News

Umat Kristen Dunia Wajib Bela Iman Percaya

TUESDAY, 01 MARCH 2011
Total View : 249 times

Sikap beberapa masyarakat Inggris yang mempunyai pandangan salah terhadap posisi umat Kristen dalam menghadapi peraturan yang mendiskriminasi, membuat beberapa pimpinan Kristen angkat bicara dan membuat solusi tegas terhadap hal ini, yaitu membela dengan argumentasi yang tepat dan tidak mendiamkan setiap wacana yang menyerang kekristenan.

Salah satunya datang dari teolog Kristen Inggris Jane Williams yang memandang bahwa sudah terlalu banyak umat Kristen yang tidak percaya diri dalam membela iman percaya mereka ketika didiskriminasikan. Ketakutan terbesar mereka adalah pembelaan secara Kristen dianggap sebagai pembelaan yang “tidak benar secara politik.” “Dalam menghadapi situasi semacam itu, umat Kristen tidak boleh malas, pernyataan yang menghina iman harus mampu untuk diberi ruang debat terhadap kepercayaan kita.”

Dirilis Telegraph, Jane mengatakan bahwa ada banyak alasan mengapa orang Kristen enggan untuk mendiskusikan iman mereka bahkan membelanya. Beberapa menganggap bahwa membela iman Kristen sama sekali tidak keren dan hanya akan mengundang cemoohan orang banyak. Pernyataan ini juga datang setelah sebelumnya Uskup Agung Canterbury, Lord Carey, meluncurkan “Not Ashamed” kampanye mendesak orang Kristen untuk membela hak-hak mereka.

Sejak tahun lalu memang banyak umat Kristen di Inggris yang dirugikan atas peraturan dan kebijakan baru yang dibuat oleh pemerintah. Termasuk salah satu hak mendasar seperti pemakaian kalung salib ataupun atribut sederhana Kristen lainnya. Masalah ini juga menjadi sunyi untuk di angkat kepada public karena enggannua umat Kristen disana untuk memperjuangkan hak-haknya.
Source : Telegraph/DPT

wajib memikul salib dan kuk yang berasal dari Tuhan… :slight_smile:

semoga tetap kuat

tetap bangga dan percaya diri menjadi seorang kristen

Kristen Koptik Mesir Demonstrasi Tuntut Persamaan Hak

TUESDAY, 08 MARCH 2011
Total View : 193 times

Atas tindakan diskriminasi dan perlakuan represif yang terjadi secara turun-temurun, masih dalam euforia reformasi, ribuan umat Kristen Koptik di Mesir berinisiatif untuk turun ke jalan menyuarakan aspirasi mereka di Kairo, yang selama ini diabaikan oleh pemerintah.

Kali ini demonstrasi mereka demikian serius dan berani sehingga jembatan yang berada di kawasan Tahrir Square diblokir oleh para pengunjuk rasa seraya meneriakkan yel-yel anti diskriminasi sepanjang Senin malam hingga Selasa (8/3) dinihari.

Para pengunjukrasa terus menuntut tindakan konkret dan kejelasan dari pemerintah Mesir untuk menghapuskan tindakan diskriminatif yang selama ini mereka terima walau militer Mesir telah berjanji akan membangun lebih banyak lagi gereja di Mesir sebagai jawaban dari penghapusan diskriminasi ini.

Lebih dari 10 persen dari 80 juta rakyat Mesir diantaranya adalah penganut Kristen Koptik yang selama ini merasa diperlakukan sebagai warganegara kelas dua oleh pemerintah Mesir, terutama dalam hal lapangan kerja dan pembangunan gereja baru.

Salah satu tindak diskriminasi paling disorot adalah peledakan sebuah gereja Kristen Koptik di Iskandariyah pada malam tahun baru lalu dan menewaskan 21 orang yang tengah menjalani misa malam tahun baru. Insiden pengeboman tersebut memicu aksi unjukrasa besar-besaran dari kaum Kristen Koptik Mesir.

Source : Berbagai Sumber/DPT

Hubungan Asmara Sebabkan Dua Gereja Koptik Mesir Dibakar

TUESDAY, 08 MARCH 2011
Total View : 387 times

Akibat hubungan asmara antar pemuda yang menjadi sengketa diantara keluarga, hampir empat ribu massa yang mengatasnamakan agama di Mesir menyerang pemukiman Kristen Koptik di desa Soul, Atfif Helwan Governorat, 30 kilometer dari Kairo. Parahnya dua gereja yaitu St. Mina dan St. George ikut dibakar oleh kelompok yang tengah tersulut amarah tersebut.

Dirilis AINA.Org, laporan menyebutkan bahwa seorang pendeta bernama Father Yosha dan tiga diaken yang berada di gereja, beberapa mengatakan bahwa mereka tewas dalam kebakaran itu dan beberapa jemaat lainnya ditawan oleh kelompok tersebut. Atas kejadian yang dikhawatirkan akan meluas ini, jam siaga malam telah dikenakan pada lebih dari 12.000 orang Kristen di desa tersebut.

