MENE, MENE, TEKEL, dan PARSIN DALAM KITAB DANIEL 5 : 24 -25, APA ARTINYA?

Dear All,

Saya memiliki referensi tentang ini.
Semoga bermanfaat.

Empat Kata yang Mengubah Dunia

EMPAT patah kata yang sederhana tertulis di dinding berplester. Namun, keempat kata tersebut membuat seorang penguasa yang besar wewenangnya ketakutan setengah mati. Kata-kata tersebut mengumumkan digulingkannya dua raja, kematian salah seorang di antaranya, dan berakhirnya suatu kuasa dunia yang perkasa. Kata-kata itu mempermalukan sebuah ordo keagamaan yang dipuja-puja. Dan, yang terpenting, kata-kata itu meninggikan ibadat yang murni kepada Yehuwa dan meneguhkan kembali kedaulatan-Nya, yang pada saat itu kurang dihargai oleh kebanyakan orang. Ya, kata-kata itu bahkan memberikan pencerahan tentang peristiwa-peristiwa dunia dewasa ini! Bagaimana mungkin empat patah kata menghasilkan semua ini? Mari kita lihat.

2 Puluhan tahun telah berlalu sejak terjadinya peristiwa-peristiwa yang digambarkan di pasal ke-4 buku Daniel. Pemerintahan Raja Nebukhadnezar yang sombong selama 43 tahun di Babilon berakhir sewaktu ia mati pada tahun 582 SM. Serangkaian penerus datang dari keluarganya, tetapi kematian dini atau pembunuhan mengakhiri kekuasaan penerus-penerus itu silih berganti. Akhirnya, seorang pria bernama Nabonidus merebut takhta melalui pemberontakan. Sebagai putra seorang imam wanita dari kuil Sin, dewa bulan, Nabonidus jelas tidak memiliki pertalian darah dengan keluarga raja Babilon. Beberapa sumber berwenang menyebutkan bahwa ia menikahi putri Nebukhadnezar untuk mengesahkan pemerintahannya, mengangkat Belsyazar, putra mereka, menjadi rekan penguasa, dan memberikan kepercayaan kepada Belsyazar untuk mengawasi Babilon sementara ia pergi selama bertahun-tahun. Kalau begitu, Belsyazar adalah cucu Nebukhadnezar. Apakah ia belajar dari pengalaman kakeknya bahwa Yehuwa adalah Allah Yang Tertinggi, yang sanggup merendahkan raja mana pun? Sama sekali tidak!—Daniel 4:37.

PESTA YANG MENJADI TIDAK TERKENDALI
3 Daniel pasal 5 diawali dengan sebuah perjamuan. ”Raja Belsyazar mengadakan pesta besar bagi seribu pembesarnya, dan di depan seribu orang itu ia minum-minum anggur.” (Daniel 5:1) Seperti yang saudara bayangkan, sebuah ruangan yang sangat besar pasti dibutuhkan untuk menampung semua orang ini, ditambah para selir dan gundik raja. Seorang sarjana menyatakan, ”Perjamuan ala Babilon sungguh megah, meskipun biasanya berakhir dengan mabuk-mabukan. Anggur, yang diimpor dari luar negeri, dan segala jenis kemewahan tersaji di atas meja. Wewangian memenuhi ruangan; para penyanyi dan pemain musik menghibur para tamu yang berkumpul.” Sambil duduk di tempat yang terlihat oleh semua orang, Belsyazar meminum anggurnya—minum, dan terus minum.

