Nama Pontius Pilatus dalam Pengakuan Iman Rasuli

PENGAKUAN IMAN RASULI

  1. Aku percaya kepada Allah Bapa yang Mahakuasa, Khalik/Pencipta langit dan bumi.
  2. Dan kepada Yesus Kristus AnakNya Yang Tunggal, Tuhan Kita.
  3. Yang dikandung daripada Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria.
  4. Yang menderita sengsara dibawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan mati dan dikuburkan turun ke dalam kerajaan maut.
  5. Pada hari yang ketiga bangkit pula dari antara orang mati.
  6. Naik ke surga, duduk disebelah kanan Allah, Bapa yang Mahakuasa.
  7. Dan dari sana Ia akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.
  8. Aku percaya kepada Roh Kudus.
  9. Gereja Katolik yang kudus [versi Katolik] ; Gereja yang kudus dan am [versi Protestan], persekutuan Orang Kudus,
  10. Pengampunan Dosa.
  11. Kebangkitan badan/orang mati/daging
  12. dan Hidup Yang Kekal.

Amin.

Pengakuan iman rasuli atau syahadat para rasul ini adalah versi yang telah disederhanakan dari versi original Nicea yang jauh lebih detail dan panjang.

Sekedar diskusi ringan biasa sambil ngopi santai saja…

Mengapa nama Pontius Pilatus, yang istilahnya “bukan siapa-siapa” jika ditinjau dari posisi iman Kristen, menjadi selalu “dibawa-bawa” selama berabad-abad sampai sekarang?

Argumennya, toh di point sebelumnya sudah cukup jelas dan “nggak mungkin lari lagi” bahwa keterangan “lahir dari anak dara Maria” sudah menekankan ke tokoh Tuhan Yesus yang kita percayai. Karena rasanya tidak mungkin meleset ke tokoh lain yang bernama Yesus juga, yang lahir dari anak dara Maria.

Jika pernah ada versi kredo lain yang menghilangkan kata “sengsara”, istilahnya mah kagok euy, mendingan sekalian saja hilangkan sekaligus: “sengsara dibawah pemerintahan Pontius Pilatus”, jadi:
"Yang menderita, disalibkan, mati dan dikuburkan, turun ke dalam kerajaan maut.

Atau…
Mungkin ada kepentingan tradisi liturgis atau alasan politis tertentu di masa lampau, sehingga eksistensi tokoh Pontius Pilatus ini penting untuk diabadikan dan selalu diucapkan.

Ini bukan perihal fundamental iman, bukan komplain, bukan usulan, karena saya yakin kita semua sepakat Pontius Pilatus hanya tokoh sejarah biasa.
Malah bisa-bisa keturunannya Pilatus minta hak royalti atas nama kakek moyangnya… just kidding :slight_smile:

Peace ah, GBU.

Mengapa Pontius Pilatus disebut dalam Pengakuan Iman?
Semata untuk menegaskan waktu saja, karena nama seorang pejabat tinggi bisa dirujuk waktunya.
Maka kalau kita perhatikan, bunyinya adalah ‘Yang menderita sengsara dibawah pemerintahan Pontius Pilatus
Seperti juga kita sering mendengar dalam kisah kisah lain, bahwa si Anu hidup pada masa raja Itu, dsb.

