Menurut jack123 "Eli, Eli, lama sabakhtani?" adalah kiasan

Menurut jack, seruan Kristus “Eli, Eli, lama sabakhtani” adalah KIASAN.

Mungkin ada member kristen/protestan lainnya yang berpandangan sama?

Jika ada yang bersedia menjelaskan, termasuk teologi aliran apakah ini?

Silakan…

Itu karena konsep trinitas yang dipahami mas Jacko keliru.

Aliran Sesat.

ini karena prof jack itu punya imajinasi yang jenius… sehingga theologinya pun eksentrik… :smiley:

Lagi-lagi ajaran sesat dan bobrok.
Keterlaluan!
Jangan2 si Jack juga menolak trinitas.
Mana ketumnya si Jack? Udah kabur ya???

barangkali mas…

sebenernya mas jack bermaksud MENGKOREKSI KEKELIRUAN YESUS dalam berkata-kata, dan hendak MENYADARKAN YESUS untuk KEMBALI KE JALANYANG BENAR…

tapi Yesus keburu ngomong & mas jack belum sempat lahir…
jadi udah terlanjur deh…

nah…
dalam prinisip “KETELADANAN NGELES” versi jack…
maka perlu dinyatakan bahwa itu adalah KIASAN…

ehehe…

Selama di dunia Tuhan Yesus adalah manusia 100% dan Roh Allah menyertainya, maka disebutNya Imanuel (Allah menyertai kita).
Yesus adalah sebagai yang sulung Allah dapat menyertai manusia selama di dunia.

Sebagai manusia tanpa dosa, Yesus disalibkan dan tetap turun ke penjara kerajaan maut, dimana Roh Allah yang bekerja di dunia atau Roh Kudus tidak menyertaiNya.
Tapi iblis tak dapat mendakwa kesempurnaan manusia Yesus dan di penjara kerajaan maut yang termasuk alam roh, Roh Yesus sendiri adalah Allah, kerajaan maut ditundukkan, para tawanan dibebaskan.

Lalu bagaimana penjelasanmu Dia sendiri Allah kok ditinggalkan Allah? Jangan sesat ah.

jadi yesus itu 100% manusia saja saat didunia… nah kalau sekarang Yesus apa mas? udah jadi Tuhan?

Flp 2:6 yang walaupun dalam rupa Allah 3 , c tidak menganggap kesetaraan dengan Allah d itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 2:7 melainkan telah mengosongkan e diri-Nya sendiri 4 , dan mengambil rupa seorang hamba, f dan menjadi sama dengan manusia 5 . g 2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, h bahkan sampai mati di kayu salib. i 2:9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia j dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, k 2:10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut l segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,

mengosongkan diri berarti, saat di dunia Yesus manusia seutuhnya, sebagai teladan bagi kita pengikutnya yang adalah manusia seutuhnya juga.

ya ini menarik… artinya:

selama didunia Allah menjadi manusia seutuhnya yaitu Yesus, baru kemudian setelah misi selesai, Manusia Yesus kembali menjadi Allah? nah pertanyaannya berbalik lagi: lalu, kenapa Yesus berkata: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” bukannya Allah sudah jadi manusia 100% ya? artinya di surga sedang kosong, karena Allah nya sedang didunia…?

Ini tentang komitmen bro, jika Yesus berkata bahwa Dia mengosongkan diri, tidak mungkin Yesus saat sakit diam2 menjadi Tuhan dan tak merasa sakit, saat Yesus dalam cobaan, diam2 meninggalkan kemamusiaannya. Sementara manusia diminta pikul salib dan mencontoh teladan kesempurnaan Yesus

Saat hampir wafat di kayu salibpun Yesus tetap manusia, apa yang dikatakan Eli Eli menjelaskan posisiNya.
Masalah surga kosong atau tidak saya tak mengerti, saya taunya ROH KUDUS wujud omnipresen Tuhan.

Kalau boleh tau, gimana pengertian anda dari kata2 Yesus bro?

