menghakimi

saya sedang buka FB, kemudian ada orang bule posting, kalau dalam bahasa Indonesia “mengapa orang kristen menghakimi LGBT (lesbian gay bisexual transeksual) bakal masuk neraka, bukankah Yesus mengajarkan jangan menghakimi atau kamu akan dihakimi?”. saya tiba2 bingung, bagaimana membedakan menghakimi dan memperingatkan seseorang akan dosanya?

Tegor saja mereka dalam kasih, dan berikan ayatnya, jika tidak mau jangan jauhi mereka, tetap rangkul mereka dalam kasih Yesus Kristus

Kalau kamu bilang mereka bakal masuk neraka ya pasti marah lah, coba kalau kamu ada di posisi mereka, mendengar kata2 seperti itu, apa reaksimu?

Ini yang disebut “jangan menghakimi”

menurut si bule, menganggap LGBT dosa adalah menghakimi karena ajaran kristus adalah kasih dan yang dipraktekkan oleh LGBT adalah kasih seperti heteroseksual.
bagaimana dengan 1 korintus 6 ayat 9? apakah rasul paulus menghakimi homoseksual dengan berkata tidak akan mendapat bagian di kerajaan surga?

Ya makanya itu saya bilang, katakan pada mereka yang bilang tidak mendapat bagian dalam kerajaan surga itu adalah Firman Tuhan, yang artinya Tuhan sendiri yang ngomong begitu, saya cuman menyampaikan kebenaran, kalau kamu mau protes silahkan protes ke Tuhan sendiri

Yang jadi masalah adalah selanjutnya orang2 seperti ini dianggap tidak pantas untuk datang ke gereja, bahkan ditolak, itu yang tak boleh, kita tak boleh menghalangi siapapun untuk datang ke Tuhan, orang bule yang post di FB itu kalau diterima dengan baik digerejanya, ga akan ngomong kek gitu

Terkadan, karena sikap kita yang permisive, justru akan menyebabkan orang untuk tidak tahu batas yang jelas antara boleh dan terlarang. Batas yang sudah ditentukan oleh alam dan agama harus dipatuhi.

Seandainya, dengan hubungan sejenis bisa menghasilkan keturunan, berarti alam tidak menentang, maka selanjutnya tinggal masalah agama. Tetapi pada kenyataannya, alam menyediakan pria dan wanita, bukan di antaranya, karenanya secara logis, tidak masuk akal kalau ada dua manusia sesama jenis berhubungan badan.

Betul bahwa selalu ada kemungkinan cacad produksi, bahwa tidak bisa dibedakan antara pria dan wanita, misalnya karena hormon yang salah secara genetis. Untuk yang seperti ini saya tidak bernai menyalahkan. Walaupun kalau secara medis masih bisa diperbaiki, biarlah yang kekurangan diperbaiki lebih dahulu.

Tetapi, kalau hanya karena selera ataupun kebiasaan, maka tidak ada pembenaran untuk hal seperti ini, juga pembenaran atas nama cinta dan hak asasi manusia. Manusia itu mahluk sosial dan berakal, maka secara sosial dan akal sehat hubungan sejenis jelas melanggar.

Untuk larangan agama jelas tertulis, termasuk hukuman Allah yang sangat berat.

Tolak segala macam kegiatan homoseksualitas.

Saya hanya memberikan link bagi saudara @gusgus supaya bisa membaca dengan lengkap perihal menghakimi :

  1. Jangan Kamu Menghakimi, Supaya Kamu Tidak Dihakimi :
    http://www.cahayapengharapan.org/khotbah/khobah_di_bukit/texts/040_janganlah_menghakimi.htm

  2. Jangan Menghakimi Orang Lain : http://www.cahayapengharapan.org/khotbah/pa_surat_yakobus/texts/jangan_menghakimi_orang_lain.htm

Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera dari ALLAH, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai saudara…Terima kasih…Salam

Itulah bedanya pemikiran bule, bilang gay dosa dianggap menghakimi. Yang penting menurut bule, kasih, dan sepertinya bagi kebanyakan bule, kasih itu yang terutama dan menutupi kesalahan/dosa yang lain. Kalau dari postingan bule2, kebanyakan Keberatan dengan pembahasan LGBT, sedangkan heteroseksual seks sebelum nikah, selingkuh dan perceraian tidak pernah dibahas di gereja2 (gereja di sana). Saya pernah ke gereja2 di luar negeri, memang sepertinya tidak pernah bahas soal seks sebelum nikah (tidak seperti di Indonesia yang berani khotbah tentang hal2 itu), seperti rahasia umum yang takut dikhotbahkan karena mungkin banyak yang melakukan. Tapi ini cuma pendapat pribadi.
Bulenya sepertinya heteroseksual yang membela LGBT.

