Mengapa Harus Doa Bapa Kami dan Bukan Doa Allah Kami

Suatu Tinjauan Kasus, untuk Mengoreksi Ajaran Tritunggal.

Dalam banyak kesempatan di Alkitab, Jesus selalu berdoa dengan menyebut Bapa …terutama dalam doa yang diajarkan Nya, yaitu Doa Bapa Kami ( Matius 6 ayat 9 - 13 ) Hal ini menimbulkan suatu tanda tanya besar, mengapa Jesus tidak menyebutkan Doa Allah kami saja, Sementara pada akhir hayat di Kayu Salib, Justru Jesus berseru memanggil Allah dan bukan memanggil Bapa…

Pertanyaannya adalah : Apakah Hal ini membuktikan bahwa Bapa dan Allah adalah 2 sosok yang berbeda ?

Suatu tinjauan kasus, untuk membuktikan bahwa Bapa dan Allah adalah 2 sosok yang berbeda, artinya : Bapa sudah pasti Allah, tetapi Allah belum tentu Bapa.

Semoga dapat memberikan pencerahan kepada Jemaat2 Kristus, sehingga kita dapat lebih mengenal Allah dan Kasih Nya dengan lebih sempurna.

Yesus datang kedunia ini bukan atas misisnya sendiri, tetapi atas otoritas Allah, yaitu Yesus menemban tugas.

Ada hubungan antara pemberi tugas [amanat] dan penerima/executor tugas [amanat].

Amanat itu adalah :

  1. Mengembalikan posisi manusia sebagai anak2 Bapa [yang adalah Allah]

suatu hubungan anak - bapa [bapa, abba, ahava/ahaba (heb) - agape (grk) - kasih]

bukan hubungan budak - tuan

  1. misi pertama ini hanya akan komplet bila Yesus mengahirinya dikayu salib.

dalam sudut pandang Yesus - Allah, bila hubungan ini adalah anak - bapa yang adalah kasih, maka peristiwa salib tidak akan pernah terjadi.

namun bila diletakkan pada sudut pandang Allah - hamba , maka Yesus harus tunduk pada ketetapan yg telah diputuskan.


Dalam segala pengajarannya, Yesus selalu mengajarkan bahwa hubungan sg Allah itu ada dalam wujud relasi :

  1. Bapa
  2. Tuan/hakim
  3. Raja

Yesus mengajarkan kpd murid2-Nya sebutan BAPA bagi Allah adalah utk mendekatkan manusia pada Allah selayaknya sebuah hubungan dlm satu keluarga.
dgn bertindak demikian, Yesus merubah paradigma pandangan Yahudi ala Perjanjian Lama yg menganggap Allah hanyalah ‘sesosok’ “law giver”.

sedangkan seruan: "eli eli lama azavtani " yg diucapkan-Nya di atas salib itu merujuk pada ayat Mazmur 22.
tujuannya utk menyatakan bhw peristiwa yg sedang dialami-Nya saat itu adalah penggenapan nubuat yg sudah dituliskan jauh sebelumnya di dalam sebuah mazmur Daud.

kalau dipandang hanya dari “word play”, kata Bapa memang tidak sama dgn kata Allah.
anyway, terima kasih atas pencerahannya bagi persoalan “permainan-kata” ini …!

tapi ini tidak menghasilkan koreksi apa2 thdp konsep Trinitarian.

atau apakah krn ‘word play’ Allah tidak-sama-dengan Bapa ini menyebabkan konsep tsb perlu diganti menjadi “Quatronitarian” … “Caturtunggal” … begitu?

mohon pencerahannya lebih lanjut …!

btw, ada keluarga saya di Yogyakarta yg tinggal di kelurahan yg bernama: Caturtunggal …
apakah mungkin desa itu yg dimaksud oleh TS …?

Dasar opa! ;D

IMO Allah memiliki berbagai macam sebutan/label karena kadang kita memakai sifat-Nya sbg pengganti kata ‘Allah’ itu sendiri e.g. Sang Hakim, Yang Maha Kudus, Sang Pencipta, Bapa dllsb.
Semua sebutan/label itu gak berarti ada bermacam2 Allah, atau misalnya Sang Hakim yg kita maksud dlm sebuah konteks gak sama dgn Sang Pencipta dst… haiya…

AFAIK yg (lebih) penting dlm membaca Alkitab adl melihat esensi dan maknanya, bukan sekedar terpaku pd label dan arti harafiahnya saja kecuali kalo kita mau jadi seorang ahli Farisi.

Kalau bukan karena untuk memenuhi misis Nya sendiri, lalu untuk memenuhi misi siapa ? apakah dengan statemen anda diatas, secara inplisit anda menyatakan bahwa Jesus itu bukan Allah, sebab ada sosok lain yang mengutus Dia, dimana mungkin sosok tersebut adalah Allah yang sebenarnya. Apakah demikian maksut anda ?

[Quote]Amanat itu adalah :

  1. Mengembalikan posisi manusia sebagai anak2 Bapa [yang adalah Allah]

suatu hubungan anak - bapa [bapa, abba, ahava/ahaba (heb) - agape (grk) - kasih]

bukan hubungan budak - tuan

  1. misi pertama ini hanya akan komplet bila Yesus mengahirinya dikayu salib.

dalam sudut pandang Yesus - Allah, bila hubungan ini adalah anak - bapa yang adalah kasih, maka peristiwa salib tidak akan pernah terjadi.

namun bila diletakkan pada sudut pandang Allah - hamba , maka Yesus harus tunduk pada ketetapan yg telah diputuskan.
[/quote]
Saudara ku, banyak kalangan mencoba untuk memperlajari, apa sih yang menjadi misi Jesus datang kedunia ini, dimana tidak sedikit yang memberikan jawaban seperti yang anda katakan diatas, tetapi menurut saya, seperti apa yang dikatakan oleh Jesus, maka sebenarnya yang menjadi misi kedatangan Jesus kedalam dunia ini, bukanlah seperti apa yang anda katakan, sebab misi Jesus datang kedunia ini, dengan tegas dikatakan Jesus dalam Kitab Johanes 10 ayat 11, yaitu : Akulah Gembala yang baik, Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba2 nya.==> Ayat ini sebanding dengan apa yang dikatakan oleh Malaikat Tuhan dalam Matius 1 ayat 21 … Dialah yang akan menyelamatkan umat Nya dari dosa mereka.

Nah … dari kedua Ayat tersebut, kini dapat diketahui dengan pasti, apa yang menjadi misi kedatangan Jesus kedalam dunia ini, dimana kita tidak lagi menduga2 seperti apa yang anda paparkan diatas.

