini, itupun kalau menganggap hal ini adalah hal yang serius :D.

Iya benar… :afro:

klaim tolak angin aja…

kenapa bisa terjadi ?

karena indonesia “sibuk urus” yang lain

yang satu melakukan, yang lainnya sibuk membongkar. . . .

Berani sekali mereka. Padahal kita semua tahu kalau dulu Malaysia ga punya apa2.
Sejarahnya INA ngirim Dokter, guru, dll untuk bantu MAL pada saat itu.
Sekarang budaya INA disedot satu per satu.

Makin ngelunjak sejak kita pasoki para pembokat :onion-head25:
Ngeri euy mbayangin ‘azab’ nya kelak ky aa y… :onion-head48:
"sekarang trimalah “asab"mu duluu deh!” kata BABEH :rolleye0014:

emangnya mereka takut ??

ngirim tkw / tki, kembalinya dalam peti. . .

reaksi nya ada ??

KBRI: Soal Tor-tor Terjadi Kesalahpahaman
Senin, 18 Juni 2012 | 16:03 WIB

KUALA UMPUR, KOMPAS.com — Heboh tari Tor-tor dan Gondang Sambilan milik komunitas Mandailing yang akan segera diakui sebagai warisan budaya nasional Malaysia merupakan kesalahpahaman mengenai pengertian warisan dan bahasa.

“Jadi ini merupakan kesalahpahaman,” kata Kepala Bidang Penerangan, Sosial, dan Budaya KBRI untuk Malaysia, Suryana Sastradiredja, di Kuala Lumpur, Senin (18/6/2012).

Suryana mengaku telah menghubungi pihak Kementerian Penerangan, Komunikasi, Kebudayaan Malaysia dan juga Persatuan Masyarakat Mandailing di Malaysia yang memperoleh jawaban bahwa mereka tidak punya maksud untuk mengklaim tari Tor-tor dan Gondang Sambilan ini milik Malaysia.

Ia mengatakan, yang dimaksud akta warisan budaya menurut ketentuan di Malaysia adalah pencatatan terhadap warisan budaya yang dimiliki oleh orang-orang Mandailing Malaysia yang asal-usulnya dari Mandailing, Sumatera Utara, Indonesia.

“Akta warisan kebangsaan tersebut hanya mencatat asal-usul dan bukan untuk mengklaim bahwa budaya Mandailing berasal dari Malaysia,” kata Suryana.

Ia menerangkan bahwa masyarakat Mandailing sudah datang ke negeri semenanjung ini sejak ratusan tahun lalu dan sudah beranak cucu. Tentunya, keberadaan mereka di negara ini menginginkan seni dan budaya mereka ditampilkan di Malaysia.

Mereka berpendapat bahwa seharusnya budaya tersebut diangkat sama tinggi dengan budaya-budaya Indonesia yang sudah lama ada di Malaysia, seperti budaya Jawa, Minang, ataupun Bugis.

“Selama ini, budaya Mandailing tersebut jarang ditampilkan di Malaysia, padahal banyak warga negara Malaysia yang keturunan Mandailing,” katanya.

Untuk itu, dalam kesempatan acara himpunan anak-anak Mandailing di Batu Caves, baru-baru ini mereka meminta agar budaya tari Tor-tor dan Gondang Sambilan dapat dilestarikan dengan dimasukkannya ke dalam akta warisan budaya kebangsaan tahun 2005.

Dalam pertemuan tersebut, Menteri Informasi, Komunikasi, dan Kebudayaan Malaysia Datuk Seri Dr Rais Yatim, seperti dikutip Bernama, mengatakan, tarian tersebut akan didaftarkan di bawah Section 67 UU tentang warisan budaya nasional tahun 2005.

“Namun, (pengakuan ini) harus memenuhi persyaratan, di antaranya mesti ditampilkan secara periodik, yang artinya tarian dan beat gondang tersebut ditampilkan di depan publik,” katanya setelah membuka pertemuan komunitas Mandailing di Kuala Lumpur, Kamis (14/6/2012).

Rais mengatakan, promosi budaya Mandailing penting dilakukan untuk mempelajari asal-usulnya serta mempererat persatuan dengan komunitas lain.

Sejalan dengan upaya komunitas Mandailing memperkenalkan seni dan budaya maka tentulah diharapkan dapat dukungan dari kementerian untuk diakui dan diekspos ke publik Malaysia.

“Bila tercatat dalam akta warisan, tentunya kesenian dan budaya ini dapat lestari dan dipraktikkan karena akan mendapat anggaran dari Pemerintah Malaysia,” ungkap Suryana.

Sumber : http://oase.kompas.com/read/2012/06/18/16032299/KBRI.Soal.Tortor.Terjadi.Kesalahpahaman

ternyata “salah paham” toh. :azn:

Ma’av, tapi veelink saia tidak mengatakeun demikian. Ini lebih ‘laten’ dari sekedar “salah paham” ;D
Memank lidah tak bertulang… :char12: yang ada tulangnya mah opung :ashamed0004:
Hikmahnya, government makin tergerak utk kerja cerdas kerja cepat mengidentifiaksi & mengukuhkeun seluruh aset warisan budaya nusantara… UNESCO harus dibuat lembuuur :afro: amien.
Give thanks… give thanks… to The Holy One… smua yg trjadi tuk m’dtgkeun KEBAIKAN :happy0062:

iya juga yah, nggak hanya sekali ini doank tapi udah berkali-kali,
“salah paham” kok jadi hobby.
http://www.laymark.com/l/m/m052.gif

Harus dikasih pelajaran, karena memang sudah berkali-kali

INDONESIA akan dipulihkan…!!!
bukan parati-partai tapi Tangan Tuhan Yesus yang memulihkan… :slight_smile:

yoeh :wink:
pemulihan terjadi dimulai dari “sini”… terjadi atas saia, kita, then atas mereka… semua… amien!

Kalu menarikan tari tor tor dapet perpuluhannya (ROYALITY) engga sih penciptanya itu ???

GBU