Maria Menyusui

Gambar-gambar Isis dengan Horus di pangkuannya seringkali diklaim telah mempengaruhi ikonografi Maria, terutama gambar-gambar Bunda Maria yang sedang menyusui, karena gambar-gambar perempuan menyusui adalah sesuatu langka di wilayah Laut Tengah kuno di luar Mesir. Vincent Tran Tam Tinh menyatakan bahwa gambar-gambar Isis yang menyusui Horus yang paling terkini berasal dari abad keempat M, sementara gambar-gambar terawal yang menunjukkan Maria sedang menyusui Yesus berasal dari abad ketujuh. Sabrina Higgins menggunakan kajian Tran Tam Tinh dan kemudian berpendapat bahwa jika terdapat hubungan antara ikonografi Isis dengan Maria, hubungan ini hanya terbatas pada gambar-gambar Bunda Maria Menyusui yang berasal dari Mesir. Sebaliknya, Thomas F. Mathews dan Norman Muller merasa bahwa pose Isis dalam lukisan-lukisan dinding zaman kuno akhir mempengaruhi beberapa jenis ikon Maria, baik di dalam maupun di luar Mesir. Elizabeth Bolman mengatakan bahwa gambar-gambar awal Maria menyusui Yesus yang berasal dari Mesir dimaksudkan untuk menegaskan keilahian Yesus, selayaknya gambar dewi-dewi yang menyusui dalam ikonografi Mesir kuno. Sementara itu, Higgins berpendapat bahwa kemiripan semacam ini membuktikan bahwa gambar-gambar Isis mempengaruhi gambar-gambar Maria, tetapi bukan berarti umat Kristen secara sengaja mengadopsi ikonografi Isis atau unsur-unsur lain dari kultusnya.

Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya: “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” (Lukas 11:27)

Gambaran, baik lukisan ataupun patung “Maria yang sedang menyusui bayi Yesus” dapat ditelusuri kembali ke zaman Kristen awal dan populer selama periode Renaissance Abad Pertengahan.
Akan tetapi mulai dari abad ke-16, gambaran tersebut menghilang seiring dengan munculnya Calvinisme dan agama Protestan lain yang melihat representasi dari gambaran semacam itu ke arah ‘seksualitas’ yang pada dasarnya dianggap berdosa dan tidak pantas.
Pemikiran tersebut ditentang oleh Roma tapi diterima oleh umat Katolik khususnya di Perancis, Irlandia dan Eropa Utara, yang pada akhirnya mengakibatkan hilangnya gambaran semacam itu, hingga sekarang ini.
Beberapa tahun terakhir ini, sejak th 2008, Vatican menyatakan ingin agar para seniman membuat lebih banyak karya Maria menyusui bayi Yesus yang hilang selama 400 tahun belakangan.
Lucetta Scaraffia, seorang sejarawan gereja, menyerukan, gambar-gambar semacam ini adalah mengungkapkan citra Maria sebagai seorang manusia, seorang wanita yang lembut dan seorang ibu yang penuh kasih:
“Bayi Yesus adalah bayi seperti semua manusia lain, keilahian-Nya tidak mengecualikan kemanusiaanNya.”
Dikatakan juga oleh seorang profesor bidang Sastra Klasik dan Kristiani di Roma, pastor Enrico dal Covolo bahwa Perawan Maria yang merawat anaknya adalah salah satu tanda yang paling jelas bahwa “Firman Allah yang benar-benar dan tidak diragukan lagi menjadi manusia".
Pada masa populernya, Patung Maria menyusui Yesus banyak dihormati sebagai pelindung bagi para keluarga yang mengharapkan segera memiliki keturunan, sebagai pelindung para ibu-ibu yang memiliki bayi, pelindung para bayi-bayi, lambang kasih sayang keibuan Maria kepada semua anak-anaknya dan juga sebagai teladan bagi semua ibu dalam merawat anak.
Banyak organisani laktasi dan rumah sakit bersalin yang kini membuat dan memiliki patung ‘Maria menyusui Yesus’ dalam posisi menyusui yang benar.
Hal ini dimaksudkan tidak hanya untuk menginspirasi para ibu muda untuk mau memberi ASI kepada bayi mereka, tetapi juga untuk mengajarkan kepada para ibu cara yang tepat untuk memegang bayi mereka pada saat menyusui.

Pekerjaan menyusui adalah pekerjaan manusia biasa saja yaitu menghidupkan natur manusia Yesus sama dengan saudara saudara Yesus lainnya anak Maria dengan Yusuf.