Dari ke 2 ayat tersebut diatas, maka sebenarnya misi kedatangan Jesus kedunia ini, hanya 2, yaitu :

1). Untuk mengajar manusia agar Taat pada perintah Allah, yang digambarkan dalam ayat tersebut bahwa Jesus adalah Gembala yang baik, artinya : Guru Yang baik, artinya : bertugas atau memiliki misi untuk mengajar, apa sih yang diajarkan dan merupakan misi nya yang pertama, yaitu : Kasih., seluruh Perintah Allah diringkas oleh Jesus dalam 2 Pengajaran Kasih, yaitu : Kasih Terhadap Allah dan Kasih terhadap sesama manusia ( Inilah Hukum Yang Utama yang harus diajarkan Jesus kepada manusia, sebagai misi Jesus yang pertama ).

2). Untuk selamatkan manusia dari dosa ( untuk hal ini, mungkin saya tidak perlu menjelaskan kepada anda, sebab saya yakin anda telah memahaminya).

Nah … berdasarkan apa yang saya teliti di Alkitab, hanya kedua hal tersebutlah yang menjadi misi buat Jesus, untuk datang kedunia ini, yaitu : Mengajar dan Menyelamatkan.

------------------

Dalam segala pengajarannya, Yesus selalu mengajarkan bahwa hubungan sg Allah itu ada dalam wujud relasi :

  1. Bapa
  2. Tuan/hakim
  3. Raja

Nah … disini anda telah menegaskan kembali, tentang misi Jesus, yaitu apa yang saya bold diatas==> Salah satu Misi Nya adalah Mengajar…,Namun dalam hal yang anda paparkan diatas, saya menanggabi beberapa perbedaan dari sudut pandang Gereja selama ini, yaitu : Pengajaran Jesus menurut hemat saya, bukan lah didasarkan pada dasar "Relasi atau Hubungan" antara Bapa, Tuan/Hakim dan Raja, tetapi ada yang jauh lebih besar dari apa yang Gereja selama ini yakini, yaitu : Pengajaran Jesus yang didasarkan pada Hukum Kasih.

Hukum Kasih, tidak mengenal "Hubungan atau Relasi" antara Anak dan Bapa, atau Antara Tuan dan Hamba, atau Antara Rakyat dan Raja, tetapi “Hukum Kasih", Mengenal Kasih Antara Bapa dan Anak, Kasih Antara Tuan dan Hamba, Kasih Antara Raja dan Rakyatnya” ==> Atau “Kasih antara Gembala Sidang dengan Jemaat-nya”, nah … dalam Hukum Kasih ini, hubungan yang anda paparkan diatas, bermakna : “Saling mengisi dan saling melengkapi", artinya : Bapa tidak berarti, jika Anak tidak ada, dan Tuan tidak berarti jika Hamba tidak ada, serta Raja tidak berarti jika Rakyat tidak ada” ==> Maksut nya, pemahaman pengajaran Jesus yang didasarkan pada dasar “Relasi dan Hubungan” semata-mata, seperti apa yang anda paparkan, menurut saya akan melahirkan kekeliruan penafsiran terhadap pengajaran Jesus, tetapi pemahaman pengajaran Jesus yang didasarkan pada Hukum Kasih, akan melahirkan penafsiran yang benar terhadap semua ajaran Jesus, itulah sebabnya dikatakan Allah itu adalah Kasih.

Salam sejahterah menyertai kita semua

Dari penelitian saya terhadap Alkitab selama ini, ada hal “Ajaib” yang saya temukan, yaitu :“Perbedaan Bapa dengan Allah”, keajaiban ini terjadi dalam banyak kesempatan dalam doa dan pengajaran yang dilakukan oleh Jesus, dimana dalam Doa-doa Jesus, Jesus selalu menyebut “Bapa”, tetapi banyak dalam kesempatan di pengajaran Jesus, yang menyatakan bahwa Bapa Nya adalah Allah, terlebih dipenghujung Hayat Nya, Jesus justru berseru kepada “Allah” dan bukan kepada Bapa Nya". Sepintas, kita akan memahami bahwa Bapa dan Allah, memiliki pengertian yang sama, tetapi jika kita simak secara mendalam, maka kita akan menemukan perbedaan2 yang sangat mendasar dalam penyebutan Bapa dan Allah.

Jika kita mengatakan, bahwa Bapa dan Allah adalah sama dan merupakan permainan kata2 belaka, saya pikir tidak, sebab menurut saya, sebutan Bapa adalah menunjukan suatu Hubungan Emosional yang sangat dekat sekali, yang digambarkan antara yang satu dengan yang lainnya, dengan sebutan Bapa dan Anak. sedangkan penyebutan Allah, memperlihatkan hubungan emosional yang sangat jauh sekali, seperti Tuan dan Hamba atau Raja dan Rakyat.

Nah … melihat kedua perbedaan makna ini ( Bapa dan Allah ), maka sekarang kita lihat pada seruan di Kayu Salib, dimana Jesus menyebut Allah dan bukan menyebut Bapa. Satu tanda tanya besar, mengapa dalam kehidupan sehari-hari Nya, Jesus memperlihatkan hubungan yang Emosional antara Jesus dengan Allah, digambarkan dengan Bapa dan Anak, tetapi pada puncak tertinggi yang sangat menentukan di Kayu Salib, justru Jesus menggambarkan hubungan Nya dengan Bapa ( tadinya ), kini berubah menjadi sangat jauh ( Penyebutan Allah ), seakan - akan Jesus tidak lagi memiliki hubungan yang emosional dengan Allah ?

Kenyataan ini memperlihatkan pada kita semua, bahwa ternyata makna “Bapa dan Allah”, bukanlah suatu permainan kata2 belaka, tetapi ada yang lebih besar dari itu, bahwa makna “Bapa dan Allah” adalah 2 makna yang sangat berbeda.

“Anda dapat melihat penjelasan perbedaan ini dalam postingan saya disini pada topik … Tritunggal lagi deh…”

Salam sejahaterah

saya bingung, bagaimana anda dapat memahami Esensi dan Makna dari segala sesuatu, jika anda tidak terlebih dahulu mempelajari makna Hurufiahnya, saya pikir itu adalah hal yang sangat mustahil., menurut saya, jika kita berpedoman seperti apa yang anda katakan, maka sudah sewajarnya, kita pasti akan keliru dalam menafsirkan Firman Allah, sebab menurut saya, Firman Allah ditulis dengan bahasa yang sangat sederhana, supaya semua manusia, mulai dari yang bodoh sampai yang pintar dapat memahaminya dengan mudah, tapi kadang kala, hal2 yang begitu sederhana dalam Firman Tuhan, sering sekali diartikan jauh kesana kemari, sehingga melampaui artinya yang sebenarnya, akibat nya : Firman Allah keliru ditafsirkan.

