Menjelang Natal, Pengrusakan dan pembakaran gereja kembali terjadi

Nie mungkin bisa jadi pembelajaran bagi kita kali ya
Tidak perlu menyalahkan siapapun, tapi emang
Gereja2 di Indonesia harus lebih bersatu lagi

###################################

Peristiwa pelemparan batu dan pembakaran gereja terjadi di kawasan Perumahan Harapan Indah, Kota Bekasi, Kamis (17/12/2009) malam. Massa yang terdiri dari ratusan orang mulai dari anak-anak hingga orangtua termasuk ibu-ibu mendatangi Gereja Katolik Santo Albertus yang terletak di Jalan Boulevard untuk merusak serta membakar fasilitas gereja.

Ketua Umum Pembangunan Gereja Santo Albertus, Kristina Maria R, dalam keterangan per telepon kepada Kompas.com, menjelaskan, massa yang menumpangi beberapa mobil dan motor sempat melempari gereja yang tengah dalam tahap akhir pembangunan itu sebelum akhirnya dibubarkan oleh polisi dari Polsek Harapan Indah dan Polres Bekasi. Selain melempari gereja, massa membakar pos satpam, 1 motor satpam, dan kontainer yang dijadikan sebagai kantor kontraktor pembangunan gereja.

Kristina Maria R yang juga menjabat sebagai Staf Ahli Menko Polhukam menguraikan, massa juga membuang sejumlah marmer dan keramik yang akan digunakan untuk pembangunan gereja ke jalan sekitarnya. Massa tampak melengkapi diri dengan minyak tanah untuk melancarkan aksinya dan ini terbukti dari 1 jeriken berisi minyak tanah yang ditemukan di lokasi.

“Satu komputer dari kantor kontraktor diinjak-injak massa dan ditemukan di got depan gereja,” jelas Kristina yang tidak mengira apabila massa yang berpapasan dengannya saat ia akan pulang ke rumahnya tadi malam melakukan aksi perusakan gereja.

“Gereja ini sudah mendapatkan izin pembangunan dan tiang pancang pertamanya sudah sejak 11 Mei 2008,” tambah Kristina. Menurut Kristina, aparat mulai dari Danrem hingga Kapolres Bekasi telah menjamin keamanan bagi kegiatan ibadah ataupun acara penyambutan Natal di gereja ini.

Polisi yang mendapatkan laporan massa berasal wilayah utara Kabupaten Bekasi sempat memasang police line di sekitar gereja pada malam hari sebelum mencabutnya kembali Jumat pagi. Massa dapat dibubarkan aparat menjelang pukul 24.00 tadi malam dan beberapa orang yang dicurigai sebagai otak aksi perusakan gereja juga telah diringkus.

Tragedi 15 Menit di Gereja Santo Albertus

Sebelum menghancurkan Gereja Santo Albertus di dalam Kompleks Harapan Indah, Kota Bekasi, massa yang terdiri dari ratusan orang terlebih dulu berkumpul di sekitar Patung Tiga Mojang yang letaknya sekitar 1,5 km dari Gereja. Massa yang terdiri dari bapak-bapak, ibu-ibu, serta anak-anak berkumpul sekitar 22.30 dan mulai bergerak pukul 22.45.

Ketua Umum Panitia Pembangunan Gereja St Albertus, Kristina Maria Rantetana, menceritakan hal itu kepada Kompas.com, Jumat (18/12/2009). Sebelum aksi perusakan terjadi, Kristina kebetulan melewati massa yang telah berkumpul di patung. Saat itu tidak ada kecurigaannya ketika melihat massa yang berkumpul.

“Tidak ada yang orasi. Mereka semua riang, ketawa-ketawa. Enggak ada curiga sama sekali,” cerita dia, Jumat.

Tidak lama kemudian, lanjut Kristina, massa bergerak dengan kendaraan masing-masing. Tentunya melewati Polsek Medan Satria yang jaraknya hanya 500 meter dari Gereja. “Saya ikutin terus massa. Mereka terus berhenti di sekitar Gereja. Tiba-tiba langsung turun dari kendaraan lalu melempari Gereja dengan batu,” katanya.

“Mereka teriak-teriak, ‘Hancurkan…hancurkan….’ Ibu-ibu bawa anak-anak ikutan melempar. Terus mereka masuk ke dalam Gereja lalu mulai membakar. Saya langsung lapor ke Polsek. Beberapa polisi langsung ke Gereja tapi enggak sanggup hadapi massa,” cerita dia.

Aksi amuk massa berhasil dihentikan sekitar pukul 24.00, setelah ratusan polisi dari Polres Metro Bekasi tiba di lokasi. Ketika Kompas.com mencoba meminta keterangan terkait peristiwa itu dari pihak Polsek Medan Satria, tidak ada satu pun petugas yang bersedia berkomentar. “Ke Polres (Bekasi) aja,” ucap salah satu petugas.

Pos Satpam dan Kantor Konsultan Gereja Albertus Rata Tanah

Massa merusak Gereja Santo Albertus yang masih dalam proses pembangunan di Jalan Boulevard Raya Kav 23 Kompleks Harapan Indah, Bekasi Barat, Jawa Barat. Massa yang terdiri dari bapak-bapak, ibu-ibu, hingga anak-anak itu beringas menghancurkan bangunan di lingkungan Gereja pada Kamis (17/12/2009) sekitar pukul 22.45.