4 Tampaknya aneh jika orang-orang Babilonia ini menikmati suasana pesta pora demikian pada malam itu—tanggal 5/6 Oktober 539 SM. Bangsa mereka sedang berperang, dan keadaan tampaknya tidak terlalu baik. Nabonidus baru saja menderita kekalahan di tangan pasukan Media-Persia yang datang menyerbu dan ia mencari perlindungan di Borsipa, yang terletak di sebelah barat daya Babilon. Dan, kini pasukan Kores berkemah persis di luar Babilon. Namun, tampaknya Belsyazar dan para pembesarnya tidak khawatir. Bagaimanapun, kota mereka adalah Babilon yang mustahil ditaklukkan! Tembok-tembok kota yang sangat besar menjulang di atas parit yang dalam, yang dipenuhi air Sungai Efrat yang besar seraya sungai itu mengalir melalui kota. Selama lebih dari seratus tahun, tidak ada musuh yang pernah mengambil alih Babilon dengan menggempur kota itu. Jadi, mengapa harus khawatir? Mungkin Belsyazar bernalar bahwa gaduhnya suara mereka yang sedang berpesta pora akan mempertunjukkan keyakinan mereka kepada musuh-musuh yang berada di luar sehingga orang-orang itu menjadi tawar hati.

5 Tidak lama kemudian, Belsyazar mulai terpengaruh oleh anggur yang terlalu banyak diminumnya. Seperti yang Amsal 20:1 katakan, ”anggur adalah pengejek”. Pada kesempatan ini, anggur memang membuat raja melakukan tindakan yang sangat bodoh. Ia memerintahkan agar bejana-bejana suci dari bait Yehuwa dibawa ke ruang pesta. Bejana-bejana ini, yang diambil sebagai jarahan sewaktu Nebukhadnezar menaklukkan Yerusalem, hanya boleh digunakan dalam ibadat yang murni. Bahkan para imam Yahudi yang diberi wewenang untuk menggunakannya dalam bait di Yerusalem pada masa lampau telah diperingatkan untuk menjaga diri mereka tetap tahir.—Daniel 5:2; bandingkan Yesaya 52:11.

6 Akan tetapi, masih ada lagi penghinaan yang Belsyazar pikirkan. ”Raja serta para pembesarnya, para gundik serta selir-selirnya . . . minum anggur, dan mereka memuji allah-allah dari emas dan perak, tembaga, besi, kayu, dan batu.” (Daniel 5:3, 4) Rupanya Belsyazar bermaksud meninggikan allah-allah palsu yang disembahnya di atas Yehuwa! Sikap ini kelihatannya umum di antara orang-orang Babilonia. Mereka menganggap hina orang-orang Yahudi yang mereka tawan, mengejek ibadat orang-orang tersebut, dan sama sekali tidak memberikan harapan bagi orang-orang itu untuk kembali ke tanah air tercinta. (Mazmur 137:1-3; Yesaya 14:16, 17) Mungkin, raja yang mabuk ini merasa bahwa merendahkan orang-orang buangan ini dan menghina Allah mereka akan membuat istri-istrinya dan para pejabat terkesan, membuat dirinya tampak kuat. Tetapi, sensasi kekuasaan yang mungkin dirasakan Belsyazar itu tidak bertahan lama.
TULISAN TANGAN DI DINDING

7 ”Pada saat itu,” demikian pernyataan kisah yang terilham, ”muncullah jari-jari tangan manusia dan menulis di depan kaki pelita, pada plester dinding istana raja, dan raja melihat punggung tangan yang sedang menulis itu.” (Daniel 5:5) Benar-benar pemandangan yang dahsyat! Sebuah tangan muncul entah dari mana, melayang-layang di udara dekat bagian dinding yang terang. Bayangkan kesunyian yang tiba-tiba menyelimuti pesta itu seraya para tamu melongo melihat tangan itu. Tangan tersebut mulai menulis suatu pesan misterius pada plester dinding. Fenomena ini sungguh menyeramkan dan tak terlupakan, sehingga sampai sekarang orang menggunakan ungkapan ”tulisan tangan di dinding” untuk menyatakan peringatan tentang adanya malapetaka yang sudah di ambang pintu.

8 Apa pengaruhnya terhadap raja yang sombong ini, yang berupaya meninggikan dirinya dan allah-allahnya di atas Yehuwa? ”Pada waktu itu, air muka raja berubah, dan pikiran-pikirannya mulai membuatnya takut, sendi-sendi pinggangnya menjadi lemas dan lututnya berantukan.” (Daniel 5:6) Belsyazar sudah berupaya agar ia kelihatan agung dan berwibawa di hadapan rakyatnya. Namun, penampilannya mencerminkan rasa takut yang sangat mencekam—mukanya pucat pasi, pinggangnya goyah, seluruh tubuhnya gemetar begitu hebat sehingga lututnya berantukan. Memang benarlah kata-kata Daud yang ditujukan kepada Yehuwa dalam nyanyian, ”Matamu menentang orang yang angkuh, sehingga engkau merendahkan mereka.”—2 Samuel 22:1, 28; bandingkan Amsal 18:12.