Dalam hubungannya dengan apa yang saya angkat pada topik disini, bagai mana menurut anda Firman yang sangat sederhana ini, yaitu : Johanes 1 ayat 1 … 14, dan Filipi 2 ayat 7 ==> Menurut saya Firman itu sederhana dan sangat mudah untuk dipahami, tetapi banyak kalangan rohaniawan yang memutar balikan Firman tersebut, sehingga, jangankan Esensi dan Makna nya dapat ditemukan, mengartikan secara hurufiah pun, sudah berantakan, sehingga melampaui makna yang ada dalam Firman itu sendiri.

Coba tolong anda tafsirkan Firman yang sederhana tersebut diatas. Thanks

Yg bilang supaya gak mempelajari makna hurufiah itu siapa seh? Coba baca baik2 postingan aku terutama yg dibold biru.

menurut saya, jika kita berpedoman seperti apa yang anda katakan, maka sudah sewajarnya, kita pasti akan keliru dalam menafsirkan Firman Allah, sebab menurut saya, Firman Allah ditulis dengan bahasa yang sangat sederhana, supaya semua manusia, mulai dari yang bodoh sampai yang pintar dapat memahaminya dengan mudah, tapi kadang kala, hal2 yang begitu sederhana dalam Firman Tuhan, sering sekali diartikan jauh kesana kemari, sehingga melampaui artinya yang sebenarnya, akibat nya : Firman Allah keliru ditafsirkan.

Sekali lagi aku bilang spy kita gak sekedar terpaku pd label dan arti harafiah.

Memang kalimat2 di Alkitab kadang sangat sederhana tapi maknanya gak pernah sederhana karena banyak kali makna yg tersirat JAUh lebih dalam dari yg tersurat.
Menerima dan terpaku pada kata2 Alkitab secara tertulis, harafiah dan menangkap arti sederhananya saja blum tentu salah tapi itu namanya bayi.
Bayi yg gak dewasa2 barulah gak normal dan salah di mata Tuhan krn Dia mau kita bertumbuh dlm pengertian.

Balik ke pertanyaan kamu kenapa label ‘Bapa’ dan bukan ‘Allah’ yg dipakai dlm doa Bapa kami adl karena Yesus datang utk memperkenalkan perjanjian yg baru yg menawarkan anugerah Allah, beda dgn perjanjian yg lama yg sudah usang itu.
Di jaman Perj Baru, Yesus mengajak kita utk mendekati Allah dan dgn berani menyebut-Nya ‘Bapa’, dan adl kehendak Allah spy kita menyebut-Nya dgn sebutan ‘Bapa’ krn Yesus gak mengajar kita dr diri-Nya sendiri, Yesus mengajar kita apa pun yg Dia terima dr Bapa-Nya (Yoh 14:10).

Hubungan umat Israel dgn Allah di jaman PL lebih ‘jauh’ daripada hubungan seorang anak dgn bapanya tapi melalui Yesus, kita menerima anugerah besar utk bisa memanggil Allah dgn sebutan ‘Bapa’.

Mengenai sebutan ‘Allah’ saat Yesus di kayu salib, spt sudah dijelaskan oleh sodara Deogratia, itu adalah penggenapan nubuatan yg diucapkan Daud ratusan tahun sblum Yesus disalib.

Dalam hubungannya dengan apa yang saya angkat pada topik disini, bagai mana menurut anda Firman yang sangat sederhana ini, yaitu : Johanes [b]1 ayat 1 .. 14, dan Filipi 2 ayat 7 [/b] ==> Menurut saya Firman itu sederhana dan sangat mudah untuk dipahami, tetapi banyak kalangan rohaniawan yang memutar balikan Firman tersebut, sehingga, jangankan Esensi dan Makna nya dapat ditemukan, mengartikan secara hurufiah pun, sudah berantakan, sehingga melampaui makna yang ada dalam Firman itu sendiri.

Coba tolong anda tafsirkan Firman yang sederhana tersebut diatas. Thanks

Mengenai Yesus=Firman=Allah dan Yesus 100% Allah & 100% manusia sudah ada beberapa tritnya. Silahkan search aja krn diskusinya sudah berkepanjangan di sana. Kalo dibahas di sini malah jadi OOT dan memperbanyak pembahasan utk 2 buah topik yg sudah terlalu banyak diperdebatkan.

Di penghujung hayatnya Yesus berseru:

“Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.( Lukas 23:46)

Yesus meneriakan Allahku ya Allahku adalah Penggepan dari Mazmur Daud 22-2

Mazmur Daud. (22-2) Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?

Panggilan Bapa adalah ajarn Yesus untuk menyatukan kembali hubungan Allah dan Manusia yang terputus oleh karena dosa Adam. Sebab sejak awal manusia menduduki tempat yg penting dalam ciptaan Allah karena hanya manusialah diciptakan seturut citra Allah. Sebutan Allah sebagai Bapa penting dalam iman Kristen karena dengan demikian kita menjadi anak-anak Allah bukan Hamba Allah. Inilah yang dikehendaki oleh Allah bahwa kita menyebut dia sebagai Bapa kita.

Sebab ada perbedaan penting antara Kasih seorang Hamba terhadap Tuannya dan Kasih seorang anak terhadap Bapanya. Jika seorang Hamba mencintai Tuannya semua itu didasari oleh Ketakutan, takut dipecat, ingin naik gaji dst, Kasih hamba terhadap Tuan tidaklah Murni. Tetapi apa alasan seorang anak Mengasihi Bapanya? sederhana sekali jawabannya Yah Karena Dia Bapa saya. Kasih itu tulus dan murni tidak ada pamrih. Sedangkan kita sebagai manusia saja menginginkan dikasihi secara murni oleh orang2 yg kita kenal APALAGI BAPA KITA DISURGA! Dia tentu menginginkan kita mengasihinya sebagai anak mengasihi Bapa. Kita sungguh2 mengasihinya bukan karena kita Ingin Surga, atau kita takut akan neraka, tetapi kaish kita muncul karena Bapa terlebih dulu menunjukkan Kasih itu kepada kita melalui Sang Putra yg telah Ia korbankan demi kita.

Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!” (Gal 4:6)

maaf pake bahasa kelondo-londoan (dalam bahasa batak disebut si bontar mata) heheh

The Trinity
Silahkah mari kita buktikan dengan ayat2 Alkitab ini:

Mat_3:16; Mat_3:17; Mat_28:19; Rom_8:9; 1Co_12:3-6; 2Co_13:14; Eph_4:4-6; 1Pe_1:2; Jud_1:20; Jud_1:21; Rev_1:4; Rev_1:5;

Divine titles applied to the three persons in
Exo_20:2; Joh_20:28; Act_5:3; Act_5:4;

EACH PERSON IN, DESCRIBED AS
Eternal
Rom_16:26; Rev_22:13; Heb_9:14;

Holy
Rev_4:8; Rev_15:4; Act_3:14; 1Jo_2:20;

True
Joh_7:28; Rev_3:7;

Omnipresent

Jer_23:24; Eph_1:23; Psa_139:7;

Omnipotent
Gen_17:1; Rev_1:8; Rom_15:19; Jer_32:17; Heb_1:3; Luk_1:35;

Omniscient
Act_15:18; Joh_21:17; 1Co_2:10; 1Co_2:11;

Creator
Gen_1:1; Col_1:16; Job_33:4; Psa_148:5; Joh_1:3; Job_26:13;

Sanctifier
Jud_1:1; Heb_2:11; 1Pe_1:2;

Author of all spiritual operations
Heb_13:21; Col_1:29; 1Co_12:11;

Source of eternal life
Rom_6:23; Joh_10:28; Gal_6:8;

Teacher
Isa_54:13; Luk_21:15; Joh_14:26; Isa_48:17; Gal_1:12; 1Jo_2:20;

Raising Christ from the dead
1Co_6:14; Joh_2:19; 1Pe_3:18;

Inspiring the prophets, &c
Heb_1:1; 2Co_13:3; Mar_13:11;

Supplying ministers to the Church
Jer_3:15; Eph_4:11; Act_20:28; Jer_26:5; Mat_10:5; Act_13:2;

Salvation the work of
2Th_2:13; 2Th_2:14; Tit_3:4-6; 1Pe_1:2;

Baptism administered in name of
Mat_28:19;

Benediction given in name of
2Co_13:14;

atau mengenai Yesus di:
Yesus, siapa DIA?..inilah data Alkitabnya, Bagi yang niat saja
atau mengenal Roh Kudus di:
81 Langkah untuk Mengenal Roh Kudus
atau mengenai TUHAN di:
TUHAN, kenalilah

note:
dari berbagai sumber

Saudara semua yang dikasihi Tuhan Jesus…

Apa yang saudara paparkan semua diatas adalah benar, tetapi point yang terpenting dari topik disini adalah :

1). Mengapa dalam kehidupan sehari-hari nya, Jesus menyebut Allah dengan Bapa Nya ? ( Seperti Dalam Doa Bapa Kami ) Artinya : Penyebutan Bapa ini, memperlihatkan hubungan "Emosional" yang sangat dekat antara Jesus dengan Allah.

2). Tetapi pada akhir hayat Nya yang sangat "Kritis" ( pada saat di Kayu Salib ), dimana seharusnya Jesus semakin lebih memiliki hubungan yang "Sangat Emosional" dengan Allah dari pada kehidupan keseharian Nya atau Jesus harus memiliki hubungan yang jauh lebih dekat dengan Allah dari pada kehidupan sehari-hari Nya, Justru Jesus tidak menyebut Allah dengan Bapa, Mengapa ?

Nah … bukan kah ini suatu keanehan, sebab pada saat "Kritis", Justru Jesus memanggil Allah dan bukan Bapa ?

Bahan Analisis Perbandingan seperti argument dalam topik disini :

1). Penyebutan Bapa ==> Memperlihatkan hubungan Antara Orang Tua dan Anak ( Hubungan Emosional yang sangat dekat )
2). Penyebutan Allah ==> Memperlihatkan hubungan antara Tuan dan Hamba. ( Hubungan Emosional yang sangat jauh )

semoga pemikiran ini dapat memberikan wacana baru bagi kita, untuk memahami “Hakekat Allah” dan "Siapa Jesus"., untuk “mengoreksi ajaran Tritunggal yang keliru”.

Saudara ku, semua ayat-ayat yang saudara paparkan diatas, "Tidak ada satupun yang membuktikan Ajaran Tritunggal", yang dipercaya bahwa “Selama Hidupnya didunia ini, Jesus adalah Manusia 100% dan Allah 100%”. Sebaliknya, semua ayat-ayat yang saudara paparkan diatas, “Justru” membuktikan, bahwa selama hidup nya didunia ini, Jesus adalah Manusia 100% ( sama seperti saya dan saudara ), dan Bukan Allah.

saya kagum dengan Anda, begitu cepatnya Anda mengecek semua ayat di atas…
paling tidak butuh 20 hari untuk memelajari itu semua, itupun 24 jam penuh dalam seharinya…

kesimpulan Anda itu ada dua hal yang Anda tarik kesimpulan menjadi satu, dan itu ngawur.
yaitu:

  1. Tidak ada paparan di atas yang membuktikan tritunggal
  2. Yesus 100 persen manusia di dunia

point 1 TRUE karena alasan point 2 TRUE.
yang menjadi kengawuran Anda adalah… menganggap Yesus hanya 33 tahun saja, tidak kekal ke kekal…

saya tanya,
di dunia, waktu dilahirin maria sampai di salib, memang Yesus 100 persen manusia,… ngga ada yang protes
nah pertanyaan nomor:

  1. 100 persent manusia di sana apa maksudnya? manusia seperti kita yang bisa berdosakah? tolong dijelaskan!
  2. 100 persent Allah, apa yang Anda tarik dari pernyataan ini?

saya tanya yah:
Yohanes 1:1 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

apakah Allah di sini sama?

