Menuai Pada Waktunya ! By = Pdt.Handoyo Santoso,D.Min

Dalam bisnis, bukan hal yang aneh jika orang berusaha meraih keuntungan maksimal dengan modal minimal. Dalam YESUS, anak TUHAN diajarkan “menanam modal” perbuatan baik tanpa mengharapkan balasan dari manusia. Rugikah kita menjalankannya?

GALATIA 6 : 9 - 10
9 Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. 10 Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

Paulus menyampaikan sebuah prinsip Firman TUHAN bagi jemaat di Galatia, yakni sebuah perintah untuk tidak jemu-jemu berbuat baik. Tetapi kita perlu ingat bahwa perbuatan baik yang dilakukan secara tidak jemu-jemu ini bukanlah untuk “membeli” keselamatan, sebab keselamatan itu merupakan pemberian TUHAN secara cuma-cuma. Perbuatan baik itu merupakan ucapan syukur kepada TUHAN karena kita semua telah menerima keselamatan dari TUHAN.

Perintah untuk tidak jemu-jemu berbuat baik sangat ditekankan Paulus, sebab pada kenyataannya banyak anak TUHAN yang mulai jemu melakukannya. Biasanya akan lebih mudah menerima pemberian orang lain dibandingkan dengan memberi. Tetapi sebaliknya, seseorang akan dapat dengan mudah merasa bosan ketika ia harus terus memberi. Apalagi ketika perbuatan baik tersebut mendapat respon yang kurang baik, misalnya tidak mendapat ucapan terima kasih atau pujian, ia akan kecewa, dan akhirnya menyerah dalam melanjutkan berbuat baik. Itu sebabnya sangat penting untuk memiliki hati yang tulus ketika berbuat baik, dan jangan mengharapkan balasan dari manusia. Sebab yang membalas perbuatan baik yang kita tabur ialah ALLAH sendiri. Demikian pula TUHAN yang menentukan waktu untuk menuai.

Melakukan perbuatan baik itu seumur hidup kita. Jangan sampai perbuatan baik yang kita perbuat hanya sampai separuh perjalanan hidup kita saja. Dan orang yang menyerah di tengah jalan atau menjadi lemah tidak akan menuai hasilnya. Perbuatan baik itu harus dilakukan terhadap semua orang. Tetapi berdasarkan ayat di atas, ada prioritas di dalam berbuat baik, yaitu kepada saudara seiman, dan lebih khusus lagi adalah kepada keluarga kita masing-masing.

ESTER 2 : 21 - 23
21 Pada waktu itu, ketika Mordekhai duduk di pintu gerbang istana raja, sakit hatilah Bigtan dan Teresh, dua orang sida-sida raja yang termasuk golongan penjaga pintu, lalu berikhtiarlah mereka untuk membunuh raja Ahasyweros. 22 Tetapi perkara itu dapat diketahui oleh Mordekhai, lalu diberitahukannyala kepada Ester, sang ratu, dan Ester mempersembahkannya kepada raja atas nama Mordekhai. 23 Perkara itu diperiksa dan ternyata benar, maka kedua orang itu disulakan pada tiang. Dan peristiwa itu dituliskan di dalam kitab sejarah, di hadapan raja.

Kita akan belajar dari perbuatan baik Mordekhai. Ketika Bigtan dan Teresh berikhtiar membunuh raja, rencana mereka terdengar oleh Mordekhai dan ia pun menyampaikan rencana tersebut kepada Ester yang kemudian meneruskannya kepada raja atas nama Mordekhai. Setelah perkara itu diselidiki dan ternyata benar, Bigtan dan Teresh disulakan (digantung di tiang gantungan). Nyawa raja telah diselamatkan oleh karena informasi yang diberikan Mordekhai. Selain berbuat baik kepada raja dengan menyelamatkan nyawa raja, pertama-tama Mordekhai berbuat baik kepada Ester (mewakili saudara seiman) terlebih dahulu. Sebab informasi yang diberikan Mordekhai itu membuat Ester tidak menjadi janda. Yang kedua, Mordekhai berbuat baik kepada raja (mewakili orang yang tidak seiman).

Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah Mordekhai mendapatkan balasan, baik dari raja maupun dari Ester? Mordekhai tidak mendapatkan imbalan apa-apa baik dari raja maupun dari Ester. Peristiwa tersebut hanya dicatat dalam kitab sejarah kerajaan.

ESTER 3 : 1 - 2
1 Sesudah peristiwa-peristiwa ini maka Haman bin Hamedata, orang Agag, dikaruniailah kebesaran oleh raja Ahasyweros, dan pangkatnya dinaikkan serta kedudukannya ditetapkan di atas semua pembesar yang ada di hadapan baginda. 2 Dan semua pegawai raja yang di pintu gerbang istana raja berlutut dan sujud kepada Haman, sebab demikianlah diperintahkan raja tentang dia, tetapi Mordekhai tidak berlutut dan tidak sujud.