Hanya kedegilan saja yang senantiasa menganggap Yesus Kristus memiliki saudara yang lahir dari rahim sama tanpa memberikan bukti yang berterima di nalar sehat. Yesus itu memang seratus persen manusia, dan seratus persen ilahi.

Salam damai.
Berhentilah mengkonsumsi informasi hoaks.
Amalkan Pancasila.
Kita adil, bangsa sejahtera.

Tidak pernah ada ajaran Alkitab mengatakan ada wanita yg melahirkan masih perawan,dan seorang ibu yg normal bukan dewa dewi pasti menyusui anak anaknya yaitu Yesus dan adik2nya.

Beberapa reformis Protestan awal seperti Martin Luther mendukung doktrin keperawanan abadi Maria, dan tokoh pendiri Anglikanisme seperti Hugh Latimer dan Thomas Cranmer turut mengikuti tradisi yang mereka warisi dengan menerima Maria sebagai "yang selalu perawan"; namun kebanyakan dari Calvinisme meninggalkannya. Sampai saat ini banyak teolog Protestan, terutama dari Anglikan dan Lutheran, tetap mempertahankan doktrin keperawanan abadi Maria. Selain itu John Wesley, pendiri Gereja Metodis, juga menegaskan keperawanan abadi Maria.

Salam damai.

Di Alkitab juga tidak ada ajaran bahwa seorang ibu yang normal bukan dewa dewi pasti menyusui anak anaknya :slight_smile:

Meskipun anda mencantumkan referensi seperti ini, tetap sulit bagi Protestan untuk menerimanya. Di topik lain, saya juga menyajikan data seperti itu. Malah saya dituduh Katolik :slight_smile:
https://forumkristen.com/index.php?topic=65020.msg1264193#msg1264193 (bahasan lain, bukan tentang Maria menyusui)

Salam

Anda mau tahu apa sebabnya ?

Itulah kegunaan Sola Scriptura,
Kita (protestan) tidak menerima suatu ajaran iman dan moral hanya karena ada yang berkata bahwa ajaran ini adalah benar.

Kita harus mengeceknya dengan apa yang ditulis di Alkitab.

Ajaran GRK adalah HARUS menerima Tradisi,
Ajaran Sola Scriptura adalah TIDAK HARUS menerima tradisi / Tradisi.

Semoga anda paham perbedaannya kali ini.

TUHAN YESUS MEMBERKATI
ZheZhu

Baik, berarti intinya sola scriptura ya.
Sebenarnya saya ingin membahas lanjut tentang kaitannya dengan reformator gereja, tapi nanti jadi tidak relevan dengan topik ini.
Jadi kita hubungkan dengan postingan sebelumnya saja:

Tadi Jamu menulis demikian: “Tidak pernah ada ajaran Alkitab mengatakan ada wanita yg melahirkan masih perawan,dan seorang ibu yg normal bukan dewa dewi pasti menyusui anak anaknya yaitu Yesus dan adik2nya.”

Berdasarkan sola scriptura:
Tidak pernah ada ajaran Alkitab mengatakan ada wanita yg melahirkan masih perawan → sesuai sola scriptura
Tidak pernah ada ajaran Alkitab mengatakan ada wanita yg melahirkan pasti sudah tidak perawan → juga sesuai sola scriptura

Jadi bagaimana kita menggunakan sola scriptura dalam mencapai kesimpulan di topik ini? Sola scriptura yang sama, berpangkal pada ayat yang sama, bisa berujung pada kesimpulan yang berbeda.

Salam

Seorang ibu menyusui anaknya adalah kodrat manusia yg ditetapkan oleh Allah dan tidak perlu menjadi persoalan apakah ibu itu harus menyusui anaknya,karena itulah kodrat hakekat manusia normal.

Bukan

Paradigma anda kelihatannya sudah salah kaprah.

Intinya adalah kita (Protestan) tidak menerima suatu ajaran iman dan moral hanya karena ada yang berkata bahwa ajaran ini adalah benar.

Termasuk para Tokoh Refornator sekalipun,

jadi menurut saya,
anda dan @sotardugur_parreva enggak perlu berharap terlalu banyak kepada kita (Prostestan) bahwa kita pasti menelan bulat2 setiap statement para tokoh gereja dikarenakan mereka mengatakan ya itu benar tanpa kita (Protestan) mengecek kembali ke Alkitab seperti di khatolik.

Otoritas tertinggi kita (Protestan) dalam pengajaran iman dan moral bukanlah ucapan para Tokoh Reformator melainkan hanya Alkitab (Sola Scriptura).

