menghadapi sesama saudari Kristen yang sedikit "binal"

Selamat sore… saya baru bergabung dan ingin sedikit pencerahan
saya agak bingung nie dengan seorang saudari Kristen yang lumayan dekat dengan saya beberapa waktu ini. Sebenarnya saya tidak ingin melecehkan kondisi keuangan dia saat ini, namun keadaan berbalik ketika saya melihat gaya hidupnya yang menurut saya menyebalkan.

Awalnya dia beberapa kali meminjam uang kepada saya untuk alasan mengisi perut dan bernilai ratusan ribu rupiah saja. Saya pun tidak keberatan. Bukankah kita tidak boleh menolak orang yang meminjam kepada kita?

Namun belakangan ia meminjam lagi dgn angka mencapai juta, katanya utk biaya yg menyangkut perkuliahannya, tanpa membayar sepeser pun dari hutang2 yg sebelumnya.

Karena ia dlm keadaan mencari kerja, saya pun meng-iya-kannya tanpa berbelit2. Dgn harapan bhwa ia akan segera mencicilnya segera setelah mendapat pekerjaan. (karena itu juga adalah janji dia ketika meminjam)

Namun, ternyata selama mendapat pekerjaan, dia tidak pernah sedikitpun mencicil hutangnya. Bahkan ketika saya coba menyentilnya (saya sedang membutuhkan dana) Saudari ini malah asyik dengan ceritanya bahwa hampir setiap malam dia dugem dan berkenalan dengan bermacam2 pria di tempat hiburan malam itu. Saya pun mencoba mengingatkannya bahwa Iblis mempunyai 1001 macam cara utk meyakinkan bahwa kita “lebih kuat dari godaan”. Namun pada kenyataannya, hal itu akan berbalik 180 derajat!!

Meskipun saya sudah mencoba mengingatkannya (meskipun hnya bbrapa kali) namun Saudari ini tetap dengan keadaannya semula. Dan saya tidak mau lebih dalam lagi menasehatinya.

Dan sampai saat ini, Saudari ini masih sering “menyentil” saya utk memberikan santunan kembali kepadanya dengan keluhan yang sama yaitu mengisi perut. Namun saya sudah mati rasa terhadap keluhannya ini dan saya mulai menganggapnya angin lalu, meskipun kadang keluhannya terasa menyayat.

Saat ini saya mendengar dia akan kembali ke kota kelahirannya (tanpa menyinggung masalah pembayaran sama sekali) Saya pun masih mendiamkannya. Tapi sebenarnya dalam hati saya ingin mulai marah padanya. Dan saya ingin segera menagihnya, entah secara baik atau tidak.

Pertanyaannya,

  1. Apakah saya bersalah apabila saya meminta uang saya kembali? Bukannya dalam Al-kitab ada tertulis “…janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu…” (Luk 6:30)
  2. Namun saya merasa sangat sebal dan jengkel dengan kelakuannya selama ini yang merasa bahagia dengan pergaulan malamnya. Untuk membayar hutang tidak ada, namun utk hidup di dunia malam bisa.
  3. Apakah saya berdosa apabila membiarkannya “kelaparan” seperti yang ia keluhkan selama ini terhadap saya?

Mohon bantuannya ya teman2

Thanks

“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi sahabat dalam kesusahan”. Apa yang sudah anda lakukan sudah baik. Yang terpenting dalam menangani masalah ini harus mencari akar permasalahan yang sebenarnya. Seorang yang tidak didisiplin dalam hal keuangan dan dalam hal pergaulan haruslah ditegur agar ia menyadari kesalahannya. Tetapi bila orang itu sudah ditegur dengan kasih tetapi tidak menanggapi biarlah Tuhan yang bekerja untuk orang itu dan yang perlu kita lakukan adalah tetap menjaga hubungan baik dengan orang itu sekalipun harus menjaga jarak dalam arti tidak membantu keuangannya karena ia harus menyelesaikan masalahnya sendiri. Dan yang terakhir tetaplah berdoa dan nantikanlah mujizat itu pasti nyata. Tuhan Yesus memberkati. :slight_smile:

Kalau pun anda tidak bersalah – entah dengan alasan apa pun – untuk meminta uang anda kembali, anda tidak akan mendapatkannya.