Lebih ironisnya lagi, setelah Bigtan dan Teresh digantung, justru Haman yang mendapat promosi jabatan. Sedangkan Mordekhai tetap saja tidak mendapatkan imbalan apa-apa dari raja. Ternyata tidak hanya sampai di sini. Mordekhai yang telah berjasa kepada raja justru harus sujud menyembah kepada Haman. Jika dipikir-pikir dan melihat kenyataan seperti ini, pasti kita akan merasa lelah berbuat baik. Itu sebabnya Paulus mengingatkan agar kita jangan jemu dalam berbuat baik. Walaupun saat ini kita belum melihat tuaian dari perbuatan baik yang kita lakukan, jika TUHAN yang mencatat perbuatan baik tersebut, tepat pada waktu yang ditetapkan TUHAN kita akan menuai hasilnya.

KEJADIAN 40 : 21 - 23
21 Kepala juru minuman itu dikembalikannya ke dalam jabatannya, sehingga ia menyampaikan pula piala ke tangan Firaun; 22 tetapi kepala juru roti itu digantungnya, seperti yang ditakbirkan Yusuf kepada mereka. 23 Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya.

Contoh lain dapat kita pelajari dari perbuatan baik Yusuf. Dia berbuat baik kepada semua orang, termasuk kepada kepala juru minuman dan kepala juru roti. Hanya saja, kesalahan yang dilakukan oleh Yusuf adalah setelah ia menyampaikan arti mimpi kedua orang itu, ia berpesan kepada kepala juru minuman agar mengingatnya dan menyelamatkannya dari penjara tersebut. Namun, setelah kepala juru minuman itu dibebaskan dari penjara dan kedudukannya dikembalikan kepadanya, ia justru melupakan Yusuf. Jadi perbuatan baik yang Yusuf lakukan tidak dibalas sesuai dengan apa yang diharapkan. Seandainya perbuatan baik Yusuf dibalas oleh kepala juru minuman tersebut, imbalan yang diterima oleh Yusuf paling-paling hanya bebas dari penjara. Apabila kepala juru minuman itu mengajak Yusuf untuk ikut bekerja di istana pun, mungkin Yusuf hanya menjadi pesuruh kepala juru minuman tersebut. Mengapa demikian? Karena manusia tidak dapat melakukan sesuatu melebihi kemampuannya; manusia terbatas.

Saat itu, perbuatan baik yang dilakukan oleh Yusuf terlihat sia-sia atau tidak menguntungkan Yusuf sama sekali. Tetapi kita harus ketahui bahwa perbuatan baik yang kita lakukan tidak akan pernah sia-sia.

KEJADIAN 41 : 1, 41 - 42
1 Setelah lewat dua tahun lamanya, bermimpilah Firaun, bahwa ia berdiri di tepi sungai Nil. 41 Selanjutnya Firaun berkata kepada Yusuf: “Dengan ini aku melantik engkau menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir.” 42 Sesudah itu Firaun menanggalkan cincin meterainya dari jarinya dan mengenakannya pada jari Yusuf; dipakaikannyalah kepada Yusuf pakaian dari pada kain halus dan digantungkannya kalung emas pada lehernya.

Ketika mengharapkan balasan dari manusia, yang terjadi justru kekecewaan. Namun, pada saat kita bergantung kepada TUHAN, hasil yang kita tuai melebihi apa yang dapat dilakukan oleh manusia. Terbukti, tepat pada waktunya TUHAN, Yusuf tidak hanya keluar dan bebas dari penjara, tetapi ia juga menjadi pejabat tinggi, kedudukannya jauh di atas kepala juru minuman yang tadinya diharapkan Yusuf dapat menolongnya. Satu hal lagi yang harus selalu kita ingat: TUHAN dapat menggunakan berbagai macam cara untuk membalas segala perbuatan baik yang telah kita perbuat tepat pada waktunya.

ESTER 6 : 1 - 3
1 Pada malam itu juga raja tidak dapat tidur. Maka bertitahlah baginda membawa kitab pencatatan sejarah, lalu dibacakan di hadapan raja. 2 Dan di situ didapati suatu catatan tentang Mordekhai, yang pernah memberitahukan bahwa Bigtan dan Teresh, dua orang sida-sida raja yang termasuk golongan penjaga pintu, telah berikhtiar membunuh raja Ahasyweros. 3 Maka bertanyalah raja: “Kehormatan dan kebesaran apakah yang dianugerahkan kepada Mordekhai oleh sebab perkara itu?” Jawab para biduanda raja yang bertugas pada baginda: “Kepadanya tidak dianugerahkan suatu apa pun.”

