Manado: Pawai Sinterklas Diwarnai Ugal-Ugalan, Miras, & Insiden Pemukulan

Editorial Tribun Manado [b]Sinterklas Tanpa Makna Natal[/b]

Sinterklas atau Santa Claus

TRIBUNMANADO.CO.ID - Cerita kakek berambut putih yang baik hati dan selalu memberikan hadiah kepada anak-anak menjelang Natal sudah menjadi legenda di seluruh dunia. Hal inilah yang diimplementasikan setiap tahun di Sulawesi Utara, terutama di Kota Manado dengan Sinterklas atau Santa Claus.

Biasanya menjelang akhir bulan November pihak gereja, komunitas dan berbagai organisasi kemasyarakatan mulai mendaftar anak-anak yang akan dikunjungi Sinterklas. Ada yang pendaftarannya gratis alias tanpa bayar. Namun, ada juga yang pendaftaran dikenai biaya administrasi dengan jumlah yang variatif.

Warga yang mempunyai anak kecil dan ingin mendaftarkan anaknya tinggal memilih kelompok Sinterklas mana yang akan diikuti. Nanti awal Bulan Desember Sinterklas mulai mengunjungi rumah anak-anak yang telah didaftarkan oleh orangtuanya.

Namun, tak semua juga Sinterkas yang berkunjung ke rumah anak-anak yang telah mendaftar. Sebab ada yang hanya menggelar di satu tempat, misalnya mall, hotel dan lainnya kemudian orangtua mengantar anak-anaknya ke lokasi tersebut.

Budaya luar yang telah masuk ke Sulut dan ramai digelar menjelang perayaan Natal ini sebenarnya tak ada salahnya. Karena Sinterklas sebenarnya membawa banyak makna kebaikan yang identik dengan pesan Natal.

Pesan yang dibawa dari aksi Sinterklas atau Santa Claus antara lain, suka memberi, anak-anak harus mendengarkan nasihat orangtua, saling menyayangi dan pesan-pesan kebaikan lainnya.

Hanya yang menjadi soal saat ini, ketika Sinterklas melakukan pawai di jalanan yang terlalu berlebihan sehingga mengganggu lalulintas. Bahkan, ada juga pemeran Sinterklas dan Piet Hitam yang telah meneguk minum-minuman keras, sehingga aksinya tak terkontrol lagi.

Hal ini menjadi dilema bagi kepolisian.Sebab di satu sisi petugas mengetahui bahwa Pawai Sinterklas merupakan bagian dari ekspresi Natal. Namun, di sisi lain peserta pawai ini telah melanggar lalulintas. Langkah bijak pun dilakukan oleh kepolisian. Yakni, siapapun komunitas yang menggelar Pawai Sinterklas harus mengantongi izin dari kepolisian setempat. Tak hanya itu, iring-iringan mobil dibatasi paling banyak lima mobil dan sepeda motor sepuluh.

Direktur Direktorat Lalu Lintas Polda Sulut Komisaris Besar Stephen M Napiun menyatakan, pihaknya menyayangkan sejumlah aksi Pawai Sinterklas yang tidak lagi mencerminkan nilai-nilai Kristiani.

Ditemui di ruang kerjanya, Selasa (9/12), Napiun menilai Pawai Sinterklas sudah kebablasan. Dia pun mengingatkan bahwa Sinterklas dan Pit Hitam tak mempunyai dasar Alkitabiah, melainkan hanya kebiasaan di beberapa negara. Meski begitu, tokoh Sinterklas dihadirkan untuk melambangkan umat Kristen yang mempunyai kasih dan memperhatikan orang lain.

Intinya, pawai sinterklas sebagai bentuk kepedulian terhadap orang lain sekaligus memberkati orang lain. Namun, dengan kebablasannya makna dari kegiatan tersebut berdampak sangat buruk kepada anak-anak.

“Saya melihat langsung ada anak perempuan yang ditakut-takuti oleh Pit Hitam dan anak kecil itu menangis. Ini sudah tidak benar lagi, sudah melenceng dari makna sebenarnya,” ucap Napiun yang juga pendeta. Selain itu, pawai sinterklas yang seharusnya memperdengarkan lagu-lagu Natal kini sudah berubah. “Kenapa tidak membawa lagu-lagu Natal biar membawa damai? Kami sebenarnya tidak melarang kegiatan seperti itu, tapi ini sudah kebablasan,” kata dia.

