Noordin M Top

http://bendeddy.files.wordpress.com/2009/07/noordin-m-top.jpg

Berita seputar penggerebekan teroris di Temanggung, Jawa Tengah, masih simpang siur. Merebak kabar, Noordin M Top tewas tertembak dalam penggerebekan tersebut.

“Sudah tertembak. Namun karena wajahnya sering berganti rupa, perlu dipastikan melalui tes DNA,” kata seorang sumber intelijen

Penggerebekan tersebut dilakukan terhadap rumah milik Mohzari (70) di Desa Beji, RT 01/07, Kelurahan Kedu, Kecamatan Kedu, Temanggung.

Densus 88 Mabes Polri sebelumnya telah menangkap dua pria bernama Indra (35) dan Aris (38) di Pasar Parakan Temanggung. Kedua laki-laki itu merupakan keponakan Mohzari.

sumber: Detiknews

Seru yaq!! :slight_smile:

bukan noordin tu yang mati

keliatane gitu…yaq.
Kenapa juga…gamber wajahnya …ngga diliatin saat itu
Jd bikin penasaran …tunggu beritanya

ayo dong pak polisi, cepetan ditangkap tuh teroris sialan,

Kalo mereka tidak kenal Noordin ,
mengapa juga Densus 88 menyergap rumah mrk… dan mengasumsikan … yang di dlm adl.Noordin :mad0261:

Kesaksian Istri Indra dan Aris, Dua Warga yang Ditangkap Densus 88
13:32 | Monday, 10 August 2009
Syok Lihat Suami Dihajar, Pastikan tak Kenal Noordin

Melihat suami ditangkap tim Densus 88, istri Indra dan Aris bingung dan sedih. Mereka terus bertanya-tanya seperti apa keterlibatan suaminya. Sebab, versi mereka, sang suami tidak punya aktivitas lain selain bekerja di bengkel sepeda.

MUKHTAR LUTFI, Temanggung
ARIS Susanto (31) dan Indra Arif Hermawan (22) dua orang yang ditangkap Densus 88 di tempat mereka bekerja dikenal sebagai pria yang baik. Keduanya memang pernah memiliki catatan buruk sebagai seorang preman pasar. Namun, di mata keluarga, keduanya dikenal sebagai sosok yang baik, taat beribadah, dan bertanggung jawab.

Kesaksian ini dibeberkan langsung oleh istri mereka masing-masing. Istri Indra bernama Rustiningrum (24), warga Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Wonosobo, sedangkan istri Aris Susanto bernama Indaryati (22), warga Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo.

Keduanya ditemui di kediaman mertua mereka di Jalan Kedu-Jumo, Dusun Kedu, Kelurahan Kedu, Kabupaten Temanggung. Rumah itu hanya berjarak kurang lebih tiga kilometer dari rumah Muh Djahri, yang digerebek Densus 88 pada Jumat (7/8) dan Sabtu (8/8) lalu.

Mereka sangat percaya kepada sang suami
Karena itu, keduanya mengaku tidak percaya jika jaringan teroris di negeri ini melibatkan Aris dan Indra. “Saya tidak yakin kalau suami saya terlibat. Dia tidak punya kesibukan lain selain di bengkel itu,” kata Arum, sapaan Rustriningrum, saat ditemui Radar Semarang (grup Sumut Pos), kemarin (9/8).
Arum yang dinikahi Indra pada 3 Desember 2006 itu begitu irit bicara. Banyak pertanyaan wartawan tidak dijawab. Salah satu pertanyaan yang dijawab dengan detail adalah kala dia bercerita tentang penangkapan suaminya.

Saat penangkapan Jumat lalu, Arum sedang berada di bengkel tempat Aris dan Indra bekerja. Bahkan, dia menjadi saksi mata. Dia melihat polisi dan jajaran tim Densus 88 Antiteror tiba-tiba datang, lalu membekap suami dan kakak iparnya dengan disertai ancaman pistol. Tangan dan kaki kedua pria ini pun diikat. Berkali-kali kepala dan wajah mereka ditendang. Setelah itu keduanya pun dibawa pergi dengan mobil.