Kita kembali lagi pada kisah Mordekhai. Pada suatu malam raja tidak dapat tidur, dan malam itu raja mengisi waktunya dengan membaca kitab catatan sejarah. Hal itu kelihatannya tidak masuk akal. Secara logika, kegiatan yang cocok untuk membuat raja rileks misalnya menitahkan para penari untuk menghiburnya dengan tarian mereka. Tetapi mengapa justru ia menitahkan untuk mengambil kitab pencatatan sejarah untuk dibacakan di hadapannya? Karena sudah waktunya bagi TUHAN untuk membalas kebaikan Mordekhai terhadap raja.

Manusia cenderung untuk melupakan perbuatan baik yang telah dilakukan orang lain terhadap dirinya. Buktinya adalah raja Ahasyweros lupa kalau Mordekhai telah menyelamatkan nyawanya. Tetapi karena Mordekhai melakukan perbuatan baik itu semata-mata sebagai kewajibannya mentaati Firman TUHAN, IA tidak akan pernah melupakan segala kebaikannya. TUHAN bukan saja membuat raja Ahasyweros tidak dapat tidur dan menitahkan pegawainya untuk membacakan kitab catatan sejarah. Kerja TUHAN yang lebih luar biasa adalah bagian yang dibacakan dari kitab catatan sejarah itu adalah perkara mengenai kebaikan yang dilakukan Mordekhai terhadap raja. Padahal, kitab catatan sejarah tersebut banyak mencatat perkara-perkara lain.

ESTER 6 : 4 - 5
4 Maka bertanyalah raja: “Siapakah itu yang ada di pelataran?” Pada waktu itu Haman baru datang di pelataran luar istana raja untuk memberitahukan kepada baginda, bahwa ia hendak menyulakan Mordekhai pada tiang yang sudah didirikannya untuk dia. 5 Lalu jawab para biduanda raja kepada baginda: “Itulah Haman, ia berdiri di pelataran.” Maka titah raja: “Suruhlah dia masuk.”

Peristiwa kudeta yang akan dilakukan oleh Bigtan dan Teresh terjadi dalam kitab Ester pasal 2, dan dalam Ester pasal 6 barulah Mordekhai menuai hasil dari perbuatan baik yang dilakukannya terhadap raja. Ini menunjukkan waktu penantian yang cukup panjang. Apabila kita menantikan balasan dari TUHAN berdasarkan waktu yang kita kehendaki, sudah pasti kekecewaan belaka yang akan dituai. Namun dengan sabar menunggu waktu TUHAN, kita pasti akan menerima segala sesuatu yang terbaik dari TUHAN.

Rancangan TUHAN sangatlah sempurna. Raja mulai disadarkan melalui pembacaan kitab catatan sejarah bahwa dia masih memiliki hutang budi karena nyawanya telah diselamatkan oleh Mordekhai. Pada waktu yang bersamaan, datanglah Haman yang telah memiliki rencana untuk menyulakan (menggantung) Mordekhai yang tidak mau sujud menyembah Haman. Pada waktu itu Haman hendak memberitahukan rencana jahatnya kepada raja. Tetapi sebelum Haman sempat menyampaikan rencananya, TUHAN sudah melakukan suatu tindakan terlebih dahulu: menyadarkan raja untuk membalas kebaikan Mordekhai.

ESTER 6 : 6, 10 - 11
6 Setelah Haman masuk, bertanyalah raja kepadanya: “Apakah yang harus dilakukan kepada orang yang raja berkenan menghormatinya?” Kata Haman dalam hatinya: “Kepada siapa lagi raja berkenan menganugerahkan kehormatan lebih dari kepadaku?” 10 Maka titah raja kepada Haman: “Segera ambillah pakaian dan kuda itu, seperti yang kaukatakan itu, dan lakukanlah demikian kepada Mordekhai, orang Yahudi, yang duduk di pintu gerbang istana. Sepatah katapun janganlah kaulalaikan dari pada segala yang kaukatakan itu.” 11 Lalu Haman mengambil pakaian dan kuda itu, dan dikenakannya pakaian itu kepada Mordekhai, kemudian diaraknya Mordekhai melalui lapangan kota itu, sedang ia menyerukan di depannya: “Beginilah dilakukan kepada orang yang raja berkenan menghormatinya.”

Ketika raja bertanya kepada Haman perihal apa yang harus dilakukan kepada orang yang raja berkenan, Haman menjadi besar kepala dengan berpikir, kepada siapa lagi raja berkenan memberi penghormatan selain kepada dirinya? Itu sebabnya Haman meminta segala sesuatu yang tidak masuk akal, yakni segala sesuatu yang digunakan oleh raja (jubah, kereta kuda, dsb.) agar dikenakan kepada orang yang akan dianugerahi kehormatan oleh raja, dan orang itu diarak berkeliling kota. Haman tak menduga bahwa Mordekhai yang menerima kehormatan itu. Karena sikap gila hormat Haman, Mordekhai justru mendapatkan penghormatan seperti apa yang dikatakan oleh Haman. Keadaan menjadi berbalik, kalau dulu semua orang sujud kepada Haman, kini semua orang (termasuk Haman) sujud dan menyembah kepada Mordekhai. Inilah balasan TUHAN atas perbuatan baik Mordekhai.