Syalom

Nama Pontius Pilatus tidak dapat dilepaskan dari kematian Yesus di kayu salib :
Setiap minggu kita menyebutkan namanya dalam pengakuan Iman Rasuli, “….yang menderia sengsara d bawah pemerintahan Pontius Pilatus”. Dalam Injil Yohanes, Pilatus memang menjadi seorang actor antagonis, pemutus hukuman mati atas Yesus. Namun yang menarik, melalui ucapan dan tindakan Pilatus itu, Yesus justru diakui sebagai Raja. Diantara ketiga injil lainnya, Yohanes justru ingin menegaskan bahwa peristiwa penyaliban adalah peristiwa pemuliaan Yesus sebagai Raja. Yohanes 18: 33-37a & 19:17-22, Yohanes mencatat lebih rinci dibanding tiga kita lainnya tentang Pilatus yang menaruh tulisan dalam tiga bahasa, “Yesus, orang Nasaret, Raja orang Yahudi”. Ketika Pilatus didesak untuk mengganti tulisan itu, ia berkata, “apa yang kutulis tetap tertulis”. Pasti saja maksudnya untuk mengejek dan menghina Yesus, namun kebenaran tetap terungkap. Apa yang tertulis tetap tertulis, bahwa Allah mampu menunjukkan kerajaan-Nya melalui penderitaan.
Dalam Yohanes 18:33 Pilatus bertanya, “Engkau inikah Raja orang Yahudi?” ketika Pilatus bertanya lagi pada ayat 37, “Jadi Engkau adalah Raja?” Yesus menjawab, “Engkau mengatakan bahwa aku adalah Raja”. Pengakuan itu muncul dari mulut Pilatus. Jika Allah mampu menyatakan kebenaran melalui seekor keledai dungu milik Bileam, tentu Allah mampu juga menyatakan kebenaran melalui Pilatus. Yesus memberi kesempatan kepada Pilatus untuk mengubah ejekan itu menjadi pengakuan, juga cemoohan menjadi keyakinan, bahwa Yesus memang adalah Raja. Itu sebabnya pada ayat 34 Yesus berkata, “Apakah engkau katakan hal itu dari hati kamu sendiri, atau adakah orang lain yang mengatakannya kepadamu tentang Aku?” Yesus memberi kesempatan kepada Pilatus untuk jujur pada nuraninya sendiri. Sama persis ketika Yesus bertanya kepada Petrus, “Tetapi menurutmu siapakah Aku? Jangan menurut orang lain, tapi bagaimana menurutmu!”.

Kebenaran Yesus sebagai Tuhan tidak ditentukan oleh pengakuan orang lain, tetapi kerajaan Yesus tetap tampil karena kasih Yesus. Bagaimana Yesus menuntun Pilatus untuk merenungkan pertanyaan dan ejekannya pada Yesus .

Nama Pontius Pilatus tidak dapat dilepaskan dari kematian Yesus di kayu salib : Setiap minggu kita menyebutkan namanya dalam pengakuan Iman Rasuli, “….yang menderia sengsara d bawah pemerintahan Pontius Pilatus”. Dalam Injil Yohanes, Pilatus memang menjadi seorang actor antagonis, pemutus hukuman mati atas Yesus.

Coba cek Alkitab lagi, benarkah Pontius Pilatus yang memutuskan hukuman mati bagi Jesus?
Bukankah bahkan Pilatus mencoba menyelamatkan Jesus dengan memberi tawaran ‘pilih satu’ antara Jesus dan Barabas? Siapa yang kemudian mengatakan ‘salibkan Dia !’ ?

mnrt dugaan saya sih…
sebagai manifestasi common enemy…

seperti lazimnya teori organisasi…
afinitas antar anggota intra-organisasi akan lebih mudah diperkuat dengan selalu ‘reminding’ bahwa ada common enemy yg harus dihadapi bersama…

seribu lima ratus - seribu delapanratus - duaribu tahun kemudian…
strategi common enemy ini tentu dipakai lagi sebagai assistive tools dalam rangka penguatan afinitas organisasi yg baru muncul, sekaligus dalam upaya penambahan jumlah anggota.

tentu, secara amat mudah bisa disepakati bahwa common enemy yg paling tepat adalah: the leading brand.

mohon maap lagi…
but i cant help but to consistently keep finding that marketing p.o.v is STILL offering the most appopriate & logical explanation to these questions…

Pontius Pilate

In the Gospel of Matthew, Pilate washes his hands to show that he was not responsible for the execution of Jesus and reluctantly sends Him to His death. The Gospel of Mark, depicting Jesus as innocent of plotting against the Roman Empire, portrays Pilate as reluctant to execute Jesus. In the Gospel of Luke, Pilate agrees that Jesus did not conspire against Rome. In the Gospel of John, Pilate states “I find no guilt in Him (Jesus)” and he asks the Jews if Jesus should be released from custody.

