menikahi sepupu.....

permandyan pingin tanya nich…
:

A dan B adalah kakak beradik, setelah dewasa, masing masing merkea menikah dan dikaruniakan anak, A melahirkan C (laki - laki) dan B melahirkan D (wanita),
bolehkah C dan D menikah…
klasifikasi

  1. si A adalah laki laki dan B juga laki laki
  2. Si A adalah laki laki dan B adalah wanita
  3. Si A adalah wanita dan B adalah laki laki
  4. Si A adalah wanita dan B juga wanita…

bagaiman kalau A dan B adalah kakak - adik tiri
karena perceraian orang tua dan mereka sama sama menikah lagi

  1. Klasifikasi seperti diatas
  2. A dan B dari Bapak yang sama
  3. A dan B dari ibu yang sama

Yang saya dengar pernikahan dari keluarga dekat secara genetik kurang menguntungkan.

Manusia terdiri dari sekian ratus gen pembawa sifat. tiap pembawa sifat itu terdiri dari 2 item.
misal pembawa sifat hidung mancung laki Xx pembawa sifat hidung pesek istri Yy

setelah disatukan anaknya mungkin Xy atau xY atau kombinasi yang lain.

Kalau Xy karena X yang dominan/menang maka anaknya mancung.
Kalau xY sifat hidung pesek yang menang anaknya berhidung pesek.

Saudara sepupu kemungkinan pembawa sifatnya banyak yang sama. jadi ada banyak persamaan kelemahan sehingga kemungkinan cacatnya besar. Oleh sebab itu orang indo/blaster banyak yang cakep karena gen nya banyak beda sehingga saling menutupi kelemahan.

Di Alkitab… itu sebelum ada banyak manusia… mereka juga menikah dengan ikatan darah yang dekat

abraham menikah dengan adik tiri nya (1 bapak beda ibu)

Ge 20:12 Lagipula ia benar-benar saudaraku, anak ayahku, hanya bukan anak ibuku, tetapi kemudian ia menjadi isteriku.

Ada lagi yakub dengan anak pamannya , laban (mrp kakak kandung dr ibunya)

Perkawinan sedarah memang perlu hati2 , krn kelainan darah/gen pada salah satu pasangan bisa berakibat fatal pd keturunnya misal yang sering sy dengan adl… Thalassaemia

Si anak , sekalipun masih bayi… harus terus menerus melakukan cuci darah hingga dewasa (kecuali ada mujijat kesembuhan Illahi) yang bisa melepaskan

krn hal tersebut … kalo saya menyarankan … sebaiknya menikah dg kondisi beda gen :coolsmiley:

kayanya kita di bawa kembali lg ke zaman adam n hawa…??

Anjuran yg sangat baek sekali, ntr aq cari istrie orang luar negeri az ;D

Perkawinan sedarah memang perlu hati2 , krn kelainan darah/gen pada salah satu pasangan bisa berakibat fatal pd keturunnya misal yang sering sy dengan adl.. Thalassaemia

Si anak , sekalipun masih bayi… harus terus menerus melakukan cuci darah hingga dewasa (kecuali ada mujijat kesembuhan Illahi) yang bisa melepaskan

krn hal tersebut … kalo saya menyarankan … sebaiknya menikah dg kondisi beda gen

Dari klasifikasi yang permandyan berikan diatas… kira kira yang kena diatas itu hubungan saudara yang mana…(?)