Apabila balasan perbuatan baik Mordekhai diterima saat raja menerima informasi tentang pengkhianatan Bigtan dan Teresh, tak ada episode raja ingin menganugerahkan kehormatan untuk Mordekhai yang bertepatan waktunya dengan rencana Haman membunuh Mordekhai. Dan tentu Haman akan leluasa menyampaikan rencananya kepada raja untuk menggantung Haman. Kemungkinan, riwayat Mordekhai tamat sampai di sini. Tetapi karena Mordekhai melakukan kebaikan dan kebaikannya itu tidak hanya dicatat oleh manusia melainkan juga oleh TUHAN, sekalipun Mordekhai harus menantikan balasan dalam waktu yang cukup panjang, pada waktu yang tepat ia menuai perbuatan baik yang telah dilakukannya itu.

PENGKHOTBAH 3 : 11
11 IA membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan IA memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan ALLAH dari awal sampai akhir.

Segala sesuatu, jika waktunya tepat, akan menjadi indah. Mordekhai terluput dari tiang gantungan. Sebaliknya, Haman yang akhirnya disulakan (digantung) di tiang gantungan yang didirikannya itu. Ini semua menunjukkan kebesaran rencana ALLAH yang tidak pernah dibayangkan Mordekhai.

Saya belajar setia untuk berbuat baik, yakni melayani TUHAN di bidang musik selama bertahun-tahun. Bahkan waktu itu saya berpikir: “Sampai mati aku akan tetap melayani musik.” Saat itu tidak ada bayangan apa pun tentang masa depan saya, namun saya terus melakukan pelayanan ini. Dan tepat pada waktunya, TUHAN mengangkat saya menjadi hamba-NYA. Dan waktu yang tepat inilah menjadikan segala sesuatu menjadi indah.

Ada kesaksian dari seorang anak TUHAN yang mengalami persoalan perekonomian yang disebabkan oleh kesalahan orang lain. Akibatnya, ia harus menjual rumahnya satu-satunya. Ia hanya mengharapkan rumahnya itu dapat laku terjual sebesar tiga ratus juta rupiah. Dengan hasil penjualan itu, ia bermaksud membayar hutang yang harus dibayarnya, dan sisanya dapat digunakan untuk biaya-biaya hidup selanjutnya. Dari sekian banyak penawar, ternyata rumah tersebut maksimal hanya dihargai sebesar dua ratus lima puluh juta rupiah. Ia tetap mempertahankan harga yang diajukannya, sebab jika tidak tiga ratus juta rupiah, hutangnya tidak dapat terbayar lunas.

Saya mendoakan dia, dan dalam doa TUHAN mengatakan kepada saya bahwa minggu depan rumahnya akan terjual seharga tiga ratus juta rupiah. Bukan itu saja, TUHAN mengatakan bahwa dia bahwa ia akan menerima berkat yang lebih besar. Singkat cerita, apa yang TUHAN katakan melalui saya benar-benar digenapi: rumahnya laku terjual seharga tiga ratus juta rupiah. Anak TUHAN ini benar-benar bersyukur kepada TUHAN. Dan dalam waktu yang bersamaan, TUHAN melakukan suatu perkara yang besar, bahkan mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh anak TUHAN ini. Dia mendapatkan hadiah undian sebesar satu milyar rupiah. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan TUHAN melalui saya, bahwa TUHAN akan memberikan berkat yang lebih besar lagi kepadanya.

Firman TUHAN ini mengingatkan bahwa orang yang ingin menuai hasil yang berlimpah-limpah tidak boleh jemu menabur perbuatan baik kepada siapa pun, dan jangan mengharapkan balasan dari manusia. Biarlah TUHAN yang mencatat segala perbuatan baik kita dan membalasnya dengan berkat yang sungguh tak terduga besarnya. Amin.

Sekali lagi , dibuat oleh = Pdt.Handoyo Santoso,D.Min Ketua sinode Gereja Kemah Tabernakel Jakarta Pluit Village Lt.4

Semoga bisa bermanfaat buat kalian semua yaa ! GOD BLESS U :angel:

thank’s ya udah posting kesaksian aku… gak sangka ada yang posting disini… maha dahsyat Tuhan kita, YESUS KRISTUS… itu aku yang menang hehehe…

Rasul Paulus mengatakan : kasih menutupi banyak sekali dosa