Kalau anda bersalah, anda malah sial dua kali:
a. anda melanggar FirmanNya
b. uang anda tetap tidak kembali

Jadi, kalau boleh menyarankan, sebaiknya anda lupakan saja uang yang sudah anda pinjamkan padanya dan anggap tidak pernah ada.

Anda membuang waktu dan energi anda untuk “kesebalan” dan “kejengkelan” anda terhadapnya. Pikirkanlah hal-hal yang menyenangkan, membahagiakan anda sendiri. Jangan memberi mutiara kepada babi, sis.

Coba anda pelajari Amsal, sis. Ada banyak ayat yang menyatakan bahwa “bencana” orang bebal seringkali disebabkan karena “kebebalan”-nya sendiri.

Dalam kasus anda, “kelaparan” teman anda apakah disebabkan karena keadaan atau karena dirinya sendiri? Kalau sementara Tuhan memberkatinya dengan kecukupan untuk “membeli makanan” tapi “dihambur-hamburkannya bukan untuk makanan yang mengenyangkan,” itu kesalahan Tuhan atau kesalahannya sendiri?

Kalau kondisi itu karena kesalahannya sendiri, dan dia bersikeras untuk “bertahan dalam kebebalannya,” sekali pun anda berikan seluruh harta anda tanpa menyisakan sedikit pun untuk anda sendiri, apakah tindakan anda akan membawa kebaikan baginya?

YHWH tidak pernah meniatkan kita untuk “mengorbankan diri” agar orang lain bisa “melakukan kesenangan yang sia-sia.”

Saudara yantow07 dab Saudara BJ Tan, terima kasih buat bantuan pemikirannya.
Memang sumbangan pikiran Saudara semuanya benar dan sehat adanya. Namun mungkin karena pikiran saya sedikit “kurang waras”, jadi uang yang sekian besar (menurut ukuran kantong saya) cukup membuat saya mengalami sakit hati.

Saya mengerti, dengan sakit hati ini tidak mengembalikan apapun selain menambah kerugian. Namun saya sendiri agak sulit melepaskan diri saya dari pikiran tersebut.

Btw, thnx banget ya buat perhatiannya, dan saya mencoba merenungkannya kembali. Terima kasih

Bukan “kurang waras,” sis. Bagaimana pun juga, anda sebelum ini memandang dia sebagai teman. Dengan pandangan seperti itu, sudah sewajarnya kalau anda tidak merasa keberatan untuk membantunya. Bahwa dia “memanfaatkan” pandangan anda terhadap dirinya, itu juga bukan sesuatu yang baru apalagi aneh. Banyak orang yang mendapat pengalaman sama seperti anda, sis. Menghukum diri sendiri karena suatu kewajaran yang anda lakukan tidak membantu apa pun.

Jadikan saja pengalaman ini sebagai pelajaran, kalau anda menolong orang di lain kesempatan, janganlah pertolongan itu sampai “menjadi batu sandungan” bagi anda sendiri di masa depan. Bukan berarti saya menyarankan anda untuk berhenti membantu orang lain atau membatasi bantuan yang anda berikan, tapi selidikilah dulu orang yang mau anda tolong. Ada orang-orang yang membutuhkan bantuan karena dia “tidak mampu” membantu dirinya sendiri, tapi ada juga orang-orang yang membutuhkan bantuan karena dia “tidak mau” membantu dirinya sendiri. Anda harus tulus seperti merpati dalam keinginan untuk membantu, tapi juga harus secerdik ular dalam mengambil tindakan untuk membantu.

sedikit menambahkan…

kadang untuk menyadarkan orang yang tak mau BAWA PAYUNG… ADALAH MEMBIARKAN DIA basah kuyup KEHUJANAN…

TANPA HARUS RELA2 BERSUSAH hati untuk menjemput dia dengan payung kita…

biarkan dia mungkin sampai menggigil… agar dia sadar nanti baiknya ia membawa payung bagi dirinya…

jika diladenin terus… dia akan manja… kemanjaan itu tidak akan membuatnya lebih pintar…

mazmur 37:21
Orang fasik meminjam dan tidak membayar kembali, tetapi orang benar adalah pengasih dan pemurah!

minta aja cc itu uang dari TUHAN kok tapi mintanya harus di tegur baik - baik dan cc minta pertolongan TUHAN.
orang yang minjem kaga balikin kaga tau diri pula itu bukan orang pilihan tapi orang fasik!