Saudara ku, tidak baik untuk langsung menghakimi orang, sementara saudara sendiri belum pernah mengenal saya … saya menyatakan, bahwa semua ayat - ayat tersebut dalam paparan tersebut sebelumnya, "Tidak ada satupun yang mengajarkan Ajaran Tritunggal", sebab saya sudah berkali-kali meneliti Alktab dari Kejadian - Wahyu, tidak ada satu Ayat pun yang mengajarkan Ajaran Tritunggal, atau yang mengajarkan bahwa Jesus selama hidupnya dibumi ini adalah Allah 100% dan Manusia 100% dan dalam Ordo Saya, Kami mempercayai bahwa Jesus adalah Yahwe yang menjadi manusia, dimana pada saat Yahwe menjadi manusia dan bernama Jesus, maka Yahwe tersebut bukan lagi Allah, tetapi manusia biasa, sama seperti saya dan saudara., sebab segala Ke-Ilahian Nya, telah Yahwe tanggalkan, sebelum Yahwe menjadi manusia ( Filipi 2 ayat 7). Penanggalan Ke-Ilahian ini, “Harus” Yahwe lakukan, kalau tidak Yahwe tidak dapat menjadi manusia. Masalahnya adalah : Manusia tidak dapat memahami dan tidak dapat menerima "Kenyataan yang Luar Biasa ini", yaitu : Manusia berfikir, bahwa sekalipun Yahwe menjadi manusia, maka “TIdak Mungkin” Ke-Ilahian Nya dapat ditanggalkan. Permasalahannya adalah : Jika kita berfikir, apa yang tidak mungkin bagi Allah ? maka kita akan mudah untuk memahami bahwa sebelum Yahwe menjadi manusia, maka Yahwe terlebih dahulu menanggalkan Ke-Ilahian-Nya.

Mengapa terjadi perdebatan tiada habis-habisnya selama ribuan tahun ini, tentang Ke-Ilahian Jesus ?

Sebab Kekeliruan tersebut terjadi, pada saat manusia mempercayai bahwa Jesus adalah Allah 100% dan Manusia 100%, sehingga dengan kepercayaan yang “keliru ini”, melahirkan pertentangan yang tidak habis-habisnya, sementara manusia itu bertahan pada kefanatikan yang sesat untuk mempertahankan yang jelas-jelas sudah keliru.

Filipi 2 ayat 7 … Sangat Jelas menyatakan dengan Tegas, bahwa Sebelum menjadi manusia dan bernama Jesus, maka terlebih dahulu Yahwe menanggalkan ke-Ilahian-Nya … dalam Filipi 2 ayat 7 tersebut, dikatakan dengan tegas … MENGOSONGKAN DIRINYA…, apa nya yang "DIKOSONGKAN" …Ke-Ilahian-Nya bukan ??? Artinya : Setelah Yahwe menjadi Manusia dan bernama Jesus, maka Yahwe bukan lagi Allah, sebab Allah itu telah ditanggalkannya di Sorga.

Nah … jika kita menyadari bahwa selama hidupnya di dunia ini, maka Jesus adalah manusia biasa ( sama seperti saya dan saudara ), maka saya pikir tidak akan ada lagi perbantahan dalam membahas Kitab Perjanjian Baru., tetapi selama kita memahami bahwa Jesus adalah Allah 100% dan Manusia 100%, maka perbantahan akan terus berlangsung sampai Jesus datang.

Kembali kepada ke dua pertanyaan anda yang terakhir, maka disini saya akan menjawab dengan sederhana, yaitu :

1). Selama hidup Nya di bumi ini, Jesus adalah manusia biasa, sama seperti saya dan saudara, bedanya adalah : Walaupun Jesus manusia biasa, tetapi Jesus tidak pernah berbuat dosa, sekalipun Jesus memiliki “Kesempatan” untuk melakukannya, tetapi Jesus “Lebih memilih taat sampai mati pada semua perintah Allah”. ==> Sekalipun Jesus tidak pernah berbuat dosa, tetapi kita telah membuatnya menjadi "Pendosa Besar", supaya Jesus dapat memberikan Nyawanya untuk menebus semua dosa-dosa yang telah kita lakukan.

2). Allah adalah suatu Sifat, Predikat, Jabatan atau kelembagaan yang Disandang ataupun yang dimiliki oleh Yahwe selama di Sorga, sehingga dikatakan Allah 100%, memiliki arti : Bahwa Yahwe menyandang semua Sifat2, Predikat, Jabatan dan Kelembagaan Ilahi tersebut sebesar 100%. Nah … Jika Allah yang menjadi manusia atau Jika Jesus selama hidupnya di bumi ini adalah Allah100%, maka hal ini bertentangan dengan Kodrat Ilahi itu sendiri, yaitu : Sifat Ke-Kekalan, Kemuliaan, Ke-Agungan.

Nah … dimana pertentangan nya ?

1). Allah itu Kekal ==> Jesus selama menjadi manusia, mengalami "Kematian" artinya : Tidak Kekal.
2). Allah itu Mulia ==> Jesus selama menjadi manusia, tidak lagi memiliki "Kemuliaan" Sorgawi, sebab sejak manusia itu jatuh kedalam dosa, manusia itu telah hilang kemuliannya.
3). Allah itu Agung ==> Jesus pada saat lahir menjadi manusia, lahir ditempat yang paling hina, yaitu : Dikandang Domba, jika Jesus selama hidupnya di dunia ini adalah Allah 100% juga, maka tidak mungkin Jesus dapat dilahirkan dikandang domba yang hina, seharusnya Jesus lahir di Istana yang megah.

Inilah pertentangan dasar yang akan terjadi, jika kita melihat bahwa selama hidup Nya didunia ini, Jesus adalah Allah 100%.

Pertentangan selanjutnya adalah :

1). Jika Jesus selama hidup Nya di dunia ini adalah Allah 100%, maka "Kematian Jesus di Kayu Salib adalah Kematian yang sia-sia", sebab “Korban Sempurna” yang telah ditetapkan Allah, untuk menebus dosa manusia, harus berasal dari “Pihak Manusia 100%” dan bukan berasal dari “Manusia 100% atau Allah 100%”.

2). Jika Jesus selama hidup Nya didunia ini adalah Allah 100%, maka tidak mungkin Jesus dapat dicobai oleh Iblis, sebab Allah itu tidak dapat dicobai, artinya : Jika Jesus selama hidupnya didunia ini adalah Allah 100%, maka percobaan yang dilakukan oleh iblis terhadap Jesus adalah Sandiwara antara Allah dan Iblis.

3). Jika Jesus selama hidup Nya didunia ini adalah Allah 100%, maka bagai mana mungkin Allah dapat meninggalkan Jesus di Kayu Salib, karena dalam diri Jesus ada Allah 100%, artinya : Jika pada saat itu Allah meninggalkan Jesus di Kayu Salib, maka pada saat itu terjadi Dualisme illahi, yaitu : Antara Jesus Pribadi disatu sisi dan Allah yang meninggalkan Jesus disisi yang lain ( hal ini bertentangan dengan Konsep Ke-Esa-an Illahi ).

