MEMBUNUH UNTUK HIDUP, SALAH KAH?

SYALOOM…

sebelumnya sy pnh nonton berita tentang siswa2 STM di Jakarta yg membuat mobil, ataupun ada yang merankaikan sbuah heli…

ini berbeda dengan kami yg berada di ambon… saat masih SMU tahun 2000-2001 kami malah membuat pedang, panah, merakit bom, pistol senjata sampai pada senjata yang berbentuk persis dengan AK 47 lengkap dengan magazinnya, sampai juga pada mahsiswa kristen yg bisa merakit peluncur kimia yg harus diolesi pasta gigi di seluruh badan agar bisa menangkal radiasinya…

apakah membunuh untuk mempertahankan keluarga dan gereja juga mempertahankan diri, apakah itu salah??

apakah tempat kita di surga? ato malah sebaliknya?

kalo Tuhan itu ada kenapa keadaan harus kami alami seperti ini??

topik ini ingin sy dedikasikan kepada almarhum2 tmn2 saya… semoga bisa bemamfaat buat kami yg masih menghirup udara… danke…

Membunuh karena mengasihi tidaklah salah

GBU

Kejadian 9:6,“Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri.”

Membunuh dalam arti menghilangkan nyawa sesama manusia dibenarkan bila dilakukan demi keadilan, dalam hal ini eksekusi mati oleh aparat negara bagi mereka yang menghilangkan nyawa sesamanya dengan sengaja dan dilandasi kebencian.

Negara juga wajib melindungi warganya dari ancaman orang2 jahat. Termasuk juga untuk melindungi wilayahnya dari serangan pihak luar. Itulah sebabnya negara mempunyai polisi dan tentara yang memegang senjata. “Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.” (Roma 13:4).

Jadi, menghilangkan nyawa orang dalam konteks menegakkan hukum dan melindungi rakyat adalah kewenangan negara. Dalam kasus kerusuhan di Ambon, di mana aparat negara tidak mampu melindungi rakyatnya, tindakan kekerasan yang mematikan yang dilakukan oleh warga sipil demi menyelamatkan keluarga dan harta bendanya dapat ditolerir sampai batas tertentu. Sama seperti siskamling atau pengamanan swakarsa di kompleks perumahan. Batasannya adalah, tindakan mematikan itu bukan sebagai balas dendam dan tidak dilandasi rasa benci.

Do what you wanna do, just make sure it fits ‘love God, love one another’

Jadi dalam kasus seperti di Ambon beberapa tahun yang lalu, warga sipil bersenjata yang berperang melawan kelompok lain yang menyerang dan mengancam keselamatan diri dan keluarga mereka, dalam hal ini berperan sebagai “polisi” atau “tentara” selama aparat negara yang sesungguhnya tidak hadir di situ.

Setuju…