Pilate ordered a sign posted above Jesus on the cross stating “Jesus of Nazareth, The King of the Jews” to give public notice of the legal charge against him for his crucifixion. The chief priests protested that the public charge on the sign should read that Jesus claimed to be King of the Jews. Pilate refused to change the posted charge, saying “What I have written, I have written.” (“Quod scripsi, scripsi”). This may have been to emphasize Rome’s supremacy in crucifying a Jewish king; it is likely, though, that Pilate was offended by the Jewish leaders using him as a catspaw and thus compelling him to sentence Jesus to death contrary to his own will.

Unlike the synoptic gospels, the Gospel of John gives more detail about that dialogue taking place between Jesus and Pilate. In John, Jesus seems to confirm the fact of his kingship, although immediately explaining, that his “kingdom” was “not of this world”; of far greater importance for the followers of Christ is his own definition of the goal of his ministry on earth at the time. According to Jesus, as we find it written in John 18:37, Jesus thus describes his mission: “(I) came into the world…to bear witness to the truth; and all who are on the side of truth listen to my voice”, to which Pilate famously replied, “What is truth?” (“Quid est veritas?”) (John 18:38⁠).

The end result was the same for Jesus and Pilate, as it was in all the other three Gospels (Matthew, Mark, Luke). In the same chapter of John 18 verse 38 (King James Version, compare with other versions) the conclusion Pilate made from this interrogation was: “I find in him no fault at all”.

Eusebius (325), although he mentions an Acta Pilati that had been referred to by Justin and Tertullian shows no acquaintance with this work. Almost surely it is of later origin, and scholars agree in assigning it to the middle of the 4th century. Epiphanius refers to an Acta Pilati similar to this, as early as 376 AD, but there are indications that the current Greek text, the earliest extant form, is a revision of an earlier one.

Eusebius, stated that Pilate suffered misfortune in the reign of Caligula (AD 37–41), was exiled to Gaul and eventually committed suicide there in Vienne. The 10th century historian Agapius of Hierapolis, in his Universal History, says that Pilate committed suicide during the first year of Caligula’s reign, in AD 37/38.

Justin the Martyr – The First and Second Apology of Justin Chapter 35-“And that these things did happen, you can ascertain from the Acts of Pontius Pilate.”

In the Eastern Orthodox Church, Pilate’s wife Claudia Procula is commemorated as a saint, the Ethiopian Orthodox Tewahedo Church recognized Pilate as a saint in the 6th century, based on the account in the Acts of Pilate, as it does his wife, Claudia Procula, whose strange dream of Christ induced her to try to stop his crucifixion.

[b]Pilate:

  1. A man who clearly sees how the story of Jesus will affect human history
  2. A man who regrets his role in Jesus’ death (to greater or lesser extents, depending on the work)[/b]

Salam

Itulah pentingnya mengetahui bukan saja Alkitab, tetapi tulisan para bapa Gereja mula-mula, mengetahui sejarah gereja.

:smiley:

:afro:
Hanya Gereja Katolik Roma dan Gereja-Gereja Katolik Orthodox yang belajar sejarah Alkitab dan sejarah Gereja, dan hanya protestan yang beli Alkitab di toko buku, kemudian menuduh mereka yang mengkanonkan Alkitab sesat.

Begitulah… Begitulah…

Salam

Karena memang lebih mudah menyatakan teori relativitas itu keliru dibanding belajar tentang teori relativitas. Begitu kira kira ya, bro?

;D ;D ;D

Kalau belajar dengan sungguh-sungguh sejarah Gereja dan sejarah Alkitab, “bisa jadi” mereka semua menghubungi paroki terdekat.