“Saya lihat sekitar 1.000-an orang. Baju putih-putih,” ucap Ketua Umum Panitia Pembangunan Gereja St Albertus, Kristina Maria Rantetana, kepada Kompas.com, Jumat (18/12/2009). Saat kejadian, Kristina kebetulan melintas di depan Gereja dan melihat langsung peristiwa pengrusakan itu.

Pemantauan Kompas.com di lapangan menunjukkan, massa membakar pos satpam serta sepeda motor satpam. Pos yang terletak tepat di pintu masuk Gereja kini telah rata dengan tanah. Massa lalu membakar kantor konsultan pengawas di pojok kanan di depan Gereja hingga seluruh peralatan kerja hangus terbakar.

Selain itu, massa merusak dan membakar kantor kontraktor yang terletak di samping Gereja. Tanpa ampun, mereka menghancurkan genteng, marmer, ubin, mencabut beberapa pohon, dan memecahkan lampu yang telah terpasang di dalam Gereja.

Anda dapat melihat bagaimana awalnya gereja ini akan dibangun:

Semuanya sudah resmi, tetapi ulah provokasi orang yang tak bertanggung jawab yang harus segera ditangkap dan dituntaskan masalah ini, mencoba menghambat

sumber: http://www.infogue.com/viewstory/2009/12/19/biadab__menjelang_natal__pengrusakan_dan_pembakaran_gereja_kembali_terjadi_9420/?url=http://cwsgading.com/2009/12/19/menjelang-natal-pengrusakan-dan-pembakaran-gereja-kembali-terjadi/#more-5507

Penutupan & Perusakkan Gereja Atas Nama Agama

Saya baru saja menerima SMS Rabu 9 Des. 09, dari teman pendeta yang memberitahukan, ada lagi tindakan intimidasi sekelompok orang kepada gereja-gereja yang mengadakan kebaktian di ruko-ruko di daerah Jakarta Barat – masih saja terjadi pembiaran terhadap kelompok-kelompok fanatik yang atas nama “Perber, agama dan berbagai ijin” menakut-nakuti orang yang ingin menyembah kepada Tuhan, sekalipun negara ini menjamin kemerdekaan tiap tiap penduduk untuk menjalankan keyakinan agamanya. Seharusnya Pemerintah berani membubarkan ormas-ormas yang mengatas namakan agama berlaku seperti ‘polisi’ di negeri ini. Mereka mengkritik Amerika sebagai ‘polisi dunia’ tetapi pada saat yang sama mereka melakukan yang sama terhadap minoritas di negeri ini. Pemerintah mesti berani menangkap dan membubarkan kelompok-kelompok yang suka bertindak kekerasan dan mengintimidasi orang lain.

Kelompok-kelompok yang atas nama agama melakukan tindakan-tindakan yang tidak patut, yang menyangkali keberagamaan itu sendiri, dengan menghalangi orang lain yang berbeda agama untuk beribadah telah mengakitbatkan lebih dari 150 gereja (catatan PDS-2007) yang ditutup sejak Perber diperkenalkan. Yang aneh beberapa gerejanya juga adalah gereja resmi yang telah memiliki ijin. Alasan penutupan biasanya berpola sama:

  1. Sekelompok orang mendatangi gedung gereja dan menuntut agar gereja ditutup- walaupun selama ini tidak ada kerusuhan apapun yang dibuat oleh gereja itu atau oleh kehadiran gereja itu

  2. Kelompok itu digerakkan oleh tokoh atau kelompok fanatik dengan simbol agama dan meneriakkan simbol-simbol agama untuk menimbulkan keonaran dan menimbulkan rasa takut dalam diri orang

  3. Polisi datang berusaha untuk menahan, tetapi jika kelompok itu merusak, polisi membiarkan sampai reda

  4. Pendeta dan pengurus gereja dipanggil dan diminta mengerti bahwa ‘masyarakat’ merasa terganggu dengan kehadiran gereja – sekalipun gereja lebih dulu hadir di situ dan sudah puluhan tahun, bahkan usia gereja lebih tua dari usia mereka yang menuntut gereja ditutup

  5. Gereja dipaksa ditutup dan disuruh pindah tetapi tidak diberikan solusi di mana, yang penting pindah.

Anda dapat membayangkan, aksi kelompok masyarakat yang ‘diberikan hak’ untuk melakukan intimidasi atas nama agama dan berusaha menutup gereja – menghalangi orang beribadah, inilah tanda riil dari kekuatan dan tirani mayoritas terhadap minoritas. Dapatkah anda bayangkan jika minoritas yang disebut Kristen kemudian membentuk satgas dan menamakan diri Front Pembela Kristen lalu bertempur di jalan dengan kelompok masyarakat fanatik, apa yang bakal terjadi kepada negeri ini? Atau mungkin lebih baik para pemuda di gereja diberikan ijin untuk mempersenjatai diri sendiri saja untuk menjaga keamanan gerejanya? Rasanya perlu juga diberikan pelajaran bahwa orang Kristen bukan pendatang di negeri ini atau orang Kristen bukan penumpang gelap di negeri ini.

Keadaan ini sudah membuat orang-orang Kristen kesal dan merasa sangat disengaja untuk disingkirkan dan dibatasi. Sudah terlalu banyak pembicaraan yang melelahkan tentang HAM dan Pancasila, jika keadaan begini terus, bisa-bisa para pemuda Kristen yang tadinya biasa-biasa mulai berpikir untuk membela agamanya dengan membentuk satgas-satgas yang bakal pro pada kekerasan. Haruskah negeri ini menuai lagi bencana kekerasan? Semoga polisi cepat bertindak dan masyarakat berani menghukum kelompok kelompok pro kekerasan yang mengatas namakan agama, merusak kerukunan hidup bermasyarakat.