Hubungan asmara antar pemuda yang menjadi penyebab tragedi ini bermula dari Iskander Ashraf jemaat Kristen Koptik yang berhubungan dengan seorang gadis berasal dari agama lain. Protes datang dari sepupu keluarga gadis yang tidak menyetujui hubungan itu dan menginginkan agar gadis itu dihukum mati karena telah mempermalukan nama keluarga. Namun Ayah sang gadis yang meregang nyawa usai dibunuh sang sepupu. Keluarga dari pihak si ayah pun menuntut balas. Pemukiman sang gadis pun menyalahkan Iskander Ashraf atas hal ini.

Massa pun segera menyerang pemukiman Iskander dengan meledakan tabung gas di dalam gereja. Aktivis Ramy Kamel yang bekerja di advokasi Koptik Katibatibia menyebutkan bahwa setelah kejadian itu dirinya segera menghubungi melalui telepon genggam para pendeta dan diaken saat kejadian berada di gereja terbakar tersebut. Namun tidak ada jawaban dari ponsel mereka. Pihak kepolisian pun hingga berita ini diturunkan belum ada yang menyelidiki peristiwa ini.

Source : Jawaban.com : Berita Kesaksian, Kisah Nyata, Hubungan, Doa, Keselamatan, Life Style

PBNU : Tidak Ada Agama Mayoritas, Semua Agama Sejajar

Persoalan perampasan hak beribadah dan mendirikan rumah ibadah bagi GKI (Gereja Kristen Indonesia) Taman Yasmin Bogor rupanya ikut menarik perhatian Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU). Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Imadadun Rahmat menyatakan selama ini pihaknya selalu berkomitmen bahwa Indonesia adalah negara yang berwawasan kebangsaan. Jadi, tidak seharusnya hal seperti ini sampai terjadi.

“Tidak ada agama mayoritas, tidak ada pula privilege (hak istimewa). Semua agama diposisikan sejajar,” tegas Imdadun dalam jumpa pers yang digelar Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) di Jakarta. Imdadun juga menyatakan keprihatinan NU dengan munculnya intoleransi, terutama di kalangan kelompok radikal. Menurutnya, NU sudah sejak lama berjuang melawan kelompok-kelompok radikal yang cenderung menumbuhkan kebencian dalam khotbah-khotbah agamanya.

“NU sangat menyesalkan berbagai bentuk tindak kekerasan di kalangan minoritas. Kondisi ini seperti menunjukkan negara melakukan pembiaran,” imbuhnya. “Perbedaan keyakinan tidak boleh dijadikan dasar tindak kekerasan dan kesewenang-wenangan, dimana menempatkan kelompok minoritas sebagai korban,” ujar Imdadun.

Berkaca pada kasus GKI Taman Yasmin Bogor ini, NU mendesak negara dan pemerintah untuk memberikan perlindungan dan keselamatan, khususnya di dalam hal kebebasan beragama. “Kalau permasalahan kebebasan beragama ini tidak segera diselesaikan maka Indonesia akan hadapi disintegrasi yang sangat serius. Gagal sebagai negara, dan ambruk sebagai nation state,” pungkas Imdadun.

Kasus GKI Taman Yasmin merupakan contoh nyata dimana ketika kaum minoritas tidak menyalahi aturan dan ingin menjalankan hak kebebasan beragamanya, ada pihak-pihak yang membuat intoleransi semakin nyata terjadi. Jika pemerintah tidak serius dalam menanggapi kasus ini dengan tegas, dikuatirkan akan melebar ke masyarakat luas.

Source : mediaindonesia/lh3

INILAH.COM, Jakarta - Aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL), Ulil Abshar Abdalla meyakini, pihak yang berada di balik pengiriman bom melalui paket buku adalah jaringan yang sangat profesional.

“Ini sangat cerdik sekali, saya yakin ini adalah kelompok yang profesional bukan amatir,” tandas Ulil kepada wartawan ketika hendak meninggalkan kompleks Komunitas Utan Kayu, tempat bom meledak, Jakarta Timur, Rabu (16/3/2011).

Menurut dia, belum pernah ada modus pengiriman bom yang disamarkan melalui paket buku sebelumnya di Indonesia. Indikasi lain, terang dia, pengirim yang menggunakan alamat, nama hingga gelar dirinya yang begitu lengkap bisa mencerminkan keprofesionalan pihak di balik itu.

“Itu well-designed, direncanakan dengan sangat baik sekali. Kita bisa mengendus sebenarnya siapa yang berada di balik ini,” ujar Ulil. Namun Ulil sendiri mengaku tidak memiliki bayang-bayang siapa pihak di balik pengiriman bom itu.

Meski dilakukan oleh ‘pemain’ yang profesional namun Ulil juga menilai bahwa maksud pengiriman bom itu sebenarnya bukan untuk melukai fisik seseorang melainkan baru taraf peringatan.

Lagi-lagi hal itu dilihatnya dari pemilihan jenis bom yang dikirimkan. “Tujuan mereka tidak melukai hanya warning. Kadar bomnya kan low (berdaya ledak rendah),” tandasnya.

Namun demikian menurut dia, apapun niat dari pengiriman bom itu, hal itu sudah merupakan bagian dari terorisme. Khususnya terhadap aktivitasnya yang cenderung membela minoritas yang memiliki keyakinan berbeda dengan orang kebanyakan.

“Ini menimbulkan teror terhadap orang-orang yang punya pandangan berbeda dan memperjuangkan prinsip baik dalam hal keberagaman, kebebasan agama. Ini murni bersifat politis yang mengarah pada aktivis HAM yang perjuangkan kebebasan beragama.” [mah]