Ada di beberapa daerah teristimewa di indonesia… ada begitu gahkan sangat dianjurkan untuk menikahi saudara…( permandyan ambil contoh saja, batak dan timor)
apakah banyak yang dari mereka harus mencuci darah (?)

sekali lagi…
dari klasifikasi yagn telah permandyan berikan diatas
yaitu klasifikasi 1 sampai empat dan tambahan untuk saudara yang tiri, dengan klaisikasi yang tlah ada ditambah saudar satu nenek maupun saudara satu kakek…

itu sebenarnya yang permandyan tanyakan, makanya permandyan sertakan klasifikasi yang ada…

untuk klasifikas yang no. 1. itu yang paling sering tidak boleh sedangkan untuk klasigfikasi yang berikut diperbolehkan,

jadi dari klasifikasi yang telah permandayn sertakan , mana yang boleh… dan mana yang tidak…
jadi jangan pukul rata untuk saudara sepupu…

Ini article dari Oxford University, universitas rangking 4 atau 5 dunia. katanya perkawinan sepupu pertama menaikan kemungkinan cacat lahir dan masalah genetik. yang disebut recesive condition.tidak perduli apa antara sepupu dari laki atau perempuan. ini disebabkan karena mewarisi 2 pasang gene yang keduanya menyebabkan mutasi. sepertinya setiap kita membawa kira2 12 mutasi berkenaan dengan kondisi recessive.Ada kira2 3500 kondisi recessive. kemungkinan bahwa keduanya membawa mutasi sangat kecil. Kalau kedua orang tua punya recessive mutasi yang sama maka resiko untuk 1 banding 4. setiap dia mengandung.
Dalam perkawinan bukan keluarga kemungkinan problem ini 2 - 3 persen pada perkawinan sepupu berarti punya 12.5 persen persamaan genetic warisan dari nenek moyang.resiko naik dua kali lipat sekitar 4-5 persen…

Sekian dulu dan lanjutnya boleh dibaca, kalau perlu terjemahan saya lanjutkan lagi karena saya mau pergi sebentar
By Dr Alison Shaw
Department of Public Health, University of Oxford.

Appeared in BioNews 463

Marriage between relatives such as first cousins increases the risk in children not of general birth defects and genetic problems of all kinds but of what geneticists call ‘recessive’ conditions: those caused by inheriting two copies of a gene each of which carries a mutation. It seems we may each carry about 12 mutations associated with recessive conditions. There are about 3.5 thousand recessive conditions, most of them very rare, so the chance of both partners carrying a mutation in the same gene is low. If both parents carry the same recessive mutation they then have a one in four risk of an affected child each time they conceive a child. In the UK, most children with recessive conditions are born to unrelated parents.

In children of unrelated couples, the risk of congenital and genetic including recessive problems is usually estimated at about 2-3 per cent. First cousins have a higher risk of recessive problems in children than unrelated couples because they share 12.5 per cent of their genetic material and may have inherited the same mutation from a common ancestor. Risk to their children is usually estimated at about double the risk of congenital and genetic problems in children of unrelated couples. At about 4-6 per cent, this doubled risk is also a 94-96 per cent chance that their child will be perfectly healthy. A cousin couple is thus more likely to have a healthy child than to have a child with a recessive problem.

Risk for recessive conditions also varies between communities depending on the distribution of recessive mutations, making some conditions more common than others, and on the history of marriages to blood relations within them. In the UK, cousin marriage is no longer common in the majority population but is practised within quite diverse minority groups, particularly those of relatively recent migrants from the Middle East and South Asia. Debate has focused on British Pakistanis, the largest population practising cousin marriage, because of the comparatively high incidence of a range of serious recessive problems.

In some British Pakistani families, marriage within the family or extended kinship group has been practised for generations and first cousin couples can trace numerous additional blood ties in their family history. They may therefore share more than 12.5 per cent of their genetic material and have a higher risk for recessive problems in their children than if they were first cousins without any additional connections by blood. This is the most likely explanation for the observation that, in some sections of the British Pakistani population, the risk of death or serious disability in children may be as high as 10 per cent.

Marrying an unrelated person does not remove this risk because of the general population risk of two people carrying a mutation in the same gene, particularly for the more common recessive conditions, but it can significantly reduce risk for rare recessives. In managing recessive risk for individuals or couples, the critical thing is not so much whether or not they are blood relatives but whether or not they are carriers of a mutation for the same condition. Premarital or pre-conception genetic counselling can be useful to establish a couple’s risk and reproductive options before they start a family, particularly where one or both partners have an affected relative or if one partner has a recessive conditions themselves.