Untuk mengingatkan kita tentang fakta yang tidak bisa dibantah, lihatlah daftar berikut:

Perusakan dan Penutupan Gereja di Indonesia 1996 – 2005

Tahun 2005 ini dihebohkan tentang penutupan gedung-gedung Gereja. Tetapi hal ini bukan sesuatu baru! Sudah lama umat ***** melakukan serangan dan perencanaan menghancurkan rumah-rumah ibadah Umat Kristiani. Ini sungguh konspirasi yang terencana.

(Sebagian Kasus)
30 Maret 1996
Gereja Misi Injili di desa Peniti Kec. Siantan Kab. Pontianak, Kalimantan Barat dirusak dan dibakar.

9 Juni 1996
Sidotopo, Surabaya – Jawa Timur, 10 gedung gereja dihancurkan oleh massa yang berjumlah sekitar 3000 orang.
-Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jl. Sidotopo Indah Wetan II/26.
-Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) “POGOT” Jl. Sidotopo Wetan Indah II/62-64.
-Pos Pelayanan”SILO” GPIB “Cahaya Kasih” Jl. Bulak Raya.
-Gereja Bethel Indonesia (GBI) “Firman Hayat” Jl. Tenggumung Baru Selatan 51.
-Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Jl. Jatisrono Tengah 11.
-Gereja Kemah Injil Indonesia “Kalvari” Jl. Bulak banteng Madya 4.
-Gereja Pentakosta Tabernakel Jl. Wonosari Wetan Baru Gg. Sekolahan 22.
-Persekutuan Doa Gereja Bethel Indonesia (GBI) Jl. Bulak Banteng Wetan IV/2-4.
-Gereja Sidang Jemaat Pantekosta (GSJP) Jl. Tenggumung Karya III/54.
-Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Jl. Sidotopo Wetan Indah.

14 Juni 1996
Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Wates, Kediri – Jawa Timurdiserang dan dirusak pada jam 02.00 dini hari.

25 Juni 1996
Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Pare, Kediri – Jawa Timur dirusak massa, peralatan/perlengkapan gereja dikeluarkan dan dibakar. Kejadian pada jam 12.00 tengah hari.

16, 20 & 21 Juli 1996
Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Pondok Gede, Bekasi – Jawa Barat dirusak oleh massa.

17 September 1996
Gereja St. Leo Agung (Katolik) Bekasi – Jawa Barat,dirusak dengan kerugian materi sekitar 700 juta rupiah.

10 Oktober 1996
24 gedung gereja di Situbondo , Panarukan, Wonorejo, Asembagus, Besuki, Ranurejo – Jawa Timur dirusak dan dibakar oleh massa yang berjumlah kurang lebih 3000 orang. Peristiwa ini membawa korban 5 orang yang mati syahid karena terbakar (Pdt. Ishak Christian & keluarganya)
Situbondo
-Gereja Bethel Indonesia (GBI) Bukit Sion – dibakar.
-Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) – dihancurkan.
-Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) – dibakar
-Gereja Sidang Jemaat Pantekosta (GSJP) – dibakar.
-Gereja Kristen Jawi Wetan – dibakar.
-Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) – dibakar.
-Gereja Protestan di Indonesia bag. Barat (GPIB) – dihancurkan.
-Gereja Katolik Bintang Samudra – dibakar.
Panarukan
-Gereja Katolik – dibakar.
-Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) – dibakar.
Wonorejo
-Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) – dirusak.
-Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) – dibakar.
-Gereja Bethel Tabernakel (GBT) – dibakar.
-Gereja Katolik – dirusak.
Asembagus
-Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) – dibakar
-Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) – dirusak.
-Gereja katolik – dibakar.
Besuki
-Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) – dirusak.
-Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) – dirusak.
-Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) – dirusak.
-Gereja Katolik – dirusak.
Ranurejo
-Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) induk – dibakar.
-Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) cabang – dibakar.
-Gereja KRISTUS Tuhan (GKT) – dibakar.

26 Desember 1996
15 gedung gereja di Tasikmalaya – Jawa Barat dirusak dan dibakar. 4 orang meninggal dalam peristiwa kerusuhan ini.
-Gereja Katolik “Hati Kudus YESUS” berikut pastori, Jl. Sutisna Senjaya 50 – dibakar.
-Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jl. Veteran 49 – dibakar.
-Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Jl. Panyeurutan 10 – dibakar.
-Gereja Kristen Pasundan (GKP) Jl. Selakaso 61 – dibakar.
-Gereja Bethel Indonesia (GBI) Jl. Tentara Pelajar – dibakar.
-Gereja Gerekan Pantekosta (GGP) “Ebenhaezer” – dihancurkan.
-Gereja Kristen Indonesia (GKI) “Sion” Jl. Tentara Pelajar 8 – dihancurkan. -
Gereja Bethel Tabernakel (GBT) Jl. Veteran 72 – dirusak.
-Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Jl. Merdeka 24 – dirusak.
-Gereja YESUS Sejati , Jl. Empang Sari 32 – dirusak.
-Gereja Kristen Immanuel (GKIm) Jl. Mayor Utarya 11 – dirusak.
-Gereja Kerasulan Baru, Jl. Tentara Pelajar 50 – dirusak.
-Gereja Bethel Tabernakel (GBT) Jl. Mekarsari, Cipanas Cipatujah – dihancurkan.
-Gereja Kristen Pasundan (GKP) Jl. Cikaong Ading kalaksanaan Cipatujah – dibakar.
-Kapel Gereja Katolik Jl. Raya Ciawi Ds. Palemanggu – dibakar.