TUHAN YESUS MEMBERKATI
ZheZhu

Tuhan mengirim banyak gembala,penginjil dan guru untuk menyelamatkan manusia melalui bèrita Injil,kita wajib mendengarkan mereka dengan tanpa berhenti menguji apakah ajarannya sesuai dgn Scriptura.

Kisah Para Rasul 17:11 (TB) Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.

Biasakan saja menuliskan hal yang @ZheZhu mengerti. Jangan menuliskan hal yang tidak Anda mengerti.

Sesungguhnya, @Sotardugur Parreva tidak berharap terlalu banyak kepadamu ato siapapun untuk menelan bulat-bulat pernyataan sisapapun. @Sotardugur Parreva menyampaikan apa yang kumengerti, dan kuupayakan memberikan landasan pemahamanku. Jika ketepatan tidak kucantumkan landasan pemahamanku secara jelas, silahkan menanyakan. Demikian juga jika ada yang ingin kuketahui lebih jelas dari pernyataan partisipan lain, kutanyakan.

Tentang menguji pernyataan siapapun, kukira, itu sikap yang baik, agar tidak tersesat mempercayai hal yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Menguji suatu pernyataan sebelum menerimanya, adalah langkah yang perlu untuk mengukuhkan iman.

Salam damai.
Amalkan Pancasila.
Kita adil, bangsa sejahtera.

Nah, kalau sumbernya adalah common sense, maka katakan saja common sense (anda juga bisa mengganti common sense dengan reasoning). Tidak perlu lah sampai mengatasnamakan “Alkitab”.

Salam

Nah, kalau sumbernya adalah common sense, maka katakan saja common sense (anda juga bisa mengganti common sense dengan reasoning). Tidak perlu lah sampai mengatasnamakan sola scriptura

Bagaimana kalau kesimpulan tokoh reformator tersebut berlandaskan sola scriptura?
Ini yang saya tanyakan. Kalau landasannya sama-sama sola scriptura, mengapa kesimpulan Martin Luther berbeda dengan kesimpulan Anda?

Salam

Kalo menurut Luk 11:27 seperti yang telah diberitahu oleh TS, Maria memang menyusui Yesus, walaupun tidak ada ayat Injil yang menggambarkan kondisi di mana Yesus menyusu. Catatan Ignatius, murid rasul Yohanes, menurut Pdt Esra Soru di Sejarah Tidak Mencatat Kristus Mati dan Bangkit? #Stayathome #PijarTV - YouTube menit 40:03 sampai 40:52, kusalin:

Dia disalibkan dan mati di bawah pemerintahan Pontius Pilatus. Dia benar-benar, dan bukan hanya tampaknya saja, disalibkan, dan mati, disaksikan oleh makhluk-makhluk di surga, di bumi, dan di bawah bumi. Dia juga bangkit kembali pada hari yang ketiga. …Pada hari persiapan Paskah, saat itu, pada jam yang ketiga, Dia menerima keputusan hukuman dari Pilatus, Bapa membiarkannya terjadi; pada jam yang keenam Dia disalibkan; pada jam yang kesembila Dia menyerahkan nyawa-Nya: dan sebelum matahari terbenam Dia dikuburkan. Sepanjang hari Sabat, Dia tetap berada di bawah tanah di dalam kubur di mana Yusuf dari Arimatea telah membaringkan-Nya. Dia dikandung dalam Rahim ibuNya, sama seperti kita, dalam waktu yang sama; dan dilahirkan, juga sama seperti kita; dan [b]benar-benar menyusu pada ibu-Nya[/b], dan makan dan minum, tidak berbeda dengan kita. Dan setelah Dia hidup di antara manusia selama tigapuluh tahun, dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, sungguh-sungguh dibaptis bukan hanya tampaknya saja, dan ketika Dia mengabarkan Injil selama tiga tahun, dan mengadakan tanda-tanda dan keajaiban, Dia yang sesungguhnya adalah Hakim telah dihakimi oleh orang-orang Yahudi, didakwa dengan dakwaan palsu dan oleh Pilatus sang gubernur; dicambuki, ditampar pipi-Nya, diludahi; Dia dimahkotai dengan duri dan diberi jubah ungu; Dia dijatuhi hukuman mati: benar-benar disalibkan bukan hanya tampaknya, bukan hanya dalam khayalan, bukan pula tipuan. Dia benar-benar mati dan dimakamkan, …
Dari yang kumerahkan itu, diketahui bahwa Maria memang menyusui Yesus.