Begitulah… Begitulah…

Salam

tepat sekali…
dan juga mudah banget menyatakan bahwa orang-orang yang mempelajari teori relativitas itu sesat…

habis bikin pusing sih…
daripada sampe kriting ikutan belajar… mending langsung aja kasih CAP: SESAT…
beres kan… gampang… dan tampak saleh serta kelihatan layak masuk surga…
hehe…

Betul, dan saya juga sangat sependapat dengan bro Malai di atas, kalau sampai mereka ‘coba-coba’ baca sejarah gereja Kristen, maka paroki akan segera kebanjiran peminat katekisasi. Bisa repot kalau bedol desa.

:mad0261:

Bagi saya, sosok Pontius Pilatus bukan tokoh sejarah biasa, sosoknya sangat penting terutama dari sisi PEMBUKTIAN SEJARAH. Bahwa PENYALIBAN YESUS KRISTUS bukan sekedar kepercayaan/ iman agamawi, tetapi sekaligus FAKTA SEJARAH. Nama Pontius Pilatus sangat penting dalam kaitan pengesahannya atas kematian Yesus Kristus.

Reff: http://www.sarapanpagi.org/pontius-pilatus-vt6622.html#p28580

Nama Pontius Pilatus terdapat dalam catatan-sejarah sekuler, dicatat dalam:

  • Tacitus, Annals, 15. 44
  • Yosefus menceritakan (Ant. 18. 55; BJ 2. 169)
  • Filo (De Legatione ad Gaium, 299)
  • Eusebius (Ecclesiastical History (EH) 2.7)
  • Noldius (De Vita et Gestis Herodum 1660, 249)

[QUOTE]Hal-hal yang menarik untuk dicermati dari tindakan Pilatus pada peristiwa penyaliban Yesus Kristus:

1. Pilatus melakukan tindakan “mencuci-tangan”
Tindakan tsb. sebagai tanda tidak mau bertanggung-jawab atas keputusan hukuman mati dengan cara penyaliban kepada Yesus Kristus,

* Matius 27:24
Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!”

2. Pilatus dan gelar Yesus Kristus.

Ia menulis pernyataan pada salib Yesus Kristus: “Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi” dalam 3 bahasa:

* Yohanes 19:19-20
19:19 LAI TB, Dan Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya:
19:20 LAI TB, Banyak orang Yahudi yang membaca tulisan itu, sebab tempat di mana Yesus disalibkan letaknya dekat kota dan kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa Latin dan bahasa Yunani.

Para Imam-imam mengajukan protes kepada Pilatus agar dia tidak memasang tulisan itu (Yohanes 19:21), tetapi permintaan itu ditolaknya, ia berkata “Apa yang kutulis, tetap tertulis” (Yohanes 19:22). Dari ketiga bahasa yang dipakai oleh Pilatus menunjukkan bahwa pada kala itu terdapat multi-lingual yang terjadi dan berlaku di wilayah Yudea yang dipimpinnya.

3. Pilatus dan kuburan Yesus.

Para musuh Yesus Kristus, ingin memastikan kematian Yesus Kristus dan meminta supaya Pilatus membunuh Yesus di atas salib dengan mematahkan kaki-Nya, namun yang dilakukan para prajurit adalah menikam lambung-Nya (Yohanes 19:31-34). Dan kembali mereka melanjutkan permintaan mereka agar Pilatus memerintahkan para prajuridnya menjaga kuburan Yesus Kristus. Alasan dari permintaan tsb adalah karena kekawatiran terjadinya nubuat yang diucapkan Yesus bahwa “Sesudah tiga hari Aku akan bangkit” (Matius 27:62-64). Pilatus meluluskan permintaan tsb (Matius 27:65-66).

