Monergism

In brief,
monergism (often associated with Reformed theology or Calvinism) teaches salvation is the work of God alone
By contrast,
synergism (most times associated with Arminianism) asserts salvation requires cooperation between God and the individual

Monergism vs. synergism? Which side is correct?

KPR 16:
(13) Pada hari Sabat kami ke luar pintu gerbang kota. Kami menyusur tepi sungai dan menemukan tempat sembahyang Yahudi, yang sudah kami duga ada di situ; setelah duduk, kami berbicara kepada perempuan-perempuan yang ada berkumpul di situ.
(14) Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus.

Penalaran situasi oleh saya :
Sebelum/sewaktu mendengarkan perkataan2 Rasul, Lydia BUKAN orang Kristen.
BUT, walo Lydia bukan orang Kristen saat itu, sikon Lydia itu sendiri SUDAH sebagai orang yang beribadah kepada Allah.

Dari situs yang sama, artikel mengajukan komentar thdp Acts 16:13-14
This passage explicitly demonstrates what is called in monergistic thinking the “irresistible” or “effectual call of God.” God first moved upon Lydia’s heart and enabled her to positively respond to Paul’s message

kalimat bold diatas didapet dari kalimat ayat sbb :
The Lord opened her heart to respond to Paul’s message.

oda :

  1. Sepertinya terjadi pemlesetan oleh pihak Monergism ?
    Kalimat ayatnya tulis “the Lord” not “God”.

When she and the members of her household were baptized, she invited us to her home. “If you consider me a believer in the Lord,” she said, “come and stay at my house.” And she persuaded us.

Lydia TIDAK berkata “God”, melainkan “the Lord”.

  1. Sepertinya di pov pihak Monergism, monergism itu HANYA ada di perihal percaya Yesus historically ?
    Kalo iya begitu maka secara pov NON-TULIP, [Synergism precedes Monergism] adalah kemungkinan —> KARENA Lydia beribadah kepada Allah MAKA Tuhan membuka hatinya.

Sementara kalo dari pov Monergism,
menurut pihak Monergism, Allah tidak menggubris beribadahnya Lydia kepada Allah, melainkan KARENA Lydia dipilih SBJ MAKA Tuhan membuka hatinya.

  1. Begimana itu ceritanya dimana tidak ada seorangpun yang mencari Allah, kok Allah sendiri bilang bahwa Lydia beribadah kepada DiriNya ?

Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.

Begimana itu ceritanya dimana tidak ada seorangpun yang mencari Allah, kok Allah sendiri bilang bahwa Nuh itu hidup bergaul dgn DiriNya ?

Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.

Begimana itu ceritanya dimana tidak ada seorangpun yang mencari Allah, kok Allah sendiri bilang bahwa Ayub itu saleh dan jujur, takut akan DiriNya dan menjauhi kejahatan?

Ayat mana (???) yg dijadikan sebagai acuan oleh pihak Monergism, bhw :

Allah tidak menggubris :
Lydia yang beribadah kepada Allah
Nuh yang hidup bergaul dgn Allah
Ayub yang saleh dan jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan

bersambung

  1. (6) Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.
    Ayat diatas kayaknya suka dipakai sbg acuan oleh pihak Monergism, dimana [Regenarate precedes Faith]. Tetapi sepertinya kosakata [faith] itu sendiri sudah berupa di sikon spesifik, yakni di perihal [percaya kepada Yesus historically]. So, di pov Monergysm, sebelum Lydia percaya Yesus historis (sebelum menjadi Kristen), di pov Allah Lydia adalah BUKAN OrangPercaya (non believer).

Terkait Lydia, mudah utk dimanipulasi karena kisah Yesus historis itu in the past, spt sbb :
Sebelum Lydia ngedengerin kata2 Rasul yg disampaikan pada hari Minggu tsb (sebelum Lydia menjadi OrangPercaya) …
KARENA Lydia adalah orang yang dipilih SBJ,
MAKA entah kapan - dia sudah duluan di Regenerate dan dikasih Iman oleh Allah.