13 Januari 1997
Gereja Pantekosta di Indonesia (GpdI) di desa Arjasa, Situbondo – Jawa Timur ditutup Camat Arjasa (Drs. Mansejar) walau seluruh masyarakat lingkungan sekitar, babinsa dan kapolsek menyetujui adanya gereja tersebut.

30 Januari 1997
5 gedung gereja di Rengasdengklok – Jawa Barat dirusak satu diantaranya dibakar habis.
-Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Jl. Raya Bedeng – dibakar.
-Gereja Kristen Indonesia (GKI) – dihancurkan.
-Gereja Bethel Tabernakel (GBT) induk Jl. Raya Bedeng – dihancurkan
-Gereja Bethel Tabernakel (GBT) cabang – dihancurkan.
-Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Bantar Jaya – dihancurkan.

10 Februari 1997
TK-SLTP-SMU Katolik di Ambon Maluku dibakar dengan harapan gereja Katolik di dalamnyapun terbakar. 6 orang pelaku tertangkap.

11 Februari 1997
Gereja Sidang Persekutuan Injili Indonesia (GSPII) di Sumenep, Madura – Jawa Timur ditutup berdasarkan Surat Perintah Bupati Sumenep.

12 Februari 1997
Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) di Cipaku, Bogor – Jawa Barat diserbu dan dihancurkan massa.

22 Februari 1997
Gereja Kristen Pasundan (GKP) di Cisewu, Garut – Jawa Barat dibakar.

6 Maret 1997
Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) di Rancabuaya, Garut – Jawa Barat dihancur-robohkan.

9 Maret 1997
2 gedung gereja GKJ dan sekolah Katolik di Wonosobo – Jawa Tengahdilempari batu oleh oknum-oknum yang baru pulang pengajian umum di malam hari.

13 Maret 1997
Gereja Kristen indonesia (GKI) Jl.
Ngagel Surabaya – Jawa Timurd dilempari pelajar-pelajar STM.

28-30 Maret 1997
Gereja Bethel Indonesia (GBI) “Petra” Surabaya – Jawa Timur dilempari batu oleh oknum-oknum melalui gerbong Kereta Api. 8 orang pelaku tertangkap.

28 Maret 1997
Gereja Bethel Indonesia (GBI) “Immanuel” pos PI cabang Kedung Gudel Widodaren, Ngawi – Jawa Timurdirusak.

12 April 1997
Gereja Bethel Indonesia (GBI) Jl. Sulung dan Gereja Katolik Jl. Kepanjen Surabaya – Jawa Timur dilempari batu oleh sekelompok orang tak dikenal pada pukul 19.00.

13 April 1997
Gereja Protestan di Indonesia bag. Barat (GPIB) Jl. Bubutan Surabaya – Jawa Timurdisebelah kantor polisi dilempari batu.

15 Mei 1997
Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) desa Bejagung Semanding, Tuban – Jawa Timurdibakar massa.

23 Mei 1997
13 gedung gereja di Banjarmasin – Kalimantan Selatan dirusak satu diantaranya dibakar rata dengan tanah
-Katedral Kudus/Sasana Sehati, Jl. Lambung Mangkurat – dirusak.
-Gereja Santa Maria Kelayan, Jl. Rantauan Timur – dirusak.
-Gereja Hati Kudus YESUS, Jl. Veteran Merpati – dirusak.
-Gereja GKE EBEEN EZER, Jl. S. Parman No. 96 – dirusak.
-Huria Kristen Batak Protestan Resort Banjarmasin, Jl. P. Samudera No. 83 – dibakar.
-Gereja G.K.K.A, Jl. Veteran No. 85 – dirusak.
-Gereja YESUS Sejati (GYS), Jl. AES. Nasution – dirusak.
-Gereja GPDI Pantekosta, Jl. Veteran No. 35 – dirusak.
-Gereja Jemaat GBI Bethani, Jl. Veteran – dirusak.
-Gereja Terang KRISTUS, Jl. Lambung Mangkurat – dirusak.
-GBI Jemaat Siloan, Jl. RK. Ilir – dirusak.
-GPIB Jemaat Banjarmasin, Jl. Gatot Soebroto – dirusak.
-GPPS Jemaat Banjarmasin, Jl. Lab. SMP 6 – dirusak

23 Mei 1997
Pasuruan – Jawa Timur
-Gereja Pantekosta Sion – dirusak.
-Gereja Bethel Indonesia – dirusak.
-Gereja Protestan di Indonesia bag. Barat – dirusak.
-Gereja Bethel Indonesia (GBI) Jl. Halmahera – dirusak.
-Gereja Katolik – dirusak.
-Gereja Kristen Muria di Kudus – Jawa Tengah Indonesia dirusak.

Cikarang, Lemah Abang, Bekasi, Tangerang – Jawa Barat,
Cikarang
-Gereja Kristen Pasundan Pos Cikarang – dirusak & dibakar.
-GPDI Cikarang – dilempari massa. Lemah Abang
-Gereja Pantekosta Yerusalem Lemah Abang – dirusak
Bekasi
-Gereja Kristen Pasundan – dilempari massa.
Tangerang
-GPDI Kisamun – dilempari massa.
-GBI Betlehem – dilempari massa.
-Gereja Katolik Santa Maria – dilempari massa.