Tidak benar sama sekali.
Yesus adalah Allah sepenuh, manusia sepenuh. Itulah konsep dua hypostatik union dalam satu pribadi bernama Yesus, dua hakikat ini menyatu tak terpisahkan tetapi tidak bercampur-baur.

Ajaran kenosis ialah doktrin membahaya dan menyimpang!

Kenosis by Matt Slick

“Kenosis” is derived from the Greek word “kenoo” which means “to empty.” It is used in Phil. 2:7. The text of Phil. 2:5-8 is worth recording here.

“Have this attitude in yourselves which was also in Christ Jesus, 6who, although He existed in the form of God, did not regard equality with God a thing to be grasped, 7but emptied Himself, taking the form of a bond-servant, and being made in the likeness of men. 8And being found in appearance as a man, He humbled Himself by becoming obedient to the point of death, even death on a cross,” (Phil. 2:5-8).

The kenosis theory states that Jesus gave up some of His divine attributes while He was a man here on earth. These attributes were omniscience, omnipresence, and omnipotence. Christ did this voluntarily so that He could function as a man in order to fulfill the work of redemption. This view was first introduced in the late 1800s in Germany with Gottfried Thomasius (1802-75), a Lutheran theologian.

Phil. 2:5-8 does not teach that Jesus gave up any of His divine attributes since it says nothing of those attributes. Instead, it is speaking of His humility that moved him, according to the will of the Father, to leave His majestic state in heaven and enter into the humble position of human nature.

There is, however, a problem the orthodox must deal with that the Kenosis theory seems to more adequately address. Take Mark 13:32 for example. In it, Jesus said, “But of that day or hour no one knows, not even the angels in heaven, nor the Son, but the Father alone.” If Jesus knew all things, as is implied in His divine nature, then why did He not know the day or hour of His own return. The answer is that Jesus cooperated with the limitations of humanity and voluntarily did not exercise His attribute of omniscience. He still was divine but was moving and living completely as a man.

The Kenosis theory is a dangerous doctrine because if it were true then it would mean that Jesus was not fully divine. If Jesus was not fully divine, then His atoning work would not be sufficient to atone for the sins of the world.

The correct doctrine is the Hypostatic Union, that Jesus is both fully God and fully man (Col. 2:9) and did not give up any divine attributes while as a man on earth.
http://carm.org/kenosis

IMO:

Mat. 27:46 Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?”*
Artinya: /Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan {ἐγκατέλιπες - enkatelipes} Aku?

(ἐγκατέλιπες -enkatelipes) —> (ἐγκαταλείπω - egkataleipó)
egkataleipó: to leave behind, i.e. (in a good sense) let remain over or (in a bad sense) desert

λείπω simply means to leave
(ἐν equivalent to ἐν τίνι, in some place or condition), i. e. to leave in straits, leave helpless, (colloquial, leave in the lurch): τινα, Matthew 27:46 and Mark 15:34 from Psalm 21:2 ()…
Kata ibrani עָזַב jugak nurut standard lexicons, bisa diartikan ‘being left in a given condition or situation’
So, ‘forsaken’ can have the meaning of being left in a given condition or situation (2 Chron 24:25; Ezek 23:29; Josh 8:17); in this case the meaning would simply be that Kristus ‘ditinggalkan’ dikayu salib tuk menderita dan wafat.

it does NOT denote “separation” to suppose something like “Jesus was ontologically separate from an omnipresent God.” (denial of Trinitarian perichoresis)

Why, in the words of the Psalm, was the victim for whose garments lots were cast, forsaken?
Mzr 22:27 (22-28) Segala ujung bumi akan mengingatnya dan berbalik kepada TUHAN; dan segala kaum dari bangsa-bangsa akan sujud menyembah di hadapan-Nya.

Itula kena apa Kristus ‘ditinggalkan’ oleh Allah (bukan bermakna Allah omnipresent ‘not being there’) atau ketika itu Yesus menjadi bukan Allah… but in the sense of Christ having been left in the hands of sinful men to be crucified tuk tujuan agar → Segala ujung bumi akan mengingatnya dan berbalik kepada TUHAN; dan segala kaum dari bangsa-bangsa akan sujud menyembah di hadapan-Nya.

Sekedar komentar saja…

Ini bukanlah sebuah kiasan dan bukanlah teologi untuk aliran baru, tetapi Yesus mengutip ayat di perjanjian lama di Mazmur 22…
Pendapat saya, Yesus mengucapkan ini ketika Yesus merasa ketidakhadiran Bapa sewaktu Ia disalib…Sama seperti kita manusia yang berdosa, yang merasakan hubungan kita dengan Allah semakin jauh ketika Allah meninggalkan kita…

Bukan berarti Yesus berdosa seperti kita,bukan itu maksud saya…Akan tetapi demi penggenapan keselamatan manusia dan janji Allah kepada Abraham, Ishak dan manusia Allah lainnya sebelum Yesus di lahirkan bahkan setelah Adam berdosa dimana Allah telah menggenapkan firmannya akan ada keturunan dari hawa yang akan meremukkan kepala ular (Iblis)…Mungkin dalam pikiran Allah sebelum Adam berdosa, Allah telah mempersiapkan rencanaNya karena Allah tau kalau Adam pasti melangar perintahnya dan berdosa sehingga ia terlebih dahulu memperingatkan Adam…Dan selebihnya, Allah lah yang membangkitkan Yesus diantara orang mati sehingga kita sebagai umat manusia percaya akan adanya kebangkitan setelah kita mengalami kematian…

Selebihnya saya tidak mau berkomentar karena bisa menimbulkan perdebatan dan jika saudara tidak mau menerima kkomentar saya saya tidak akan mempermasalahkan juga…

Orthodox hymns consistently proclaim that He was NEVER SEPARATED from His Father.

“FORSAKE” is not necessarily the same thing as “SEPARATE”

Mungkin ada kawan yg kesulitan dlm mempersepsikannya, kerna cudah terbiasa membayangkan secara obyek contoh: ada dua obyek, jika ‘ditinggalkan’ maka interpretasinya ialah dua obyek itu terpisah…

Namun imo, ‘ditinggalkan’ ntu dlm konteks ‘dibiarkan dlm keadaan menderita dan mati’, bukan bermakna keterpisahan dgn hakikat Yesus sendiri atau keterpisahan dgn Bapa & HS seperti contoh:
Yeh 23:29 {TB} Mereka akan memperlakukan engkau dengan kebencian dan akan merampas segala hasil jerih payahmu dan meninggalkan engkau telanjang bugil, sehingga aurat persundalanmu kelihatan. Kemesumanmu dan persundalanmu
Yeh 23:29 {FAYH} Mereka akan memperlakukan engkau dengan penuh kebencian; mereka akan merampas segala milikmu dan membiarkan engkau dalam keadaan telanjang. Persundalan dan kemesumanmu akan menjadi nyata kepada semua orang.

Poinnya:
“Christ having been LEFT (forsaken) to the agony of the cross
without claiming
ontological SEPARATION from an omnipresent God who is EVERYWHERE (cf. Acts 17:28, Ef 4:6, Mzr 139:7-8)”

Tentu saja bukan kiasan.

Karena Yesus adalah manusia dan Yesus adalah Tuhan,
Sebagai Tuhan, Yesus tentu tidak dapat mati, padahal Yesus harus mati dikorbankan sebagai Anak Domba Allah.
Maka ketuhanan Yesus sesaat itu, benar-benar disingkirkan, agar Dia mengalami kematian, sebagaimana manusia biasa.

Ini hanyalah pendapat saya, mungkin salah, mohon dikoreksi, sebab saya masih kerdil dalam hal Alkitab.

Pertanyaan: Mengapa saya berpendapat demikian ?
Sebab tepat jam 3 sore, sesaat Yesus mau mati, Dia baru berseru: “Eli, Eli, lama sabakhtani” , baru Yesus mati.

Katekismus Gereja Katolik:

630 Yesus tidak dibuang [oleh Allah], seakan-akan Ia sendiri telah berdosa Bdk. Yoh 8:46… Sebaliknya dalam cinta-Nya sebagai Penebus, yang selalu menghubungkan Dia dengan Bapa Bdk. Yoh 8:29., Ia dengan sekian mesra menerima kita, yang hidup jauh dari Allah karena dosa-dosa kita, sehingga di kayu salib ia dapat mengatakan atas nama kita:

“Eloi, Eloi lama sabakhtani, yang berarti, Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mrk 15:34; Mzm 22:2). Karena dengan cara demikian Allah sudah membuat-Nya solider dengan kita, orang berdosa, maka “Ia tidak menyayangkan anak-Nya sendiri, tetapi… menyerahkan-Nya bagi kita semua” (Rm 8:32), sehingga “kita diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya” (Rm 5:10).

Komentar mengenai Mat 27:46

St. Thomas Aquinas:
Such forsaking is not to be referred to the dissolving of the personal union, but to this, that God the Father gave Him up to the Passion: hence there “to forsake” means simply not to protect from persecutors. or else He says there that He is forsaken, with reference to the prayer He had made: “Father, if it be possible, let this chalice pass away from Me,” as Augustine explains it (De Gratia Novi Test.)

“… Therefore, since there was no sin in Christ, it was impossible for the union of the Godhead with the flesh to be dissolved. Consequently, as before death Christ’s flesh was united personally and hypostatically with the Word of God, it remained so after His death, so that the hypostasis of the Word of God was not different from that of Christ’s flesh after death, as Damascene says (De Fide Orth. iii).”

St. John Chrysostom:

Why does he speak this way, crying out, “Eli, Eli, lama sabach-thani?” That they might see that to his last breath he honors God as his Father and is no adversary of God. He spoke with the voice of Scripture, uttering a cry from the psalm. Thus even to his last hour he is found bearing witness to the sacred text. He offers this prophetic cry in Hebrew, so as to be plain and intelligible to them, and by all things Jesus shows how he is of one mind with the Father who had begotten him (The Gospel of Matthew, Homily 88.1).

St. Ambrose:

It was in human voice that he cried: “My God, My God, why have you forsaken me?” As human, therefore, he speaks on the cross, bearing with him our terrors. For amid dangers it is a very human response to think ourself abandoned (Of the Christian Faith, 2.7.56).

St. Augustine:

Out of the voice of the psalmist, which our Lord then transferred to himself, in the voice of this infirmity of ours, he spoke these words: “My God, my God, why have you forsaken me? He is doubtless forsaken [u]in the sense[/u] that his plea was not directly granted. Jesus appropriates [u]the psalmist’s voice to himself, the voice of human weakness[/u]. The benefits of the old covenant had to be refused in order that we might learn to pray and hope for the benefits of the new covenant. Among those goods of the old covenant which belonged to the old Adam there is a special appetite for the prolonging of this temporal life. But this appetite itself is not interminable, for we all know that the day of death will come. Yet all of us, or nearly all, strive to postpone it, even those who believe that their life after death will be a happier one. Such force has the sweet partnership of body and soul (Letters, 140 to Honoratus 6).

Katekismus Gereja Katolik

http://www.vatican.va/archive/ccc_css/archive/catechism/p1s2c1p2.htm

468 After the Council of Chalcedon, some made of Christ's human nature a kind of personal subject. Against them, the fifth ecumenical council, at Constantinople in 553, confessed that "there is but one hypostasis [or person], which is our Lord Jesus Christ, one of the Trinity." Thus everything in Christ's human nature is to be attributed to his divine person as its proper subject, not only his miracles but also his sufferings and even his death: "He who was crucified in the flesh, our Lord Jesus Christ, is [u]true God[/u], Lord of glory, and one of the Holy Trinity."

469 The Church thus confesses that Jesus is inseparably true God and true man. He is truly the Son of God who, without ceasing to be God and Lord, became a man and our brother:
“What he was, he remained and what he was not, he assumed”, sings the Roman Liturgy. And the liturgy of St. John Chrysostom proclaims and sings: “O only-begotten Son and Word of God, immortal being, you who deigned for our salvation to become incarnate of the holy Mother of God and ever-virgin Mary, you who without change became man and were crucified, O Christ our God, you who by your death have crushed death, you who are one of the Holy Trinity, glorified with the Father and the Holy Spirit, save us!”

255 The divine persons are relative to one another. Because it does not divide the divine unity, the real distinction of the persons from one another resides solely in the relationships which relate them to one another: “In the relational names of the persons the Father is related to the Son, the Son to the Father, and the Holy Spirit to both. While they are called three persons in view of their relations, we believe in one nature or substance.”
Indeed “everything (in them) is one where there is no opposition of relationship.”
“Because of that unity the Father is wholly in the Son and wholly in the Holy Spirit; the Son is wholly in the Father and wholly in the Holy Spirit; the Holy Spirit is wholly in the Father and wholly in the Son.”

266 “Now this is the Catholic faith: We worship one God in the Trinity and the Trinity in unity, without either confusing the persons or dividing the substance; for the person of the Father is one, the Son’s is another, the Holy Spirit’s another; but the Godhead of the Father, Son and Holy Spirit is one, their glory equal, their majesty coeternal” (Athanasian Creed: DS 75; ND 16).
267 Inseparable in what they are, the divine persons are also inseparable in what they do. But within the single divine operation each shows forth what is proper to him in the Trinity, especially in the divine missions of the Son’s Incarnation and the gift of the Holy Spirit.

Protestant Kenotic Christology: apakah itu?

kk jackson menganut pandangan ini ke ?

[b]Protestant Kenotic Christology: apakah itu?[/b] ...Pandangan ini sesungguhnya berakar dan tidak terlepas dari pendapat yang mengatakan bahwa [u]selama hidup-Nya di dunia (33.5 tahun) Yesus itu ‘hanya’ manusia biasa, bukan Tuhan[/u] [walaupun disertai oleh Allah Bapa dan ROH KUDUS secara istimewa]; dan [u]baru setelah kebangkitan-Nya, Yesus adalah Tuhan[/u]. Pandangan di atas mengambil dasar utama dari Fil 2: 6-11

Jika kita mempelajari sejarah Gereja, kita akan mengetahui bahwa interpretasi yang dipegang oleh Bapa Gereja adalah bahwa yang dimaksud oleh Paulus dalam “pengosongan diri (Fil 2:6-11)” ini adalah bahwa Pribadi kedua dari Trinitas yaitu Sang Firman Allah, mengambil rupa manusia melalui Inkarnasi, agar dengan demikian Ia dapat menderita dan mati.
Maka dikatakan Ia yang “dalam rupa Allah…. mengambil rupa seorang hamba” sehingga di dalam rupa tersebut Ia “merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati …di kayu salib.”
Maka disini yang tidak dipertahankan Kristus adalah ketidakterbatasanNya sebagai Allah, bahwa sebagai Allah Ia tidak mungkin menderita dan mati, sedangkan dengan menjelma menjadi manusia Ia dapat menderita dan mati.
Maka dari teks itu sendiri sebenarnya tidak menunjukkan bahwa dengan mengambil rupa sebagai manusia, Yesus berhenti menjadi Allah.
Sebab dari kodrat-Nya, Allah tidak mungkin berhenti menjadi Allah, ataupun berubah dari yang sempurna -dalam Trinitas- menjadi tidak sempurna -karena pada satu periode Allah tidak berupa Trinitas.
Karena kalau demikian, maka Allah mempertentangkan Diri-Nya sendiri dan ini tidak mungkin (lih.2 Tim 2:13).