Nggak mau kalah...

Setelah hidup dua puluh tahun lebih, saya baru sadar kalau ternyata saya itu mudah sirik. Awalnya saya pikir saya memang nggak suka kalah. Saya merasa itu wajar, memangnya ada ya orang yang suka kalah? Tapi setelah merenung, sepertinya logika itu cuma “excuse” dari sifat sirik itu.

Saya sirik karena banyak teman yang nilainya pas-pasan waktu kuliah ditambah bisa lulus karena skripsinya dibantuin, ternyata bisa melanjutkan kuliah sampai ke luar negeri.
Saya punya cita-cita, mendatangi pantai-pantai di berbagai pelosok Indonesia, tapi kelihatannya cuma jadi impian muluk saja. Saya sirik banget sama teman atau saudara yang bisa jalan-jalan keluar negeri tanpa harus nabung (buang-buang devisa aja)
Saya sirik karena mertua memberi modal usaha buat kakak suami saya, sementara suami saya tidak. Bahkan uang yang dipinjam suami kepada orangtuanya harus dicicil.
Saya sirik sama orang yang meskipun makannya banyak, tapi tetap kurus langsing. Halah…

Yah, pokoknya kalau dibikin daftar sih bakal banyak deh. Parahnya saya baru nyadar lagi.

Sebetulnya saya heran kenapa saya punya sifat begini. Padahal orangtua saya nggak (nurun dari mana ya?) Saya khawatir anak saya pun akan seperti saya. Sekarang saya sedang banyak berdoa supaya Tuhan ambil sifat sirik ini. Saya yakin hidup saya akan lebih indah kalau saya nggak sirik sama rumput tetangga yang lebih hijau.

Hal seperti ini kelihatannya simpel, padahal sih… amit-amit deh. Bersyukur lah orang yang selalu bisa bersyukur!

Keliatannya sifat sirikmu itu muncul karena alasan yg sangat simple,
yaitu kamu tdk pernah bisa bersyukur untuk apa yg ada pd mu
Biasakan utk selalu bersyukur utk segala keadaanmu,
tdk usah membandingkannya dgn org lain yg anda anggap lbh beruntung
Cobalah mulai lakukan syukuri apa2 yg kamu punya,
jadi tdk perlu minta Tuhan utk mengambil sifat sirikmu
GBU

*btw kyknya judulnya salah ketik deh… harusnya “nggak mau kalah”
sorry…

@pa_ul
Iya kali yah :slight_smile:
Tapi kalo dibilang tidak pernah bisa bersyukur, saya bakal protes deh (canda denk)
Saya bersyukur karena punya suami yang perhatian dan sabar. Saya bersyukur karena punya anak yang sehat. Dan saya sangat bersyukur karena lahir dari orangtua yang sangatttttt baik. meskipun kadang ada berantemnya
Cuma… ya itulah… ternyata menghilangkan sirik itu nggak semudah diucapkannya.

Judulnya bisa di koreksi dgn klik modify di TRIT awal, terus judulnya dirubah, save
kayanya ucapan syukurnya kurang dan monoton deh,
dan sori banget, kayanya kurang tulus tuh, cuma dimulut doang :slight_smile:
GBU

Sebenarnya menurut saya perasaan itu wajar-wajar aja, yang terpenting kita tahu bahwa perasaan seperti itu tidak membawa hal yang positif, sehingga tidak membiarkan diri hanyut oleh perasaan tersebut.

Terkadang , dari situasi yang terjadi, istilah yang lebih tepat bukan sirik tetapi merasa ‘diperlakukan tidak adil’. Tetapi apa pun itu, dan apa pun penyebabnya, perasaan seperti itu akan membawa dampak yang urang baik bagi diri kita sendiri.

Jadi sebaiknya disyukuri aja. Misalnya, jika ada saatnya saya diperlakukan tidak adil maka saya anggap aja sebagai nasib. Maka bisa disyukuri. Bahwa apa yang diijinkan Tuhan untuk terjadi adalah baik untuk kita. Dan apa yang kita imani dalam hidup kita, Tuhan akan bilang: jadilah sesuai dengan iman-mu. Bagaimana pun berpikiran positif selalu lebih baik dari negatif.

GBU

Perasaan iri adalah wajar… sebab itu adalah bentuk jawaban dari ego kita… namun dari hasil iri ini perbuatan apa yang kita lakukan dengan nyata… ??? apakah ke arah positif atau negatif…??? dalam arti berdiam diri, dipendam terus dan akhirnya meracuni kita dan membuat kita jauh dari TUHAN dan jauh dari sukacita…??? atau memacu kita untuk ditumpahkan dalam bentuk upaya kita melalui usaha misalnya sehingga keirian kita menjadi impian kita yang ingin dicapai dan bila TUHAN memberkati usaha kita akhirnya kita bisa mewujudkan impian kita… atau dengan merencanakan segala keuangan kita sehingga lebih efisien dan sisa tabungan yang dikumpulkan bisa kita gunakan untuk sedikitnya bisa mendekati impian kita dan bersyukur bahwa TUHAN telah mengijinkan itu terjadi sebagai buah berkat yang TUHAN berikan pada kita… segala sesuatunya adalah pilihan anda… dan renungkanlah apakah pilihan anda itu bisa dipersembahkan pada TUHAN sebagai bentuk terimakasih pada TUHAN… selamat memilih… ^^

Nah itulah yang bikin saya gelisah… kayaknya sih perasaan sirik yang belakangan melanda malah berdampak negatif deh, terutama yang menyangkut keluarga dan in laws… saya jadi malas ketemu orang yang bersangkutan, nggak antusias kalau suami membicarakan mereka, dan kalaupun ketemu rasanya pengen cepet pulang. Tapi saya nggak bisa ngomongin hal ini ke suami, soalnya dia pasti sedih banget kalau tahu. Jangankan ke suami, ke semua orang pun saya malu untuk ngomongin soal rasa sirik ini (makannya saya sharing di forum hihi…)

karena kalian adalah satu tubuh… walau bagaimanpun harus diceritakan pada suami agar suami mengetahui dan mengerti… siapa tahu dengan begitu akan ada penyelesaiannya… sesuatu yang tidak baik bila dipendam sendiri akan berbahaya bagi kehidupan nantinya… hati2lah… disini anda masih mengalami kehidupan yang berpusat pada diri sendiri… belum berpusat pada kehendak TUHAN… damaikanlah hati dengan lebih dekat padaNYA…