23 Mei 1997
Gereja Bethel Injil Sepenuh Rawa Kemiri Kebayoran Lama – Jakarta Selatan diserbu, dirusak dan coba dibakar massa dalam beberapa gelombang.

23 Mei 1997
Gereja Katolik Jl. Jokotole Pamekasan, Madura – Jawa Timur dirusak.

26 Mei 1997
Gereja Kristen Pasundan (GKP) Jl. Brawijaya Kadipaten – Jawa Baratdirusak massa dan Gedung / Balai pertemuan GKP di Cideres juga dilempari massa.

14 Juni 1997
Gereja Bethel Indonesia (GBI) dan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Bangkalan, Madura – Jawa Timurdirusak dan dibakar. Sebelumnya, pada saat kampanye Gereja Katolik dilempari batu.

10 Juli 1997
Gereja Pantekosta Tabernakel “YESUS Penolong” Desa Betet, Kec. Pesantren, Kodya Kediri – Jawa Timur ditutup oleh kakandepag Kodya Kediri.

21 Juli 1997
Bukit Doa “Bukit Zaitun” Cisarua, Bogor – Jawa Baratyang sedang dipakai retreat mahasiswa STT-SETIA diserbu dan dibakar massa.

27 Juli 1997
Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) “Puthuk” Kandangan, Kediri – Jawa Timur dibakar sekitar 300 massa pada pukul 22.30 wib.

15 Agustus 1997
Umat Gereja Baptis Baitlahim Sukamenak Bandung – Jawa Barat dilarang beribadah lagi di tempatnya oleh masyarakat sekitar sehingga pindah ke markas Koramil.

22 Agustus 1997
35Gereja Kristen Oikumene (GKO) di dalam kompleks Barito Pasifik Kalimantan Selatan dibakar.

5 September 1997
Gereja Masehi Injili Bolaang Mongondow Desa Barako, Gorontalo – Sulawesi Utara dirusak massa.

15-16 September 1997
Gereja Katolik “KRISTUS Raja” Jl. Andalas 61 Ujung Pandang -Sulawesi Selatan dirusak, kendaraan, peralatan ibadah dan Alkitab di bakar di luar gedung. GKKA juga dirusak. 6 sekolah Katolik dan beberapa sekolah protestan dirusak. 13 gereja lainnya hanya dilempar selewat saja.

28 September 1997
Gereja Isa Almasih Arcamanik Bandung Jawa Barat diminta untuk menghentikan kegiatannya oleh ketua RT setempat karena alasan stabilitas & keamanan.

15 Oktober 1997
Gereja KRISTUS Tuhan Kepanjen, Malang Selatan – Jawa Timur ditakut-takuti dan ditutup oknum aparat serta melarang untuk tidak mengadakan ibadat dalam bentuk apapun.

17 Oktober 1997
Gereja Pantekosta di Indonesia (GpdI) Mumbulsari, Jember – Jawa Timur dirusak dan dirampok oleh massa sebelum akhirnya ditutup oleh aparat Pemda dan Oknum ABRI.

27 Oktober 1997
Gereja Kristen Baithani Plosorejo, Garum, Blitar – Jawa Timur dihancurkan massa.

3 dan 10 November 1997
Gereja Bethel Indonesia (GBI) Bethany Tanggul, Jember – Jawa Timur ditutup oleh aparat depag.

13 November 1997
Gereja Utusan Pantekosta (GUP) dibongkar paksa dan Gereja Tuhan di Indonesia (GTDI)Sanan Kulon,Blitar – Jawa Timur dibakar massa. 3 Orang polisi menjadi korban bacokan kebringasan massa.

16 November 1997
Gereja Persekutuan Injili Baptis Indonesia (GPIBI) Bantul – Yogyakarta didesak untuk menutup ibadahnya dan dirusak oleh 500 massa didukung oleh aparat (Muspika).

22 November 1997
Pepanthan (Cabang) Gereja Kristen Jawa (GKJ) “Modalan” dan “Babadan Gedongkuning” di Kota Gede – Yogyakarta dibakar massa. Setelah sebelumnya mengintimidasi gereja-gereja di Bantul.

24 November 1997
Gereja Kristen Jawa (GKJ) Kota Gede-Yogyakarta,dilempari.

25 November 1997
Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Karya Tani – Lampung yang sedang dibangun diserbu dan dihancurkan / dibakar massa.

9 Desember 1997
Kanwil Depag. Jabar dengan resmi memerintahkan penghentian pembangunan Gereja Kristen Perjanjian Baru (GKPB) Fajar Pengharapan Bandung dan memohon walikota mencabut kembali IMBnya.

21 Desember 1997
GKII Tambun, Bekasi – Jawa Barat diteror pada saat merayakan Natal. Perayaan Natal terhenti dan gereja dilempari para pemuda . Gembala Sidang meloloskan diri dengan memanjat tembok.

23 Desember 1997
Gereja Kristen Oikumene (GKO) Bumi Serpong Damai, Tangerang – Jawa Barat diserbu dan dihancurkan massa walau berada di tengah komunitas non-muslim.

23 Desember 1997
Gereja Pantekosta di Indonesia (GpdI) Songgon, Banyuwangi – Jawa Timur dibakar massa ketika pendetanya sedang tidak berada di tempat.

