Martin Luther membentuk reformasi karena terpaksa.

Kalau raja Henry VIII keluar dari katolik dan mendirikan gereja Anglican karena dia ditolak oleh Paus permintaannya untuk menceraikan isterinya Anne dan mau kawin lagi sama Catherine.

Martin Luther lain lagi, dia membentuk reformasi baru dan mendirikan gereja protestan karena terpaksa dan tidak bisa lain.

Anda setuju atau tidak dengan pendapat ini ?

Mohon respond anda sekalian !

[quote author=mbah.Sam link=topic=51868.msg985277#msg985277 date=1392875124]
Kalau raja Henry VIII keluar dari katolik dan mendirikan gereja Anglican karena dia ditolak oleh Paus permintaannya untuk menceraikan isterinya Anne dan mau kawin lagi sama Catherine.

Martin Luther lain lagi, dia membentuk reformasi baru dan mendirikan gereja protes

[email protected] Sam…

Martin Luther bukan terpaksa, melainkan memaksa supaya Gereja Katolik mau membaca dan mengikuti serta mengindahkan 95 maklumat yang di buatnya.

Salam GBU…

Menurut saya, dia memaksa keluar dari Katolik, kemudian mengakui Kanon Katolik berasal dari Roh Kudus, lalu mengurangi Kanon Roh Kudus tersebut.

Salam GBU

HAHAHAHAHA…ANDA TIDAK SALAH BERPANDANGAN SEPERTI ITU…BEBAS SAJA BROOW…

Tapi ada alasan tertentu dan memberi pijakan yang jelas dan tegas secara kerohanian kepada Martin Luther KENAPA dia sampai memaksa melakukan hal memaksa seperti itu.
Jadi sebetulnya secara prinsip reformasi/perubahan, trigernya / pemicunya sudah ada lama…yaitu di pihak Gereja Katolik sendiri, hanya moment nya tercetus setelah selesai 95 petisi tsb diselesaikan oleh Martin Luther, dan di paku di pintu gereja katolik…dann selanjutnyaand tau kan…dduweer…!! ledakan dahsyat terjadi…Gempar dan mengelegar…sampai terdengar di LAPISAN LANGIT TERTEINGGI TEMPAT TUHAN ALLAH BERTAKHTA DI SORGA SANA…

Salam

Menurut saya biasa-biasa saja mas, Gereja Katolik tetap berdiri kokoh, tetap dengan umat terbanyak, hampir 2 Milyar, pengikut yang sangat setia dan taat, ajaran yang tak pernah berubah, konsisten, dana luar biasa, berkat melimpah, dll :smiley:

Salam

Puncak dari penyalahgunaan ajaran Gereja diawali dengan penjualan surat penebusan dosa (indulgensia) oleh gereja kepada masyarakat. Praktik ini sendiri sebenarnya bertentangan dengan ajaran iman Gereja Katolik. Martin Luther, seorang rahib, memutuskan untuk melakukan pembaharuan dengan melakukan pemberontakan terhadap Gereja Katolik dengan memakukan 95 dalil Luther di pintu Gereja Kastil di Wittenberg, Jerman, 31 Oktober 1517, dan membangun gereja tandingan baru. Sedangkan Ignatius Loyola, pendiri ordo Jesuit dalam Gereja Katolik, berusaha melakukan pembaharuan dari dalam, salah satunya adalah dengan memberikan pendidikan teologi Kristen yang ketat kepada para klerus, terutama dalam kepatuhan penuh pada otoritas dan ajaran Gereja, agar praktek korup dalam Gereja berkurang dan tidak menjadi-jadi. Konsili Trente merupakan konsili yang diadakan sebagai reaksi dari reformasi Martin Luther, di mana reformasi Martin Luther dianggap oleh Gereja Katolik sebagai tindakan yang memperparah kondisi kekristenan. Dalam Konsili Trente-lah ajaran iman Gereja Katolik dipertegas (termasuk kanonisasi terakhir Alkitab Katolik) demi menekan dan mengurangi berbagai macam penyalahgunaan yang sewenang-wenang dalam tubuh Gereja.

Ketika Martin Luther menerjemahkan Kitab Suci menjadi bahasa Jerman, pengikut-pengikutnya mulai memiliki pandangan yang berbeda-beda akan Kitab Suci tersebut, lalu terjadilah pertentangan penafsiran antara umat satu dengan yang lain, salah satu kasusnya adalah pertentangan antara denominasi protestan reformed-nya Zwingli dan denominasi anabaptis, reformed-nya Calvinis dengan Arminian, dan masih banyak lagi. Inilah yang membuat agama Kristen Protestan sekarang banyak terbagi-bagi lagi menjadi denominasi-denominasi lagi.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kekristenan


mm…

i m afraid, the situation and the contributing factors were not that simple…

it is quite speculative to say that…

imho lho mas…

Sedikit revisi, Martin Luther tidak pernah keluar dari gereja katolik dengan kemauannya sendiri, akan tetapi dia dikeluarkan oleh gereja.