Salam damai.
Amalkan Pancasila.
Kita adil, bangsa sejahtera.

Ehmm…

Apakah anda benar2 yakin bahwa kesimpulan Tokoh Reformator membenarkan “doktrin maria perawan abadi” adalah berdasarkan dari prinsip sola scriptura ?

Bisakah anda memberikan buktinya ?

TUHAN YESUS MEMBERKATI
ZheZhu

Kalau Alkitab tidak eksplisit menyatakan sesuatu persoalan maka tentunya rasio manusia yang diberikan oleh Allah harus kita pergunakan untuk memahami kodrat manusia ciptaan Tuhan secara implisit bukan diistirahatkan didalam lemari pendingin. Tentunya rasio manusia juga tidak boleh bertentangan dengan prinsip kebenaran Alkitab (Sola Scriptura).

Pendapatku, kalo Tuhan Yesus Kristus tidak menulis, meninggalkan, ato mengirimkan Scriptura untuk dijadikan oleh para rasul sebagai acuan pengajaran kepada setiap orang yang telah dibaptis, maka, merupakan kekonyolan menerapkan konsep Sola Scriptura. Bagaimana cara para rasul dan pengikut Kristus paling mula-mula ber-Sola Scriptura sementara di sisi lain, mereka tidak memiliki Scriptura yang utuh? Mustahil, bukan?

Reformator awal pada abad XVI yaitu Martin Luther, Yohanes Calvin, dan Ulrich Zwingli sebelum mendirikan aliran Protestan adalah rohaniwan Katolik. Artinya, Scriptura yang mereka gunakan adalah Scriptura yang dikanon oleh Katolik Roma.

Konsili pertama yang memberlakukan [u]kanon Katolik seperti yang sekarang[/u] ini (Kanon Trente) mungkin adalah Sinode Hippo, di Afrika Utara, pada tahun 393. Sebuah ringkasan singkat tentang riwayat konsili tersebut dibacakan dan diberlakukan oleh Konsili Kartago pada tahun 397 dan 419. Konsili-konsili ini berada di bawah pengaruh Agustinus dari Hippo, yang menganggap kanon tersebut ditutup sejak saat itu. Konsili Roma tahun 382 di bawah otoritas Paus Damasus I, di mana Decretum Gelasianum dianggap berkaitan dengan konsili ini, mengeluarkan sebuah kanon Alkitab yang identik dengan yang disebutkan di atas, atau, jika tidak, daftar tersebut sekurang-kurangnya merupakan kompilasi dari abad ke-6. Penugasan oleh Paus Damasus I untuk mengerjakan Alkitab edisi Vulgata berbahasa Latin, kr. 383, memiliki peranan penting dalam penetapan kanon di Barat.
Dari kutipan di atas, diketahui bahwa [i]Scriptura[/i] seperti yang dikenal sekarang dikanon abad IV.

Artinya, sejak kenaikan Tuhan Yesus Kristus dan tercurahnya Roh Kudus kepada orang percaya, sampai kanonisasi Scriptura abad IV, tidak ada Scriptura yang diacu secara resmi sebagai bahan ajar penerus rasul kepada orang percaya. Dengan kata lain, Sola Scriptura adalah isapan jempol, karena pengikut Kristus pernah tidak memiliki Scriptura. Lebih nyata Sola Scriptura adalah isapan jempol karena ternyata tidak ada ayat Alkitab yang menyatakan bahwa pengikut Kristus menganut konsep Sola Scripotura.

Luk 11:27 dapat dipandang sebagai ayat Alkitab yang menginformasikan bahwa Yesus Kristus menyusu kepada ibuNya, meskipun tidak menggambarkan secara jelas bahwa Yesus Kristus menyusu kepada Bunda Maria. Catatan Ignatius murid dari rasul Yohanes di #14 menyatakan dengan jelas bahwa Yesus benar-benar menyusu kepada ibuNya.

Mengingat tujuan trit ini tidak jelas entah untuk apa, kupikir, sudah dapat dikirim ke board TERJAWAB.

Salam damai.
Amalkan Pancasila.
Kita adil, bangsa sejahtera.

Jelas sekali kalau logika dipakai dengan benar maka Maria menyusui bayi Yesus sebagai ibu yang melahirkannya !

Makin menguatkan agar trit ini dikirim ke board “Terjawab”.

Salam damai.
Hentikan mengkonsumsi berita hoaks.
Amalkan Pancasila.
Kita adil, bangsa sejahtera.