Hal lain yang menarik adalah disebutkannya nama Pilatus di dalam credo Kristiani:

Reff: http://www.sarapanpagi.org/pengajaran-pengakuan-iman-rasuli-vt96.html#p5852 Pengakuan Iman Rasuli, bagian 4 : Yang menderita sengsara dibawah pemerintahan Pontius Pilatus , disalibkan mati dan dikuburkan turun ke dalam kerajaan maut

Adalah menarik mengenai pentingnya pernyataan “yg menderita di bawah Pontius Pilatus” dalam pengakuan iman Kristen. Dari teks pengakuan iman tersebut dipertegas bahwa Yesus menderita sengsara disalibkan mati (bukan pingsan atau mati suri) dan dikuburkan. Bahkan dipertegas fakta sejarahnya, yaitu dibawah pemerintahan Pontius Pilatus, seorang wali negeri yang berkuasa atas provinsi Yudea. Nama Pilatus muncul dalam pengakuan iman tersebut sebagai fakta catatan sejarah, sekaligus peringatan tipe orang yang mecuci tangan tanda tak mau bertanggung jawab, sekalipun dia sanggup untuk itu. Di bawah perintahnyalah maka Yesus di salibkan dan mati (lihat S Liberty, ‘The Importance of Pontius Pilate in Creed and Gospel’, JTS 45, 1944, hlm 38-56).
[/quote]

hmm… saya sepnedapat dgn mas sarapan…

bener juga…

untuk memperkuat ‘historical claim’ atas teks-teks alkitab lainnya…

good point masbro…

Nama Pontius Pilatus sangat penting dalam kaitan pengesahannya atas kematian Yesus Kristus. sekaligus peringatan tipe orang yang mecuci tangan tanda tak mau bertanggung jawab, sekalipun dia sanggup untuk itu. setuju

Pontius Pilate

In the Gospel of Matthew, Pilate washes his hands to show that he was not responsible for the execution of Jesus and reluctantly sends Him to His death. The Gospel of Mark, depicting Jesus as innocent of plotting against the Roman Empire, portrays Pilate as reluctant to execute Jesus. In the Gospel of Luke, Pilate agrees that Jesus did not conspire against Rome. In the Gospel of John, Pilate states “I find no guilt in Him (Jesus)” and he asks the Jews if Jesus should be released from custody.

Pilate ordered a sign posted above Jesus on the cross stating “Jesus of Nazareth, The King of the Jews” to give public notice of the legal charge against him for his crucifixion. The chief priests protested that the public charge on the sign should read that Jesus claimed to be King of the Jews. Pilate refused to change the posted charge, saying “What I have written, I have written.” (“Quod scripsi, scripsi”). This may have been to emphasize Rome’s supremacy in crucifying a Jewish king; it is likely, though, that Pilate was offended by the Jewish leaders using him as a catspaw and thus compelling him to sentence Jesus to death contrary to his own will.

Unlike the synoptic gospels, the Gospel of John gives more detail about that dialogue taking place between Jesus and Pilate. In John, Jesus seems to confirm the fact of his kingship, although immediately explaining, that his “kingdom” was “not of this world”; of far greater importance for the followers of Christ is his own definition of the goal of his ministry on earth at the time. According to Jesus, as we find it written in John 18:37, Jesus thus describes his mission: “(I) came into the world…to bear witness to the truth; and all who are on the side of truth listen to my voice”, to which Pilate famously replied, “What is truth?” (“Quid est veritas?”) (John 18:38⁠).

[b]The end result was the same for Jesus and Pilate, as it was in all the other three Gospels (Matthew, Mark, Luke). In the same chapter of John 18 verse 38 (King James Version, compare with other versions) the conclusion Pilate made from this interrogation was: “I find in him no fault at all”. In the Act of Peter, Pilate said: “I am pure from the blood of the Son of God”

The Act of Pilate purports to be a report by Pontius Pilate containing evidence of Jesus Christ’s messiahship and godhead.[/b]

Eusebius (325), although he mentions an Acta Pilati that had been referred to by Justin and Tertullian shows no acquaintance with this work. Almost surely it is of later origin, and scholars agree in assigning it to the middle of the 4th century. Epiphanius refers to an Acta Pilati similar to this, as early as 376 AD, but there are indications that the current Greek text, the earliest extant form, is a revision of an earlier one.

Eusebius, stated that Pilate suffered misfortune in the reign of Caligula (AD 37–41), was exiled to Gaul and eventually committed suicide there in Vienne. The 10th century historian Agapius of Hierapolis, in his Universal History, says that Pilate committed suicide during the first year of Caligula’s reign, in AD 37/38.