Pertanyaan: Mengapa Martin Luther tidak pernah keluar dari gereja katolik kalau dia merasa tidak cocok ?

Jawab: Sebab Martin Luther sebagai seorang pastor katolik yang sudah lebih dari 10 tahun, tahu benar bahwa ajaran gereja katolik yang sudah dikanonkan adalah ajaran yang benar.
Setelah dia dikeluarkan dari gereja katolik, dia terpaksa membuat reformasi baru, dan reformasi tsb. sebagian besar diambil dari ajaran katolik yang sudah dikanonkan, hanya dikurangi dan diberi sedikit bumbu-bumbu.

Contohnya:

  • Mengenai Yesus adalah Tuhan adalah berupa Trinity dengan Bapa Nya dan Roh Kudus.
  • Mengenai adanya 7 sacramen di katolik, dia ambil hanya 2, yaitu sacramen Baptis dan Perjamuan kudus, sedangkan sacramen Penguatan, Imamat, Pengakuan dosa, Pernikahan & Perminyakan dia hilangkan.

ekskomunikasi bukan bertujuan untuk mengusir, namun untuk menyembuhkan; dalam artian membuat yang bersangkutan merenungkan kesalahannya.

Tulisan Luther (De Wette, op.cit, I, 239)

3 Maret 1519
“Di hadapan Tuhan dan mahluk ciptaan-Nya, aku memberikan kesaksian bahwa saya tidak telah berniat ataupun kini berniat untuk menyentuh atau dengan intrik merendahkan otoritas Gereja Roma dan terhadap kekudusanmu.”

5 Maret 1519
“Bukan maksud saya untuk memberontak terhadap tahta Apostolik di Roma”

13 Maret 1519
“Saya tidak tahu apakah Paus adalah antikristus atau rasul-Nya.”

Beberapa prinsip ajarannya adalah:

  1. Hanya Kitab Suci sajalah yang menjadi sumber kebenaran.
    (Gereja mengajarkan sumber kebenaran adalah Kitab Suci dan Tradisi Suci)

  2. Kodrat manusia telah sama sekali rusak akibat dosa asal; maka manusia tidak lagi punya kehendak bebas. Apapun yang dilakukan apakah itu baik atau buruk bukan merupakan perbuatannya sendiri tetapi perbuatan Tuhan.
    (Gereja mengajarkan bahwa biar bagaimanapun manusia diciptakan menurut gambaran Allah, sehingga tetap ada kebaikan dalam diri manusia, walaupun oleh karena akibat dosa, manusia mempunyai kecenderungan berbuat dosa. Oleh karena manusia tidak rusak total, maka ia mempunyai kehendak bebas dan dapat bertanggungjawab atas perbuatannya. Pertanggungjawaban atas perbuatan kita inilah yang nanti diminta oleh Tuhan pada saat penghakiman terakhir)

  3. Iman saja yang menyelamatkan dan manusia diselamatkan dengan percaya bahwa Tuhan akan mengampuninya. Iman sedemikian bukan saja mengampuni dosa seluruhnya, tetapi juga menghapus segala akibatnya.
    (Gereja mengajarkan bahwa iman tidak boleh dilepaskan dari perbuatan, sehingga tidak dapat dikatakan hanya iman saja, namun iman, perbuatan, baptisan, pertobatan, semua itu diperlukan untuk keselamatan yang diberikan kepada kita karena rahmat Allah. Selanjutnya walaupun Allah mengampuni setiap kesalahan kita, namun ada konsekuensi yang harus kita tanggung akibat pelanggaran kita.)

  4. Hirarki dan imamat bukan ditetapkan oleh Tuhan dan tidak diperlukan, upacara penyembahan tidak penting dan tidak berguna; pakaian- pakaian gerejawi, ziarah, mati raga, kaul biara, doa bagi orang- orang yang sudah wafat, doa syafaat orang kudus tidak berguna bagi jiwa.
    (Hal hirarki dan peran imamat jabatan nyata dalam Perjanjian Lama, dan juga dalam Perjanjian Baru, di mana Kristus memilih 12 rasul-Nya untuk melaksanakan misi-Nya)

  5. Semua sakramen ditolak, kecuali Baptisan, Ekaristi dan Pengakuan Dosa
    (Gereja mengajarkan adanya 7 sakramen)

  6. Imamat bersifat universal dan setiap orang Kristen dapat menjadi imam, tidak perlu ditahbiskan
    (Gereja mengakui adanya imamat bersama, namun juga imamat tertahbis).