9 Patut diperhatikan bahwa rasa takut yang Belsyazar perlihatkan tidak sama dengan rasa takut yang saleh, yaitu rasa hormat yang dalam kepada Yehuwa, yang adalah permulaan segala hikmat. (Amsal 9:10) Tidak, ini adalah kengerian mencekam, yang tidak menghasilkan hikmat apa pun pada raja yang gemetar itu. Dan, bukannya memohon pengampunan dari Allah yang baru saja dihinanya, ia malah berteriak memanggil ”para dukun, orang-orang Khaldea dan para ahli nujum”. Ia bahkan mengumumkan, ”Siapa pun yang dapat membaca tulisan ini dan memberitahukan tafsirannya kepadaku, kain ungu akan dikenakan padanya, dengan kalung emas pada lehernya, dan ia akan berkuasa dalam kerajaan ini sebagai orang ketiga.” (Daniel 5:7) Penguasa ketiga di kerajaan pasti memiliki wewenang yang luar biasa; di atasnya hanya ada dua raja yang pada waktu itu memerintah, Nabonidus dan Belsyazar sendiri. Kedudukan demikian biasanya disediakan bagi putra sulung Belsyazar. Raja rupanya begitu ingin agar pesan ajaib itu dijelaskan!

10 Orang-orang berhikmat pun berbaris memasuki ruangan besar itu. Jumlah mereka tidak sedikit, karena Babilon adalah kota yang penuh dengan agama palsu dan sarat dengan kuil-kuil. Tentu ada banyak orang yang mengaku dapat membaca pertanda dan mengartikan tulisan misterius. Orang-orang berhikmat ini pasti tergetar melihat kesempatan yang ada di hadapan mereka. Inilah peluang untuk mempraktekkan keterampilan mereka di hadapan kalangan terkemuka, memenangkan perkenan raja, dan naik ke jabatan yang sangat berkuasa. Tetapi, mereka gagal total! ”Mereka tidak mampu membaca tulisan tersebut atau memberitahukan tafsirannya kepada raja.”—Daniel 5:8.

11 Tidak dapat dipastikan apakah orang-orang berhikmat di Babilon sanggup mengartikan tulisan itu—maksudnya, huruf-hurufnya—atau tidak. Jika tulisan itu tidak dapat dibaca, orang-orang yang tidak bermoral ini tentu bebas mereka-reka tafsiran apa pun yang menyesatkan, kemungkinan bahkan yang artinya menyanjung sang raja. Kemungkinan lain adalah huruf-huruf itu cukup mudah dibaca. Akan tetapi, karena bahasa-bahasa seperti Aram dan Ibrani ditulis tanpa huruf hidup, setiap kata dapat memiliki beberapa arti. Jika demikian halnya, orang-orang berhikmat ini agaknya tidak dapat memutuskan kata-kata mana yang dimaksud. Bahkan jika mereka dapat melakukannya, mereka tetap tidak sanggup memahami arti kata-kata itu sehingga dapat menafsirkannya. Bagaimanapun, satu hal sudah pasti: orang-orang berhikmat di Babilon gagal total!

12 Maka terbongkarlah kedok mereka, bahwa mereka adalah orang berhikmat gadungan, dan ordo keagamaan yang mereka puja-puja adalah tipuan. Mereka benar-benar mengecewakan! Sewaktu Belsyazar sadar bahwa kepercayaannya terhadap kaum religius ini sia-sia, ia menjadi semakin ketakutan, mukanya pucat pasi, dan bahkan para pembesarnya ”kebingungan”.—Daniel 5:9.
PRIA YANG BERPEMAHAMAN DIPANGGIL