hm… klo menurut sy coba aja agak sedikit singgung mengenai utang2nya itu…
tp klo baca cerita anda, rasanya sih kemungkinannya kecil bgt utk dia kembalikan saat ini.
bawa dalam doa saja, spy Tuhan yg bekerja untuk menyadarkan teman anda itu.
ayah sy pernah cerita, beliau pernah meminjamkan uang ke seseorang dlm jumlah yg cukup besar, trus lamaa ga dibayar2, akhirnya ayah sy sampai tidak ingat lagi. setelah sekian thn (lbh dr 5 thn kyknya) tau2 org tersebut bayar kembali utang2nya yg dahulu. :slight_smile:
so, mgk saat ini relakan saja dahulu, doakan dia juga. dan untuk ke dpnnya jgn pernah kasih pinjam uang lagi ke dia.

kalau semula niatnya meminjamkan maka tdk salah kalau menagihnya kembali,
ayat tsb berlaku utk kejadian spt perampasan dgn kekerasan.
kalau anda sdh merelakannya gak usah ditagih lagi, atau kalau gak rela cobalah utk merelakannya sbg pertolongan kpd temanmu itu tapi merupakan yg terakhir kali.

memang kebiasaan spt itu tdk bisa ditolerir,
jangan berikan lagi pinjaman dgn alasan apapun, dan sebaiknya anda mulai menjauh darinya,
spy anda tdk terjerumus ke dunia yg sama.
I Korintus 15:33 Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.

sama sekali tdk berdosa, ada ayat yg mengatakan bahwa semua org harus bekerja/berusaha
II Tesalonika 3:10 Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.

ada orang licik jahat pura2 baik berteman untuk mendapatkan uang dari orang baik hati !
ada orang jahat pura2 baik pintar bohong menipu dengan macam2 cara mendapat uang !
ada orang jahat memanfaatkan orang baik untuk meminjam uang dengan cara2 bohong !

kasih harus bijak ! jangan mau dimanfaatkan orang jahat pinjam uang untuk buat dosa2 !
jangan berteman dengan orang jahat penipu pembohong yang ujung2nya adalah uang2 !
harus tegas pendirian yg benar ! tegur nasehati orang jahat supaya tobat tak buat dosa !

Sobat seandainya kamu memiliki uang 10 milyar contohnya, kemudian kamu kehilangan uang 10 juta karena dipinjamkan kepada saudaramu dan ia tidak dapat mengembalikannya, mengapakah kamu harus bersedih bila kamu masih punya 9milar 990 juta rupiah. Bukankah kamu harus bersukacita karena kamu masih memiliki bagian yang terbaik.

Sobat hal pengampunan itu sama seperti orang yang memberikan hutang. kita adalah orang yang memiliki hutang yang tak dapat terbayar dan sang raja yang memberi kita hutang sudah mengampuni kita lalu mengapakah hanya sedikit nilai kecil saja yang hilang dari kita lalu kita harus merasa sakit hati. Bukankah Allah kita adalah Allah yang kaya yang sanggup memberkati lebih daripada yang hilang itu… ingat jikalau kita tidak mau mengampuni maka Bapamu yang disorga pasti tidak mengampuni kamu juga.

Oyah kalo suka renungan harian, mampir yah ke wall ku di http://www.facebook.com/kasih.setianya/ :wink: :wink: :wink:

to all:

ma kasih banyak buat bantuan pemikirannya. TUHAN MEMBERKATI Anda sekalian.

Utk Sdr.Yanto Wijaya, thanks banget utk link-nya. Saya sdh ke sana…

soal minjemin uang begini emang musti hati2,karena banyak orang yg klo mau minjem uang pada sesumbar bakal kembaliin uang kita tp nyatanya malah uang itu tidak dikembalikan sama sekali ke kita(masih mending klo emang ga punya uang buat bayar hutang,kadang malah ada yg sebetulnya punya uang tp pura2 bego/lupa klo ga ditagih).bukan masalah jumlah uangnya sih,tp ga usah bikin janji palsu napa sih(ga usah sesumbar nanti mau kembaliin uang yg dipinjam) klo emang dasarnya ga niat kembaliin uang yg dipinjam.jd buat pihak peminjam juga enak & ga mengharapkan apa2 lagi setelah uang diberikan.