Akibatnya :
Lydia beribadah kepada Allah dimana akibat selanjutnya Lydia menerima/percaya kisah Yesus historis tsb.
Barulah setelah tahap ini, di pov Monergism, di pov Allah Lydia adalah OrangPercaya (believer).

Sementara terkait Nuh, Ayub dan siapapun orang yg pernah hidup ataupun masih hidup namun tidak tau kisah Yesus historis —> entah kapan - dia sudah duluan di Regenerate dan dikasih Iman oleh Allah = possible. Yet, karena tidak eksis itu sikon mereka yang “percaya Yesus historis” maka di pov Monergism, di pov Allah mereka2 ini BUKAN OrangPercaya.

Nah, pertanyaan di nomor-4 ini :
Apa yg ada di pov Monergism mengenai pov Allah thdp mereka yang BUKAN OrangPercaya setelah entah kapan - dia/mereka sudah duluan di Regenerate dan dikasih Iman oleh Allah yg dimana menurut pov Monergism, di pov Allah mereka2 ini BUKAN OrangPercaya ? Mereka akan masuk sorga atau kagak ?

:slight_smile:
salam.

btw, pertanyaan2 ini ditujukan hanya kepada pihak Monergism.

Sejujurnya saya tidak tahu istilah monergism dan synergism.

Mengenai Kisah Para Rasul 16:13-14

Lidia adalah seorang perempuan Yahudi saleh yang mendapat panggilan menjadi Kristen setelah mendengarkan perkataan Paulus.

Dasar saya menyimpulkan Lydia orang beragama Yahudi yaitu berdasarkan ayat pada Kisah Para Rasul 16:13 dimana membahas perempuan-perempuan yang yang berkumpul di tempat sembahyang Yahudi.

Lidia ini dibukakan hatinya karena dia berkenan dihadapan Allah sebab ada juga orang yang tidak dibukakan hatinya oleh Allah seperti ahli Taurat dan Orang Farisi yang walaupun mereka itu ahli agama dan mempunyai pengetahuan luas tentang agama, giat beribadah kepada Allah tetapi tidak berkenan dihadapan Allah sehingga tidak dipanggil dan mengimani Yesus.

Jadi hal ini bukan hanya karena Lidia beribadah kepada Allah karena ahli Taurat & Orang Farisi juga beribadah kepada Allah, melainkan karena Allah berkenan kepada Lidia.

Memang tidak dijelaskan mengapa Allah berkenan kepada Lidia sehingga Lidia mendapat panggilan untuk mengimani Yesus. Yang pasti Allah tidak melihat pangkat, kedudukan, kepintaran, kehebatan dalam ilmu agama melainkan melihat hati manusia dan hal-hal tersembunyi yang dilakukan manusia. Dalam hal ini Lidia dianggap berkenan di hadapan Allah.

Lidia bisa beribadah kepada DiriNya karena Lidia lahir di keluarga Yahudi yang pasti diajarkan pengetahuan tentang Allah dan cara beribadah kepada Allah. Jadi yang pertama kali terjadi adalah inisiatif Allah atau dengan kata lain Tuhan yang mencari manusia sehingga manusia bisa mengenal Allah dan mencari Allah.

Nuh itu mempunyai garis keturunan sampai jalur Seth yaitu orang beriman dan dekat dengan Allah. Maka keimanan ini pasti diajarkan turun temurun dari Seth kepada keturunannya sampai Nuh. Jadi bisa dikatakan Nuh mengenal Allah dan bisa beribadah kepada Allah sesuai yang diajarkan keluarganya kepada Nuh. Jadi jelaslah Allah dahulu yang berinisiatif.

Mengenai Ayub walaupun tidak jelas silsilahnya tetapi tetap saja inisiatif ini berasal dari Allah. Bisa saja keluarganya orang beriman, kalau tidak pastilah Ayub mendapat anugrah Allah sehingga bisa mengenal dan beriman kepada Allah.