Justin the Martyr – The First and Second Apology of Justin Chapter 35-“And that these things did happen, you can ascertain from the Acts of Pontius Pilate.”

In the Eastern Orthodox Church, Pilate’s wife Claudia Procula is commemorated as a saint, the Ethiopian Orthodox Tewahedo Church recognized Pilate as a saint in the 6th century, based on the account in the Acts of Pilate, as it does his wife, Claudia Procula, whose strange dream of Christ induced her to try to stop his crucifixion.

[b]Pilate:

  1. A man who clearly sees how the story of Jesus will affect human history
  2. A man who regrets his role in Jesus’ death (to greater or lesser extents, depending on the work)[/b]

Salam

NB: perhatikan yang dibold

Justru sebaliknya, Pontius Pilatus adalah orang yang menyatakan bahwa Yesus adalah Tidak berdosa (tidak bersalah) dihadapan semua orang, tercatat didalam Alkitab maupun Tradisi Suci!

Pontius Pilatus menyatakan bahwa Yesus adalah ALLAH PUTERA:

[b]The end result was the same for Jesus and Pilate, as it was in all the other three Gospels (Matthew, Mark, Luke). In the same chapter of John 18 verse 38 (King James Version, compare with other versions) the conclusion Pilate made from this interrogation was: "I find in him no fault at all". In the Act of Peter, Pilate said: "I am pure from the blood of the Son of God"

The Act of Pilate purports to be a report by Pontius Pilate containing evidence of Jesus Christ’s messiahship and godhead.[/b]


Dan para Bapa Gereja Awal memberikan kesaksian mengenai hal itu!

Eusebius (325), although he mentions an Acta Pilati that had been referred to by Justin and Tertullian shows no acquaintance with this work. Almost surely it is of later origin, and scholars agree in assigning it to the middle of the 4th century. Epiphanius refers to an Acta Pilati similar to this, as early as 376 AD, but there are indications that the current Greek text, the earliest extant form, is a revision of an earlier one.

Justin the Martyr – The First and Second Apology of Justin Chapter 35-“And that these things did happen, you can ascertain from the Acts of Pontius Pilate.”


Gereja-Gereja Katolik Orthodox dengan lantang penuh iman menyatakan Pontius Pilatus adalah seorang Santo (Orang Kudus)!

[b]In the Eastern Orthodox Church, Pilate's wife Claudia Procula is commemorated as a saint, the Ethiopian Orthodox Tewahedo Church recognized Pilate as a saint in the 6th century, based on the account in the Acts of Pilate, as it does his wife, Claudia Procula, whose strange dream of Christ induced her to try to stop his crucifixion.[/b]
Bersambung...

Sambungan…

Tidak ada didalam Alkitab?

Tidak juga, pernyataan Pilatus didepan orang banyak dan dia menghormati Tubuh Kristus:

Yoh 18:38 Kata Pilatus kepada-Nya: “Apakah kebenaran itu?” Sesudah mengatakan demikian, keluarlah Pilatus lagi mendapatkan orang-orang Yahudi dan berkata kepada mereka: "Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya.

Pilatus mengetahui kebenaran, dan menyatakannya kepada orang banyak!

Yoh 19:4 Pilatus keluar lagi dan berkata kepada mereka: "Lihatlah, aku membawa Dia ke luar kepada kamu, supaya kamu tahu, bahwa aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya."

Pilatus tetap membela dan menyatakan Yesus tidak berdosa.

Yoh 19:5 Lalu Yesus keluar, bermahkota duri dan berjubah ungu. Maka kata Pilatus kepada mereka: “Lihatlah manusia itu!”

Pilatus: “Ecce Homo”!

Yoh 19:6 Ketika imam-imam kepala dan penjaga-penjaga itu melihat Dia, berteriaklah mereka: “Salibkan Dia, salibkan Dia!” Kata Pilatus kepada mereka: "Ambil Dia dan salibkan Dia; sebab aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya."
Luk 23:4 Kata Pilatus kepada imam-imam kepala dan seluruh orang banyak itu: “Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada orang ini.”