  7. Tidak ada Gereja yang kelihatan atau satu Gereja yang didirikan Tuhan
    (Gereja berdasarkan Kitab Suci mengajarkan bahwa Tuhan Yesus mendirikan Gereja-Nya di atas Petrus/ Batu Karang, terlihat sebagai satu kesatuan)

http://katolisitas.org/7256/luther-dan-ekskomunikasinya

Kalau anda katakan bahwa prinsip reformasi ini sudah lama ada di pikiran Martin sebagai seorang pastor Katolik, sebab dia tidak setuju dengan ajaran katolik, saya katakan: TIDAK BENAR.

Untuk mempertegas hal ini, kita harus melihat 4 hal.

  1. Pada masa Martin sebagai seorang pastor, seorang Dr, Theology, Prof. Bible, adakah ajarannya atau buku-bukunya yang menentang ajaran katolik ?
    Jawabnya: Tidak ada.

  2. Dari 95 Theses yang dia tulis itu, selain hanya mengenai penjualan surat indulgensi untuk mempercepat orang-orang yang ada di purgatori masuk surga, adakah protes dia mengenai ajaran katolik ?
    Jawabnya: Tidak ada.

  3. Mengapa dia tidak mau keluar dari gereja katolik dengan hormat, akan tetapi menunggu bentrok, dan setelah bentrokpun Martin tetap tidak mau keluar dari gereja katolik, sehingga dikeluarkan oleh gereja katolik dengan tidak hormat ?

  4. Setelah Martin dikeluarkan dari gereja katolik, dia baru menulis banyak buku-buku dan karikatur yang sifatnya menghasut umat agar membenci gereja katolik.
    Diantara buku-buku yang dia tulis ialah: “The Babylonian Captivity of the Church” dimana dikatakan bahwa kursinya paus adalah kursinya antichrist.
    Berupa lukisan dimana para paus di keluarkan melalui duburnya setan.
    Bahkan untuk mengambil hati rakyat Jerman dia menulis buku: “On The Jews and Their Lies”, yang menganjurkan agar umat Yahudi di slaughter.

Semua ajaran Martin Luther, yang diambil dari sebagian ajaran yang sudah dikanonkan oleh katolik dan diberi bumbu-bumbu yang menarik yang memudahkan orang untuk mendapatkan keselamatan inilah yang oleh orang protestant dinamakan REFORMASI, sehingga Martin Luther terkenal sebagai Bapak REFORMASI.

Martin Luther sama sekali tidak mempunyai maksud untuk membentuk Reformasi baru karena dia kurang setuju dengan ajaran katolik.
Mengenai Martin tidak setuju dengan surat Indulgensi yang oleh Johan Tetzel disuruh menjual kepada umat, memang benar, dan ketidak setujuan ini oleh Martin telah disampaikan berupa surat kepada Uskup di kota Main dan Paus, akan tetapi sebaliknya dia malah mendapat tekanan dan ancaman.

Inilah awal dari bentrokan antara Martin Luther dan Paus Leo X.
Seperti kita ketahui Martin Luther adalah seorang yang sangat pandai, Dr Theology dan Prof Bible, hidupnya sederhana, rajin berdoa, mengaku dosa, melayani umat, tidak kawin, berasal dari Ordo Agustinus, ordo yang mempunyai disiplin yang keras,
Sebaliknya Martin Luther melihat kehidupan Paus, adalah mewah, kawin, punya anak, dan menjadi Paus karena pengaruh keluarga Medici yang berkuasa sehingga umur 48 sudah menjadi paus dan sangat berambisi ikut berlomba di zaman rainassance untuk membangun St Peter.
Dengan suratnya kepada Paus yang tentunya cukup sopan, sebaliknya dia mendapat tekanan dan ancaman , Martin Luther sebagai orang yang pandai merasa tersinggung dan harga dirinya direndahkan, maka pada tgl 31 Okt 1517, sebagai reaksi dia menempel 95 theses didepan pintu gerbang gereja pada perayaan orang-orang kudus, dimana banyak umat yang hadir.
Tidak disangka bahwa Theses nya itu dalam waktu 2 minggu sudah populer di Jerman dan dalam waktu 2 bulan sudah menyebar di Europa bagian utara.
Berpijak mulai dari Thesesnya ini, bentrokan antara Martin Luther dan Paus Leo X, tidak dapat dihindari dan berkepanjangan sampai terbentuknya gereja Protestant.