Yang pasti Allah tidak membedakan manusia. Allah mencintai manusia sehingga Allah tidak mungkin menentukan seseorang masuk surga dan seseorang masuk neraka sejak semula, sejak orang tersebut belum dilahirkan.

Ayub, Nuh pasti masuk surga karena mereka orang yang berkenan kepada Allah walaupun Yesus belum dilahirkan dan mereka belum mengenal Yesus.

Kewajiban mengimani Yesus adalah setelah Yesus eksis bukan sebelumnya.

Jadi yang beranggapan Ayub dan Nuh tidak selamat karena tidak mengenal Yesus adalah orang-orang yang dangkal ilmunya, bodoh, tidak mengerti Kitab Suci dan menyesatkan.

@odading

masalah surga dan neraka saya percaya bahwa 1000% itu adalah hak mutlak Tuhan jadi jawaban atas pertanyaan yang no 4 adalah tidak tahu

seperti yang sudah saya katakan di thread lain, saya pribadi berharap kita semua masuk surga karena setahu saya hanya iblis yang menginginkan manusia masuk neraka

Kalau yang kuimani 10000000% kehendak Tuhan adalah supaya umat manusia itu semuanya selamat dan masuk surga.

salam
TYM

@simatupang

sepakat. masalahnya terkadang ada manusia yang tidak ingin masuk surga. misalnya manusia yang tidak pernah menjalankan perintah Tuhan dan selalu menjalankan larangan Tuhan

Kalo menurut saya sih gak ada “plesetan”, sebab pemahaman orang (baik orang Yahudi maupun orang non Yahudi; Baik dulu maupun sekarang)), kata/penyebutan Allah itu adalah menunjuk kepada TUHAN.

Yang pada akhirnya semua orang beranggapan bahwa TUHAN itu Allah dan Allah itu TUHAN.

Kalo menurut saya, dua-dua pandangan itu juga keliru, karena kedua-duanya berpandangan sama, yaitu bahwa TUHAN sama dengan Allah; dan Allah sama dengan TUHAN.

Pandangan yang seperti itulah yang membuat pemahaman keduannya salah.

Kata Allah (hā·’ĕ·lō·hîm) dalam Kitab Suci mengacu kepada TUHAN.

Orang yang tahu “Kulit”-Nya aja akan melakukan (Beribadah) hanya sebagai suatu kewajiban…
Orang yang sudah mengerti “Isi”-Nya akan melakukan (Beribadah) sebagai suatu “Kerinduan”…

Salam Damai Temans…
Tuhan memberkati…

So pasti itu Bro (Sok tahu ya…saya :cheesy:)…Fisik/Jasmani kita akan jadi debu, Roh akan kembali pada Allah, Dosa/Iblis akan kembali ke Neraka…itu keyakinan saya…prosesnya…terserah Tuhan yang Maha Pengasih…

Salam Damai Bro…
Tuhan memberkati…

Bro @oda
Wilef secara formal adalah Luteran

Namun dlm perkembangan keimanan , secara informal, wilef belajar dari sumber yg beragam sehingga Iman wilef bertumbuh tdk murni hanya secara luteran.

wilef berpandangan bhw keselamatan dikerjakan Allah dalam tahapan maupun proses yg sangat kompleks , dan dlm realitas waktu yg sangat panjang.

Artinya tdk serta merta karya keselamatan itu Tuntas dlm seketika.

Dalam keimanan wilef, keselamatan itu “terjadi” dalam “tiga” tahapan utama yaitu :

Tahap Pertama : Proses Keputusan memberikan dan mewartakan Keselamatan
Tahap Kedua : Proses interaksi Allah dan ciptaan dlam proses pemberian keselamatan
Tahap Ketiga : Penentuan akan hasil pemberian keselamatan

Tahapan Pertama : Keputusan memberikan dan mewartakan Keselamatan

Pada Tahapan ini, Allah secara berdaulat menertapkan :

a. kepada siapa Keselamatan itu akan diberikan dan apa syarat keselamatan tsbt
b. siapa yg akan mewartakan,
c. dan kapan akan diwartakan

Penetapan ini adalah Tanpa syarat dan tanpa mempertimbangkan perbuatan manusia.