25 Desember 1997
Pos Gereja Protestan di Indonesia bag. Barat (GPIB) Bethel Citepus, Subang – Jawa Barat diblokade massa luar daerah dan kendaraan gereja dicoret-coret dengan paku serta melarang diselenggarakannya perayaan Natal.

25 Desember 1997
Gereja Masehi Advent Hari Ke Tujuh (GMAHK) Langensari, Ciamis – Jawa Barat diperintahkan untuk dibongkar paksa oleh Muspika atas desakan MUI setempat.

3 Januari 1998
Warga RSS Sukabumi Indah Bandar Lampung sejak 27 Desember 1997 diintimidasi para pemuda dan sejak 3 Jan’98 mulai melarang ibadah rutin. (Gereja Baptis)

19 Januari 1998
Gereja Kristen Jawi Wetan Kalisat, Jember – Jawa Timur ditutup oleh Camat.

20 Januari 1998
Gereja Pantekosta di Indonesia (GpdI) Puger, Jember – Jawa Timur dilempari batu oleh demonstrasi massa.

26 Januari 1998
Kapel Gereja Katolik Kragan dirusak massa. Gereja Kristen Jawa (GKJ) Kragan, Rembang – Jawa Tengah dirusak dan teras dihujani batu. Toko-toko milik keturunan dan Kristen dijarah dan dirusak total.

28 Januari 1998
Gereja Pantekosta di Indonesia (GpdI) Desa Bulu Banjar, Kab. Tuban – Jawa Timur, dirusak massa. Kursi, s.sytem, kipas angin, mimbar, papan nama rusak berat.

Februari 1998 – Juli 2002
Daftar belum lengkap – sekitar 600 gedung Gereja ditutup atau dihancurkan dalam 4 tahun ini = kebanyakan di Ambon, Maluku Utara, Sulawesi Tengah, Lombok dan Jawa Barat.

4-15 Agustus 2002
Poso, Sulawesi Tengah. Massa membakar enam gereja.

15 September 2002
Massa di Pulau Halmahera mambakar habis 3 gereja.

18 September 2002
Kekerasan komunal menghancurkan lima gereja di Pulau Haruku, Sulawesi Tengah

6 September 2002
Pemerintah daerah Bandung mengeluarkan sebuah surat yang memerintahkan penutupan sebuah Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) yang telah beroperasi selama 11 tahun.

22 Maret 2004
GPII Sidang Penuaian Ds. Sekarawangi, Kab. Bandung ditutup berdasarkan surat 01/MUI-DS/2004 tentang penyampaian hasil musyawarah yang intinya bahwa kegiatan ibadah yang dilaksanakan tidak ada ijin resmi sehingga harus ditutup untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

3 Oktober 2004
Bangunan sekolah sementara Sang Timur yang digunakan sebagai tempat ibadah umat Katolik Santa Bernadet Ciledug, Tangerang, ditutup oleh FPI dan masyarakat karang tengah. Ibadah tidak lagi berlangsung di tempat itu dan pagar sekolah Sang Timur masih dalam keadaan tertutup sehingga kendaraan pengantar sekolah hanya dapat sampai di jalan yang berjarak sekitar 350 m dari area sekolah.

21 Februari 2004
Gereja Gerakan Pantekosta (GPP) yang berlokasi di Desa Tawali, Kecamatan Cikalong Wetan Kab. Bandung secara normatif ditutup oleh Muspika Kecamatan Cikalong Wetan, Kab. Bandung

April 2005
Sebuah gereja di Ciseu Kabupaten Garut ditutup.

16 Mei 2005
Peristiwa penutupan Gereja Kristen Kemah Daud (GKKD) serta penangkapan dan persidangan 3 (tiga) orang pembina Minggu Ceria, yaitu dr. Rebecca, Ibu Ratna Mala Bangun, Ibu Ety Pangesti yang dituduh melakukan pemurtadan dan Kristenisasi oleh MUI di Kec. Haurgeulis, Kab. Indramayu. Ketiga Ibu tersebut ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Indramayu dan dihukum tiga tahun penjara pada tanggal 1 September
2005.

16 Juli 2005
Peristiwa penutupan Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) dan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Perum Gading Tutukan Soreang, Kab Bandung yang dilakukan oleh Muspika setempat.

27 Juli 2005
Gereja Kristen Pasundan (GKP) di Katapang, Kabupaten Bandung ditutup.

31 Juli 2005
Peristiwa pembongkaran Tempat Pembinaan Iman Gereja Isa Almasih (GIA) di Karangroto, Kecamatan Genuk – Semarang oleh Camat setempat.

7 Agustus 2005
Gereja Kristen Kemah Daud (GKKD) di Kampung Warung Mekar, Ds. Bungursari RT 6 / RW 3, Kec. Bungursari, Kab. Purwakarta oleh Front Pembela Islam (FPI) Wilayah Purwakarta

14 Agustus 2005
Pukul 09.45 Wib gereja-gereja yang berada di Komplek Permata Cimahi, Kel. Tani Mulya, Kec. Ngamprah, Kab. Bandung diserang dan ditutup, yaitu :
-Gereja Anglikan
-Gereja Sidang Pantekosta
-Gereja Pantekosta di Indonesia
-GSPdI
-GKI Anugrah
-Gereja Bethel Injil Sepenuh

22 Agustus 2005
Gereja Kristen Pasundan Dayeuhkolot, Bandung, ditutup paksa
(Sisilia Pujiastuti/berbagai sumber & Indonesiawatch)

sumber : http://www.infogue.com/viewstory/2009/12/11/penutupan_perusakkan_gereja_atas_nama_agama/?url=http://cwsgading.com/2009/12/11/penutupan-gereja-atas-nama-agama/#more-5343

Dasar agama sial!pasti kumpulan sial itu melaung-laungkan seruan laknat itu sambil ngerusakin gereja2! Dasar ga tau malu!semoga Tuhan membalasnya.

