Masuk Kristen sekedar supaya bisa kawin

Beberapa hari terakhir kita mendengar ada berita seorang selebritis yang masuk Islam, menikah dengan muslimah, lalu keluar lagi dari Islam. Kejadian seperti ini bisa jadi bukan pertama kali terjadi. Saya tengarai juga ada yang masuk Kristen karena pacarnya Kristen, lalu menikah, diberkati di gereja, akan tetapi selanjutnya kembali ke agama asal.

Misalkan ada lelaki non Kristen pacaran dengan gadis Kristen. Si lelaki kemudian menjadi Kristen dan dibaptis. Kemudian keduanya menikah diberkati di gereja. Akan tetapi setelah diberkati, lelaki itu tidak pernah lagi ikut kebaktian di gereja dan sepertinya sudah kembali ke agama asalnya, sekalipun tidak terang2an. Bagaimana seharusnya sikap gereja terhadap perkawinan seperti itu?

Ane lebih menyoroti proses bimbingan pranikah yg dilakukan gereja kepada pasangan yg bersangkutan, masbro. Umumnya gereja-gereja kam mengadakan BPN kepada pasangan yg mau menikah, nah jika ditemukan pasangan yg salah satunya bukan kristen maka IMHO masa BPN-nya harus “diperpanjang” dengan lebih mentitikberatkan porsi pengajaran dan pendalaman iman (dosa, keselamatan, Yesus, salib, baptis dsb) kepada calon yg bukan kristen tadi sehingga diharapkan sebelum pemberkatan pernikahan, dia sudah memiliki pengetahuan yg benar tentang Kristus dan kekristenan.

Di sini kapasitas dan kualitas hamba-hamba Tuhan yang menjadi konselor BPN benar-benar harus diperhatikan dan sudah seharusnya adalah yang terbaik. Mereka haruslah menjadi teladan bagi keluarga dan gereja lokal. Dengan demikian jikalau terjadi seperti yg masbro sebutkan di atas, paling tidak gereja sudah menjalankan tugasnya.

Biarkan saja seseorang pindah agama, tentunya dengan alasan masing-masing.
Toh agama tidak menyelamatkan :slight_smile:

GBU

Ada kalanya, pasangan yang non Kristen itu pernah sekolah SD sampai SMA, bahkan kuliah di sekolah Kristen, sehingga sedikitnya tahu pokok2 ajaran Kristen. Jadi sewaktu bimbingan tersebut, dengan mudahnya dia menerangkan tentang dasar2 iman Kristen bila ditanya oleh pembmbing. Tapi lain di mulut lain di hati, sebenarnya pasangan non Kristen itu tidak berniat percaya kepada Kristus. Dalam hatinya hanya ingin segera menikahi kekasihnya. Diapun masuk agama Kristen, dibaptis, tapi tanpa pertobatan sejati. Setelah menikah tidak pernah lagi ke gereja. Apakah perlu gereja memanggil suami/isteri yang seperti ini. Dan kalau diketahui ybs sudah keluar dari Kristen, perlukah pasangannya yang masih Kristen bercerai?

  1. ITU SEBAB nya mengapa setelah menyampaikan Berita Keselamatan pada seseorang dan dia achirnya mau menjadi DOMBA, selalu sebagai Mentor harus mengingatkan bahwa :“Kamu menjadi Kristen bukan karena saya, pasangan, pendeta, pastor, rohaniwan, jabatan/tahta, Harta, dll ! Tetapi HARUS karena kamu ingin SELAMAT dan mendapat Tempat di Rumah Bapa di Sorga dengan mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi kamu !" WHY ?
    SEBAB yg namanya saya, pasangan, pendeta, pastor, rohaniwan, dll suatu SAAT bisa JATUH DALAM DOSA lalu kamu menjadi KECEWA serta lalu MURTAD … maka itu tandanya anda telah menjadikan saya, pasangan, pendeta, pastor, rohaniwan, jabatan/tahta, Harta, dll sebagai ILAH !
    Lain halnya bila anda menjadi Kristen karena … Yeremia 9 : 24 … bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah Firman Tuhan.”