In the UK today, it would be as inappropriate to castigate cousin marriages on grounds of elevated recessive risk as it would be to stigmatise late childbearing on grounds of elevated risk of chromosomal abnormalities. Down syndrome risk is now managed through generic prenatal screening and counselling. Recessive risk presents rather different challenges because it includes risk for many different, mostly rare, conditions, some of them treatable. Carrier and prenatal tests are now possible for an increasing number of recessive conditions but screening for them all it not currently possible or realistic. It is often only after the birth of an affected child that clinicians know which condition is relevant within any particular family.

Recessive risk need to be managed by improving awareness of it, including the elevated risk associated with marrying relatives such as first cousins where there is a history of marriage within the family, and by ensuring appropriate genetic counselling. Public health and genetic counselling provisions should strive to enable individuals and couples to make informed marital and reproductive decisions, wherever possible. Any couple worried about genetic risk to children should ask their GP for a referral to a genetics clinic. Some scientists think that in the next decade or so we may all have access to our own personal DNA results and will each consequently know much more about the mutations we all carry.

SOURCES & REFERENCES

  1. Firth, H.V. and Hurst, J.A. (2005)
    Oxford Desk Reference: Clinical Genetics. Oxford University Press |

Ini saya lanjutkan 2 paragraf lagi karena untuk terjemahkan bisa ngetik sambil lihat di preview.
resiko recessive condition bervariasi diantara komuniti tergantung distribusi dari recessive mutasi, yang mambuat sautu keadaan lebih sering terjadi dari pada yang lain. dan sejarah perkawinan keluarga diantara mereka. Di inggris perkawinan sepupu tidak lagi sering terjadi dalam mayoritas populasi. tapi ini dilakukan oleh beberapa grup minoritas. khususnya diantara pendatang2 dari timur tengah, dan asia selatan. Debat difokuskan pada warga inggris pakistan. populasi terbesar yang melakukan kawin sepupu. sebab punya prosentasi tertinggi pada masalah resesive.

Dalam beberapa keluarga warga inggris keturunan pakistan perkawinan keluarga adalah adat yang lama dilakukan dan dapat di lacak tambahan pertalian darah dalam sejarah keluarga. Oleh sebab itu kemungkinan mereka punya lebih dari 12.5 persen persamaan genetik dan punya lebih besar masalah recessive pada anak2 mereka kalau mereka sepupu pertama, dengan tanpa tambahan pertalian darah. Inilah penjelasan untuk obserfasi pada beberapa bagian warga inggris keturunan pakistan kemungkinan mati atau cacat serius pada anak2 kemungkinan mencapai 10 persen.
Risk for recessive conditions also varies between communities depending on the distribution of recessive mutations, making some conditions more common than others, and on the history of marriages to blood relations within them. In the UK, cousin marriage is no longer common in the majority population but is practised within quite diverse minority groups, particularly those of relatively recent migrants from the Middle East and South Asia. Debate has focused on British Pakistanis, the largest population practising cousin marriage, because of the comparatively high incidence of a range of serious recessive problems.

In some British Pakistani families, marriage within the family or extended kinship group has been practised for generations and first cousin couples can trace numerous additional blood ties in their family history. They may therefore share more than 12.5 per cent of their genetic material and have a higher risk for recessive problems in their children than if they were first cousins without any additional connections by blood. This is the most likely explanation for the observation that, in some sections of the British Pakistani population, the risk of death or serious disability in children may be as high as 10 per cent.