Sebagai pimpinan Ditlantas Polda Sulut, Napiun menegaskan bahwa kegiatan seperti itu akan dibatasi. Langkah yang diambil sudah dipikirkan secara matang dan berkonsultasi dengan beberapa pemuka agama Kristen di Sulut.

Ia pun meminta perusahaan dan komunitas masyarakat yang menyelenggarakan Pawai Sinterklas harus memenuhi peraturan. Selain perizinan, ada juga pembatasan waktu dan jumlah kendaraan yang berpawai. Artinya Pawai Sinterklas tak dilarang tetapi pelaksanaannya tak boleh mengganggu kenyamanan orang lain. Kemudian yang tak kalah pentingnya, nilai-nilai kebaikan, cinta kasih harus benar-benar tergambar dalam setiap lakon Sinterklas atau Santa Claus. Sehingga legenda ini benar-benar bermakna positif bagi anak-anak.(*)

http://manado.tribunnews.com/2013/12/14/sinterklas-tanpa-makna-natal

[b]Ketika 'Pembagi Berkat' Mulai Ugal-ugalan di Jalanan[/b]

http://beritakawanua.com/userfiles/upload/l/52a2ff27f3381.jpeg

Salah satu aksi ugal-ugalan konvoi Sinterklas di Manado (foto: harian komentar)

MANADO (BK): Bulan Desember bisa juga dikatakan sebagai bulan berkat, dimana di semua dunia maupun di setiap sisi Kota Manado, hadir yang namanya Santa Clause atau orang Manado menyebutnya Sinterklas.

Ditemani Piet Hitam, sosok tinggi besar berbaju merah dengan jenggot lebat ini dikenal sebagai pembagi berkat untuk anak-anak di seluruh dunia.

Di Kota Manado pun, aksi konvoi Sinterklas menjadi santapan setiap hari, dimana masing-masing perkumpulan, organisasi atau reunian sekolah menggelar kunjungan Sinterklas. Aksi konvoi kendaraan pun dilakukan di jalanan.

Sayangnya, image Sinterklas yang baik sebagai ‘Pembagi berkat’ berangsur menjadi jelek. Pasalnya, konvoi sinterklas saat ini mulai ugal-ugalan dan justru membahayakan masyarakat di jalanan.

Seperti yang terpantau beritakawanua.com di kawasan Tikala tepatnya di simpang 3 depan SMK Negeri 3 Manado. Iring-iringan Santa Clause dengan tulisan Razor berkendara ugal-ugalan sehingga sebuah kendaraan kontainer maupun mikrolet yang melintas nyaris terbalik.

Ceritanya, sebuah mobil berwarna kuning yang ada di dalam iring-iringan dengan audio sangat keras tiba-tiba mengencangkan laju kendaraan dan menyalip beberapa kendaraan dan langsung menerobos simpang 3.

Padahal seharusnya mobil tersebut berada dalam posisi tunggu karena berada bukan di jalan utama atau berasal dari lorong RRI. Tapi dengan lagaknya, kendaraan tersebut langsung menyalip.

Alhasil mobil kontainer yang sementara melaju harus mengerem dan nyaris terbalik. Beruntung karena laju kendaraan yang tidak cepat membuat kontainer itu tak jadi terbalik walaupun sudah terangkat 1 bola.

Tak hiraukan kesalahan, iring-iringan Sinterklas Razor tersebut justru semakin mengeraskan suara audio sehingga memekakan telinga.

Warga sekitar yang melihat kejadian tersebut, mengutuk keras aksi ugal-ugalan konvoi sinterklas yang sangat membahayakan tersebut.

“Harusnya polisi tindak jangan dibiarkan. Sudah banyak yang tidak pakai helm, mereka anggap jalanan milik mereka,” tutur sejumlah ibu rumah tangga di sekitar kawasan Tikala tersebut.

http://beritakawanua.com/berita/manado/ketika-pembagi-berkat-mulai-ugal-ugalan-di-jalanan

[b]Pukul Pengguna Jalan, Seorang Peserta Sinterklas Ditangkap[/b]

http://us.images.detik.com/content/2008/12/25/10/Sinterklas-dalam.jpg

MANADO, KOMPAS.com — Sebagian besar warga Manado semakin kesal dengan sikap ugal-ugalan kelompok Sinterklas yang berkonvoi di jalan. Selain sikap mereka yang sudah menyimpang, tak jarang rombongan Sinterklas itu berbuat onar, bahkan bersikap arogan terhadap pengguna jalan.