13 Pada saat yang genting itu, masuklah sang ratu—kemungkinan ibu suri—ke ruang perjamuan. Ia mendengar tentang kegemparan yang terjadi di pesta itu, dan ia mengetahui seseorang yang dapat mengartikan tulisan tangan di dinding itu. Puluhan tahun berselang, Nebukhadnezar, bapaknya, menunjuk Daniel sebagai kepala atas semua orang berhikmat di kerajaannya. Ratu mengingatnya sebagai seorang pria yang memiliki ”roh yang luar biasa dan pengetahuan dan pemahaman”. Karena Daniel tampaknya tidak dikenal oleh Belsyazar, kemungkinan besar sang nabi telah kehilangan kedudukannya yang tinggi di pemerintahan setelah Nebukhadnezar mati. Tetapi, kedudukan terkemuka tidak penting bagi Daniel. Dia kemungkinan berusia 90-an pada waktu itu, dan masih setia melayani Yehuwa. Meskipun sudah kira-kira delapan dekade dalam pembuangan di Babilon, dia masih dikenal dengan nama Ibraninya. Bahkan sang ratu menyebutnya dengan nama Daniel, dan tidak dengan nama Babilonia yang pernah diberikan kepadanya. Malah, ia mendesak raja, ”Panggillah Daniel, agar ia memberitahukan tafsirannya.”—Daniel 1:7; 5:10-12.

14 Daniel dipanggil dan datang menghadap Belsyazar. Sungguh memalukan meminta pertolongan dari orang Yahudi ini, yang Allahnya baru saja dihina raja. Namun, Belsyazar mencoba menyanjung Daniel, dengan menawarkan kepadanya imbalan yang sama—kedudukan ketiga dalam kerajaan—jika dia dapat membaca dan menjelaskan kata-kata misterius itu. (Daniel 5:13-16) Daniel melayangkan pandangannya pada tulisan di dinding itu, dan roh kudus memberinya kesanggupan untuk memahami artinya. Isinya adalah berita penghukuman dari Allah Yehuwa! Bagaimana mungkin Daniel menyatakan hukuman keras itu langsung di depan muka raja yang bebal ini—juga di hadapan istri-istrinya dan para pembesarnya? Bayangkan keadaan sulit yang dihadapi Daniel! Apakah dia terpengaruh oleh kata-kata sanjungan sang raja dan kekayaan serta kedudukan terkemuka yang ditawarkannya? Apakah sang nabi akan mengencerkan pernyataan Yehuwa?

15 Daniel berbicara dengan berani, demikian, ”Simpanlah pemberian-pemberianmu itu, dan berikanlah hadiah-hadiahmu itu kepada orang lain. Akan tetapi, aku akan membaca tulisan itu bagi raja, dan aku akan memberitahukan tafsirannya kepadamu.” (Daniel 5:17) Kemudian, Daniel mengakui kebesaran Nebukhadnezar, raja yang begitu berkuasa, yang dapat membunuh, memukul, meninggikan, atau merendahkan siapa saja yang ia pilih. Akan tetapi, Daniel mengingatkan Belsyazar bahwa Yehuwa, ”Allah Yang Mahatinggi” itulah yang telah menjadikan Nebukhadnezar besar. Yehuwa-lah yang merendahkan raja yang perkasa itu sewaktu ia menjadi angkuh. Ya, Nebukhadnezar dipaksa untuk mengetahui bahwa ”Allah Yang Mahatinggi adalah Penguasa atas kerajaan manusia, dan bahwa dia mengangkat kepada kedudukan itu siapa pun yang dia kehendaki”.—Daniel 5:18-21.