[quote="Agem post:4, topic:169154"] Dasar agama sial!pasti kumpulan sial itu melaung-laungkan seruan laknat itu sambil ngerusakin gereja2! Dasar ga tau malu!semoga Tuhan membalasnya. [/quote] sebenarnya lebih banyak lagi bro tp sayangnya ga masuk media Indonesia...

oya gw tau kemarin2 tapi baru bisa posting berita dibawah ni sekarang

Misa Natal di Gereja HKBP Diprotes Warga

Sabtu, 26 Desember 2009

Bekasi, Kompas - Perayaan Misa Natal 2009, yang dilakukan jemaat di Gereja Huria Kristen Batak Protestan Filadelfia, Desa Jejalen Jaya, Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, Jumat (25/12), diwarnai unjuk rasa warga sekitar gereja. Warga memprotes penggunaan tempat peribadatan tersebut karena pembangunan gereja itu belum memperoleh rekomendasi dari pemerintah.

Gereja HKBP Filadelfia tersebut belum dibangun permanen, karena itu pengurus dan jemaat gereja menggunakan tenda dan aula semipermanen untuk merayakan Misa Natal Pertama di gereja itu kemarin. Karena ada aksi protes warga itu, polisi dan tentara harus menjaga perayaan Misa Natal di Gereja HKBP Filadelfia yang diikuti sekitar 200 anggota jemaat.

Perayaan Misa Natal di gereja itu akhirnya dapat dilanjutkan sampai akhir. Polisi juga mengawal jemaat yang meninggalkan gereja. Sejumlah polisi dan tentara lainnya berjaga di halaman gereja meskipun gereja sudah sepi dan kelompok warga yang berunjuk rasa juga sudah membubarkan diri.

Pemimpin Umat HKBP Filadelfia Palti Panjaitan mengatakan, warga berkumpul di Jalan Jejulen Raya, sekitar 200 meter dari gereja, sejak pukul 08.00. Kebaktian Natal di gereja tersebut dimulai pukul 09.00 sampai 11.00. ”Warga menghalangi kendaraan dan langkah jemaat yang hendak menuju gereja. Namun, setelah bernegosiasi, jemaat kami akhirnya diperbolehkan lewat dan beribadat tepat waktu,” kata Palti.

Kepala Kepolisian Resor Metropolitan Bekasi Kabupaten Komisaris Besar Herri Wibowo menyatakan, pembangunan gereja belum memperoleh persetujuan warga dan belum mendapatkan rekomendasi dari pemerintah daerah dan Kantor Departemen Agama Kabupaten Bekasi.

”Tidak ada aksi anarki. Massa hanya berorasi di jalan menolak pembangunan gereja dan penggunaan tempat peribadatan karena dinilai tidak memiliki izin,” kata Herri kemarin.

Lahan yang akan dibangun Gereja HKBP Filadelfia berlokasi di RW 09 Kampung Jejalen, Desa Jejalen Jaya, Kecamatan Tambun Utara. Ketua RW 09 Bongkon menerangkan, pihak gereja sudah mengurus perizinan sejak dua tahun silam, tetapi hingga dipakai merayakan Misa Natal 2009 pihak gereja belum memperoleh izin itu.

”Sebagian warga sudah menandatangani surat persetujuan pembangunan gereja, tetapi masih ada warga yang belum menyetujui,” kata Bongkon. ”Pihak gereja beralasan mereka sudah mengurus perizinan, dan hanya menggunakan tempat untuk sementara waktu saja,” ujar Bongkon menambahkan.

Muji, Sekretaris RW 10 Perumahan Bekasi Elok 1, Desa Jejalen Jaya, menambahkan, warga menolak penggunaan gereja tersebut karena pembangunan gereja itu tidak memperoleh izin pemerintah.

Kamis, 24/12/2009

Pamekasan - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pamekasan mengkhawatirkan rencana perayaan Natal yang akan memakai bahasa Arab. Acara yang akan ditayangkan salah satu stasiun TV swasta ini dinilai bisa mendatangkan salah paham.

“Saya khawatir jika bahasa Arab dipakai sebagai bahasa pengantar Natalan akan terjadi ekses yang tidak diinginkan bersama,” jelas Sekretaris MUI Pamekasan, Alwi Beq di Pamekasan, Kamis (24/12/2009).

Menurut Alwi, bahasa Arab memang bukan monopoli umat Islam. Umat Nasrani di Libanon, Suriah, Iran dan Irak tidak dipermasalahkan berbahasa Arab dalam khotbah misa Natal.

Namun, di Indonesia, hal ini menjadi berbeda. Umat muslim Indonesia masih menghormati bahasa Arab sebagai milik umat Islam. Meski demikian, khotbah Jumat pun dilakukan dengan bahasa Indonesia kecuali pada pembukaan dan doa.

“Jadi, tidaklah jelek jika misa Natal juga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar khotbah. Sebagai bentuk penghormatan kepada bahasa nasional,” saran Alwi.