Sebagai illustrasi :

Nenek Moyang saya adalah ateis yg tinggal di daerah pedalaman.
Disekelilingnya yaitu didaerah pesisir/ pantai masyarakat sdh memeluk agama Islam.

Secara perbuatan, tdk ada lasan bagi Allah untuk menyelamatkan etnis saya yg ateis,
karena saat itu mereka hidup dlm “kegelapan” ( didramatisir sebagai cannibal)

Akan tetapi, tanpa diminta, Allah mengirimkan missionaris dari eropa untuk mewartakan Kabar keselamatan kepada Nenek Moyang saya.

ini benar2 cuma-cuma, tanpa syarat, murni adalah kasih karunia berdasarkan otoritas mutlak Allah untuk menetapkan demikian

Tahapan kedua : Proses interaksi Allah dan ciptaan dlam proses pemberian keselamatan

Pada tahapan ini peranan, tindakan/ perbuatan manusia menentukan akan berhasil tidaknya proses interaksi ini.

Peranan manusia ada dalam2 jenis yaitu :

  1. sebagai pewarta: Roma 10 : 14 Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?

Berdasarkan nats ini, maka secara logikanya, keselamatan yg dirancangkan Allah membutuhkan kerja manusia agar dapat terjadi.

  1. sebagai penerima kabar/ objek

Husus untuk nenekmoyang saya, interaksi tdk langsung berhasil baik

Awalnya ada penolakan, bahkan penginjil yg dikirim dibunuh, bahkan konon (mungkin didramatisir), penginjil tsbt direbus lalu dimakan.

Artinya warta keselamatan yg dilakukan oleh hamba2 Allah dpt ditolak dan itu terjadi dibanyak tempat.

Namun ahirnya, dgn berjalannya waktu, Allah kembali mengutus hambanya yg lain untuk melanjutkan pengabaran injil,

dan dgn prose yg panjang nenek moyang saya menjadi pengikut Yesus.

Tahapan Ketiga : Penentuan akan hasil pemberian keselamatan

Dlm tahapan ini, Yesus lah satu2nya yg berotoritas untuk menentukan siapa yg selamat dan siapa yg tdk selamat

dan
Kriterianya sdh jelas adalah berdasarkan pda hasil Proses Tahapan Kedua, yaitu bagaiman manusia itu merspon keselamatan tsbt.

ada yg responnya menolak ada yg responnya menerima (sesuai kriteria)

Jadi walaupun ada yg sdh memutuskan bhw ada yg sdh selamat, itu tdk berlaku, karena hanya Yesuslah yg berwewang untuk memutuskannya.

kapan Tahapan ini dilakukan?

Tahapan ini akan dilakukan setelah kedatangan Yesus yg kedua
bukan jaman sekarang.

Demikian yang wilef imani

salam

Agak beda ya dari pandangan Lutheran tradisional

Yes,saya juga tak!

Dan sesungguhnya itu hanya istilah saja, keknya
Dan tidak berat hati, jika hrs mengamini ke-dua2-nya
Paling diomelin fanatisme yg satu jika pro kpd yg lainnya

Salam Damai!

saya tdk mau membelengu diri saya dlm sebuah kotak imajiner yg saya buat sendiri atw dibuat orang lain.

Apa yang wilefhas62 imani mirip dengan yang saya imani.

Keselamatan yang saya imani :
Keselamatan itu pertama- tama karena kasih karunia Allah yang harus ditanggapi dengan iman dan diwujudkan dengan perbuatan.

Ini ciri2 org merdeka!

Merdeka, Bro!
Selamat HUT RI-73

Salam Damai!

Saya juga baru tau wiltu. Makanya tak bikin thread ini :).

Mengenai Kisah Para Rasul 16:13-14

Lidia adalah seorang perempuan Yahudi saleh yang mendapat panggilan menjadi Kristen setelah mendengarkan perkataan Paulus.