Nah … sementara dengan pertanyaan anda terhadap Kitab Johanes 1 ayat 1, tentang Pengertian Allah dalam Kalimat tersebut, maka saya jawab dengan sederhana, bahwa Pengertian Allah dalam Kalimat tersebut, adalah Sama.

Allah itu adalah suatu Sifat, Predikat, Jabatan ataupun Kelembagaan ==> Allah itu adalah Raja Kemuliaan.==> Suatu Sifat dan bukan suatu Sosok Pribadi==> dimana Sosok Pribadi yang memiliki Semua Sifat-Sifat Ke-Ilahian tersebut bernama : YAHWE dan Yahwe inilah yang menjadi manusia dan bernam Jesus.

Semoga dapat membawa wacana baru untuk memahami : Siapakah Jesus ?

Salam damai dalam Kasih

saya justru memuji kehebatan Anda…

kalau mungkin ini yang Anda maksud menghakimi, saya hanya melihat pernyataan Anda…
gini mas…

pertama Anda jelaskan dulu 100 persen manusia itu apa, 100 persen Allah itu apa? karena mungkin saja persepsi kita berbeda ok?
kedua Anda membandingkan 2 hal yang berbeda di dalam pembuktian tritunggal
yaitu

  1. Tidak ada bukti tritunggal dari ayat saya, dimana acuan Anda adalah Yesus yang lagi ada di dunia,
  2. padahal Anda seharusnya harus dan harus membandingkan Antara Yesus yang dari kekal ke kekal, yang walaupun sementara menjadi manusia.
    jadi Anda ngotot membandingkan Firman yang telah menjadi manusia itu dengan Firman maka memang tidak akan nyambung…

nah untuk menjelaskan kesementaraan itu tetapi hakikat kekalnya ada, saya kasih ayat
Yohanes 1:1
Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
nah menurut Anda, apakah Allah = Allah

dasar-dasar ini dulu kita bereskan baru dapat melanjutkan diskusi, gimana?

Saya sudah jelaskan dengan detail pertanyaan anda tersebut, Pengertian Johanes 1 ayat 1, tentang Allah pada penjelasan sebelumnya … Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama - sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. jadi Allah dengan Allah memiliki pengertian yang sama. ==> Pengertian Allah dalam Kalimat tersebut adalah Sifat atau predikat atau jabatan atau kelembagaan.

Ayat tersebut diatas, dapat ditulis kembali dengan suatu Ilustrasi :

Pada mulanya adalah SBY, SBY itu bersama - sama dengan Presiden RI, SBY itu adalah Presiden RI. ==> Presiden RI disini adalah sifat, predikat, jabatan ataupun kelembagaan, dimana Sosok dari Presiden RI adalah SBY.

Jadi berdasarkan Ilustrasi tersebut, maka Johanes 1 ayat 1 dapat ditulis kembali demikian : Pada mulanya adalah Yahwe, Yahwe itu bersama - sama dengan Allah dan Yahwe itu adalah Allah. ==> Allah disini adalah Sifat, predikat, jabatan atau kelembagaan dan bukan suatu “Sosok Pribadi”, dimana yang menjadi “Sosok Pribadi” dari Allah itu adalah Sang Firman atau Yahwe.

Sementara Pengertian Manusia dan Allah memiliki hal yang sama, yaitu : Sama - sama bermakna Sifat, predikat, jabatan atau kelembagaan.

Contoh : Badu adalah Manusia, tetapi tidak semua manusia adalah Badu.

Demikian juga halnya dengan Ke-Ilahian, kadang kala malaikat sering bersabda mengatas namakan diri Nya sebagai Allah, sehingga kita sulit membedakan, apakah yang berbicara itu adalah Yahwe langsung ataukah hanya Malaikat Tuhan, tetapi Malaikat tidak pernah besabda mengatas namakan diri Nya sebagai Yahwe, inilah yang membuktikan bahwa Allah itu adalah sifat, predikat, jabatan ataupun kelembagaan, dimana dalam Kelembagaan Ke-Ilahian tersebut, terdapat juga unsur malaikatnya., sehingga karena dalam Sifat, Predikat, jabatan dan kelembagaan tersebut, terdapat juga Malaikat Tuhan didalam nya, maka tidak salah, jika kadang kala Malaikat mengatas namakan diri nya sebagai Allah.

Nah … sifat, predikat, jabatan atau kelembagaan "Manusia ataupun Allah", adalah bersifat "Kekal atau permanen" dan tidak dapat berubah.

Contoh : badu adalah manusia, kemudian badu mati. pertanyaan : Apakah dengan kematian badu, berarti semua manusia telah mati ? maka sudah pasti tidak, sebab yang mati adalah Pribadi Badu sebagai manusia, sebaliknya jika semua manusia telah mati, maka sudah pasti Badu yang merupakan sosok dari Pribadi manusia itu, akan turut mati juga.

Salam Kasih

nah inilah yang membuat masalah, dan semakin runyam…

Yohanes 1:1
Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

Firman itu bersama-sama dengan Allah, ini menjelaskan ada ‘perpisahan’ dengan Allah, sementara
Firman itu adalah Allah menjelaskan, biarpun ada ‘perpisahan’ tetapi pada hakekatnya adalah ESA.

jadi ayat ini menjelaskan
Firman itu Kekal…
padahal secara Konsep kita tahu hanya TUHAN yang kekal…
nah Yohanes menjelaskan itu bahwa tidak ada 2 yang Kekal, melainkan Satu, karena meskipun Firman ini ‘terpisah’ tetapi pada hakekatNya Firman adalah TUHAN juga, esa, satu, tunggal…

nah karena Firman dan TUHAN adalah sama-sama kekal (artinya TUNGGAL, SATU, ESA, bukan 2 yang kekal), dan nyata ada ‘perpisahan’ maka lahirlah pengajaran tritunggal.

kalau semisal tritunggal tidak diterima, maka
telah ada 2 ‘Oknum’ Yang kekal dari kekal ke kekal yaitu Allah dan Firman.<— ini malah konsep politeis

Pembahasan ini menarik dan ijinkan saya turut serta.
Mudah-mudah kita semua bisa memberkati orang lain dg diskusi kita.

Brarti Anda percaya bhw walau pada awal mula dan secara asal muasal Yesus adalah Allah,
Namun saat menjadi manusia, maka Ia bukanlah Allah.

Penanggalan Ke-Ilahian ini, [b]"Harus"[/b] Yahwe lakukan, kalau tidak Yahwe tidak dapat menjadi manusia.

Saya menanggapi kalimat ini dg kritis.

Definisi dari ‘pengosongan diri’ dan sampai sejauh mana dilakukannya ‘pengosongan diri’ tidaklah dijelaskan oleh Paulus.