dua pagagraf berikutnya.
mengasini bukan keluarga tidak menghilangkan resiko, sebab secara umum, rsiko dua orang punya mutasi dalam gene yang sama khususnya untuk kondisi recessive yang umum , tapi dapat secara significant mengurangi resiko untuk recessive abnormal. Untuk mengatur resiko ini secara indifidu atau pasangan. masalah yang kritis bukan apakah dia punya hubungan darah tapi apakah mereka punya membawa mutasi dalam kondisi yang sama. Konsultasi sebalum pernikahan atau konsultasi genetic sebelum kehamilan akan sangat membantu sebelum mulai keluarga. khiususnya kalau mereka punya keluarga yang cacat atau mereka sendiri cacat sebagaimana mencela penundaan punya anak dengan dasar keabnomalan chromosom. Resiko down syndrome sekarang dapat diatasi dengan genercic prenatal screening. dan konseling. Resiko recessive orang tua sekarang punya tantangan berbeda sebab ini melibatkan bermacam2 sebab, dan sangat jarang dan beberapa dapat diobati. Beberapa masalah sekarang dapat di test sebelum kelahiran dengan lebih banyak masalah recessive yang dapat di tes tapi tidak semua. Kadang2 cacat ini baru diketahui setelah lahir. diketahui oleh petugas clinic yangmana kondisinya relefan diantara keluarga secara specifik.
Di inggris sekarang tidak layak untuk mengeritik perkawinan sepupu dengan dasar kenaikan resiko
Marrying an unrelated person does not remove this risk because of the general population risk of two people carrying a mutation in the same gene, particularly for the more common recessive conditions, but it can significantly reduce risk for rare recessives. In managing recessive risk for individuals or couples, the critical thing is not so much whether or not they are blood relatives but whether or not they are carriers of a mutation for the same condition. Premarital or pre-conception genetic counselling can be useful to establish a couple’s risk and reproductive options before they start a family, particularly where one or both partners have an affected relative or if one partner has a recessive conditions themselves.

In the UK today, it would be as inappropriate to castigate cousin marriages on grounds of elevated recessive risk as it would be to stigmatise late childbearing on grounds of elevated risk of chromosomal abnormalities. Down syndrome risk is now managed through generic prenatal screening and counselling. Recessive risk presents rather different challenges because it includes risk for many different, mostly rare, conditions, some of them treatable. Carrier and prenatal tests are now possible for an increasing number of recessive conditions but screening for them all it not currently possible or realistic. It is often only after the birth of an affected child that clinicians know which condition is relevant within any particular family.

Ini paragraf terakhir dari article ini dan kalau bahasa saya kurang jelas boleh ditanyakan kalau saya bisa jawab akan saya jawab.

Resiko recessive perlu dikendalikan dengan menaikan kesadaran untuk masalah ini. termasuk kenaikan resiko berkenaan dengan mengawini keluarga seperti sepupu dimana ada sejarah perkawinan diantara keluarga, dan dengan melakukan konsultasi genetik yang benar. Depertemen kesehatan rakyat dan konseling genetik harus berusaha mensosialisasikan masalah perkawinan dan masalah punya anak. Kalau ada pasangan yang mengkuatirkan masalah genetik harus tanya dokter untuk mengirim ke klinik genetik. Beberapa ahli berpikir bahwa pada dekade berikutnya kita semua mungkin punya akses data dna pribadi yang pada gilirannya tahu lebih tentang mutasi yang ada dalam diri kita.

Recessive risk need to be managed by improving awareness of it, including the elevated risk associated with marrying relatives such as first cousins where there is a history of marriage within the family, and by ensuring appropriate genetic counselling. Public health and genetic counselling provisions should strive to enable individuals and couples to make informed marital and reproductive decisions, wherever possible. Any couple worried about genetic risk to children should ask their GP for a referral to a genetics clinic. Some scientists think that in the next decade or so we may all have access to our own personal DNA results and will each consequently know much more about the mutations we all carry.

klo batak…itu cuma bisa no. 3 om…hehe

nah klo orng mkasar …itu ama tante sendiri jga dibolehin,tanpa pandang agama apapun…

sebaiknya jangan… bagaimanapun jg masih ada hubungan darah, ga masalah pertaliannya dari siapa… yg jelas kl masih ada hubungan kerabat, kemungkinan adanya penyakit genetik semakin tinggi…

sy nga tau dr alkitab…cuma kakak kandung saya spt itu tapi dia diberkati nga ada masalah…