Melihat itu, Arum seketika menjerit histeris. “Saat itu saya syok. Bahkan, saya sampai lupa menanyakan apakah petugas tersebut membawa surat penangkapan atau tidak,” ujarnya ditemani anaknya, Jessy Alya Ulfiana (4,5), buah hatinya dengan suami pertama.

Belakangan dia baru menyadari bahwa polisi semestinya menyerahkan surat penangkapan. Baik orang yang bersangkutan ditangkap selaku saksi ataupun pelaku kejahatan. Namun, hingga kini keluarga tidak menerima surat penangkapan atau pemberitahuan dalam bentuk apa pun dari polisi. “Mengapa suami saya ditangkap dengan cara seperti itu,” kata perempuan bercadar ini setengah bertanya.

Meski tidak mengetahui keberadaan suami, dia berharap suaminya segera dikembalikan kepada keluarga dengan kondisi seperti semula jika tidak terbukti bersalah.

Pernyataan senada diungkapkan istri Aris, Indaryati, Dia berusaha meyakinkan para wartawan bahwa suaminya juga tidak terlibat dalam jaringan teroris mana pun. Karena itu, dia pun meyakini suaminya tidak bersalah.
Sejauh ini, dia menilai sang suami hanya konsentrasi bekerja di bengkel sepedanya. Kegiatan pengajian atau bertemu teman-temannya hanya dilakukan sesekali. “Teman-temannya juga sebatas warga Kabupaten Temanggung,” tambah Indaryati yang dinikahi Aris pada 2000 lalu.

Bahkan, Indaryati tidak henti-hentinya menunjukkan rasa bangga bersuamikan Aris. Menurut dia, suaminya adalah pria yang baik, bertanggung jawab, sangat menyayangi dirinya, dan anak-anak. Indaryati mengatakan, suaminya juga tidak pernah membawa teman-teman berwajah serupa Noordin M. Top.
“Selama ini wajah Noordin M. Top hanya saya lihat sebatas di poster atau baliho yang tersebar di mana-mana,” ujar perempuan yang dikaruniai tiga anak hasil pernikahannya dengan Aris. Ketiganya adalah Sabrina Alqonsah (5), Amar Najih Ibrahim (2,5), dan Risqina Aulia, (1,5). Dari pernikahan sebelumnya, Aris memiliki seorang anak bernama Anisa Tul’azah (9).
Sayang, Indaryati yang juga memakai jilbab dan bercadar ini begitu irit bicara seperti istri adiknya. Bahkan, dia meminta wartawan mengajukan lima pertanyaan saja. Selain itu, dia meminta setiap perkataannya tidak dipelintir. Sebab, tanpa itu pun, keberadaan keluarganya sering difitnah, disindir, dan dikait-kaitkan dengan kejahatan terorisme. “Mohon, jangan persulit masalah keluarga kami. Kami sudah terlalu banyak difitnah,” harapnya.

Sementara itu, orangtua kedua tersangka, pasangan suami istri Utomo (61), dan Darpihah (57), menyatakan kekecewaannya terhadap aparat kepolisian. Pasalnya, penangkapan kedua anaknya tidak disertai bukti dan keterangan yang jelas.
“Saya menyesal, sakit hati, dan tidak terima anak saya dianggap teroris. Tidak tahu polisi dapat informasi keduanya kaki tangan Noordin dari mana? Sebab, perilaku keduanya tidak menunjukkan pelaku teror. Keduanya jarang pergi. Paling hanya mengaji, dalam seminggu satu atau dua kali,” jelas Utomo yang sehari-hari bekerja sebagai penjahit.

Kini mereka hanya berharap polisi segera memberi tahu keberadaan kedua anaknya. “Mereka itu anak baik. Tolong kembalikan ke kami,” harap Utomo. Selain tidak terima atas penangkapan kedua anaknya, dia kesal terhadap polisi yang mengobrak-abrik rumah kakak mereka, Muh Djahri. “Rumah itu yang bangun saya dan adik-adiknya Pak Djahri, kok dirusak dengan begitu mudahnya,” ujarnya. (jpnn/iro)

http://www.hariansumutpos.com/2009/08/kesaksian-istri-indra-dan-aris-dua-warga-yang-ditangkap-densus-88.html

Kta’a yg d dlm ngaku klo dia Nurdin…
Makin ga pecaya kan???