Masalahnya adalah : Manusia tidak dapat memahami dan tidak dapat menerima "[b]Kenyataan yang Luar Biasa ini", [/b] yaitu : Manusia berfikir, bahwa sekalipun Yahwe menjadi manusia, maka [b]"TIdak Mungkin"[/b] Ke-Ilahian Nya dapat ditanggalkan. Permasalahannya adalah :[b] Jika kita berfikir, apa yang tidak mungkin bagi Allah [/b] ? maka kita akan mudah untuk memahami bahwa sebelum Yahwe menjadi manusia, maka Yahwe terlebih dahulu menanggalkan Ke-Ilahian-Nya.

Dg argumen yg sama saya jg bisa mngatakan :
YHVH bgitu Mahakuasa shg sangat mungkin dan tidak mustahil bhw YHVH menjadi manusia tanpa menanggalkan keilahianNya.

Jika Anda bpikir bhw YHVH hanya bisa mjd manusia jika Ia mnanggalkan keilahianNya,
Maka Anda telah mbatasi YHVH,
Bukan bgitu?

Maka argumen Anda yg ini kita jangan bahas lagi.

Filipi 2 ayat 7 .. Sangat Jelas menyatakan dengan Tegas, bahwa Sebelum menjadi manusia dan bernama JESUS, maka terlebih dahulu Yahwe menanggalkan ke-Ilahian-Nya ..

Tidak dtuliskan dg tegas, jelas maupun hurufiah bhw YHVH mnanggalkan keilahianNya.
Yang tertulis adl YHVH ‘mengosongkan diriNya’.

Apakah mengosongkan diri pasti berarti menanggalkan keilahian?
Belum tentu.
Itu baru sebatas tafsiran.

dalam Filipi 2 ayat 7 tersebut, dikatakan dengan tegas [b].. MENGOSONGKAN DIRINYA..[/b], apa nya yang "[b]DIKOSONGKAN" [/b] [b]..Ke-Ilahian-Nya bukan ?????????????????????[/b] Artinya : Setelah Yahwe menjadi Manusia dan bernama JESUS, maka Yahwe bukan lagi Allah, sebab Allah itu telah ditanggalkannya di Sorga.

Alkitab tidak menulis demikian.
Jadi pernyataan Anda ini sebatas tafsiran yg akan kita bahas.

Nah .. jika kita menyadari bahwa selama hidupnya di dunia ini, maka JESUS adalah manusia biasa ( sama seperti saya dan saudara ), maka saya pikir tidak akan ada lagi perbantahan dalam membahas Kitab Perjanjian Baru., tetapi selama kita memahami bahwa JESUS adalah Allah 100% dan Manusia 100%, maka perbantahan akan terus berlangsung sampai JESUS datang.

Argumen Anda ini bisa saya balikkan juga.
Jika semua orang bpendapat bhw Yesus adl 100% manusia dan 100% Allah,
Maka tidak akan ada pdebatan lagi tentang Perjanjian Baru.

Jadi argumen Anda ini tidak usah kita gunakan lagi.

1). Selama hidup Nya di bumi ini, JESUS adalah manusia biasa, sama seperti saya dan saudara, bedanya adalah : Walaupun JESUS manusia biasa, [b]tetapi JESUS tidak pernah berbuat dosa, [/b] sekalipun JESUS memiliki [b]"Kesempatan"[/b] untuk melakukannya, tetapi JESUS [b]"Lebih memilih taat sampai mati pada semua perintah Allah".[/b] ==> Sekalipun JESUS tidak pernah berbuat dosa, tetapi kita telah membuatnya menjadi "[b]Pendosa Besar",[/b] supaya JESUS dapat memberikan Nyawanya untuk menebus semua dosa-dosa yang telah kita lakukan.

Persoalannya,
Jika Yesus adalah ‘manusia biasa’ tanpa atribut ilahi melekat pd diriNya,
Apakah pijakan bagi Yesus utk menebus dosa seluruh umat manusia?

Coba Anda carikan saya dasar hukumnya mengapa Yesus (jika Ia hanya manusia saja) punya kapabilitas untuk menebus dosa semua orang.

Di Taurat :
1 domba dipotong utk menebus 1 manusia.

Allah itu adil.
Jika Yesus hanya 1 manusia yg tidak berdosa,
Maka darahNya hanya berhak menebus 1 manusia berdosa.

2). Allah adalah suatu Sifat, Predikat, Jabatan atau kelembagaan yang Disandang ataupun yang dimiliki oleh Yahwe selama di Sorga, sehingga dikatakan Allah 100%, memiliki arti : Bahwa Yahwe menyandang semua Sifat2, Predikat, Jabatan dan Kelembagaan Ilahi tersebut sebesar 100%. Nah .. Jika Allah yang menjadi manusia atau Jika JESUS selama hidupnya di bumi ini adalah Allah100%, maka hal ini bertentangan dengan [b]Kodrat Ilahi[/b] itu sendiri, yaitu : [b]Sifat Ke-Kekalan, Kemuliaan, Ke-Agungan[/b].

Sekali lagi,
Anda tidak bisa membatasi Allah sbgmn saya tidak bisa membatasi Allah.

Allah sanggup mbuat keledai menyalahi kodratnya dg mbuat keledai berbicara kpd Bileam dan tidak ada yg berhak menuduh bhw Allah telah menyalahi hukum/kodrat krn Dialah pembuat hukum.

Lagipula,
Apakah Allah tidak boleh menjadi manusia dg tetap membawa keilahianNya?

Jika Anda katakan ‘tidak bisa’,
Maka Anda mengerdilkan kuasa Allah.

Jika Anda katakan ‘tidak boleh’,
Maka tunjukkan pada kami ayat mana yg melarangnya.


Coba kita lihat ayat ini :

Mat 12:8
Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat

Anda pasti kenal PL.
Anda pasti tau bhw Empunya hari Sabat adl YHVH.

Skrg saya tanya Anda,
Dlm ucapan Yesus ini,
Yesus bicara krn Ia adalah ‘manusia biasa’,
Atau Yesus bicara krn Ia adalah ‘Allah’?

Jika Yesus (yg adalah manusia biasa) bicara spt itu,
Maka Yesus sungguh-sungguh telah melanggar Taurat dan menghujat hukum Allah.

Itu jugalah tuduhan orang Farisi thd Yesus.
Mreka bpikir bhw Yesus adalah ‘manusia biasa saja’,
Maka pkataan Yesus itu adl pelanggaran dan phujatan.