Mengertikah anda ?
Jadi si Calon yg Kristen HARUS BERUSAHA agar si Kekasih menerima KESELAMATAN karena mENGERTI bukan karena si ILAH2 diatas ! :coolsmiley: :happy0062:

  1. Sebelum memanggilnya , sebaiknya si Mentor bertanya dan menyalahkan dirinya sendiri terlebih dahulu mengingat saat ia MENUNJUK hanya 1 Jari yg mengarah ke si orang tsb sedangkan 3 jari menunjuk kedirinya sendiri !

  2. Juga hal itu tanyakan ke Diri sendiri dan ke si Pasangan yg Kristen, apakah SIAP mendapat RESIKO seperti tsb ! Bila SIAP, ya ingat2 saja Pesan Tuhan Yesus bahwa Pasangan Non Kristen itu akan di KUDUS kan tergantung pada upaya, kesabaran dan Doa yg tidak berkeputusan darinya kepada Tuhan.
    Istri Pdt Ade Manuhutu juga achirnya mendapatkan Sang Penyanyi Beke’n bertobat karena Kesabaran dan Doanya yg terus menerus ! :happy0062: :afro:

Makanya masbro, di sini diperlukan kapasitas dan kualitas konselor BPN yg benar-benar maknyus yg bisa melihat karakter mereka yg ingin menikah terutama bila salah seorang calonnya belum kristen. Misalkan, si konselor melihat kalo si cowo “tidak” bersungguh-sungguh untuk menerima Yesus (hanya pengen menikahnya saja) maka dia dapat menasihati si cewe untuk dapat mempertimbangkan kembali niatnya untuk menikah.

Ada beberapa skenario yg mungkin terjadi, pertama gereja bisa membatalkan rencana pemberkatan tersebut atau kedua tetap melanjutkan dengan berbagai persyaratan. Nah disini, karakter (mentalitas) gereja diuji bagaimana mempertanggungjawabkan setiap kebijakan yg telah diambil.

Realita :
Sepanjang ane hidup, yg sering terjadi adalah mereka (cewe) yg tadinya sudah kristen dan cukup lama (lebih dari 3 thn) tiba-tiba meninggalkan kekristenan mereka hanya untuk menikah dengan cowo yg mereka cintai. keluh.

Tetangga saya di Bandung dulu adalah seorang lelaki muslim. Dia berpacaran dengan teman kuliahnya, seorang gadis Kristen. Gadis itu berjemaat di Gereja A di kota Bandung, sedangkan ayahnya yang berada di Medan adalah seorang penatua Gereja B (si gadis juga sewaktu di Medan anggota gereja yang sama dengan ortunya). Tidak tahu bagaimana ceritanya, suatu kali di gereja A diumumkan bahwa mereka akan menikah. Disebutkan bahwa lelaki itu adalah anggota jemaat Gereja B di kota Medan. Tidak habis mengerti, kalau memang si lelaki ingin menjadi Kristen, mengapa dia harus menjadi anggota gereja B di kota Medan, padahal dia tidak pernah tinggal di Medan sekalipun berasal dari suku di Sumatera. Si lelaki membawa surat keterangan dari gereja B di Medan dan sesuai ketentuan administrasi di gereja A, hal tersebut dapat diterima. Saya tidak tahu bagaimana kelanjutan pernikahan mereka selanjutnya, karena mereka pun tinggal di kota lain setelah menikah di gereja dan saya pun pindah/tidak lagi bertetangga.

Dalam hati saya berspekulasi, bisa jadi orangtua gadis yang menjabat penatua di gereja B mengeluarkan surat keterangan palsu tentang keanggotaan dan baptisan lelaki tersebut. Apalagi setelah menikah, suami tidak pernah ke gereja, hanya istrinya saja. Dugaan saya, karena keluarga lelaki itu merupakan keluarga haji yang taat beragama, sulit rasanya mereka menginjinkan anaknya menjadi Kristen.

Mungkin dugaan saya salah, tetapi seandainya benar bahwa ada rekayasa oleh oknum gereja seperti di atas, bagaimana sikap gereja bila terbukti benar demikian?

Komen di thread sebelah sepertinya lebih nyambung dengan kasus di atas

jangankan yg non Kristen,temen gereja ane aja(cewe) biarpun punya suami dari denom gereja berbeda tapi suaminya ga pernah mau nginjekin kaki di gereja istrinya sama sekali.acap kali ane sering liat temen ane itu ke gereja sendirian tanpa didampingi suami & skrng ane udah jarang liat orangnya di gereja(kemungkinan udah pindah ke gereja sang suami).yg tadinya aktif banget pelayanan tp terpaksa ‘pensiun dini’ krn dipaksa pindah ke gereja suaminya.klo yg konteksnya sama2 Kristen aja udah begitu apalagi yg bukan Kristen,klo suaminya orang yg kristen yg baik mustinya dia kudu mensupport pelayanan istrinya.

Yang jelas klo sudah kembali ke agama asalnya, yang paling bertanggung jawab adalah pendeta yang menikahi mereka itu…Sebab dia menjadi Kristen bukan percaya kepada Kristus…

Itu sama saja si gadis itu menikah dengan orang yang beragama lain, sebab walaupun mereka menikah secara Kristen tetapi si lelaki itu kembali kepada agamanya…Atau dengan kata lain sigadis menikah dengan orang beragama lain tetapi gadis itu tetap setia kepada Tuhan? sigadis tidak mengikuti agama si laki itu…Tetapi menurut alkitab itu juga adalah pelanggaran dan itu juga adalah dosa…

Jadi itu berarti sama saja si gadis itu menikahi dengan orang yang tak seiman, itu menunjukkan sigadis itu tidak mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati…

KIta dapat banding dengan kasus Salomo ketika menikah dengan perempuan perempuan kafir itu lalu meninggalkan penyembahan kepada Tuhan? Lihat ! Raj. 11:4,6

Jadi adalah omomng kosong klo ada pasangan yang berbeda iman berkata walaupun menikah dengan tak seiman tetapi masih tetap setia/mengasihi Tuhan… Perhatikan Yoh. 14:15,21…

emang boleh ya kambing dikawinkan dengan domba ??? nanti lahir monster loh…

ini yg salah ya yg mengawinkan, kok kawinkan kambing dengan domba

Kalau suami/istri murtad dari iman, kembali ke keyakinan awalnya, bagaimana sikap gereja? Haruskah pasangannya yang Kristen bercerai dari suami/istri yang murtad itu?

Lanjutkan… gereja memang bukan isinya sapi semua, masing ada kambing, kerbau, domba, ayam, bebek dan tikus. Banyak orang yang dipanggil menjadi pemeluk agama Kristen, tetapi sedikit yang dipilihNya untuk diselamatkan. Kayanya seperti itu kedengarannya…

Lukas 3:23-24
Dan ada seorang yang berkata kepada-Nya: “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Yesus kepada orang-orang di situ: "Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.

Saya baca Thread ini, saya pikir objek yang TS sertakan, pemikirannya dunia ini hanya kawin sahaja, sehingga menukar iman demi sebatang coklat. Atau memang orang yang bersangkutan hanya orang bagai di daun talas, bahwa yang penting nafsu duniawi dapat disalurkan, tidak ada hal yang perlu diperjuangkan, yang berharga dari dirinya sendiri.

Masuk Kristen sekedar supaya bisa kawin, adalah hal yang memalukan, yang ada di otak itu hanya : Maintanance alat kelamin ;D, atau demikian sebaliknya, masuk ke Sebrangnya agar bisa kawin juga cukup memalukan. Jika dipandang dari SUDUT IDEALIS, sebagai pengikut Kristus…

salam

Sepertinya beberapa gereja banyak yang mempermudah seseorang masuk Kristen yang motivasi sebenarnya adalah sekedar supaya bisa diberkati di gereja, agar perkawinannya dapat disahkan. Saya juga pernah melihat seorang muslimah yang menjadi Kristen, menikah diberkati di gereja, namun beberapa tahun kemudian tampak sudah berjilbab walau suaminya tetap Kristen.

Seandainya pasangan murtad, apakah dapat dijadikan dasar untuk bercerai?

Kalau menurut saya sih engga bisa mas, sebab Alkitab mengijinkan perceraian hanya jika pasangannya berzinah.

Mat 5:32 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.

Selain itu, rasul Petrus menasehati:

1Pe 3:1 Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya

Prinsip ayat ini berlaku juga bagi suami. Ada peluang pasangan yang tidak seiman dapat dimenangkan melalui tingkah laku kita.

Tentu saja, dalam prakteknya ini sulit. Tetapi saya kira itu sudah menjadi resiko mencari pasangan yang tidak seiman. :slight_smile:

Gereja yang memberkati juga tampak sperti kelihatan asal saja, apakah karena disogok atau karena alasan kasihan?, tidak ada upaya meninjau kembali apa yang telah direstuinya dalam restu gereja?, melihat penyakit-penyakit apa yang akan kembali timbul dalam pasangan itu? karena dari awal Gereja tersebut telah memberkati sesuatu penyakit. Kalau sudah kembali menjadi muslim? terus apa sih kaidahnya makanya diberkati gereja? agar mereka bisa serumah? dan proses suami istripun dapat dilakukan diantara 2 manusia yang diberkati?

Mengapa harus bertanya bercerai? atau apakah bisa dijadikan alasan cerai?
Harusnya ditanyakan, apasih motivasi awal mereka ingin menikah dengan background sperti mereka itu?

Kalau sudah seprti itu, sudah tumpang tindih masalah yang terjadi didalamnya, bukan karena sang Istri kembali ke haribaannya sebelumnya sebagai non Kristen.

begini : Ef 5:22
Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,

Bila sang Istri, tidak hormat lagi kepada suami, apalagi yang dipertahankan? Pabila keputusan mendasar dianggap kedua belah pihak sebagai hal yang sepele dan tidak besar, apalagi yang diharapkan? Kelanggengan rumah tangga, pabila 2 belah pihak saling menempatkan dirinya masing2 pada koridor yang tepat, sang suami bertindak sebgai imam, demikian juga sang istri, bertindak sebgai penolong yang sepadan bagi suaminya…

Kalau masalah Zinah atau tidak, siapa yang melihat? apa2 saja yang dilakukan istri? Jika hormat saja tidak dimiliki sang istri dengan kembali keasal muasalanya, apa lagi yang dipertahankan?

Tentu penyakit awalnya yang perlu dilihat (reason sebelum mereka menikah), siapa tau juga karena sang wanita telah punya isi didalam perutnya, dari pada malu, lebih baik menikah in hurry, dari pada dapat gonjang ganjing yang kapasitasnya dapat menyakiti perasaan keduanya, makanya in hurry untuk menikah.

Kalau boleh tau, tidak hormatnya seperti apa mas? Dan mengapa dia menjadi tidak hormat?

:slight_smile:

Maka itu dibutuhkan bukti mas. Kalau tidak ada bukti, lalu main cerai, bahaya itu. Hehe :slight_smile: Ini kan sama seperti peraturan pemerintah: kalau seseorang korupsi, dipenjara sekian tahun. Nah, karena kita tidak tahu siapa yang korupsi, maka perlu bukti sebelum dipidanakan.

Gitu lho. :slight_smile: