Mesjid dan Pusat Kajian Islam di Ground Zero Disetujui

Ketika rencana pembangunan mesjid dan Pusat Kajian Islam di Ground Zero diumumkan tahun lalu, berbagai pihak menentang keras rencana tersebut termasuk politisi, kalangan Islam sendiri maupun warga New York biasa. Berbagai alasan diajukan mereka, ada yang menuding rencana itu tidak peka terhadap perasaaan warga Amerika, ada yang menganggap berdirinya pusat kegiatan Islam itu merupakan lambang kemenangan teroris yang merobohkan menara kembar World Trade Center sepuluh tahun lalu.

Dalam wawancara dengan media ABC, Pastur Edward Beck dari komunitas Katolik Passionist NY yang merupakan salah seorang yang mendukung pendirian mesjid itu mengatakan, “Pertama-tama mereka akan membangun pusat kajian Islam termasuk mesjid yang bisa menampung 1.400 orang, tetapi ini tidak di lokasi 9-11, letaknya berjarak dua blok (dari Ground Zero). Saya berbicara dengan wartawan CNN yang mengatakan bahwa dua blok dari sana bahkan ada juga toko yang menjual barang-barang porno. Apabila kita tidak membolehkan pembangunan mesjid yang bertujuan untuk membina dialog antar agama dan berdoa bagi perdamaian, mengapa kita tidak memprotes hal itu?”

Pembangunan mesjid itu akhirnya dibahas dan disetujui oleh komisi yang ditunjuk Walikota New York tahun lalu. Komplek mesjid itu rencananya akan dilengkapi dengan kolam renang, tempat pertunjukan, dan lapangan basket. Kawasan itu tidak hanya bisa digunakan oleh umat Islam, tapi juga oleh masyarakat di sekitarnya. Timothy Brown seorang anggota regu pemadam kebakaran yang terlibat dalam upaya evakuasi WTC pernah mengajukan banding atas putusan itu. Namun, pada pertengahan Juli tahun ini, hakim pengadilan tinggi negara New York, Paul Feinman, menolak gugatan banding tersebut.

Peringatan akan serangan WTC itu sebentar lagi akan diperingati yaitu tanggal 11 September untuk yang ke-10 kalinya. Banyak pendapat mengenai pembangunan gedung ini, ada yang setuju, ada pula yang keberatan. Apapun itu, hendaknya umat beragama di sana dapat hidup dengan damai satu sama lain. Biarlah dengan ini, umat Kristen di sana lebih lagi melakukan panggilan hidupnya agar dapat berbuah lebat bagi Yesus.

Source : voanews/lh3

Dimana-mana uang yang berperan…bukannya perasaan sentimentil yang berperan…!! Itulah bentuk negara demokrasi yng liberal ( mnurut saya ). Kaidah hukum yang memagari semua ide yang ada di benak manusia untu merealisasikan secara nyata. Dan realita demikian memang hanya ada di Amrik sono…!! Anda mau bicara masalah sara di sana…?? dan menciptakan suatu penentangan tentang sara disana…???..Wahh…anada akan bermimpi,!!
Uang yang berperan di Amrik sono…bukannya agama atau moral dan akhlak yang baik sebagai pilar penopang kehidupan manusianya. Amerika adalah Amerika dan agama adalah agama, BEGITUPUN UANG ADALAH UANG, Semuanya sudah menjadi suatu kultur budaya yang tercipta disana dan harus mampu dimengerti oleh manusia penduduk dunia dimanapun dia berada. Jangan pernah mencari pembelaan apapun dalam dalam nama Amerika, karena begitu tinggi harga yang harus dibayar. Kebebasan ala duniawi segalanya ada di Amrik sana,dan dapat diraih, jka anda punya banyak uang. Disana banyak pintu nerakany dan sudah hapir musnah pintu surganya,…hehehheh