Nasi sudah menjadi bubur, Martin tidak bisa mundur, hasil sidang di kota Worms oleh kerajaan The Holly Roman Empire, Martin dinyatakan bersalah dan harus dihukum.
Martin disembunyikan oleh Frederick III di Castle Wartburg,
Disini Martin hanya ada 2 pilihan, Melawan atau menyerahkan diri.
Setelah satu tahun didalam persembunyiannya, ternyata Martin Luther mendapat banyak pendukung, sehingga dia berani secara terang-terangan melawan gereja katolik.
Agar usahanya berhasil untuk menang, maka segala cara dihalalkan, termasuk mencari simpatik pada rakyat Jerman, dengan menulis buku yang menghasut agar umat Yahudi dibantai.
Karena topinya Paus sama dengan topinya pelacur-pelacur di Babylon, maka dikatakan bahwa kursinya Paus adalah kursinya antichrist, agar supaya umat katolik banyak yang meninggalkan gereja katolik.

Apakah itu artinya jika saat itu paus meneladani cara hidup Kristus dan indulgensia tidak pernah ada maka reformasi ala luther a.k.a. protestan juga tidak akan pernah ada?

Menurut saya ini hanya persoalan Sejarah dan Ego Manusia :smiley:

Jadi walauoun saya dibesarkan dalam Ajaran Protestan, saya tidak sepenuhnya setuju dengan tindakan yang diambil oleh Tokoh Marthin Luther…Namun juga tidak menyetujui keputusan Paus saat itu

Jadi, seharusnya Marthin Luther tidak memisahkan diri…dan Paus pun seharusnya tidak menyalah gunakan posisinya…

Kesimpulannya: Saya tidak ikut campur :smiley:

Tidak ada perintah penjualan Surat Pengampunan Dosa, seorang utusan bernama Tsezel yang melakukan kesalahan.

Kalau ada Pastor, Suster, Uskup melakukan kesalahan, itu bukan berarti perintah Paus.

Salam

Betul, saya kira demikian.
Martin Luther bukannya tidak setuju dengan ajaran katolik yang sudah dikanonkan oleh bapak-bapak gereja terdahulu, dimana dia sudah lebih dari 10 tahun menjadi pastor katolik dan dia tentunya mengerti benar ajaran katolik tsb, maka dia tidak pernah keluar dengan kemauannya sendiri dari gereja katolik.
Seperti kita tahu paus pada waktu itu bukannya paus yang benar-benar rohani, sebab atas kekuasaan dinasty Medici maka dia berumur 38 tahun sudah menjadi paus.
Paus mewah, punya isteri, anak, sedangkan Martin Luther hidupnya sederhana, tidak kawin, dan belum lama Martin Luther telah berkunjung ke Roma dan melihat betapa bertolak belakang kehidupan paus sebagai pimpinan gereja, dengan kehidupan Yesus yang dia teladani.

Mengenai surat indulgensi, Martin sebagai ahli Kitab Suci, tahu benar bahwa tindakan itu tidak benar, maka dia menolak untuk menjual, dia tidak mau menipu umat.

Demikian juga dengan terjadinya schism pada th.1054, dimana gereja Orthodox, tidak mau mengakui kekuasaan Paus, dan memisahkan diri.
Memang antara gereja yang ada di Timur yang berpusat di Constantinopel dan yang gereja yang ada di barat yang berpusat di Roma, ada perbedaan culture, akan tetapi penyebab utama ialah karena sekitar tahun 1000 kursinya paus ada dikuasai oleh keluarga tusculan, dimana dari dalam umur yang masih muda sudah menjadi paus, dan perbuatannya banyak yang jahat.

Waktu Yesus dicobai oleh iblis di padang gurun dan tidak berhasil, maka diayat tsb dikatakan, iblis akan menunggu waktu yang baik.

Nah, saran saya jangan kita ikuti kelasalah tokoh2 masa lalu walaupun kita percaya mereka bekerja dalam kasih walaupun tidak sempurnah…sama seperti kasih kita kepada Tuhan dan sesama yang juga tidak sempurnah… Karena Kristus lah yang menyempurnakan semua pekerjaan manusia

Mari kita berjabat tangan dan tidak menyediakan tempat bagi perpecahan

Salam Damai

Nah anggap saja itu hanya keterbatasan kedua belah pihak, dan akhirnya sekarang sudah ada Telephone, Internet dan fasilitas lainnya yang memungkinkan kita berkomunikasi dalam waktu singkat walau dipisahkan oleh jarak

Kita sudah dibodohi oleh sejarah…dan kita telah didoktrin berbeda oleh tokoh2 yang juga adalah manusia biasa

Salam Perdamaian

Kecuali ‘kita’ ingin membuat sejarah sendiri, kecuali ‘kita’ ingin membuat doktrin sendiri, maka adalah suatu keniscayaan kita mengikuti doktrin yang memang ‘kita’ percaya. Bukan mengingkari dan menganggap diri lebih benar.

Syalom