Mrk 2:5,7
Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!”
Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?

Anda jangan meremehkan ahli Taurat.
Mreka adalah jagonya kitab suci.

Jika mreka bkata :
Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri

Itu adalah jawaban yg mreka peroleh dari penelusuran Alkitab dan memang dmikian.
YHVH tidak pernah memberikan otoritas mengampuni dosa kpd orang lain.

Lalu atas dasar apa Yesus mengampuni dosa orang dan lolos dari dosa melanggar Taurat?

Krn Yesus itulah Allah dan masih membawa atribut Allah dlm DiriNya sbg manusia.
Itulah yg mbuatnya berhak dan tiada berdosa.

Namun para ahli Taurat gagal menangkap bhw Yesus adl Allah shg mreka mnuduh Yesus mhujat Allah.

[b]Nah .. dimana pertentangan nya ?[/b]

1). Allah itu Kekal ==> JESUS selama menjadi manusia, mengalami "Kematian" artinya : Tidak Kekal.

Ibr 1:2-3
maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.
Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi

Bdsk ayat Ibrani ini,
Apakah dg kematianNya maka Yesus berhenti menopang sgala sesuatu dg firmanNya yg penuh kekuasaan?

Jika krn kematianNya maka Yesus berhenti menopang segala sesuatu,
Maka langit dan bumi ini sudah musnah skitar 2000 tahun yg lalu.

Kematian Yesus adl kematian fisik (daging/sisi manusia),
Tp kematian daging itu tidak mengurangi hakekat diriNya sbg Allah yg menopang segala sesuatu.

Jika Anda pcaya bhw ada saat dmana Yesus bukan Allah, tp hanya manusia biasa,
Anda harus meng-edit ayat di Ibrani itu mjd :

(Perhatikan yg saya italics)
Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan kecuali pd saat Ia sedang berinkanasi menjadi manusia. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi

2). Allah itu Mulia ==> JESUS selama menjadi manusia, tidak lagi memiliki "[b]Kemuliaan" [/b] Sorgawi, sebab sejak manusia itu jatuh kedalam dosa, manusia itu telah hilang kemuliannya.

Ada beda antara ‘tidak memiliki kemuliaan’ dengan ‘tidak menunjukkan kemuliaan’.

Tidak menunjukkan artinya menyembunyikan.

Tp apakah Yesus pernah menunjukkan kemuliaanNya?

Mat 17:12
Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.

Mengapa Yesus (jika Ia manusia biasa dan tidak memiliki kemuliaan) kok bisa ‘berubah rupa’ dengan wajah bercahaya spt matahari dan berpakaian putih bersinar?

Yesuslah yg berubah rupa lho.
Artinya Ia sendirilah yang melakukan itu.

3). Allah itu Agung ==> JESUS pada saat lahir menjadi manusia, lahir ditempat yang paling hina, yaitu : Dikandang Domba, jika JESUS selama hidupnya di dunia ini adalah Allah 100% juga, maka tidak mungkin JESUS dapat dilahirkan dikandang domba yang hina, seharusnya JESUS lahir di Istana yang megah.

Yesus adl contoh yg sempurna dari Pribadi yang merendahkan diri.

Seorang presiden yg sedang mencuci WC sedang menunjukkan praktek merendahkan diri.
Tp si presiden baru bisa dsebut merendahkan diri jika ia tetap memiliki status sbg presiden.

Jika ia bukan presiden namun mencuci WC,
Maka ia tidak sedang merendahkan diri, mlainkan hanya mngerjakan tugas rutinnya.

Dmikian juga jika seorang presiden mencuci WC, maka tidak bisa kita simpulkan bhw dia bukan presiden (hanya krn ia mencuci WC).

Yesus menjadi manusia yg lahir tanpa dkelilingi keagungan bukanlah tanda bhw Ia bukan Allah yang agung.
Toh di atas sudah ada ayat bhw Yesus pernah menyatakan keagungan (kemuliaanNya) ketika Ia berubah rupa di atas gunung.

[b]Pertentangan selanjutnya adalah :[/b]

1). Jika JESUS selama hidup Nya di dunia ini adalah Allah 100%, maka "Kematian JESUS di Kayu Salib adalah Kematian yang sia-sia", sebab “Korban Sempurna” yang telah ditetapkan Allah, untuk menebus dosa manusia, harus berasal dari “Pihak Manusia 100%” dan bukan berasal dari “Manusia 100% atau Allah 100%”.

Justru jika Yesus ‘hanya manusia’,
Maka penebusanNya hanya berlaku bagi 1 manusia.

Krn Dia mati dg mbawa atribut sbg Allah,
Maka Dia berhak menebus dosa semua manusia,
Krn Allah adl pencipta manusia.

2). Jika JESUS selama hidup Nya didunia ini adalah Allah 100%, maka tidak mungkin JESUS dapat dicobai oleh Iblis, sebab Allah itu tidak dapat dicobai, artinya : Jika JESUS selama hidupnya didunia ini adalah Allah 100%, maka percobaan yang dilakukan oleh iblis terhadap JESUS adalah Sandiwara antara Allah dan Iblis.

Sisi kemanusiaan Yesuslah yg dicobai,
Bukan sisi keilahianNya.

Sama jg dg yg dtulis sebelumnya :

Jika Yesus hanya manusia,
Bagaimana mungkin Ia berkata bhw DiriNya adl Tuhan atas Sabat?

3). Jika JESUS selama hidup Nya didunia ini adalah Allah 100%, maka bagai mana mungkin Allah dapat meninggalkan JESUS di Kayu Salib, karena dalam diri JESUS ada Allah 100%, artinya : Jika pada saat itu Allah meninggalkan JESUS di Kayu Salib, maka pada saat itu terjadi [b]Dualisme illahi,[/b] yaitu : Antara JESUS Pribadi disatu sisi dan Allah yang meninggalkan JESUS disisi yang lain ( hal ini bertentangan dengan Konsep Ke-Esa-an Illahi ).

Konsep ke-esa-an macam apakah yg Anda jadikan titik tolak?

Jika Yesus berkata :

Yoh 14:9
Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.”

Jika Yesus hanya manusia saja,
Maka ucapan Yesus ini keliru besar.

Masakan melihat manusia sama dg melihat Bapa?

Walaupun Bapa tidak dpt dlihat scr harafiah,
Namun Yesus dpt dlihat scr harafiah.

Apakah bagian kemanusiaan Yesus yg membuatNya merepresentasikan Bapa ataukah bagian keilahianNya yg membuatNya merepresentasikan Bapa?