Menurut LGBT dan pembelanya, telah ditemukan gen yang menyebabkan gay, jadi itu adalah hal yang diciptakan Tuhan. Saya tanya2 ke orang kristen yang mengerti tentang gen, dikatakan kemungkinan benar, tapi itu semua adalah pilihan hidup, karena gen itu tidak selalu membuat orangnya gay. Ada juga gen yang merupakan gen kekerasan, jadi orang yang punya gen itu seharusnya orang2 yang kasar, tapi tidak selalu jadi kasar. Sebagai orang kristen harus memilih yang sesuai firman Tuhan dan tidak jatuh ke dosa seksual.

Menurut LGBT dan pembelanya, telah ditemukan gen yang menyebabkan gay, jadi itu adalah hal yang diciptakan Tuhan. Saya tanya2 ke orang Kristen yang mengerti tentang gen, dikatakan kemungkinan benar, tapi itu semua adalah pilihan hidup, karena gen itu tidak selalu membuat orangnya gay. Ada juga gen yang merupakan gen kekerasan, jadi orang yang punya gen itu seharusnya orang2 yang kasar, tapi tidak selalu jadi kasar. Sebagai orang Kristen harus memilih yang sesuai Firman Tuhan dan tidak jatuh ke dosa seksual.

Saya lebih percaya bahwa itu adalah cacad gen, bukan gen yang berbeda.
Kecuali ada sepasang gay yang bisa punya anak secara biologis, maka saya tidak akan mengatakan hal itu salah.

Jika sama skali jangan mhakimi, brarti jabatan ‘hakim’ itu haram dong???
Tuhan Yesus tidak mminta supaya sama skali tidak mhakimi mlainkan mminta orang-orang utk mhakimi dahulu diri sndiri sblm mhakimi orang lain.

Itulah sebabnya seorang hakim (mis : Akil Muchtar) yang melanggar hukum (korupsi) dihukum sangat berat (seumur hidup).

Memang seperti itu apa adanya, saking menjunjung tinggi HAM maka pernikahan gay pun diberkati di gereja, HAM sudah ada diatas Firman Tuhan

Ini memang membingungkan

Saya punya teman, ga tanggung2 3 orang yang punya masalah seperti itu, semuanya sudah bertobat namun kelihatannya kepribadiannya tetap seperti itu, salah satunya pernah curhat kesaya bahwa dia sejak lahir sudah seperti itu, menurut dia tak pernah sakit hati atau mengalami pelecehan seksual atau apapun juga, akhirnya saya hanya katakan kepada dia bahwa Tuhan menciptakannya sempurna, sanggup untuk memulihkannya, dan punya rencana indah untuk dirinya. Untuk hal2 seperti ini yang semestinya kita jangan terlalu cepat untuk menghakimi, jangan cuma lihat luarnya saja

Justru itu, karena kita tak mengalami seperti apa yang mereka alami, maka sebenarnya kita tak bisa menghakimi seenaknya untuk soal seperti ini, yang bisa adalah mereka yang sudah mengalami dan sudah dipulihkan.

Bro Henhen,
Siapapun bisa mhakimi.
Mhakimi itu kan bbicara bhw sesuatu adalah dosa/bukan dosa.
Org Kristen harusnya jadi mercusuar dunia utk mhakimi dosa/bukan dosa skalipun dia blm mengalami kondisi srupa.

Namuuuun, kl tujuannya utk konseling/pmulihan, maka yg pas utk approach/mlayani adalah mreka yg sudah pernah mngalami dan sudah bebas.


Kl mnrt saya dari apa yg saya pahami,
Mhakimi itu dlakukan dg:

  1. Yg mhakimi itu constantly mhakimi dirinya sndir sblm mhakimi supaya ia tidak ketangkep mlakukan cacat yg sama/lebih fatal
  2. Mhakimi dlakukan dg mentalitas kasih utk mperbaiki/mmulihkan bukan mentalitas arogansi model PL yg mjatuhkan hukuman/diskriminasi
  3. Mhakimi dlakukan dg adil yaitu dg mhadirkan fakta-fakta dan dsesuai pd kondisi/situasi yg tjadi

Saya dulu pun prinsipnya sepertimu Siip, namun dari apa yang saya dapatkan akhir2 ini sebenarnya tidak demikian

pernyataan anda :
Mhakimi itu kan bbicara bhw sesuatu adalah dosa/bukan dosa.

bagi saya itu bukan menghakimi, itu adalah menegur dalam kasih, nyatakan mana yang dosa dan bukan dosa dalam kasih, sisanya tinggal diterima atau tidak

Penghakiman itu menurut saya seperti memutuskan keputusan final, bertindak seperti hakim, contohnya :
Kita bilang ke orang gay, kamu pasti masuk neraka, bertobatlah
Atau bilang ke pendeta, kamu pasti masuk surga

Saya belajar keputusan final itu sepenuhnya ada di tangan Tuhan, belajar seperti Daud yang tidak menghakimi Saul walaupun dia benar dan dia berhak menghakimi, namun akhirnya Daud tetap menyerahkan keputusan akhir kepada Tuhan, dan Daud disebut sebagai orang yang berkenan kepada Tuhan pada zamannya

Kenapa saya jadi seperti ini, karena ada banyak situasi yang saya temui mengajarkan saya seperti itu, contohnya seperti teman saya yang gay katanya dari lahir, mau digimanain? mana mungkin kita bilang dia pasti masuk neraka? siapa tahu di tengah perjalanan hidupnya dia bertobat, malah kalau dibilang begitu dari awal mana mau dia bertobat, ngapain juga dia bertobat toh hidupnya udah pasti masuk neraka. Hal2 seperti ini pelik memang.

@Henhen

Kenapa saya jadi seperti ini, karena ada banyak situasi yang saya temui mengajarkan saya seperti itu, contohnya seperti teman saya yang gay katanya dari lahir, mau digimanain? mana mungkin kita bilang dia pasti masuk neraka? siapa tahu di tengah perjalanan hidupnya dia bertobat, malah kalau dibilang begitu dari awal mana mau dia bertobat, ngapain juga dia bertobat toh hidupnya udah pasti masuk neraka. Hal2 seperti ini pelik memang.

Bro, seandainya teman itu curhat ke anda.
Dan bertanya, bro, apakah saya salah karena melakukan tindakan homoseksual?
Apa jawab anda?

Syalom

Salah, karena tak sesuai Firman

Lalu dia tanya begini :“Lha gw begini dari lahir, lalu, apa maunya Tuhan juga gw ga berhubungan seumur hidup?”

Coba kira2 bagaimana jawaban anda, kira2 sama gak kaya jawaban saya ke dia

He he he he.
Saya akan tanyakan lebih detail, karena seperti juga kita ketahui bahwa dorongan seksual itu tidak muncul sejak lahir, biasanya muncul sejak akil balik.
Kecuali kalau teman anda itu memang orangnya kemayu (ngonde), nah itu sepertinya memang genetik, seperti misalnya Oscar Lawalata yang lebih cantik dibanding kebanyakan wanita, he he he he, itu genetik.
Kalau untuk yang seperti itu, saya akan sarankan untuk terapi hormon, kalau perlu operasi kelamin.

Tetapi, kalau yang seperti kebanyakan gay, dimana penampilan mereka macho, bahkan bisex, tetapi suka juga pada sesama jenis, saya tidak akan memberi ampun dalam perkataan. Bahkan dekat dekatpun sepertinya ‘ngeri’, paling tidak ngeri apa kata orang kalau lihat saya berdua dengan dia, he he he.