16 Belsyazar ”mengetahui semuanya itu”. Namun, ia gagal belajar dari sejarah. Ia malah bertindak lebih buruk daripada Nebukhadnezar yang berdosa karena kebanggaan yang tidak pada tempatnya dan ia terang-terangan menghina Yehuwa. Daniel membeberkan dosa raja. Selanjutnya, di hadapan orang-orang kafir yang sedang berkumpul itu, Daniel dengan berani memberi tahu Belsyazar bahwa allah-allah palsu ”tidak dapat melihat atau mendengar atau mengetahui apa-apa”. Nabi Allah yang berani ini menambahkan bahwa berbeda sekali dengan allah-allah yang tidak berguna itu, Yehuwa adalah Allah ”yang memegang napasmu”. Sampai sekarang, orang mendewakan benda-benda yang tidak bernyawa, mengidolakan uang, karier, prestise, bahkan kesenangan. Tetapi, tidak satu pun dari antara perkara-perkara ini dapat memberikan kehidupan. Yehuwa-lah satu-satunya pribadi yang kepada-Nya kita semua berutang eksistensi kita, kepada-Nya kita bergantung untuk setiap tarikan napas kita.—Daniel 5:22, 23; Kisah 17:24, 25.

TEKA-TEKI TERPECAHKAN!
17 Nabi yang sudah berumur itu selanjutnya melakukan apa yang terbukti mustahil dilakukan semua orang berhikmat di Babilon. Dia membaca dan menafsirkan tulisan tangan yang tertera di dinding. Kata-kata itu berbunyi, ”MENE, MENE, TEKEL, dan PARSIN.” (Daniel 5:24, 25) Apa artinya?

18 Secara harfiah, kata-kata itu berarti ”satu mina, satu mina, satu syekel, dan setengah syekel”. Setiap kata menyatakan satuan mata uang berdasarkan bobotnya, yang dicantumkan dengan urutan yang semakin kecil nilainya. Benar-benar membingungkan! Bahkan jika orang-orang Babilonia yang berhikmat itu sanggup mengidentifikasi huruf-huruf tersebut, pasti mereka tidak dapat menafsirkannya.

19 Di bawah pengaruh roh kudus Allah, Daniel menjelaskan, ”Inilah tafsiran perkataan itu: MENE, Allah telah menghitung hari-hari kerajaanmu dan mengakhirinya.” (Daniel 5:26) Huruf-huruf mati (konsonan) dari kata pertama dapat membentuk kata ”mina” maupun bentukan kata bahasa Aram untuk ”membilang”, atau ”menghitung”, bergantung pada huruf hidup yang ditambahkan oleh pembaca. Daniel tahu benar bahwa masa pembuangan orang Yahudi sebentar lagi akan berakhir. Dari jangka waktu 70 tahun yang dinubuatkan, 68 tahun telah berlalu. (Yeremia 29:10) Pemegang Jadwal Yang Agung, Yehuwa, telah menghitung hari-hari pemerintahan Babilon sebagai kuasa dunia, dan akhir pemerintahan tersebut tiba lebih cepat daripada yang disangka oleh siapa pun yang hadir dalam perjamuan Belsyazar. Sesungguhnya, waktunya sudah habis—bukan hanya bagi Belsyazar melainkan juga bagi bapaknya, Nabonidus. Boleh jadi itulah sebabnya kata ”MENE” tertulis dua kali—untuk mengumumkan akhir kekuasaan kedua raja itu.

20 Sebaliknya, ”TEKEL” hanya tertulis satu kali dan dalam bentuk tunggal. Kemungkinan ini menunjukkan bahwa kata tersebut khusus ditujukan kepada Belsyazar. Hal ini pantas, karena ia secara pribadi sudah terang-terangan merendahkan Yehuwa. Kata itu sendiri berarti ”syekel”, tetapi huruf-huruf matinya juga dapat membentuk kata ”ditimbang”. Oleh karena itu, Daniel mengatakan kepada Belsyazar, ”TEKEL, engkau telah ditimbang dengan neraca dan didapati kurang.” (Daniel 5:27) Bagi Yehuwa, semua bangsa sama tidak berartinya seperti lapisan tipis debu pada timbangan. (Yesaya 40:15) Bangsa-bangsa tidak berkuasa menghalangi maksud-tujuan-Nya. Jadi, apalah artinya seorang raja yang angkuh? Belsyazar berupaya meninggikan dirinya di atas Pribadi Yang Berdaulat di alam semesta. Manusia fana ini berani menghina Yehuwa dan mengejek ibadat murni, tetapi ia sendiri telah ”didapati kurang”. Ya, Belsyazar benar-benar layak menerima hukuman yang akan segera menimpanya!

21 Kata terakhir di dinding itu adalah ”PARSIN”. Daniel membacanya dalam bentuk tunggal, ”PERES”, kemungkinan karena dia hanya berbicara kepada seorang raja sementara raja lainnya tidak ada. Kata ini adalah klimaks teka-teki hebat yang diajukan Yehuwa karena merupakan permainan kata yang bermakna rangkap tiga. Secara harfiah, ”parsin” berarti ”setengah syekel”. Tetapi, huruf-hurufnya juga dapat membentuk dua arti lainnya—”pembagian” dan ”orang Persia”. Jadi, Daniel menubuatkan, ”PERES, kerajaanmu telah dibagi dan diberikan kepada orang Media dan orang Persia.”—Daniel 5:28.

22 Demikianlah teka-teki itu terpecahkan. Babilon yang perkasa akan segera jatuh ke tangan pasukan Media-Persia. Meskipun merasa malu karena dihadapkan pada pernyataan penghukuman ini, Belsyazar menepati janjinya. Ia menyuruh hamba-hambanya mengenakan kain ungu pada Daniel, memakaikan kalung emas pada lehernya, dan memaklumkan dia sebagai penguasa ketiga dalam kerajaan itu. (Daniel 5:29) Daniel tidak menolak penghormatan ini, karena sadar bahwa semua ini mencerminkan kehormatan yang menjadi hak Yehuwa. Tentu saja, Belsyazar mungkin berharap untuk melunakkan hukuman dari Yehuwa dengan menghormati nabi-Nya. Namun, nasi sudah menjadi bubur.
KEJATUHAN BABILON

23 Bahkan sementara Belsyazar dan para penjabat istana masih minum-minum untuk memuja allah-allah mereka dan mengejek Yehuwa, serangkaian peristiwa yang hebat sedang terjadi dalam kegelapan malam di luar istana. Nubuat yang telah diucapkan melalui Yesaya hampir dua abad sebelumnya sedang digenapi. Tentang Babilon, Yehuwa telah menubuatkan, ”Semua keluh kesah oleh karena dia telah kuhentikan.” Ya, segala penindasan yang dilakukan kota fasik itu terhadap umat pilihan Allah akan diakhiri. Dengan sarana apa? Nubuat yang sama menyatakan, ”Naiklah, hai, Elam! Kepunglah, hai, Media!” Elam menjadi bagian Persia setelah zaman nabi Yesaya. Pada waktu pesta Belsyazar diadakan, yang juga telah dinubuatkan Yesaya dalam nubuat yang sama, Persia dan Media sesungguhnya telah menggabungkan kekuatan untuk ’naik’ dan ’mengepung’ Babilon.—Yesaya 21:1, 2, 5, 6.

24 Malah, nama pemimpin pasukan-pasukan ini telah dinubuatkan, demikian pula garis besar strategi pertempurannya. Kira-kira 200 tahun sebelumnya, Yesaya telah bernubuat bahwa Yehuwa akan mengurapi seseorang bernama Kores untuk maju melawan Babilon. Dalam serangan gencar yang ia lancarkan, semua halangan akan dilenyapkan dari hadapannya. Air yang mengaliri Babilon akan ’dikeringkan’, dan pintu-pintunya yang kukuh akan dibiarkan terbuka. (Yesaya 44:27–45:3) Dan, itulah yang terjadi. Pasukan Kores mengalihkan Sungai Efrat, menurunkan permukaan air sehingga mereka dapat bergerak melintasi dasar sungai. Pintu-pintu pada tembok kota Babilon telah dibiarkan terbuka oleh para penjaga yang ceroboh. Sebagaimana disepakati oleh para sejarawan dunia, kota itu diserbu sewaktu penduduknya sedang berpesta pora. Babilon diambil alih hampir tanpa perlawanan. (Yeremia 51:30) Namun, paling tidak, ada satu kematian yang patut disimak. Daniel melaporkan, ”Pada malam itu juga, Belsyazar, raja orang Khaldea, dibunuh dan Darius, orang Media, menerima kerajaan itu, ketika ia berumur kira-kira enam puluh dua tahun.”—Daniel 5:30, 31.

