memahami trinitas dengan logika

saya masih belum mengerti dengan ajaran trinitas atau trituggal

Ajaran Trinitas yang wajib diimani tanpa dapat dimengerti permasalahannya, karena tidak ada tafsirannya yang bisa diterima oleh akal pikiran. Disamping itu ada yang paling mengejutkan, yaitu bahwa pembebasan orang-orang yang berdosa itu ialah kematian yang abadi yang didalamnya termasuk orang-orang yang bukan Kristen, karena mereka itu dalam pandangan Kristen adalah orang-orang yang berdosa, karena mereka tidak percaya kepada ajaran-ajaran Kristen. Dan kalau orang-orang yang berdosa itu yakin atas abadinya kematian mereka, tentulah reaksi alaminya mereka akan tergelimang dalam segala keburukan dan kesenangan sekedar untuk memuaskan hawa nafsu mereka sebelum sampainya ajal, sebab kematian itu dalam pandangan mereka adalah penghabisan untuk selama-lamanya.

kekristenan emang ga bisa diterima dengaa akal pikiran bro. mana ada Tuhan yang mau jadi manusia terus ngebasuh kaki murid2Nya? abis itu mati di salib lagi.

kalo mulainya dari logika (diri sendiri), ga akan sampai dengan kekristenan.

satu hal yang membuat orang berdosa tetap berdosa: dia tidak menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, bukan karena tidak percaya ajaran2 kristen.

gini lho. upah dosa itu maut. jadi setiap orang yang ngelakuin dosa, otomatis udah di bawah hukuman (maut). karena ga ada manusia yang ga berdosa, maka semua manusia otomatis sudah berada di bawah hukuman. tapi Allah kasih kemurahan buat manusia, melalui penebusan yang dilakuin Yesus. yang mau nerima Yesus sebagai Juruselamatnya, dia menerima kemurahan dari Allah dan ga akan dihukum; yang ga nerima ya tetep dihukum. apa Allah ngga adil? sangat adil kog!

ini imajinasi anda saja kog. ada mau membuat 1001 imajinasi yang menyenangkan diri anda, sah2 saja kog. namanya juga imajinasi, siapa yang dapat membatasi.

oh ya, ini kalo saya substitusi, kristen jadi islam:

terlihat masih cocok2 saja toh, namanya juga imajinasi.

anda jelas punya (banyak?) stigma negativ tentang kekristenan.


Lukas 6:41 Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?
Lukas 6:42 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."

Kalu Tuhan masuk diakal, itu bukan Tuhan namanya tapi kalu Tuhan melampau akal, itu baru Tuhan namanya dan itulah Tuhan saya…

saya masih belum mengerti dengan ajaran trinitas atau trituggal

kalau anda tidak mau percaya anda tidak mungkin bisa mengerti

Ajaran Trinitas yang wajib diimani tanpa dapat dimengerti permasalahannya, karena tidak ada tafsirannya yang bisa diterima oleh akal pikiran.

akal pikiran yang masih dibutakan oleh ilah-ilah jaman memang tidak akan sanggup menerima kasih karunia sebesar ini

ketika anda mengimaninya otomatis anda diberikan pengertian, anda berani mencoba untuk beriman? saya jamin anda bisa mengerti ketika anda beriman bahwa Yesus adalah Tuhan

Disamping itu ada yang paling mengejutkan, yaitu bahwa pembebasan orang-orang yang berdosa itu ialah kematian yang abadi yang didalamnya termasuk orang-orang yang bukan Kristen, karena mereka itu dalam pandangan Kristen adalah orang-orang yang berdosa, karena mereka tidak percaya kepada ajaran-ajaran Kristen.

saya terkejut anda dapat ilham atau wangsit darimana pernyataan ini?

Dan kalau orang-orang yang berdosa itu yakin atas abadinya kematian mereka, tentulah reaksi alaminya mereka akan tergelimang dalam segala keburukan dan kesenangan sekedar untuk memuaskan hawa nafsu mereka sebelum sampainya ajal, sebab kematian itu dalam pandangan mereka adalah penghabisan untuk selama-lamanya.

abadinya kematian? anda keliru memahami arti dari “kematian”, kalau anda tidak percaya Yesus Kristus adalah Tuhan, walau anda bernafas anda terbilang mati (rohaninya)

:slight_smile:

@Zodiakkiller & @CosmicBoy

bung2 skalian, memang Tuhan itu nggk bisa terjangkau akal secara keseluruhan… tapi untuk mengenalNya, harusnya bisa terjangkau dengan akal. karena Tuhan memang menciptakan kita dengan memiliki akal, tujuannya yaa supaya kita bisa mengenalNya. kenapa harus terima doktrin yang tidak sesuai akal?

buat saya, Allah sebagai Tuhan, Yesus/Isa sebagai utusan, Ruhul kudus sebagai perantara wahyu, itu lebih masuk akal daripada:
Allah = yesus = Roh kudus

memangnya menurut anda yang masuk akal itu kebalikannya?

bung2 sekalian, kebenaran itu harus kita cari tahu, kita analisis, dan kita pikirkan… bukan terima mentah-mentah apa yang diberikan lingkungan kepada kita.

ngga, saya ngga bilang yang masuk akal itu kebalikannya. yang saya bilang, kalo ngandelin akal pikiran, ga bakal sampe ke kekristenan. dibedakan lho ya.
coba deh, masuk akal ga c: yang terbesar (pemimpin) itu yang melayani, berkati orang yang menganiaya kamu, dsb. ga masuk akal kan?? jujur gw pribadi bilang itu ga masuk akal. ya tapi itu lah kekristenan.

ya silakan kalo mau ngotot pake akal pikiran. meski orang2 sini udah pada ngingetin, tapi semuanya balik lagi ke anda.

dari injil yohanes:

20:24 Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ.
20:25 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: “Kami telah melihat Tuhan!” Tetapi Tomas berkata kepada mereka: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.”
20:26. Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!”
20:27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.”
20:28 Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!”
20:29 Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

akal?

elaborasikan entitas yang tidak sesuai dengan akal?

anda sebelum bicara akal-akalan dengan kami, pahami dulu dan dalami dulu ajaran anda yang tidak masuk akal juga

bagaimana bisa nabi anda itu bertemu dengan malaikat (mungkin saja setan)

mari jelaskan dengan kekuatan akal anda bukan dengan iman ataupun bahkan dengan mitos2 atau dongeng2

:slight_smile:

kagak salah ngomong nich mas?

bung2 skalian,, memang Tuhan itu nggk bisa terjangkau akal secara keseluruhan.. tapi untuk mengenalNya, harusnya bisa terjangkau dengan akal.
apakah mas bisa ngerti Allah 100%, kl bisa maka Dia bukan Allah tapi mas-lah yg Allah.

menurut saya yah, Allah tanpa harus menjadi YESUS pun sebenernya udah melayani manusia. kita hidup di muka bumi ini, di cukupkan kebutuhan2nya, makan, minum dsb. lalu mengutus para rasul untuk menyampaikan berita kebenaran supaya manusia mengetahuiNya (secara benar), sampai disediakan surga bagi orang2 yang berpegang pada kebenaran itu.

itu semua kan bisa dibilang Allah (Tuhan semesta alam) melayani kita, padahal Dia adalah Tuhannya, sedangkan kita hanya makhluk ciptaanNya.

bung, saya memeluk agama ini berdasarkan pencarian kebenaran juga bung. memang pada awalnya saya hanya ikut agama orang tua saya saja. tapi ketika saya sudah mulai bisa berpikir sacara logis (dewasa/remaja atau apalah), saya mulai mencari tau dengan sekuat tenaga, semampu saya untuk memahami apakah agama saya ini adalah agama yang benar2 dari Tuhan semesta alam atau tidak… saya telusuri dari berbagai segi: dari Historis sejarah (sumbernya baik dari yg pro maupun yg kontra), dari keilmuan (sains, tata bahasa, matematik), isi ajarannya, dsb.