Tepat seperti apa yang saya jawab, namun saya gak nyaranin sampe terapi hormon dan operasi deh hahaha, terlalu ekstrim

Ini orangnya sekilas dilihat ya cowo tulen, ganteng lagi, banyak cewe suka sama dia juga benernya, mana kaya lagi hahaha, kalo gaul pertama kali ga bakalan keliatan, nanti kalo udah deket baru ada sikapnya dan otaknya yang rada kecewe2an gitu

Saya tambahin juga kalau ada waktu kecil pernah disodomi atau gimana, atau pernah sakit hati sama cewe atau apa, dia bilang ga ada apa2, dari awal dia bisa “ereksi” ya ereksinya kepada sesama jenis

Saya jujur dengerin curhatan dia selama 1 jam lebih, sayanya ga bisa ngasih solusi yang gimana2, paling cuman kasih kebenaran Firman aja, dan saya sarankan dia untuk cari kelompok orang yang seperti dia namun sudah bertobat yang ada dalam pengawasan gereja

Dia jalankan semua nasihat saya, dia sekarang dibimbing oleh orang yang dulunya gay sejak lahir juga, namun sekarang sudah menikah, punya anak, namun tau ga, katanya pembimbing dia sampai sekarang pun tetap kalau mau ikutin keinginan dagingnya ya maunya sama sesama jenis juga, namun istrinya dari awal sudah diceritakan dan mau menerimanya apa adanya.

Karena peristiwa2 seperti ini, saya jadi merenungkan lama sekali tentang menghakimi, dan pola pikir saya tentang menghakimi jadi berubah sejak saat itu.

jangan lelah memberitakan kebenaran Firman Tuhan, namun jangan mengambil posisi Tuhan sebagai hakim sehingga bisa menentukan siapa yang masuk neraka siapa yang masuk surga, bagi Tuhan tak ada yang mustahil

Nah itu, bro.
Pinsipnya yang harus kita pegang adalah, ada aturan yang tidak boleh dilanggar.
Karena sekali peraturan itu ditoleransi, maka ibarat bendungan jebol karena retak serambut.
Sekali kita memberi celah pada kesalahan atau dosa atau iblis, maka setelah kesalah atau dosa itu masuk, akan langsung menjebol pertahanan kita.

Memang sama sekali bukan hak kita untuk menyatakan ini dosa itu tidak, karena kita bukan Tuhan. Tetapi, paling tidak kalau sudah ada ketentuannya, janganlah kita memberi toleransi.

Contoh dalam kehidupan kita sehari hari.

Karena kita harus menghargai HAM, maka kita menganggap gay adalah hak pribadinya. Jika ia mencintai sesama jenis, masa sih kita harus keberatan dan melarang? Maka kita menganggap gal adalah biasa.
Begitu gay menjadi biasa, dan tidak lagi menjadi hal yang memalukan dan harusnya ditolak, kita jadi permisive.
Kemudian ketika ada gay yang karena cinta ingin menikah dengan sesama jenisnya, kita sulit untuk menolak.
Gereja, yang seharusnya jadi penopang iman, justru menjadi kehilangan pegangan ketika ada sepasang gay ingin menikah di gereja. Diterima berarti menyalahi ajaran Kristen, ditolak nanti dikatakan menghalangi cinta, dan melanggar HAM. Kemudian apakah gereja akan tunduk pada kehendak dunia?

Inilah yang sekarang banyak terjadi di dunia barat, gereja gereja mulai menikahkan pasangan gay.
Setelah gereja menikahkan pasangan gay, maka apakah bisa homoseksualitas dilarang oleh gereja?
Apa yang terjadi jika sudah seperti itu?
Apakah Sodom Gomora kemudian kita lupakan? Atau karena kita yakin hal hal seperti itu tidak akan terjadi lagi?

:slight_smile:

Syalom

Tdnya saya pun bpikir spt itu Bro Hen,
Sampai saya ktemu ayat ini:

1 Kor 6:2
Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang kudus akan menghakimi dunia? Dan jika penghakiman dunia berada dalam tangan kamu, tidakkah kamu sanggup untuk mengurus perkara-perkara yang tidak berarti?

Jd kita sbg orang-orang kudus sbetulnya dharapkan btumbuh dalam kdewasaan sdmikian rupa shg kita punya kmampuan utk menghakimi dengan sudut pandang ilahi.
Jika bukan kita, siapa lagi?