Dasar saya menyimpulkan Lydia orang beragama Yahudi yaitu berdasarkan ayat pada Kisah Para Rasul 16:13 dimana membahas perempuan-perempuan yang yang berkumpul di tempat sembahyang Yahudi.

Walo tidak dikatakan secara lebih mendetail, ya saya sependapat atas kesimpulan bold wiltu.

Jadi hal ini bukan hanya karena Lidia beribadah kepada Allah karena ahli Taurat & Orang Farisi juga beribadah kepada Allah, melainkan karena Allah berkenan kepada Lidia.
Saya nggak sependapat dgn yg di quote atas.

Menurut saya,
[beribadah kepada Allah]-nya si Lydia berkenan di pov Allah
[beribadah kepada Allah]-nya para ahli Taurat/Farisi tidak berkenan di pov Allah.

Alesan saya …

Memang tidak dijelaskan [b]mengapa Allah berkenan kepada Lidia[/b] sehingga Lidia mendapat panggilan untuk mengimani Yesus.
Alesan saya mengapa Allah berkenan kepada Lydia : [beribadah kepada Allah]-nya si Lydia dengan iman.
melihat hati manusia dan [b]hal-hal tersembunyi[/b] yang dilakukan manusia.
Nah itu, "hal tersembunyi" disitu ada di perihal iman :).
Lidia bisa beribadah kepada DiriNya karena Lidia lahir di keluarga Yahudi
Lydia dan perempuan2 laen yg saat itu mendengarkan perkataan Rasul, semuanya bisa dikatakan [beribadah kepada Allah].

Buat saya terasa aneh kalo kayak begini :
KARENA Perempuan2 laen saat itu juga beribadah kepada Allah,
tapi Tuhan tidak membuka hati mereka…

MAKA (kesimpulan) :
dengan demikian Allah berkenan kepada Lydia BUKAN karena Lydia beribadah kepada Allah.

Jadi yang pertama kali terjadi adalah inisiatif Allah atau dengan kata lain Tuhan yang mencari manusia sehingga manusia bisa mengenal Allah dan mencari Allah.
Jadi begimana dengan Lydia ?
Nuh itu mempunyai garis keturunan sampai jalur Seth yaitu orang beriman dan dekat dengan Allah. Maka keimanan ini pasti diajarkan turun temurun dari Seth kepada keturunannya sampai Nuh. Jadi bisa dikatakan Nuh mengenal Allah dan bisa beribadah kepada Allah sesuai yang diajarkan keluarganya kepada Nuh. Jadi jelaslah Allah dahulu yang berinisiatif.
Ini jadinya membingungkan kalo secara dari pov Monergism, wiltu. Sepanjang yang saya ketahui, di pov Monergism - Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah ---> ini SETELAH Allah regenerate Nuh dan lalu memberi iman kepada Nuh. Kenapa Nuh ? Ya karena Nuh itu adalah salah satu dari orang yg Allah pilih SBJ utk nantinya Dia regenerate dan Dia kasih iman.
Mengenai Ayub walaupun tidak jelas silsilahnya tetapi tetap saja inisiatif ini berasal dari Allah. Bisa saja [b]keluarganya orang beriman[/b]
Nah ... kalo Ayub bisa bisa saja kayak bold, kenapa jadi tidak bisa bisa saja ortu-nya Lydia orang beriman ?
kalau tidak pastilah [b]Ayub mendapat anugrah Allah[/b] sehingga bisa mengenal dan beriman kepada Allah
Jadi... 1. bisa dikarenakan Ayub mendapat anugerah Allah (dikasih iman ?), 2. bisa juga karena keluarga/ortu Ayub adalah orang beriman.

Dengan demikian, iman bisa bisa saja BUKAN anugerah yang diberikan disuatu ketika setelah seseorang menjalani kehidupannya didalam span waktu tertentu, melainkan dikarenakan keturunan dari ortu yg beriman.