karena itu, saya berkali-kali bertanya kepada agan2 sekalian, kira2 ada nggak bukti2 riil/otentik (yang bisa diuji kebenarannya) yang membuktikan klo agama agan2 sekalian bener2 datang dari Tuhan semesta alam… klo ada, saya mau tau, mau saya pelajari, saya analisis, dan saya bandingkan dengan hasil pencarian kebenaran saya terhadap agama saya.

gitu bro,

kebenaran adalah milik agama? bukan Tuhan?
kok bangga sekali menjadi pemeluk agama?

oh jadi allah anda itu masih bisa dijangkau oleh nalar anda?
pantas anda begitu menuhankan agama anda

kata siapa Kristen itu adalah sebuah agama?

nah googling tentang sejarah kekristenan, jadi ga asal tanpa wawasan sama sekali nanya sesuatu yang tidak relevan

Yesus Kristus tidak bawa agama kok ke dunia, justru menyadarkan manusia terhadap tipu daya agama (termasuk agama anda yg baru muncul belakangan)

nah mari jelaskan apa yang saya tanyakan

bagaimana bisa nabi anda itu bertemu dengan malaikat (mungkin saja setan)

bukti otentik apa, baik itu dari keilmuan, dari matematika dan fisika yang bisa menjelaskan mitos diatas tersebut?

secara pribadi saya lebih baik memilih jadi atheis daripada harus dipaksa memeluk agama yang anda peluk saat ini

:slight_smile:

@tonypaulo: mending dibuat tritnya aja om, judulnya “sekarang giliran kristen yang bertanya”. :tongue:

banyak hal yang saya mau tanyakan kepada mereka. salah satunya yang dibilang bahwa Maria ibu Yesus itu sepupunya Harun (kalo ga salah). kog bisa?

btw, sori TS OOT sebentar. BTT sekarang.

Sudah ada threandnya bro…

@ fadel,

@Zodiakkiller & @CosmicBoy

bung2 skalian, memang Tuhan itu nggk bisa terjangkau akal secara keseluruhan… tapi untuk mengenalNya, harusnya bisa terjangkau dengan akal. karena Tuhan memang menciptakan kita dengan memiliki akal, tujuannya yaa supaya kita bisa mengenalNya. kenapa harus terima doktrin yang tidak sesuai akal?

buat saya, Allah sebagai Tuhan, YESUS/Isa sebagai utusan, Ruhul kudus sebagai perantara wahyu, itu lebih masuk akal daripada:

Kayak gituh, semua agama juga ada. Kalu gituh mending ikut SSY atau Unitarinisme atau yahudisme dari Islam…tapi antara kalian juga pusing, kalu tidak pusing pasti udah bersatu, khan? Jadi menyembah Allah yg masuk diakal tidak semestinya menjamin kesatuan!

Allah = YESUS = ROH KUDUS

Dongeng dari mana ini lagi? Dari ustaz2? Siapa bilang Allah = YESUS = ROH KUDUS??? Kapan mau belajar bro?

memangnya menurut anda yang masuk akal itu kebalikannya?

bung2 sekalian, kebenaran itu harus kita cari tahu, kita analisis, dan kita pikirkan… bukan terima mentah-mentah apa yang diberikan lingkungan kepada kita.

Justru pemahaman salah anda tentang keilahian (Allah = YESUS = ROH KUDUS) bukan spt yang anda sarankan tapi mengulang dongeng para uztas! How pathetic…!

@cosmicboy: oh sori, saya ga tau. :smiley:

@for all

tampaknya, dari cara kita menilai kebenaran sudah sangat berbeda, pantesan aja gak nyambung2…

Bukan karena itu tapi di FK kita tak diperbolehkan membahas agama lain selain kekristenan, saya pengin membahas alquran dengan anda, atau muhammad, jadi saya saran sila ke jelasenggak.wordpress, saya nunggu anda di sana, oke?

Sy copas aja penjelasan yg pernah sy baca ( silakan bandingkan dgn konsep ajaran anda )

“namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.” (1 Korintus 8:6)

Plus…
Yesus berkata “Aku dan Bapa adalah satu.” (Yohanes 10:30)

Muara dari berita Alkitab ini adalah Tritunggal, suka atau tidak suka

Ya, dan Allah yg esa yg kita sebut Bapa itu ternyata memiliki Firman-Nya dan juga Roh-Nya.
Firman ini nuzul menjelma menjadi manusia yg kemudian kita kenal sebagai Yesus Kristus (Yohanes 1:14).
Bapa, Firman-Nya, dan Roh-Nya, itulah Tritunggal.
Jadi ada berapa Allah? Satu, yaitu Bapa (1 Korintus 8:6) yang di dalam Diri Bapa ini ada Firman dan Roh.

Saya lebih sulit jika diperhadapkan kepada Allah yg bukan Tritunggal.
Mengapa? Karena mengatakan bahwa Allah bukan Tritunggal = mengatakan bahwa Allah tidak memiliki Firman-Nya (alias bisu) dan tidak memiliki Roh-Nya (alias mati).
Jadi, semua monotheis harus juga mengakui Tritunggal atau mereka akan menghujat Allah yg esa itu sendiri.

Disamping itu ada yang paling mengejutkan, yaitu bahwa pembebasan orang-orang yang berdosa itu ialah kematian yang abadi yang didalamnya termasuk orang-orang yang bukan Kristen, karena mereka itu dalam pandangan Kristen adalah orang-orang yang berdosa, karena mereka tidak percaya kepada ajaran-ajaran Kristen. Dan kalau orang-orang yang berdosa itu yakin atas abadinya kematian mereka, tentulah reaksi alaminya mereka akan tergelimang dalam segala keburukan dan kesenangan sekedar untuk memuaskan hawa nafsu mereka sebelum sampainya ajal, sebab kematian itu dalam pandangan mereka adalah penghabisan untuk selama-lamanya.
keknya uda di jawab deh di thread sebelah

@mohammad mossy and fadel

ada bacaan menarik tentang keunggulan esa trinitas di bandingkan esa versi ajaran kalian, sillakan tanggapi siapa tau kalau anda mampu memberikan tanggapan yg menarik