Saya belajar keputusan final itu sepenuhnya ada di tangan Tuhan, belajar seperti Daud yang tidak menghakimi Saul walaupun [u]dia benar[/u] dan dia [u]berhak menghakimi[/u], namun akhirnya Daud tetap menyerahkan keputusan akhir kepada Tuhan, dan Daud disebut sebagai orang yang berkenan kepada Tuhan pada zamannya

Akan sulit smisal kita terapkan prosedur:
Kl kamu ktemu org bbuat dosa, silakan nyatakan apa yg salah dalam kasih, lalu jika dia tanya: Kl saya lakukan dosa apakah saya masuk sorga/neraka? Maka kamu jawab: Hanya Tuhan yg mnentukan.

Ngga bisa bgitu Bro.
Itu cuman ideal di atas kertas.
Itu mnrt saya cuma bahasa halus aja.

Pd saat sso mnyatakan dosa dan menegur, scr sadar/tidak sadar, langsung/tidak langsung, ia mbritahukan pd yg berdosa bhw orang itu akan mati binasa jika tidak btobat.

Kl mnrt saya,
Mnyatakan ksalahan/dosa adalah mhakimi.
Yg mbedakan adalah mentalitas kita dalam mhakimi itu apa.

Apa dasar kita dlm mhakimi?
Kita lakukan dg ukuran manusia ataukah hikmat Tuhan?
Kita lakukan dg mental Taurat yg menuduh, mngintimidasi dan mdiskriminasi ataukah dg mental PB utk memulihkan dan mgangkat orang.

Kenapa saya jadi seperti ini, karena ada banyak situasi yang saya temui mengajarkan saya seperti itu, contohnya seperti teman saya yang gay katanya dari lahir, mau digimanain? mana mungkin kita bilang dia pasti masuk neraka? siapa tahu di tengah perjalanan hidupnya dia bertobat, malah kalau dibilang begitu dari awal mana mau dia bertobat, ngapain juga dia bertobat toh hidupnya udah pasti masuk neraka. Hal2 seperti ini pelik memang.

Saya pernah ktemu org yg mirip-mirip itu kisah hidupnya.
Dia ketua Youth sbuah gereja.
Orgnya punya orientasi seksual sejenis, mksdnya nafsu sama ssama jenis dan ngga nafsu sama lain jenis.
Dia udh ikut sgala macam apapun utk bisa bebas.
Doa udah, pelepasan udah, KKR udah, semua udah dia coba, tp tetap saja dia ngga nafsu sama lawan jenis.

Waktu dia cerita sama saya, saya sambil doa.

Lalu saya teringat ayat ini:

Mat 19:12
Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.

Dari ayat itu tiba-tiba dalam waktu singkat skali bredarlah sbuah alur pmikiran di kepala saya,
Org ini mrasa berdosa dan tertuduh karena ia mrasa tidak nafsu sama lawan jenis.
Dia mrasa tidak se-normal laki-laki lainnya yg nafsu sama wanita.

Nah, pmikirannya itu salah.
Spanjang dia tidak mlakukan hubungan seks sesama jenis, maka dia tidak berdosa.

Iblis mdakwa dia dg mngatakan bhw dia tidak senormal laki-laki lain yg gampang nafsu sama wanita dan dg dmikian mnuduh bhw dia homoseks.
Tuduhannya salah alamat.

Soal nafsu dg wanita, itu kategorinya adalah sakit psikologis.
Nah skrg kl orang sakit apakah dia berdosa? Kan ngga.
Kl org sakit diabetes, apakah dia dosa krn diabetes?
Kan ngga.

Ngga nafsu sama wanita adalah sakit psikologis yg bisa sembuh seiring waktu dan itu bukan dosa.

Makanya saran saya,
Skalipun kamu ngga nafsu sama wanita, jangan bhubungan seks ssama jenis maka kamu aman dari dosa dan kamu bukan homoseks.

Kl kamu sampai matipun tidak Tuhan sembuhkan sakit psikologisnya dan sbg akibatnya kamu memilih single, maka kamu tidak berdosa.

@Siip

Nah, yang anda sampaikan itu yang berlaku di Katolik.
Menjadi seorang yang suka pada sesama jenis TIDAK BERDOSA, selama dia tidak melakukan hubungan sex dengan sesama jenis.

;D