Berdasarkan yg nomor-1, urutan logika realita-nya begini :
KARENA Ayub mendapat anugerah Allah
MAKA Ayub menjadi orang yg saleh dan jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.

Yang pasti Allah tidak membedakan manusia. Allah mencintai manusia sehingga Allah tidak mungkin menentukan seseorang masuk surga dan seseorang masuk neraka sejak semula, sejak orang tersebut belum dilahirkan.
Sepertinya kalimat di quote atas itu BUKAN pov Monergism. (Oleh karena itu thread ini saya tujukan ke pihak monergism).

Monergism (sepanjang yg saya duga) itu MLULU Allah yang bekerja, dimulai Allah memilih SBJ (otomatis sebelum satu orangpun eksis, apalagi telah berbuat ini itu).

bersambung

Ayub, Nuh pasti masuk surga karena mereka orang yang berkenan kepada Allah walaupun Yesus belum dilahirkan dan mereka belum mengenal Yesus.
Makanya saya tanyakan ke pihak Monergism : Lydia SEBELUM dibukakan hatinya oleh Allah, adalah [u]a Believer[/u] ato bukan [u]di pov Allah[/u] menurut Monergism ?

Yg saya duga, urutan di pov Monergism itu :
Diketika Allah membukakan hati Lydia (sewaktu mendengarkan perkataan Rasul) —> ini = event regenerate.
Setelah Lydia Allah regenerate, Allah memberi Lydia iman. Akibatnya : Lydia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus. Barulah setelah itu [Lydia adalah a Believer di pov Allah] menurut pov Monergism.

Apabila dugaan saya yg oranye bener, kalo di aplikasikan ke Nuh atopun Ayub jadinya aneh, karena tidak ada itu “mendengarkan perkataan Rasul ttg kisah Yesus historis” di saat itu.

[b]Kewajiban [/b]mengimani Yesus adalah setelah Yesus eksis bukan sebelumnya.
Kewajiban setiap orang yang hidup setelah Yesus eksis ? Begimana itu ceritanya orang2 saat Rasul memberitakan kisah Yesus historis di "timbuktu" Allah wajibkan mengimani Yesus ?
Jadi yang beranggapan Ayub dan Nuh tidak selamat karena tidak mengenal Yesus adalah orang-orang yang dangkal ilmunya, bodoh, tidak mengerti Kitab Suci dan menyesatkan.
Ayub dan Nuh selamat, karena Yesus belon eksis. Pertanyaannya : Begimana itu orang2 di "timbuktu" [u]diwajibkan[/u] mengimani Yesus setelah/sewaktu Yesus eksis ?

Mohon diabaikan pertanyaan saya karena pertanyaan saya tsb udah keluar dari pov Monergism.
Menurut saya, di pov Monergism tidak ada itu Kewajiban. Kalo ada itu Kewajiban, maka ini kan jadinya synergism. Monergism : manusia tidak diwajibkan ngapa2in, semuanya Allah sendiri-lah yang wajib ngapa2in.

:slight_smile:
salam.

Saya duga, di pov Monergism juga demikian spt yg terbaca di quote atas, rama.

Adalah hak mutlak Tuhan sebelum bumi jadi utk berkehendak sebagian ada di neraka - sebagian ada di sorga.

Pertanyaannya utk pihak Monergism :
SEBELUM Lydia dibukakan hatinya oleh Allah, menurut Monergism, Lydia di pov Allah itu Believer ataukah NON-Believer ?

Well… sepanjang yg saya ketahui, di pov Monergism - kehendak Tuhan itu adalah [sebagian ada di sorga - sebagian ada di neraka], sima :).

Makanya saya sempet sarankan agar vbn gunakan kosakata “Yahweh” apabila maksud vbn pada kosakata “tuhan” itu adalah SESUATU yang bernama Yahweh, vbn :).

Lydia : “If you consider me a believer in the Lord…”
IMO, di pov Lydia kosakata kosakata “the Lord” ngerujuk ke Yesus bukan ke Yahweh.