  1. A third advantage of this method of illustrating the doctrine of the Trinity is, that it goes to
    show that the personality of God depends upon the trinality of the Divine Essence—that if there
    are no interior distinctions in the Infinite Being, he cannot be self-contemplative, self-cognitive,
    or self-communing.This is an important and valuable feature of the method in question, when viewed in its bearing upon the modern assertion that an Infinite Being cannot be personal. This treatise of Augustin does not develope the problem upon this point, but it leads to it. In illustrating the Trinity by the ternaries in nature, and especially in the human mind, he aims only to show that trinality of a certain kind does not conflict with unity of a certain kind. Memory, understanding, and will are three faculties,yet one soul. Augustin is content with elucidating the Divine unity by such illustrations. The elucidation of the Divine personality by them, was not attempted in his day nor in the Mediæval and Reformation churches. The conflict with pantheism forced this point upon the attention of the Modern church.
    At the same time, these Christian fathers who took the problem of the Trinity into the centre
    of the Divine essence, and endeavored to show its necessary grounds there, prepared the way for
    showing, by the same method, that trinality is not only consistent with personality, but is actually
    indispensable to it. In a brief essay like this, only the briefest hints can be indicated.
    If God is personal, he is self-conscious. Self-consciousness is, (1), the power which a rational
    spirit, or mind, has of making itself its own object; and, (2), of knowing that it has done so. If the
    first step is taken, and not the second, there is no self-consciousness. For the subject would not
    know that the object is the self. And the second step cannot be taken, if the first has not been. These two acts of a rational spirit, or mind, involve three distinctions in it, or three modes of it. The whole mind as a subject contemplates the very same whole mind as an object. Here are two distinctions, or modes of one mind. And the very same whole mind perceives that the contemplating subject and the contemplated object are one and the same essence or being. Here are three modes of one mind, each distinct from the others, yet all three going to make up the one self-conscious spirit.
    Unless there were these three distinctions, there would be no self-knowledge. Mere singleness, a mere subject without an object, is incompatible with self-consciousness.
    In denying distinctions in the Divine Essence, while asserting its personality, Deism, with
    Socinianism and Mohammedanism, contends that God can be self-knowing and self-communing
    as a single subject without an object
    . The controversy, consequently, is as much between the deist and the psychologist, as it is between him and the trinitarian. It is as much a question whether his view of personality and self-consciousness is correct, as whether his interpretation of Scripture is.
    For the dispute involves the necessary conditions of personality. If a true psychology does not
    require trinality in a spiritual essence in order to its own self-contemplation, and self-knowledge,
    and self-communion, then the deist is correct; but if it does, then he is in error. That the study of self-consciousness in modern metaphysics has favored trinitarianism, is unquestionable. Even the spurious trinitarianism which has grown up in the schools of the later pantheism goes to show, that a trinal constitution is requisite in an essence, in order to explain self-consciousness, and thatn absolute singleness, or the absence of all interior distinctions, renders the problem insoluble.
    But the authority of Scripture is higher than that of psychology, and settles the matter. Revelation unquestionably discloses a deity who is “blessed forever;” whose blessedness is independent of the universe which he has made from nonentity, and who must therefore find all the conditions of blessedness within himself alone. He is blessed from eternity, in his own self-contemplation and self-communion. He does not need the universe in order that he may have an object which he can know, which he can love, and over which he can rejoice. “The Father knoweth the Son,” from all eternity (Matt. xi. 27); and “loveth the Son,” from all eternity (John iii. 35); and “glorifieth the Son,” from all eternity (John xvii. 5). Prior to creation, the Eternal Wisdom “was by Him as one
    brought up with Him, and was daily His delight, rejoicing always before Him” (Prov. viii. 30); and
    the Eternal Word “was in the beginning with God” (John i. 2); and “the Only Begotten Son (or God
    Only Begotten, as the uncials read) was eternally in the bosom of the Father” (John i. 18).
    Here is society within the Essence, and wholly independent of the universe; and communion
    and blessedness resulting therefrom. But this is impossible to an essence without personal
    distinctions. Not the singular Unit of the deist, but the plural Unity of the trinitarian, explains this.

    A subject without an object could not know. What is there to be known? Could not love. What is
    there to be loved? Could not rejoice. What is there to rejoice over? And the object cannot be the
    universe. The infinite and eternal object of God’s infinite and eternal knowledge, love, and joy,
    cannot be his creation: because this is neither eternal, nor infinite. There was a time when the
    universe was not; and if God’s self-consciousness and blessedness depends upon the universe, there was a time when God was neither self-conscious nor blessed. The objective God for the subjective God must, therefore, be very God of very God, begotten not made, the eternal Son of the eternal Father.
    The same line of reasoning applies to the third trinitarian person, but there is no need of going
    through with it. The history of opinion shows, that if the first two eternal distinctions are conceded, nthere is no denial of the reality and eternity of the third.
    The analogue derived from the nature of finite personality and self-consciousness has one great
    advantage—namely, that it illustrates the independence of the Divine personality and
    self-consciousness. The later pantheism (not the earlier of Spinoza) constructs a kind of trinity, but
    it is dependent upon the universe. God distinguishes Himself from the world, and thereby finds
    the object required for the subject. But this implies either that the world is eternal, or else, that God is not eternally self-conscious. The Christian trinitarianism, on the contrary, finds all the media and conditions of self-consciousness within the Divine Essence. God distinguishes himself from himself, not from the universe. The eternal Father beholds himself in the eternal Son, his alter ego, the “express image of his own person” (Heb. i. 3). God does not struggle gradually into
    self-consciousness, as in the Hegelian scheme, by the help of the universe.
    Before that universe was in existence, and in the solitude of his own eternity and self-sufficiency, he had within his own essence all the media and conditions of self-consciousness. And after the worlds were called into being, the Divine personality remained the same immutable and infinite self-knowledge, unaffected by anything in his handiwork.