Salah seorang rombongan peserta Sinterklas terpaksa harus berurusan dengan polisi karena berusaha menganiaya pengguna jalan.

“Saya sudah dipengaruhi minuman keras waktu kejadian. Saya memukul dia (korban) di bagian wajahnya,” aku Fernando Pandey (25), warga Kelurahan Karombasan Selatan, Kecamatan Wanea, kepada Kompas.com dari balik jeruji besi Polresta Manado, Jumat (13/12/2013) malam.

Informasi dari Polresta Manado, Fernando ditangkap Tim Khusus (Timsus) Polda Sulut di rumahnya karena dilaporkan korban Alvian Iwan Lumantow (36), warga Kelurahan Karombasan Utara, Kecamatan Wanea, Kamis (12/12/2013) malam. Korban dipukul di bagian wajahnya hingga babak belur.

Waktu itu, rombongan Sinterklas dari Komunitas Mobil Wfinder sedang berkonvoi di Jalan Boulevard. Saat sedang berada di depan Mantos, tersangka yang mengemudikan sebuah mobil menyenggol Alvian yang sedang mengendarai sepeda motor hingga terjatuh.

Alvian yang tidak terima hal itu lalu mencoba mengejar pelaku untuk menanyakan alasan pemukulan, sambil mengetuk-ngetuk kaca mobil. Bukannya meminta maaf, pelaku malah langsung turun dan kemudian meninju wajah Alvian hingga babak belur. Setelah melakukan hal itu, pelaku dan rombongan dengan seenaknya berlalu dan terus berkonvoi.

Korban yang tidak terima hal itu kemudian melaporkan penganiayaan tersebut ke polisi. Mendapat laporan tersebut, polisi kemudian menelusuri keberadaan pelaku dan menangkapnya. Kini pelaku mendekap dalam sel Polresta Manado untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Sementara itu, beberapa warga Manado menyatakan setuju dengan tindakan polisi terhadap rombongan Sinterklas yang bersikap arogan. “Saya sangat setuju dengan hal itu, mereka harus ditindak karena sebagai umat Kristen, kita sendiri sudah resah dengan ulah mereka. Cermin kebaikan hati dari tokoh Santa Claus sudah hilang, yang ada, citra jelek. Makna Natal menjadi kabur,” ujar Stenly, warga Manado.

Dalam kesempatan berbeda, Kapolresta Manado, Kombes Sunarto, pernah menegaskan akan menindak tegas konvoi Sinterklas yang menyalahi aturan lalu lintas. Setiap menyambut Natal, berbagai komunitas dan kelompok masyarakat Nasrani di Manado sering menggelar kegiatan Sinterklas. Dalam kegiatan itu, anak-anak mendapat hadiah Natal dari tokoh yang baik hati tersebut.

http://regional.kompas.com/read/2013/12/13/1803554/Pukul.Pengguna.Jalan.Seorang.Peserta.Sinterklas.Ditangkap

Nah ini contoh aksi-aksi paganisme menjelang Natal :slight_smile:
Tidak patut dicontoh, dont try it at home ;D

GBU

satu kata saja: TERLALU !! :mad0261:
Meminjam kata-kata Tukul Arwana: MENGHARUKAN !! ;D

Mesti belajar sama negara tetangga singapura yg dari tanggal 1 desember sudah berhias diri menyambut natal, terutama di Orchard Road.

Kalo yg di manado itu sih bukan santa claus tapi santa crash atau santa clash.

Alangkah baiknya gereja2 di Manado meniadakan pawai2 semacam ini karena mengganggu ketertiban umum dan lagi tidak mencerminkan kasih Kristus. Lebih baik misalnya, melakukan aksi sosial ke panti asuhan atau panti jompo.

Yakobus 1:27
Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.

Di Indonesia kan banyak yg rasis.
Jadi menyedihkan bagaimana org2 ini jadi batu sandungan buat org lain.
Mereka bisa semakin ga ngerti bahwa Tuhan mengajarkan kasih.
Org2 rasis bisa anggap kristen ga baik dgn apa yg para santa lakukan

Insiden pemukulan lebih tepat disebut anarkisme. Di kasus di atas tidak ada unsur paganismenya.

Salam

aksi yg lebih mirip pesta dugem keliling
dgn musik keras berdentum iringi orang teler.

gedebang gedebung gedebang gedebung
dung peeesssss dung pessssssss

Mereka ini yang buat kekacauan seperti iblis yang menyamar sebagai malaikat terang…