BELAJAR DARI TULISAN DI DINDING
25 Kisah terilham dalam Daniel pasal 5 sangat penting bagi kita. Sebagai pusat dari praktek-praktek agama palsu, Babilon kuno adalah lambang yang cocok untuk imperium agama palsu sedunia. Ia dilukiskan dalam Penyingkapan sebagai seorang wanita sundal yang haus darah, dan konglomerat global yang penuh tipu daya ini dijuluki ”Babilon Besar”. (Penyingkapan 17:5) Tanpa mengindahkan semua peringatan sehubungan dengan doktrin dan praktek palsunya yang tidak menghormati Allah, ia menganiaya orang-orang yang memberitakan kebenaran dari Firman Allah. Seperti halnya penduduk Yerusalem dan Yehuda zaman dahulu, sisa orang-orang Kristen terurap yang setia secara efektif berada dalam pembuangan di ”Babilon Besar” sewaktu penganiayaan yang didalangi pemimpin agama hampir menghentikan pekerjaan pemberitaan Kerajaan pada tahun 1918.

26 Namun, tiba-tiba ”Babilon Besar” jatuh! Kejatuhannya dapat dikatakan berlangsung senyap—persis seperti kejatuhan yang dialami Babilon kuno pada tahun 539 SM. Meskipun demikian, kejatuhan yang bersifat kiasan ini sungguh menghancurkan. Ini terjadi pada tahun 1919 M, sewaktu umat Yehuwa dibebaskan dari penawanan Babilon dan diberkati dengan perkenan ilahi. Peristiwa itu mengakhiri kekuasaan ”Babilon Besar” atas umat Allah dan menandai awal disingkapkannya identitas Babilon di hadapan umum sebagai penipu yang tidak dapat dipercaya. Kejatuhan itu terbukti tidak dapat ditawar-tawar lagi, dan pembinasaan akhir baginya sudah di ambang pintu. Oleh karena itu, hamba-hamba Yehuwa mengumandangkan peringatan, ”Hai, umatku, keluarlah dari dalamnya, jika kamu tidak ingin mengambil bagian bersama dia dalam dosa-dosanya.” (Penyingkapan 18:4) Apakah saudara telah mengindahkan peringatan itu? Apakah saudara memberitahukannya kepada orang-orang lain?

27 Maka dewasa ini, tulisan tangan pun telah tertera di dinding—tetapi bukan hanya berlaku bagi ”Babilon
Besar”. Ingatlah kebenaran penting yang menjadi pusat perhatian dalam buku Daniel: Yehuwa adalah Penguasa Universal. Dia, ya, Dia sajalah yang berhak menetapkan penguasa umat manusia. (Daniel 4:17, 25; 5:21) Apa pun yang menghalangi maksud-tujuan Yehuwa akan disingkirkan. Saatnya akan tiba bagi Yehuwa untuk bertindak. (Habakuk 2:3) Bagi Daniel, saat itu akhirnya tiba ketika usianya memasuki dekade kesepuluh. Pada waktu itu, dia melihat Yehuwa menyingkirkan suatu kuasa dunia—yang telah menindas umat Allah sejak Daniel masih muda.

28 Bukti yang tidak dapat disangkal memperlihatkan bahwa Allah Yehuwa telah menetapkan seorang Penguasa umat manusia di atas takhta surgawi. Kenyataan bahwa dunia telah mengabaikan Raja ini dan menentang pemerintahannya menjadi bukti yang pasti bahwa Yehuwa akan segera menyapu bersih semua penentang pemerintahan Kerajaan. (Mazmur 2:1-11; 2 Petrus 3:3-7) Apakah saudara bertindak sesuai dengan mendesaknya waktu dan menaruh kepercayaan saudara pada Kerajaan Allah? Jika saudara melakukannya, saudara memang telah menarik pelajaran dari tulisan tangan di dinding!

Salam,
budi halasan - petojo

Dear All,

Sumbernya Buku :
PERHATIKAN NUBUAT DANIEL; HALAMAN 98 - 113; PENERBIT IBSA; CETAKAN 2006.

tQ,
BP