Itu sebabnya, Alwi bertanya-tanya apakah ada maksud khusus dari gereja yang akan menggunakan bahasa Arab dalam acara Natal. Apalagi acara ini akan disiarkan televisi nasional.

“Sebaiknya Menteri Agama memberikan masukan terkait acara Natal berbahasa Arab tersebut. Ini semua untuk terciptanya kerukunan kehidupan beragama di negeri kita ini,” pungkas Alwi.

Sumber

Q memang ga full nongkrongin MetroTV waktu acara natalnya, tapi kayaknya ga ada tu yg nyanyi pake bahasa Arab. Tapi salut ma MetroTV yg dari tahun ke tahun konsisten, apalagi q sempat liat bang Frangky S nyanyiin Kasih Yang Sempura, mantep ooiy

Ga kaya tvSatu nya itu2 saingan metro yg berat sebelah ke agama tertentu dalam pemberitaan. Gw liat2 acara jalan2 nya pun ujung2nya pasti ngebahas agama ttt.

Ya itulah klo media sudah memihak, tergantung yg punya saham di tipi tu hehe :happy0062:

Kata “Natal” Ditolak Polantas Inggris

Polisi lalu lintas Inggris menghilangkan kata “Natal” dari poster layanan masyarakatnya agar tak menyinggung orang-orang yang tidak merayakan Natal.

Tadinya kata itu akan muncul di slogan poster polisi yang bertujuan untuk menyosialisasikan penambahan jumlah polisi yang bertugas pada masa liburan. Slogan itu awalnya berbunyi “Christmas presence” (hadir waktu Natal), yang merupakan plesetan dari Christmas present (hadiah Natal).

Namun, bagian pemasaran polisi Inggris memutuskan, kata “Natal” bisa menyinggung orang dari keyakinan yang berbeda yang mungkin tak suka masa liburan mereka dikonotasikan dengan Natal. Poster itu tetap diluncurkan, tetapi kata “Natal” diganti dengan “Liburan”. Maka, slogannya kini berbunyi “Holiday presence” (hadir saat liburan).

Langkah itu dicap “gila” oleh para pemimpin Kristen. Polantas kini dikritik karena terlalu berpikir secara politis dan slogannya malah tak mengena. Nick Baines, Uskup Gereja Croydon, Inggris, mengatakan, “Itu gila. Mengganti kata ‘Natal’ dengan ‘Liburan’ membuat frasa itu tak mengena, dan para pembuat iklan malah kehilangan alurnya.”

Mantan anggota parlemen dari Partai Konservatif, Ann Widdecombe, menyatakan, “Ini mengejutkan. Orang yang membuat keputusan ini pasti tinggal di planet lain yang tak punya Hari Natal.”

Ratusan poster itu telah dipampang selama beberapa minggu di seluruh Inggris, terutama di stasiun kereta dan kereta bawah tanah. Dana ribuan poundsterling dihabiskan untuk poster-poster tersebut.

Juru bicara Polantas mengatakan, poster itu berfungsi ganda, yaitu meningkatkan kesadaran masyarakat akan tambahan jumlah petugas dan juga sebagai peringatan bahwa menyerang staf petugas lalu lintas merupakan pelanggaran berat. Juru bicara tersebut menyatakan, kasus penyerangan terhadap petugas polantas biasanya meningkat pada masa Natal dan Tahun Baru.

“Langkah itu untuk membuat pesan kami menjadi non-denominasi sehingga bisa menyentuh semua lapisan masyarakat, dan orang yang tak merayakan Natal tak akan merasa ketinggalan,” kata juru bicara itu, sebagaimana dikutip Dailymail, Senin. “Saya bisa melihat bahwa hal ini bisa menimbulkan perdebatan, tapi ini cuma masalah perbedaan pendapat dan saya tak akan berkomentar tentang ini,” tambahnya. Namun, menurut juru bicara itu, poster tersebut makin baik publisitasnya karena makin dibicarakan.

Sebenarnya kasus poster ini hanya satu dari sekian banyak contoh penghilangan referensi pada Natal demi menghindari konflik sosial. Di Inggris, kata “Natal” kadang-kadang digantikan dengan kata “winterval”, untuk acara yang memang untuk merayakan Natal tapi kadang terbuka pula untuk umat agama lain. Kata “winterval” sempat diprotes bulan lalu di kota Tayside, Dundee, dan juga pada tahun 1997 ketika Dewan Kota Birmingham mengadakan acara Natal.

Bahkan, anggota Partai Konservatif pun sempat dikritik karena sempat memproduksi kartu Natal yang tak memakai kata “Natal”, padahal salah satu pemimpinnya, David Cameron, sebenarnya tak setuju dengan prinsip kartu Natal yang terlalu dipolitisasi itu. Setelah protes karena cuma memakai kata “season’s greetings” (lebih kurang artinya “Selamat Musim Liburan”), anggota partai itu akhirnya mengeluarkan kartu cetakan kedua yang benar-benar memakai “Selamat Natal”.

ah coba ya [b]kelompok mayoritas[/b] Indonesia mau toleransi seperti orang2 di Inggris sono

ahh seandainya wkwkw :cheesy:

Kita Harus Bersatu untuk terus MenDOAkannya…
Agar Tuhan Turun Tangan dan memberikan ketabahan bagi jemaat" Tuhan yg gerejanya dirusak…

Ketahuilah Tuhan Tidak akan pernah meninggalkan Umatnya… :ashamed0004: :ashamed0004:.