Pilatus tetap menyatakan Yesus tidak berdosa!

Yoh 19:11-12 Yesus menjawab: “Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas. Sebab itu: dia, yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya.” Sejak itu Pilatus berusaha untuk membebaskan Dia, tetapi orang-orang Yahudi berteriak: “Jikalau engkau membebaskan Dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap dirinya sebagai raja, ia melawan Kaisar.”
Luk 23:20 Sekali lagi Pilatus berbicara dengan suara keras kepada mereka, karena ia ingin melepaskan Yesus.

Pilatus berusaha membebaskan Yesus bahkan sampai marah!

Yoh 19:15 Maka berteriaklah mereka: “Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!” Kata Pilatus kepada mereka: “Haruskah aku menyalibkan rajamu?” Jawab imam-imam kepala: “Kami tidak mempunyai raja selain dari pada Kaisar!”

Tidak hanya menyatakan Yesus tidak berdosa, berkali-kali Pilatus membela Yesus dan menyatakan Yesus adalah Raja.

Yoh 19:21-22 Maka kata imam-imam kepala orang Yahudi kepada Pilatus: “Jangan engkau menulis: Raja orang Yahudi, tetapi bahwa Ia mengatakan: Aku adalah Raja orang Yahudi.” Jawab Pilatus: “Apa yang kutulis, tetap tertulis.”

Pilatus menolak menyangkal Yesus adalah Raja dan tidak berdosa!

Mat 27:17,19, 22 Karena mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka: “Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?” Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya: "Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam." Kata Pilatus kepada mereka: “Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?” Mereka semua berseru: “Ia harus disalibkan!”

Pilatus menyebut Yesus adalah Kristus berkali-kali, ini selaras dengan Tradisi Suci yang ada, dan keduanya, pilatus dan istrinya Claudia, menyatakan bahwa Yesus adalah Orang Benar.

Mat 27:24 Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!”

Pilatus tahu bahwa Yesus adalah Orang Benar, tidak berdosa, dan berkali-kali berusaha membebaskan Yesus!

Mat 27:25 Dan seluruh rakyat itu menjawab: “Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!”

Inilah yang menyebabkan Pilatus mencuci tangan, “menyucikan” dirinya dan keturunannya.

Mengapa Pilatus tidak bisa membebaskan Yesus?

Apakah dia tidak membebaskan karena dia tidak mau walaupun punya kemampuan untuk itu?

Mrk 15:6 Telah menjadi kebiasaan untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu menurut permintaan orang banyak.

Pilatus TIDAK BISA membebaskan Yesus karena ada syaratnya, “menurut permintaan orang banyak”!

Bersambung…

Sambungan…

Mrk 15:44-45 Pilatus heran waktu mendengar bahwa Yesus sudah mati. Maka ia memanggil kepala pasukan dan bertanya kepadanya apakah Yesus sudah mati. Sesudah didengarnya keterangan kepala pasukan, ia berkenan memberikan mayat itu kepada Yusuf.

Pilatus ketika Yesus sudah disalibkan, ditombak, masih berkeyakinan Yesus tidak akan mati!

Yoh 19:38 Sesudah itu Yusuf dari Arimatea–ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi–meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus. Dan Pilatus meluluskan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu.
Mat 27:58 Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus memerintahkan untuk menyerahkannya kepadanya.

Bahkan, ketika Yesus telah wafat, Pilatus masih menghormati-Nya!

Kalau dilihat, Pilatus sama berimannya dengan para Rasul, dan berani menentang orang banyak dengan menyatakan Yesus adalah Raja, Orang Benar dan tidak berdosa!

Salam

NB: iman Rasuli tidaklah sama dengan iman karbitan hasil “ahli-ahli tafsir” ribuan tahun kemudian, yang dengan lagak yang sok menjudge iman rasuli Gereja-Gereja yang didirikan para Rasul!!!

:afro: :happy0062: !!