Noordin M Top ternyata belum meninggal karena Ciri2 kematian Noordin M Top berdasarkan primbon nama sebenarnya harusnya mati di atap rumah : 1. Kalau mati di kamar mandi = Noordin M Pup, 2) Kalau mati di kolam = Noordin M Pang, 3) Kalo mati di Clubbing = Noordin M Club or M bassy, 4) Kalo mati di taman lawang = Noordin M beeeerrr

whuhauhauhauhaa… bisa aja luw !

hahahahahahahahahahaeeee :jumping0048: :happy0071: :happy0065: :happy0064: :onion-head2: ;D ;D ;D

mantap plesetan lo chir…chir, :happy0158: :happy0158:

Hari ini nonton berita ternyata eh ternyata si Noordin M top emang belom meninggal :scared0015:

kayanya teroris ini emang masih berkeliaran :onion-head53:

Hidup Tuhan Yesus… :afro:

Sekalipun bukan Noordin… ttp salut buat densus 88 …keren abis :happy0065:
terus… kejar terroris…
Alice turut berdoa… agar bumi pertiwi tercinta … tidak banjir darah
krn tangan2 yang mau dipakai iblis :’(

http://berita8.com/news.php?cat=2&id=14009

Diperjelas: Jenazah di Temanggung Bukan Noordin M Top
Rabu, 12 Agustus 2009, 11:15 WIB

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Nanan Soekarna menyatakan, tersangka teroris yang tewas saat penyergapan di Temanggung, Jawa Tengah, adalah Ibrohim alias Boim (37), dan bukannya Noordin M Top, buronan berbagai kasus terorisme selama sembilan tahun terakhir ini.

Pernyataan itu disampaikan Nanan Soekarna dalam jumpa pers di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (12/8), bersama dengan Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri (Pusdokkes) Brigjen Pol Edy Saparwoko.

Nanan menegaskan, Polri selama ini tidak pernah menyebutkan identitas jenazah itu, sebelum mendapatkan data yang pasti.

“Ibrohim memiliki peran yang sangat dominan dalam ledakan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Mega Kuningan,” katanya.

Menurut Nanan, peran Ibrohim itu antara lain melakukan survei, memasukkan bom ke dalam hotel dan menyimpan bom di kamar 1808 Hotel Marriott.

Sementara itu, Kapusdokkes Brigjen Pol Edy Saparwoko mengatakan, Polri telah melakukan uji DNA jenazah di Temanggung dengan sampel keluarga yang diambil dari keluarga Noordin M Top di Johor Baru, Malaysia, dan sampel dari keluarga lain yang ada di Cilacap dan Klaten, namun hasilnya tidak identik.

Menurut dia, untuk mengetahui identitas Ibrohim, maka Polri telah melakukan uji DNA dengan kedua anak Ibrohim, satu laki-laki dan satu perempuan, dan hasilnya ternyata identik 100 persen.

Sementara itu, terkait dengan peran Ibrohim yang bekerja sebagai penata bunga di Hotel JW Marriott, Kadiv Humas Polri Irjen Po Nanan Soekarna mengatakan, pada 8 Juli 2009 Ibrohim melakukan survei lokasi bersama dengan tersangka lain yakni Nana Ichwan Maulana, selaku pelaku bom bunuh diri, dan pada 16 Juli Ibrohim memasukkan bom ke dalam hotel.

Nanan Soekarna menjelaskan, bom itu diangkut dengan mobil boks yang biasa dipakai untuk mengangkut barang ke hotel itu dan diturunkan di tempat penurunan barang di belakang hotel.

Agar tidak dicurigai, maka Ibrohim mengangkut sendiri bom yang dibungkus dalam kardus dari atas mobil ke kamar 1808 Hotel Marriott.

“Jadi pada tanggal 17 Juli, ketika tersangka pelaku bom bunuh diri Dani Dwi Permana melewati pintu pemeriksaan di depan dan tertangkap kamera, ia memang tidak membawa apa-apa, sehingga tidak ada kelalaian dari penjaga yang berada di depan hotel,” kata Nanan.

Namun, lanjutnya, justru ada kelemahan pengamanan di tempat penurunan barang sehingga hal ini menjadi perhatian para pengelola hotel.

Dalam kasus ledakan bom Mega Kuningan, Polri telah menahan tiga tersangka lain yakni Aris dan Hendra, warga Temanggung yang berperan sebagai kurir dan menyembunyikan Noordin M Top maupun Ibrohim, serta Amir Abdilah yang tertangkap di Jakarta Utara, berperan sebagai penyedia rumah dan ikut merencanakan peledakan bom di Jati Asih.

Sedangkan tersangka yang tewas yakni Air Setiawan dan Eko Djoko, warga Solo, tertembak di Jati Asih. Keduanya ikut berperan membantu perakitan bom.

Dua pelaku bom bunuh diri yang tewas di lokasi ledakan bom Dani Permana warga perumahan Telaga Kahuripan, Bogor, sebagai pelaku bom bunuh diri Hotel Marriott. Sedangkan Nana Ichwan Maulana, warga Pandeglang, Banten, sebagai pelaku bom bunuh diri di Hotel Ritz-Carlton.

Nanan mengatakan bahwa Yayan yang ditangkap di Jakarta Utara tidak terlibat dalam ledakan bom Mega Kuningan itu, tetapi telah direkrut sebagai pelaku bom bunuh diri untuk aksi berikutnya.

Sedangkan Muhjahri, pemilik rumah di Temanggung, diserahkan ke Polda Jawa Tengah untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Menurut Nanan, Noordin M Top dalam peristiwa ledakan bom itu adalah aktor utama kendati tidak terlibat langsung di lapangan karena dia yang merencanakan dan memotivasi tersangka lain untuk beraksi.

“Selain itu, masih ada tiga tersangka lain yang masih buron,” kata Nanan tanpa menyebut identitas buronan yang dimaksud. (Rni/Bm/AT)

hahaha… chir gobang gochir … jangan-jangan ente budi anduk/tukul ya ?

@ alice

yup… tetep aja salut buat densus 88 yang masih bisa mencium keberadaan antek2nya si Noordin :afro:

Yup!!
Kiranya densus 88 diberi hikmat Tuhan lebih lebih dan lebih lagi… untuk menangkap orang yang buat onar di negeri tercinta ini… :wink:

Tapi coba deh ikutin apa kata orang Malaysia tentang
DENSUS 88 di Topix.com…seru…seru…nyakitin ati!!

buang2 duit aja sampe 17 jam…

sekalian aja datengin panser bomb tuh rumah… 10 menit selesai

Orang yg mirip Noordin sempat terlihat di Jatiasih berdasarkan foto hasil pengintaian polisi, tp polisi tidak membuntutinya dan tidak ada tindak lanjut karena masih sebatas dugaan. Sehingga orang yg ada di foto sudah tidak diketahui keberadaannya.

Wawan Purwanto: Noordin Tak Langsung Ditangkap Karena Takut Membahayakan

Jakarta - Jika benar foto laki-laki yang tertangkap kamera polisi saat pengintaian di Jatiasih adalah Noordin M Top, lalu mengapa polisi tidak langsung menangkapnya? Apa benar polisi sengaja membiarkannya?

“Itu karena dikhawatirkan dia membawa bahan peledak setiap saat dan pada saat itu dia mulai masuk ke tempat-tempat padat penduduk,” analisis pengamat terorisme Wawan H Purwanto.

sumber detik.com

weleh-weleh :mad0261: kayanya kalo langsung ditangkap akan membuat hati damai deh… :ashamed0004:

Penonton mah… bisanya cuman komentar… coba jadi densus 88 pasti dahh… ketika ngadepi
beneran kencing di celana. :smiley:

dilatih untuk kencing di celana ?

mental sampah klo begitu :slight_smile: